
"Ta, hari ini aku mau mengantar Dean dan Livy ke rumah Mama, ya. Aku rasa apa yang Mama katakan benar, untuk sementara mereka lebih baik tinggal bersama Mama."
Prita tercengang mendengar kata-kata Ayash. Itu sama saja artinya Ayash sudah menganggapnya tidak mampu lagi mengurus anak-anak. Padahal, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengurusi Dean dan Livy disamping mengurusi Daniel yang sedang sakit.
Setiap hari ia hanya menghabiskan sedikit waktu tidur hanya untuk tetap dekat dengan anak-anak. Meskipun tak seintens dulu kedekatannya, Prita sudah berusaha membagi waktunya. Sakit ketika mendengar pernyataan itu keluar dari mulut Ayash.
"Aku masih bisa mengurus mereka sendiri."
"Aku tahu. Tapi Daniel butuh perhatianmu 24 jam. Kamu mau kan Daniel cepat sembuh? Tolong, jangan egois."
"Kamu tega memisahkan anak-anak dariku?"
"Aku melakukan ini bukan berarti karena mendukung Mama. Aku benar-benar melakukannya demi Daniel. Tidak ada keputusan yang lebih baik daripada ini."
"Daniel akan sering menjalani kemoterapi mulai sekarang. Ada banyak obat yang dimasukkan ke dalam tubuhnya untuk membunuh sel kanker. Seperti yang pernah dokter bilang, dia tidak boleh bertemu dengan banyak orang karena bisa saja orang lain terpengaruh dengan obat-obatan yang Daniel konsumsi. Apalagi anak kecil. Kamu mau semua anak kita sakit?"
Prita menggeleng. Meskipun berat tapi akhirnya Prita menurut. Ayash membawa kedua anaknya pergi bersama Leta dan Pak Agus. Sementara, dia mengajak Daniel jalan-jalan di seputar area taman rumah sakit. Katanya Daniel bosan hanya di kamar rumah sakit terus.
Kepala Daniel sekarang sudah mengalami kebotakan akibat kemoterapi yang beberapa kali dijalaninya. Prita memasangkan topi untuk menutupi. Daniel selalu sedih jika melihat kepalanya yang botak terlihat di cermin.
"Mama.... kapan ya aku bisa sekolah lagi?"
"Secepatnya, Sayang. Jika kamu sudah sembuh, kamu boleh sekolah lagi."
"Mama.... kenapa harus aku yang sakit?"
"Karena Tuhan tahu, Daniel anak yang kuat. Mungkin kalau anak lain yang sakit, dia tidak akan sekuat Daniel."
"Satu temanku tidak pernah ikut kemo lagi, Mama. Namanya Isabela. Kata kakak perawat dia sudah meninggal. Apa aku juga nanti akan mati?"
Prita menghela nafas. Kenapa anaknya malah terus membahas tentang kematian? Dia sendiri juga belum sanggup kalau sampai Daniel meninggkannya untuk selamanya.
"Seperti yang sudah mama bilang tadi. Daniel anak pilihan Tuhan, Daniel anak yang kuat. Jadi, pasti Daniel bisa sembuh."
"Kenapa penyakitnya tidak mau hilang, Ma? Daniel kan capek setiap hari disuntik."
"Iya, Sayang. Penyakit yang satu ini memang sedikit bandel. Jadi Daniel harus lebih kuat supaya penyakitnya bisa kalah."
Semenjak dilakukan kemoterapi, kondisi Daniel semakin membaik. Dia terlihat lebih bertenaga daripada biasanya. Hanya saja, efek dari tindakan kemoterapi seringkali membuat Prita sedih. Melihat Daniel selalu mual dan muntah serta nyeri tulang membuatnya tidak tega. Apalagi hal itu membuat Daniel kehilangan rambutnya.
Setidaknya Daniel sekarang sudah bisa jalan-jalan di area rumah sakit. Masker tak pernah lepas dari mulutnya untuk menghindari masuknya kuman penyakit lain. Karena setelah kemoterapi, daya tahan tubuhnya melemah dan mudah untuk terserang penyakit.
__ADS_1
"Daniel.... "
Seperti biasa, Bayu kembali datang berkunjung. Dia memang tidak datang setiap hari ke rumah sakit. Tapi, setidaknya 3-4 kali dalam seminggu dia pasti datang membawakan mainan yang Daniel minta. Prita sudah terbiasa melihat kehadirannya di sana. Ayash juga sudah tak mempermasalahkan lagi tentang Bayu. Fokus mereka benar-benar ingin melihat Daniel sembuh.
Daniel langsung memberikan pelukan hangat untuk ayahnya. Prita sampai heran, entah kenapa anak itu bisa dekat dengan Bayu. Sepertinya Daniel menyukainya. Padahal Daniel bukan tipe anak yang mudah dekat dengan orang lain. Apa dia juga sudah mengerti tentang arti ayah kandung dan ayah sambung?
"Daddy, kenapa kemarin tidak datang?" Protes Daniel. Tiga hari berturut-turut Bayu tidak mengunjunginya di rumah sakit.
"Maaf, ya. Daddy ada banyak urusan di kantor."
"Kemarin Daniel di suntik punggungnya. Rasanya sakit sekali."
"Apa sekarang masih sakit?"
Daniel mengangguk. Bayu mengusap kepala anak itu.
"Ah, iya. Daddy membawa mainan untukmu."
Daniel terkesima melihat kotak mainan yang didominasi warna biru tua bergambar planet-planet dan sepertinya bisa menyala.
"Daddy, apa ini puzzle?"
"Ini namanya Sky Night Projector. Kalau dinyalakan bisa muncul gambar-gambar planet di dinding dan langit-langit kamar. Nanti malam kamu bisa coba nyalakan, ya."
"Lebih bagus kalau dilihat waktu malam. Ini kan masih siang."
"Tapi aku mau mainan."
"Kalau mau main sekarang, Daddy juga membawakan mainan merakit truk ini."
"Wah, ini bagus."
Mata Daniel berbinar melihat mainan yang ada di depannya. Satu set mainan bongkar pasang bentuk truk. Ia segera meminta Bayu untuk membantunya membuka kardua mainan itu. Setelah kardus terbuka, Daniel mulai memainkannya.
"Apa dia tidak apa-apa kalau terlalu lama di luar seperti ini?" tanya Bayu.
Prita yang sedari tadi melamun langsung tersadar, "Ah, tidak. Dia baru saja aku ajak keluar."
"Kamu sudah makan? Kenapa wajahmu pucat begitu?"
"Nanti saja."
__ADS_1
Bayu mengeluarkan dua kota makanan yang baru dibelinya dari restoran. Salah satu kotak itu ia berikan kepada Prita.
"Temani aku makan." nada bicaranya sedikit memaksa.
Prita heran saja tiba-tiba Bayu memberikannya lunch box berisi makanan ala bento jepang yang terdiri dari Gyutan (Grilled Beef Tongue), Grilled Chicken Teriyaki, Yasai Tame (Steamed Vegetables), dan Japanese Steamed Rice. Baru melihat tampilannya saja sudah menggugah selera. Apalagi melihat Bayu yang sepertinya sangat menikmati makanan itu, membuat Prita ikut tergiur untuk mencicipi. Dia memang sangat lemah jika sudah berhadapan dengan masakan jepang.
Prita mulai menyuapkan makanannya ke mulut. Meskipun hari-harinya selama ini sendu karena Daniel sakit, tapi tidak bisa dipungkiri jika rasa makanan yang menyentuh lidahnya terasa enak. Setiap suapan yang masuk ke mulutnya terasa sangat berharga.
Bayu sekilas melirik ke arah Prita. Dia senang makanannya diterima dengan baik. Bayu memang sengaja mampir ke restoran karena siapa tahu Prita belum makan karena sibuk mengurus Daniel. Ternyata benar saja, wanita itu memang belum sempat makan. Baik Prita maupun Daniel terlihat semakin kurus hari demi hari.
"Bagaimana dengan hasil tes sumsum tulang belakangnya? Apa sudah ada yang cocok untuk Daniel?"
Bayu sudah ikut memeriksaka sumsum tulangnya untuk dicocokkan dengan Daniel. Dia ingin tahu hasilnya apakah miliknya cocok atau tidak.
Prita menggeleng. "Belum ada yang cocok."
"Punyaku juga?"
Prita mengangguk.
Bayu agak tidak percaya jika sumsum tulang miliknya tidak cocok. Dia adalah ayah kandung Daniel, golongan darah mereka juga sama, seharusnya miliknya cocok untuk Daniel.
"Kenapa bisa tidak cocok? Aku kan ayahnya."
"Kata dokter, kecocokan sumsum tulang akan lebih besar antara saudara kandung, ketimbang antara orang tua dan anak. Perbandingan kesuksesannya adalah 25% antara saudara kandung dan kecocokan sumsum tulang antara orangtua dan anaknya hanya sekitar 0,5% persen."
"Oh, Ya Tuhan. Kenapa bisa seperti itu." gumam Bayu. Padahal sebelumnya ia sangat yakit miliknya akan cocok dengan Daniel. Mengingat, Daniel sangat mirip dengannya. Ternyata ekspektasinya salah.
"Lalu bagaimana denganmu atau yang lainnya?"
Prita kembali menggeleng. Sudah banyak orang terdekatnya yang ia suruh melakukan tes, namun belum ada yang cocok.
"Bagaimana dengan Livy atau Dean? Bukankah seharusnya cocok?"
Prita menghela nafas, "Mereka juga tidak cocok karena beda ayah."
Bayu menggaruk kepalanya. Ia sampai lupa fakta itu. Memang, Daniel itu saudara kandungnya Dean dan Livy hanya saja beda ayah.
"Kalau begitu, apa kita perlu membuat Daniel junior?"
Prita melayangkan tatapan tajam mendengar perkataan Bayu.
__ADS_1
"Hahaha.... Aku hanya bercanda. Kenapa kamu menganggapku serius begitu. Aku jadi takut dipelototi begitu."
Ucapan Bayu memang spontan terlontar dari mulutnya. Niatnya hanya bercanda. Tidak tahu kalau Prita akan meresponnya dengan serius.