
"Cie.... Yang sudah jadi artis masuk berita di TV." ledek Jimmy ketika memasuki ruang kantor Bayu.
"Hebat banget temanku yang satu ini. Berawal dari pacaran dengan anak pemilik Holly Hotel, sekarang bisa jadi pemiliknya sendiri. Sampai masuk berita lagi, lelaki idaman yang membela pacarnya dari isu perselingkuhan. Ck ck ck."
Bayu Bagaskara selalu membuat seorang Jimmy Marshall kagum. Mereka sudah berteman sejak jaman kuliah. Bayu termasuk mahasiswa yang cukup cerdas. Meskipun temannya itu sangat brengsek, suka gonta ganti pasangan, tapi tidak mau berkomitmen dengan wanita, tapi otaknya sangat encer saat digunakan berpikir.
Sewaktu masih kuliah, uang Bayu sudah sangat banyak. Ia sering mentraktir teman-temannya makan. Katanya, dia sudah ikut bekerja di perusahaan ayahnya yang kaya raya. Ya, semua anak orang kaya pasti memulai usaha dengan bantuan orang tua. Termasuk juga dirinya.
Tapi, hebatnya Bayu, saat ia memutuskan untuk memutus hubungan dengan ayahnya, dia benar-benar memulainya kembali sendiri dari nol. Otak encernya itu membawanya pada pembangunan klab malam yang sangat booming dan terkenal di Kota S. Dalam waktu singkat dia sudah dikenal sebagai seorang pengusaha muda yang sukses.
Selain bisnis klab malam, ambisinya mengambil alih perusahaan orang lain juga berjalan mulus. Seperti perusahaan Minata Food yang sering disambangi Bayu ini juga hasil dari pengambilalihan perusahaan milik orang. Yang terbaru, hotel sekelas Holly Hotel juga berhasil ia takhlukan. Sementara, Cassanova Hotel yang dikelola Jimmy seperti jalan di tempat. Ia benar-benar harus angkat keempat jempolnya untuk Bayu.
"Kenapa, Jim? Kamu bosan dengan hidupmu yang jalan di tempat? Cobalah selingkuh siapa tahu hidupmu akan lebih berwarna."
"Ah! Sialan!" Jimmy melemparkan pulpen dari kantongnya ke arah Bayu namun meleset.
"Renata bisa langsung membunuhku kalau tahu aku selingkuh. Dia tipe wanita yang baik, tapi sulit memaafkan."
"Kasihan sekali hidupmu, Jim. Bagaimana kalau kamu membantuku mengelola Holly Hotel?"
"Jabatan apa yang mau kamu tawarkan padaku?"
"General Manager."
Jimmy membelalakkan matanya. Jabatan setinggi itu di hotel bintang lima mau diberikan kepadanya? Holly Hotel merupakan hotel yang lebih terkenal dari Hotel Cassanova milik keluarganya. Dia saja hanya menjabat sebagai Assistant GM di hotel ayahnya.
"Siapa yang kamu jadikan GM sementara di sana?"
"Masih Shuwan Mey."
"Wah, kamu gila. Masa menyuruhku bersaing dengan pacarmu sendiri."
"Aku pemilik hotel itu sekarang. Terserah aku mau memilih siapa yang akan mengisi jabatan di sana. Lagipula Shuwan bisa menjadi asistenmu."
Bayu berbicara dengan santainya, seolah apa yang ia lakukan adalah perkara kecil. Di layar televisi dia kelihatan sangat mencintai pacarnya. Tapi ketika berbicara dengan Jimmy, Bayu tambak bagaikan orang yang bahkan tak peduli dengan eksistensi Shuwan.
"Bagaimana nanti tanggapan Shuwan kalau kamu melakukan hal itu? Hubungan kalian akan renggang."
"Dia pasti akan mengerti." jawab Bayu tegas.
Siapa sih, yang tidak tertarik dengan tawaran Bayu. Itu adalah sebuah tawaran yang mungkin hanya ada saat Bayu khilaf. Memveri jabatan sepenting itu pada sembarang orang tanpa mengecek kualitas dari orang tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana, kamu mau? Aku tidak akan menawarkannya dua kali."
"Tentu saja aku mau. Tapi aku harus bicara dulu pada ayahku apa aku boleh menerima tawaranmu."
"Halah! Nurutin tua bangka itu tidak akan membuat hidupmu maju. Sekali-kali ambil keputusan sendiri demi hidupmu. Kalau kamu yakin ya ambil kesempatan itu. Masalah gagal itu belakangan."
Apa yang Bayu katakan semuanya benar. Jimmy selama ini selalu bermain aman. Dia bekerja menuruti kemauan orang tuanya. Karena jika gagal, masih ada orang tuanya yang akan membantu. Satu penyakit yang sulit ia hilangkan adalah takut pada kegagalan.
"Aku berbeda denganmu. Keluargaku lebih mengutamakan tradisi patuh kepada orang tua. Katanya hidup akan berkah jika mau menuruti kemauan mereka."
"Hahaha.... ya terserah dirimu saja."
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu masih betah ngantor di sini? Usahamu kan banyak, Holly Hotel juga tempat yang bagus untuk ngantor. Kenapa masih tetap di perusahaan kecil ini?"
"Aku juga tidak tahu. Mungkin karena ini perusahaan pertama keluarga Prita. I like this place. Lagipula, karyawannya juga lucu-lucu. Aku mudah menakuti mereka. Hahaha.... "
"Kamu masih suka mengganggu mereka?"
"Kadang-kadang."
Tok tok tok
"Masuk!"
"Pak, ini lunch box yang yang Anda minta." Reni meletakkan kotak makanan di meja Bayu.
"Terima kasih, Reni. Kamu boleh kembali."
"Wah, nggak nyangka kamu perhatian padaku sampai memesankan makanan segala." puji Jimmy.
"Sorry, Jim. Tapi ini untuk Prita. Aku mau ke rumah sakit dulu."
Bayu bersiap mengenakan jasnya dan menenteng tempat makanan yang tadi dibawakan Reni.
"Kamu boleh menungguku atau pergi juga boleh. Bye."
"Sialan!" umpat Jimmy melihat Bayu meninggalkannya sendirian.
Seperti biasa, pada jam istirahat siang Bayu pergi mengunjungi Daniel. Tak lupa ia membawakan makanan untuk Prita karena terkadang wanita itu sampai lupa makan karena menjaga Daniel.
Sesampainya di lobby rumah sakit ketika hendak menaiki lift, ia berpapasan dengan Ayash. Sepertinya dia baru saja dari tempat Daniel. Keduanya saling diam dan bertatapan beberapa saat.
__ADS_1
"Bisa bicara sebentar?" ucap Ayash.
Hal yang tidak biasa mendengar Ayash mengucapkan hal itu. Bayu mengiyakan ajakan Ayash dan berjalan beriringan menuju area taman yang cukup sepi.
Bayu sudah siap menolak jika yang ingin Ayash bicarakan agar dia menjauhi Daniel. Dia tidak mau. Dia berhak menemui Daniel kapanpun dia mau. Jika dia mempermasalahkan biaya rumah sakit, akan dia ganti semua saat itu juga.
"Kamu mau menemui Daniel?"
"Ya. Apa ada masalah dengan itu?" tanya Bayu ketus.
"Tidak."
"Aku dengar dari Daniel kamu sudah jarang mengunjunginya, ya?"
Ayash terdiam sejenak.
"Aku sudah bercerai dengan Prita."
Bayu menatap heran ke arah Ayash, "Hahaha.... lelucon macam apa ini? Kamu sedang mengujiku? Kamu berharap aku mengakui kalau aku sedang menggoda istri orang?"
"Aku serius. Aku katakan ini agar kamu tidak salah paham. Aku memang jarang mengunjungi Daniel karena kami sudah berpisah."
Bayu mulai berpikir. Akhir-akhir ini Prita memang tampak murung. Mungkin benar mereka sedabmng ada masalah.
"Kamu senang kan mendengarnya? Sekarang kamu bebas mendekatinya sesukamu."
Tiba-tiba Bayu merenggut kerah kemeja Ayash. Matanya menatap nyalang, "Hey!" serunya.
"Aku kira lelaki paling bangsat di dunia ini adalah aku."
"Ternyata kamu melebihiku. Tega-teganya kamu meninggalkan seorang istri yang sedang berjuang merawat anaknya yang sakit!" Bayu berbicara dengan penuh emosi.
"Kalau Daniel kamu anggap sebagai beban, aku bisa merawatnya sendiri!"
Srak!
Ayash menyingkirkan dengan kasar tangan Bayu dari lehernya. "Seharusnya kamu berterima kasih. Aku memberimu kesempatan untuk lebih dekat dengan anakmu meskipun itu membuatku sakit!"
Ayash langsung pergi dengan langkah memburu menjauh dari Bayu.
Sementara, Bayu masih mematung di tempatnya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Bercerai? Rasanya ia tidak tahu ekspresi apa yang harus ia perlihatkan. Haruskah ia senang atau ikut sedih. Benar apa yang Ayash katakan. Meskipun ia berusaha menahan diri tidak mengganggu Prita, tapi dari lubuk hatinya ia masih sangat menginginkan wanita itu. Itu suatu perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.
__ADS_1
Sementara, dia juga peduli dengan perasaan Prita. Pasti sangat berat harus berpisah dikala harus merawat anak yang sedang sakit. Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa mereka memilih berpisah? Apa karena Daniel? Apa Daniel membuat hidup mereka sulit?