ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bertemu Teman Lama


__ADS_3

"Kalau aku tidak kebetulan bertemu dengannya di jalan, Si Bangsat ini tidak mungkin mau datang dan duduk bersama kita seperti ini." Angga berkata dengan nada sedikit ditekankan pada kata 'bangsat' untuk menunjukkan kekesalannya pada seseorang.


"Ini yang namanya kacang lupa kulitnya. Seberapa indah kehidupanmu di sana sampai tak mau menghubungi kami sekali-kali?" Jaka mendukung perkataan Angga. Dia juga sedikit kecewa dengan temannya itu.


"Wanita di sana enak-enak ya, Bay?" tanya Tio sembari menyesap rokoknya.


Sementara, sosok orang yang sedang mereka bicarakan hanya senyum-senyum sambil sesekali meneguk wine yang ada di gelasnya.


Bayu dipaksa datang ke klab itu oleh Angga yang bertemu dengannya saat sedang berada di mall. Dia memang tidak pernah menghubungi teman-temannya sama sekali selama satu bulan berada di Kota J.


Kehidupan malam seperti ini memang bukan hal Baru untuk Bayu. Baik dulu maupun sekarang, hidupnya tak jauh-jauh dari dunia malam. Kata ornqg menyenangkan bisa nongkrong sambil minum alkohol di klab malam, apalagi jika ada wanita yang menemani.


Tapi, semenjak mengenal Prita, hasratnya pada wanita sudah tidak ada. Hanya Prita yang diinginkannya. Bahkan, ia juga tidak peduli pada dengan teman-temannya. Asalkan bisa bersama Prita selamanya baginya sudah cukup.


"Kata Karla senjatamu sudah mati Bay, bener gak?"


Pertanyaan lanjutan dari Angga menghilangkan senyuman di wajah Bayu. Biang kerok semua ini adalah Karla. Mulutnya lemes dan membuatnya merasa malu kali ini. Karla, Shuwan, dua wanita yang sulit untuk dia hadapi.


"Oh, Karla bilang begitu ya pada kalian?"


"Begitulah, dia kan wanita gila s*x. Katanya tidak ada kenikmatan lagi selain bersamamu."


Bayu meneguk habis minumannya untuk melampiaskan kekesalan. "Apa dia masih sering kumpul dengan kalian?"


"Kalau kegilaannya kumat, iya. Malah kadang minta main dengan kami bertiga. Suaminya kan sudah tua, sebagai istri kedua dia hanya mengharapkan uangnya saja. Sedangkan kesenangan yang lain dia cari di luar."


Bayu menyimakndengan serius perkataan temannya. Karla memang pernah bercerita tentang kehidupan rumah tangganya yang kurang menyenangkan.


"Lalu kalian mau meladeninya?"


"Gila kamu, Bay! Aku sudah punya anak istri, sudah isyaf sekarang. Paling Tio itu yang masih meresponnya." kilah Angga.


"Ya, apa salahnya? Sebenarnya aku juga tidak mau bermasalah dengan wanita bersuami. Soalnya aku pernah punya pengalaman dengan itu. Tapi, karena Karla yang sering memohon-mohon, sebagai teman mana tega ya, kan?" jawab Tio santai.


Tio memang lelaki single dan belum menikah. Hobinya menjadi penjelajah cinta.


"Mereka berdua itu sama gilanya, Bay." Jaka mengambil sebatang roko milik Tio lalu menyalakannya.


"Parah kamu, Tio."

__ADS_1


"Hah! Siapa ini yang bilang aku parah? Bukannya kamu sendiri lebih parah dari aku?"


"Kalau tidak ada masalah dengan kejantananmu juga paling kamu masih sama sepertiku. Gonta-ganti wanita setiap malam."


Bayu mengeratkan genggaman pada gelasnya. Kalau saja dia tidak sabar, sudah dilemparkan gelas itu ke arah Tio. Tapi, malam ini dia tidak ingin mencari ribut karena mungkin lain waktu mereka akan lama lagi untuk bertemu.


"Silakan ledek aku sepuasmu dengan guyonan seperti itu selagi bisa."


"Jangan tersinggung, Bay. Tio hanya bergurau." Jaka yang sedikit mengerti situasi langsung berinisiatif mendinginkan suasana.


"Ngomong-ngomong, ada urusan apa kamu datang ke Kota J, Bay?" sambung Angga. Dia juga ingin mengalihkan pembicaraan. Jika diteruskan, mungkin Tio dan Bayu akan adu jotos.


"Anakku di rawat di salah satu rumah sakit di Kota ini."


"Hah, anak?" gumam Angga. Dia menatap ke arah temannya yang lain. Ekspresi Jaka dan Tio sama dengannya, kaget. Mereka tidak tau kalau Bayu sudah memiliki anak.


"Kamu.... Sudah punya anak?" Jaka juga ikut penasaran, orang seperti Bayu hanya suka bermain wanita tapi tidak pernah berencana memiliki anak.


Bayu menyunggingkan senyum melihat raut wajah bingung mereka, "Ya, aku sudah punya seorang anak laki-laki."


"Memangnya kapan kamu menikah? Sampai segitunya ya tidak mengabari kami." Tio geleng-geleng kepala tidak percaya.


"Hahaha.... Bagaimana ceritanya belum menikah tapi sudah punya anak? Kamu adopsi anak? Sungguh ini bukan seperti dirimu."


"Bukannya jaman sekarang sudah umum yang seperti itu kan, punya anak lebih dulu sebelum menikah?"


"Wah, mantap teman kita yang satu ini. Wanita mana yang kamu buat kebobolan dan mengandung anakmu?"


"Prita."


Mereka bertiga kembali berpandangan. Hal yang mereka tau, Prita sudah menikah dengan lelaki lain dan dia jadi gila karena hal itu.


"Kamu menghamili istri orang?" celetuk Tio.


Bayi terkekeh, "Dia sedang mengandung anakku saat menikah dengan orang lain. Dan sekarang, mereka juga sudah bercerai. Dalam waktu dekat aku akan menikahinya."


"Ah, kisah rumit macam apa itu? Prita mengandung anakmu, tapi menikah dengan orang lain?"


"Ya."

__ADS_1


"Jangan-jangan mereka bercerai karena ulahmu karena ingin mendapatkannya lagi?"


Bayu meneguk kembali minumannya, "Aku memang berencana begitu. Tapi sepertinya takdir menginginkan aku untuk bersatu dengannya. Dia bercerai dengan mantan suaminya karena masalh mereka sendiri, bukan karena aku."


"Wah, apa jadinya kalau wanita selembut dia akhirnya akan menikah dengan orang sepertimu? Aku tidak bisa membayangkannya." Jaka mematikan puntung rokoknya yang sudah pendek di atas asbak.


"Tentu saja aku akan menjaganya dengan baik."


"Musuhmu terlalu banyak, hidup denganmu sama saja dengan hidup dengan masalah." timpal Angga.


"Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Bukan berarti juga dua orang baik yang hidup bersama akan terhindar dari masalah."


"Ya, memang wanita seperti Prita itu tipe-tipe istri idaman."


"Tipe-tipe penurut tapi kurang berpengalaman." ujar Tio.


Bayu memicingkan sebelah alisnya, "Siapa bilang dia kurang pengalaman?"


Tio melongo, "Aih, ya ya ya.... Sepertinya Nona Prita sudah banyak mendapat pelatihan dari Tuan Bayu. Oke, aku cabut lagi kata-kataku."


"Jadi, kamu tidak impotensi seperti yang Karla bilang?" telisik Angga. Dia tidak bisa juga menahan untuk bertanya tentang hal itu.


"Apa yang dikatakan Karla memang benar, aku memang impotensi selama lima tahun lebih."


Mereka bertiga melongo mendengar penuturan Bayu.


"Itu namanya neraka, Bay. Bagaimana kamu bisa bertahan hidup selama lima tahun tanpa wanita?" guman Tio.


"Aku kerja, Tio. Uangku sekarang banyak."


"Halah! Dari dulu juga uangmu sudah banyak."


"Dulu uang itu dari ayahku, sekarang aku bisa punya uang sendiri. Kalian pasti tau kan, apa bisnisku di Kota S?"


"Tentu saja. Pengusaha klab malam paling terkenal di Kota S, siapa yang tidak kenal?"


"Lalu, apa sekarang kamu masih im.... "


"Kya.... Bayu.... "

__ADS_1


__ADS_2