ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Acara Makan Bersama 2


__ADS_3

"Ir.... Kalau kamu makan terus kita bakalan batal makan bersama."


Akhirnya Ayash yang jengah melihat kelakuan Irgi angkat bicara juga. Sejak tadi, Irgi bukannya membantu membakar daging untuk barbeque, malah sibuk mengambili daging yang baru saja selesai di bakar. Kalau satu dua kali mungkin Ayash tidak akan bersuara, tapi hasil masakan mereka dihabiskan oleh Irgi. Sementara, Bayu kurang begitu memperhatikan karena sibuk membolak-balik daging dan Ayash yang melumuri bumbunya. Ketika melihat di bagian piring saji, memang bersih tak ada daging yang tersisa. Habis oleh Irgi.


"Bahannya kan masih banyak, santai sajalah.... " ucap Irgi dengan Enteng. Meskipun sudah diperingatkan, dia tetap mengambili daging yang sudah matang.


"Ganti posisi, sini! Kamu bagian mengolesi bumbu biar aku yang menata di piring!"


Ayash menyerahkan mangkuk berisi bumbu kepada Irgi, lalu menariknya agar berdiri menggantikan posisinya.


"Ribet banget jadi orang. Ingat ya, di kantor kamu tetap bawahanku!"


Senjata andalan Irgi ketika kalah argumen adalah mengungkit-ungkit posisi Ayash di perusahaan. Irgi masih direktur di perusahaan milik Ayash.


Dengan terpaksa Irgi melakukan pekerjaan yang sedari tadi dilakukan Ayash. Bayu tetap fokus pada pekerjaannya. Ia tidak begitu tertarik dengan keributan yang kedua orang itu ciptakan.


Ayash merapikan kembali piring-piring yang elepotan karena ulah Irgi. Ia memberikan garnis di sekeliling piring agar tampilan saat disajikan lebih menarik sekaligus menggugah selera makan.


"Daniel mau kamu sekolahkan dimana?" Irgi membuka percakapan. Ia bertanya kepada Bayu karena sepertinya dia tidak mau bersuara sejak tadi.


"Masih di yayasan yang sama dengan TK-nya." Bayu menjawab pertanyaan Irgin sembari terus membolak-balik daging diatas alat barbeque grill.


"Kenapa tidak pindah ke sekolah dasar yang lebih bagus di daerah xxx?"


"Daniel sendiri yang meminta untuk lanjut bersekolah di sana. Benar begitu kan, Yash?" Bayu melemparkan pertanyaan kepada Ayash.


"Ah, hm, iya. Daniel bilang mau tetap bersekolah di sana supaya dekat dengan Dean."


"Apa setelah masuk SD Daniel akan tetap tinggal bersamamu dan Dean?"


"Itu terserah mereka. Aku juga tidak pernah memaksa agar mereka terus tinggal bersamaku. Dan aku juga tidak pernah melarang mereka untuk tinggal bersama Bayu dan Prita."

__ADS_1


"Untuk apa dibahas-bahas segala, kamu mau memancing keributan, ya?" Ayash memasang mode galak kepada Irgi.


"Hahaha.... Kenapa memangnya? Sedikit keributan kan menyenangkan."


"Provokator.... " guman Ayash lirih.


"Bay, kamu tidak ada niat mengubah nama belakang Daniel? Di akta kelahirannya masih menggunakan nama Hartadi, loh."


Perkataan Irgi seketika mampu menghentikan aktivitas Bayu. Ia memang pernah memikirkan akan hal itu. Daniel putranya, tapi menggunakan nama keluarga besar Ayash yang tersemat di belakang namanya.


"Kalau kamu mau menggantinya juga tidak apa-apa, jangan sungkan karena Daniel memang anakmu."


Ayash buru-buru berbicara sebelum terjadi kesalahpahaman. Irgi memang orangnya seperti itu, suka memancing keributan. Padahal, hubunhannya dengan Bayu selama ini sebenarnya juga baik-baik saja. Meskipun mungkin mereka tidak bisa dekat layaknya sahabat, tapi mereka juga tidak saling menjauh karena bermusuhan. Masa lalu bagi mereka adalah sesuatu yang tidak bisa diperbaiki. Tapi, masa depan seharusnya bisa menjadi lebih baik daripada masa lalu.


"Aku tidak pernah melarangmu untuk mengurusi Daniel."


"Dia memang lebih dekat denganku karena sejak bayi sudah bersamaku. Tapi, dia tetaplah darah dagingmu."


"Apalagi kamu juga sudah menyayanginya sebagai anak, kenapa aku harus khawatir?"


"Yah, kalian tidak seru.... " Irgi tampaknya kecewa karena usahanya membuat masalah tidak berhasil. "Seharusnya kalian adu jotos dulu sebelum berdamai. Mana ada sih hubungan suami dan mantan suami bisa akur begini.... Kalian menyalahi hukum pertikaian di dunia ini."


Ayash dan Bayu saling berpandangan. Satu orang yang ada di hadapan mereka ternyata mengesalkan.


"Sepertinya orang ini yang paling pantas untuk dihajar." ujar Ayash.


"Kamu benar.... Kita bereskan bersama-sama saja." Bayu sepakat dengan pendapat Ayash.


Mereka berdua menghentikan pekerjaan, lalu maju mendekati Irgi bersamaan. Irgi hanya tertawa kecil ketika dua orang yang akan dia adu justru berbalik ingin menyerangnya secara keroyokan.


"Hehehe.... Aku kan hanya bercanda." kilah Irgi.

__ADS_1


Bayu dan Ayash sudah memegangi pundak Irgi hingga dia tidak bisa berkutik lagi. Usahanya memancing kemarahan orang memang selalu berhasil. Kali ini juga sama, sepertinya mereka butuh pelampiasan kemarahan.


"Bagusnya kita hajar sebelah mana dulu?" tanya Bayu.


"Mata kiri kayaknya bagus, supaya ada biru-birunya. Sekalian sudut bibir harus dibuat pecah. Dan kepala harus dipukul keras biar otaknya jadi benar." Ayash berbicara dengan nada seakan-akan penuh emosi.


"Waow waow.... Kita berteman sejak SMA, ya.... Teganya mau menyakitiku."


"Menyakiti pembuat masalah itu bukanlah sebuah dosa. Mulutmu itu tidak pernah enak didengar."


"Begini-begini kan aku direktur perusahaan Prayoga Jaya Grup. Awas nanti kamu aku pecat kalau macam-macam."


"Ambil.... Yang penting aku puas membuatmu babak belur tidak masalah kalau aku dipecat."


"Jadi, kita hajar sekarang saja." Bayu bersemangat kalau urusan memukuli orang. Dia juga sudah lama tidak menggunakan tangannya untuk menghajar orang yang pantas untuk dihajar.


"Tunggu tunggu.... Jangan dzolim sama sesama ayah, ya.... Apalagi aku masih punya anak bayi. Kasihan putriku pasti nangis kalau ayahnya kenapa-napa."


"Itu dagingnya gosong....! Ribut terus!"


Keributan mereka terhenti ketika mendengar seruan dari Raeka. Benar saja, mereka mencium bau gosong. Ternyata daging yang sedang mereka bakar sudah gosong.


Cepat-cepat ketiganya sigap kembali ke posisi masing-masing. Bayu membuang daging yang gosong lalu menggantinya dengan daging baru. Irgi membantu membalurkan bumbu dan Ayash mulai menata sebagian daging yang sudah matang.


Tiba-tiba mereka bisa diam dan fokus bekerja. Tidak ada yang berani bersuara terutama setelah Raeka marah-marah. Wanita yang baru punya bayi dan galak itu bisa membuat takut para lelaki. Tingkat kegarangannya seperti meningkat 10 kali lipat.


Setelah lima belas menit berkutat dengan asap, akhirnya ketiga lelaki itu berhasil menyelesaikan masakannya. Mereka segera membawa hasil jerih payah ke hadapan ibu-ibu muda dan anak-anak mereka. Acara makan bersama di taman berlangsung dengan baik.


Meskipun mereka bisa menyuruh pelayan untuk menyiapkan semuanya, tapi sesekali melakukan sendiri pekerjaan sederhana itu menjadi hal yang menyenangkan. Mereka bisa menambah kedekatan dengan teman sembari memperbincangkan banyak hal.


Irgi yang sudah kekenyangan lebih dulu karena mengambili makanan di awal, tidak kuat lagi untuk makan. Ia memilih bermain dengan Cilla, putri cantiknya. Mumpung Raeka masih sibuk makan, dia bisa bebas menguasai Cilla. Jarang-jarang dia bisa memegang Cilla sendiri.

__ADS_1


__ADS_2