ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Hukuman yang Pantas


__ADS_3

"Pergi kalau urusanmu sudah selesai. Jangan ganggu kesenanganku malam ini." geram Roy.


Alex masih mematung di tempatnya. Roy benar-benar cari mati. Berani-beraninya ia membawa wanita kesayangan bos ke dalam kamar dan mencoba menidurinya.


"Alex, keluar!" perintah Roy.


"Apa kakak tau, siapa wanita ini?" tanya Alex.


"Dia partnerku malam ini. Kenapa?" Roy tidak merasa bersalah sedikitpun.


"Apa yang sudah kakak lakukan padanya?"


"Melakukan apa? Kamu menginterupsi kesenanganku. Makanya cepat keluar biar aku bisa melanjutkan bersenang-senang."


"Kakak memang mau cari mati." Alex tertawa kecil.


"Apa maksudmu?" Roy tidak paham apa yang Alex maksud.


"Wanita ini pacar bos Bayu. Kamu akan mati jika dia tau."


"Apa!?" seketika Roy membeku. Ia tidak percaya wanita yang hendak ia ajak bersenang-senang adalah wanita milik bosnya.


"Halo, Kak Fredi. Tolong masuk ke kamar 26. Aku tunggu sekarang juga."


"Alex! Kenapa kamu menelepon Fredi!?" Roy semakin ketakutan. Tamat sudah riwayatnya jika memang benar wanita itu kekasih Bayu. Apalagi Alex sudah menghubungi Fredi untuk datang.


"Please, Alex. Jangan laporkan aku pada Bos. Aku akan lakukan apapun. Apa kamu tega melihatku mati?"


"Kenapa sekarang memohon-mohon padaku? Bukannya tadi nyali kakak sangat besar? Segala perbuatan tetap harus dipertanggungjawabkan."


"Aku benar-benar tidak tau kalau dia wanita milik bos! Kalau aku tau, tidak mungkin aku melakukan ini. Aku juga belum sempat bermain-main dengannya. Please, Alex."


"Kenapa, Alex?"


Fredi sudah lebih dulu datang. Roy hanya bisa menggigit jari. Ia berharap Alex tidak akan terlalu kejam padanya.


"Bawa wanita ini ke mansion."


Fredi menoleh ke arah wanita yang tergolek di atas ranjang, "Siapa dia?"


"Wanita kesayangan Bos Bayu."

__ADS_1


"Ooh.... "


Fredi lantas mengangkat Prita dari atas ranjang seperti mengangkat kapas. Terlihat sangat ringan. Ia membawanya keluar. Dibelakang, Alex mengekori.


Roy sudah pasrah apa yang akan terjadi padanya. Ia akan memohon ampunan agar Bayu tidak membunuhnya.


Beberapa saat kemudian, anak buah Red Wine datang menemuinya. Mereka meminta Roy untuk ikut dengan mereka. Melawan juga percuma saja. Kabur juatru akan membuat hukumannya semakin parah. Ia pasrah digelandang oleh mereka menuju mansion, lebih tepatnya tempat penyiksaan.


*****


Roy tergantung secara terbalik di dalam ruang bawah tanah yang terletak di bagian belakang mansion. Kaki dan tangannya terikat tali, kepalanya berada di bawah. Ia tidak mengenakan pakaian sama sekali. Tubuhnya tergantung seperti hewan yang hendak dikuliti.


Tidak ada yang bisa membaca pikiran seorang Bayu. Dia bisa saja memperlakukan seseorang dengan sangat baik. Sebaliknya, dia bisa memperlakukan orang lain dengan sangat buruk. Membunuh bukan hal baru baginya. Ia memang hidup di dunia yang jika dia tidak berani membunuh, maka dia sendiri yang akan terbunuh.


Bayu masuk ke dalam ruang bawah tanah. Memandangi tubuh anak buahnya yang tergantung di atas sana. Padahal niatnya ia ingin istirahat di mansion memulihkan diri setelah terkena tembakan orang tidak dikenal di bagian atas dada kirinya.


Ada saja masalah yang harus ia tangani meski dalam kondisinya yang seperti itu. Apalagi ini berkaitan dengan Prita. Bisa-bisanya Roy berani mengganggu wanita miliknya.


Bayu duduk di kursi yang disiapkan Fredi. Ia mengeluarkan sepucuk pistol dari dalam sakunya. Pistol itu sudah cukup lama ia gunakan. Peluru di dalamnya masih utuh belum berkurang satupun.


"Bos, ampuni aku. Aku benar-benar tidak tau kalau wanita itu milikmu."


"Cambuk!"


Warna cambuk yang awalnya coklat perlahan mulai berubah warna menjadi kemerahan bercampur dengan darah yang keluar dari tubuh Roy. Suara lecutan masih terdengar meski sudah mencapai hitungan puluhan kali. Bekas cambukan membekas di sekujur tubuhnya. Namun Bayu tetap bergeming. Ia belum ingin menghentikan hukuman anak buahnya.


"Hentikan." Akhirnya Bayu meminta kedua orang itu untuk berhenti mencambuk. "Turunkan dia."


Perlahan tali yang mengikat tubuh Roy diturunkan. Tubuhnya tampak sudah tak berdaya dan penuh luka. Ikatan yang membelit tubuhnya juga dilepaskan. Roy menangis. Menangis karena sakit sekaligus menangisi kebodohannya yang terbawa ***** ingin menikmati tubuh wanita yang saat itu tidak sadarkan diri. Lebih parahnya wanita itu kesayangan bosnya sendiri.


"Kalau saja bukan karena jasamu selama ini mengurus club, aku sudah menembak kepalamu."


"Maafkan aku, Bos. Aku benar-benar tidak tahu." disela-sela rintihannya, Roy masih berusaha meminta maaf dengan nada terbata-bata.


"Kenapa dia bisa ada di sana?"


"Aku tidak tau, Bos. Ada yang bilang dia datang ke club untuk mencariku."


"Kenapa dia mencarimu?"


"Aku tidak tau. Sebelum kami sempat bicara panjang lebar, dia sudah tak sadarkan diri."

__ADS_1


"Aku tidak tau maksud kedatangannya ke club."


Prita bukan tipe orang yang datang ke suatu tempat tanpa tujuan yang jelas. Tidak mungkin juga tujuannya datang untuk bersenang-senang, sementara Daniel sedang sakit di rumah sakit. Prita tidak mungkin seperti itu.


Bayu jadi berpikir, apa Prita datang ke sana untuk mencarinya? Tapi, untuk apa? Prita akan lebih senang kalau tidak melihatnya. Darimana juga Prita tau kalau club itu miliknya? Dia berani sekali datang ke club malam dengan dandanan seperti itu. Dandanan yang sangat cantik, bahkan sampai membuat Bayu ingin membutakan semua orang yang bertemu Prita di club. Mereka pasti sangat suka memandangi wanitanya. Sampai anak buahnya sendiri hampir menidurinya. Anak buah bangsat memang.


"Sebelum pingsan wanita itu sempat menyebutkan nama Anda, Bos. Dia bertanya apa benar club itu milik Anda. Tapi sebelum aku jawab, wanita itu sudah pingsan."


"Kenapa dia bisa pingsan? Kamu beri dia obat?"


"Tidak, bos. Saya hanya memberinya satu sloki kecil wine. Dan tidak lama dia langsung pingsan."


Bayu menghela nafas. Prita bukan peminum. Apa dia tidak bisa membedakan minuman beralkohol atau tidak? Kenapa dia tetap menghabiskan minuman yang seperti itu. Bukankah rasanya akan terasa aneh dilidahnya? Seharusnya ia tidak meminumnya. Untung saja ada Alex. kalau tidak ada Alex, mungkin dia akan berakhir menghabiska malam bersama Roy.


'Dasar wanita ceroboh.' gumamnya dalam hati.


"Roy.... "


"Iya, Bos."


"Selain kasus ini aku juga mendengar info kalau sepertinya kamu sedang berusaha menggelapkan uang dari club milikku. Apa benar?"


Roy terdiam sejenak. Ucapan bosnya tidak sepenuhnya benar tapi juga tidak sepenuhnya salah.


"Beberapa bulan terakhir kamu telat melaporkan keuangan club karena hal ini, kan? Apa kamu sedang berusaha mengkhianatiku?"


"Bos.... Sebenarnya aku memang memakai sebagian uang club. Makanya aku butuh waktu untuk menggantinya. Aku kalau siang mencari pekerjaan lain untuk mengganti uang yang aku pakai. Karena itu laporan keuangan selalu telat."


"Aku menggunakan uang club untuk biaya operasi ibuku."


Roy memang salah satu anak buah yang paling setia. Skylight Bar berkembang sangat baik di bawahnya. Ia tau perkataan Roy jujur.


"Kalau butuh uang kenapa tidak mengatakan langsung padaku? Kenapa harus memakai uang club secara sembunyi-sembunyi?"


"Maafkan aku."


"Ya, meskipun sebenarnya aku masih marah, tapi kesalahanmu bisa aku maafkan."


"Fred, nanti bawa Roy ke dalam dan panggilkan dokter untuknya."


"Baik, Bos."

__ADS_1


"Aku mau kembali ke kamarku."


__ADS_2