ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Berita Gembira


__ADS_3

Seorang lelaki berumur duduk di kursi empuknya sambil menghisap cerutu. Di samping kiri kanannya ada dua orang pengawal yang menemani. Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Seorang berpakaian rapi serba hitam memasuki ruangan dan sedikit menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.


"Kamu sudah mendapatkan informasi yang saya minta?" ucap lelaki tua itu seraya menghembuskan asap dari dalam mulutnya.


"Saya telah mendapatkan informasi jika dia memiliki seorang anak laki-laki yang berumur sekitar lima atau enam tahun."


"Bukannya dia belum pernah menikah?"


"Menurut kabar, dia punya anak tanpa menikah. Beritanya sedang jadi pembicaraan di kalangan karyawan perusahaannya."


"Apa kamu bisa memastikan berita ini benar?"


"Saya sangat yakin, Tuan."


"Lalu, bagaimana dengan anakku, Shuwan?"


Ternyata lelaki tua itu adalah Zetian Yan, ayah Shuwan Mei. Dia masih memiliki dendam pribadi pada Bayu. Selain karena masalah pembunuhan Mario, juga karena masalah perusahaan. Dia masih tidak terima Bayu berhasil merebut hotel yang selama ini dibesarkannya.


"Rumornya mereka putus karena wanita itu, Tuan."


Zetian kembali menghisap cerutunya, kemudian menghembuskan asapnya. "Dia memang anakku yang paling bodoh. Gampang sekali ditipu lelaki."


"Kali ini lakukan rencana kalian dengan baik dan hati-hati. Kita hanya butuh pancingan agar Bayu mau tunduk padaku."


"Kamu tau kan, apa yang harus dilakukan?"


"Saya mengerti."


"Kalau begitu, pergilah!"


*****


Bayu membuka pintu ruang perawatan Daniel. Tampak sepi. Di arah dapur terdengar suara kran air yang menyala. Semakin ia dekati, ternyata ada Prita yang tengah mencuci peralatan makan sendiri.


Rambutnya dikucir kuda hingga menampakkan leher jenjangnya. Pemandangan yang membuatnya suka tidak tahan jika melihatnya. Leher itu seperti memanggilnya untuk membelai dengan bibirnya.


Perlahan ia berjalan semakin mendekat. Dilingkarkannya kedua tangan pada pinggang kecil wanita itu agar tidak kabur.


Prita menghentikan aktivitasnya karena terkejut. Tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang. Dia tau itu Bayu. Dari bau parfum yang dipakai, ia bisa mengenalinya.


"Kenapa berhenti?"

__ADS_1


"Lepaskan dulu. Aku kesusahan mencuci kalau begini." protes Prita.


"Oh, kamu kesusahan, ya. Kalau begitu aku bantu."


Bukanya menyingkir, Prita justru memegang kedua tangan Prita dengan tangannya kemudian menggerakkan tangan mereka bersama-sama mencuci piring.


"Mencuci piring bersama seperti ini menyenangkan juga, kan?" bisiknya.


Prita merinding setiap deru nafas Bayu mengenai telingannya yang sensitif. Sentuhan tangan mereka yang bersatu juga menciptakan getaran-getaran rasa aneh menjalar dalam dirinya. Apalagi bagian punggungnya yang rapat dengan tubuh Bayu menjadi terasa hangat. Kegiatan mencuci piring menjadi sesuatu yang romantis meskipun terasa canggung.


"Kamu mau nggak punya anak lagi sebelum menikah?" tanya Bayu ketika mereka tengah mencuci tangan.


"Kamu mau aku menjawab iya? Apa aku sudah gila?"


Bayu mengeratkan pelukannya, menghirup aroma ceruk leher Prita yang wangi. Membuat wanita itu menggeliyat ingin melepaskan diri.


"Lepas! Kamu mau memp*rkosaku lagi?"


"Maunya begitu. Akhir-akhir ini aku jadi semakin gila setiap berdekatan denganmu. Ada bagian tubuhku yang sepertinya sangat menginginkanmu."


Ucapan Bayu membuatnya merinding. Ia tau apa yang lelaki itu maksud. Apalagi ia merasakan sesuatu yang keras menekan pant*tnya. Sesuatu yang sepertinya besar dan familiar.


Hal paling menyebalkan bagi Prita adalah ketika kenangan-kenangan terdahulu harus terputar kembali dalam memorinya. Ia merasa seperti orang mesum yang membayangkan sesuatu tidak pada tempatnya.


Setelah mengatakan hal itu, Bayu melepaskan pelukannya. Ia beralih ke sofa ruang tengah dan menyambar sebotol minuman bersoda yang tergeletak di atas meja. Satu tegukan membuatnya merasa segar.


"Kenapa masih disitu? Mau lanjut aku bawa ke kamar?"


Bayu memang orangnya tidak bertanggung jawab. Sudah buat anak orang baper malah ditinggal dan pura-pura tidak tau.


Prita menggeleng, ia ikut duduk dan menyalakan televisi. Acara saat itu hanya ada acara gosip tentang artis.


"Daniel sedang pengecekan rutin?"


"Iya, seperti biasa."


"Aku ada berita gembira untukmu."


"Apa?" Prita berbicara tanpa mengalihkan perhatian dari layar TV. Ia mencari saluran acara yang menarik.


"Daniel akan segera sembuh."

__ADS_1


Prita berhenti menekan remotnya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Bayu, memastikan kali ini lelaki itu tidak sedang membuat lelucon atau mengerjainya.


"Aku sudah mendapatkan donor yang cocok untuk Daniel. Dia bisa segera dioperasi."


Prita membelalakan mata, ia seakan tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Tapi hatinya sangat bahagia. Berbulan-bulan menanti, akhirnya hari itu datang juga.


Tanpa sadar ia langsung memeluk Bayu. "Ah.... Terima kasih Tuhan.... " serunya sembari mengeratkan pelukannya.


Bayu ikut terkejut menerima respon yang menyenangkan seperti itu. Prita tampak sangat bahagia. Tak henti-hentinya kalimat syukur keluar dari mulutnya.


"Besok kita bawa Daniel ke Kota J. Disana sudah dipersiapkan rumah sakit dan tenaga medis yang akan menangani Daniel. Aku juga sudah berbicara dengan Dokter Hansen, dia akan ikut serta mendampingi Daniel."


Air mata bahagia menetes di pipi Prita. Baru kali ini ia menangis tapi merasa bahagia. Biasanya air matanya tumpah memang karena sedih dan putus asa.


Bayu mengusap air mata yang mengalir itu. Tawa kecil terdengar di sela-sela tangisan.


"Kamu sedih apa senang? Nangis kok sambil tertawa?"


"Memangnya orang senang tidak boleh menangis?"


"Tidak boleh. Kamu harus tertawa bahagia."


Bayu menciumi sudut mata yang sejak tadi mengeluarkan air mata. Ia berharap mata itu tak lagi menangis, hanya kebahagiaan yang harus Prita rasakan.


"Apa aku boleh mengatakan sesuatu?" Prita berkata dengan binar mata yang cerah.


"Katakan saja."


"Aku rasa sekarang kamu sudah lebih menjadi manusiawi daripada dulu."


Bayu menyimak dengan serius setiap kata yang Prita ucapkan. Wanita itu sepertinya sudah bisa mulai memujinya. Mungkin usahanya selama bertahun-tahun baru disadari olehnya. Sejak awal, dia sudah berusaha berbuat sebaik mungkin di hadapan Prita. Siapa juga yang mau membuat orang jatuh cinta dengan cara memaksa? Andaikan dulu Prita bisa memandangnya dengan binar mata seperti ini, Bayu pasti tidak akan khilaf melakukan kesalahannya.


"Aku tau kamu baik dan perhatian. Kamu juga punya rasa cinta yang begitu besar untukku. Sayangnya kamu pernah berbuat kesalahan itu padaku sehingga aku tak bisa melihat sisi kebaikanmu yang lain."


"Terima kasih sudah membantuku sampai sejauh ini."


Bayu mengusap pipi halus wanita di hadapannya. Sekali lagi melihat binar mata itu membuatnya semakin jatuh cinta.


"Yang aku lakukan bukan bantuan, tapi kewajiban. Daniel anakku dan memang sudah tugasku untuk melindunginya."


"Seharusnya aku yang berterima kasih padamu, sudah membesarkan anakku dengan sangat baik. Meskipun kamu membenci segala perbuatanku terdahulu, kamu tetap bisa mencintai darah dagingku."

__ADS_1


Bayu mendekatkan wajahnya. Pandangan matanya sudah fokus ke arah bibir yang memakai lipstik warna mauve itu. Prita memejamkan mata, seolah pasrah dengan apa yang akan Bayu lakukan.


__ADS_2