
"Kamu lihat apa?"
Rafa tak kalah ingin tahu seperti Prita. Dia ikut mengintip di celah pintu yang sedikit terbuka. Pemandangan yang biasa untuk sebuah klab. Sekumpulan lelaki yang sedang berbicara ditemani botol alkohol serta wanita cantik.
"Apa ada orang yang kamu kenal?"
Prita menghembuskan nafas kasar, kenapa ia jadi lemah sekarang. Padahal melihat Bayu dekat dengan wanita-wanita seksi sudah biasa. Tapi kali ini rasanya dia merasa terhianati. Kenapa harus ada wanita-wanita seperti itu di setiap perkumpulan lelaki. Apa mereka tidak puas melihat pasangan mereka sendiri saat di rumah. Ingin rasanya ia bertindak gila, melepaskan pakaiannya lalu ikut bergabung bersama mereka. Ia ingin tahu bagaimana respon suaminya. Apakah dia akan senang jika teman-temannya ikut melihat tubuhnya?
"Jangan-jangan kamu ke sini untuk memata-matai pacarmu, ya? Mana lelaki yang menjadi pacarmu?"
"Tuh, yang paling tengah diapit dua wanita berbikini itu."
"Oh, yang itu. Sepertinya aku sudah tidak asing dengan orang itu, tapi aku lupa siapa ya dia.... Kayaknya mukanya familiar."
"Tapi, aku rasa wanita-wanita yang menemani mereka hanya wanita penghibur saja. Ini hal biasa, kalau ada pertemua bisnis, memang mereka suka menyewa para wanita untuk menemani."
"Apa sekarang kamu sedang menceritakan pengalamanmu sendiri?"
"Ya, terus terang aku juga pernah seperti itu. Tergantung masing-masing orang, memang ada yang suka membawa wanita-wanita seperti mereka lanjut ke hotel. Kalau aku sendiri tidak pernah seperti itu."
"Tidak pernah ketahuan?"
"Hahaha.... Aku serius, aku tidak pernah bermain dengan wanita murahan."
Tanpa mereka sadari, ada beberapa orang yang keluar dari ruangan depan dalam kondisi mabuk. Mereka berjalan keluar sambil sempoyongan. Saat mendekati arah Prita dan Rafa, salah seorang diantaranya mendorong keras kedua orang itu hingga tubuh mereka terjatuh dan pintu ruangan Bayu terbuka.
Posisinya, Rafa jatuh terlentang di lantai dan Prita menindih tubuhnya. Kepala rafa terasa sakit terbentur lantai. Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam, Termasuk Bayu.
"Ah! Apa-apaan orang tadi." pekik Rafa yang masih kesakitan. Apalagi di atas tubuhnya ia harus menahan tubuh Prita juga.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Rafa pada Prita.
"Siapa mereka?" tanya salah seorang yang ada di sana.
Bayu menatap lekat dua orang yang terjatuh di depan pintu. Awalnya dia tidak tahu kalau wanita itu adalah Prita. Saat ia menyadarinya, ia langsung bangkit dari duduknya. Kenapa Istrinya ada di klabnya padahal tadi masih meny*usui Livy di kamar? Apalagi dengan penampilannya, dia memakai pakaian yang seksi ke tempat seperti itu? Sekarang, bahkan ia bersama dengan lelaki lain.
Prita menyadari tatapan matanya bertemu dengan Bayu. Ia buru-buru bangkit dari atas tubuh Rafa, lalu membantunya untuk berdiri juga.
Prita menarik tangan Rafa agar berlari bersamanya. Ia tahu, Bayu sudah menyadari kalau itu dirinya. Dia harus segera lari agar tidak teetangkap oleh Bayu.
Dengan tergesa-gesa, ia menuruni anak tangga, menabrak beberapa orang yang berpapasan dengannya. Rafa sampai kebingungan tapi dia tidak bisa berkata-kata, hanya menuruti kemana Prita membawanya.
__ADS_1
"Kamu bawa mobil, kan?" tanya Prita.
"Tentu saja."
"Kalau begitu, cepat ke mobilmu dan pergi dari sini!"
Prita terus membawa Rafa berlari hingga keluar klab dan berakhir dan tempat parkir.
"Itu mobilku." Rafa menunjuk pada mobil Porsche berwarna silver.
"Cepat masuk dan jalankan mobilmu!" Prita kembali menarik Rafa menuju mobilnya.
Seperti yang Prita duga, Bayu beserta anak buahnya sedang berlari mengejarnya.
Prita memasang sabuk pengamannya dan berusaha menenangkan dirinya. "Ayo, jalankan sebelum mereka mengejar!"
Rafa hanya bisa mematuhi permintaan Prita. Dia sendiri tidak paham kenapa dirinya harus ikut lari bersama wanita itu. Tidak ada waktu untuk meminta penjelasan, yang penting ia perlu melarikan diri dulu sejauh mungkin agar tidak terkejar oleh orang yang tadi.
Ketika situasi terasa lebih kondusif, mereka bisa bernafas lega. Sepertinya mobil mereka tidak ada yang mengikuti. Itu artinya, mereka aman.
"Kenapa kita harus lari? Bukankah seharusnya pacarmu yang malu karena sudah ketahuan sedang menikmati waktu bersama wanita-wanita seksi?"
"Seharusnya pacarmu yang melarikan diri. Kamu aneh sekali. Hahaha.... "
"Dia tipe orang yang akan tetap merasa benar walaupun bersalah. Susah untuk menghadapinya. Lebih baik kabur."
"Lalu, aku harus membawamu kemana?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Bawa saja mobilmu memutari kota. Yang jelas, jangan sampai tertangkap oleh mereka."
Rafa memandang ke arah spion, "Sepertinya tidak ada mobil yang mengikuti."
Prita lebih khawatir kepada Rafa daripada dirinya. Bayu mungkin akan marah, namun dia pasti akan cepat memaafkan jika ia bersikap lembut dan sedikit merayunya. Tapi, kalau Bayu tahu lelaki yang bersamanya adalah Rafa, dia pasti akan membuatnya babak belur atau bahkan pulang hanya tinggal nama.
"Jadi, kamu ke klab untuk memata-matai pacarmu, ya?"
"Ya, begitulah."
Akan lebih rumit jika Prita mengatakan lelaki itu adalah suaminya. Dia pasti tidak akan membantunya melarikan diri sekarang.
"Kenapa tidak menyuruh orang? Bahaya seorang wanita pergi malam-malam."
__ADS_1
"Apalagi menurutku kamu bukan tipe wanita seperti itu. Kamu tidak pantas menjadi wanita nakal"
"Aku tidak bisa mempercayai orang lain. Aku akan lebih yakin jika melihat dengan mata kepalaku sendiri."
"Kamu sendiri, kenapa main ke klab? Dari penampilanmu sepertinya bukan tipe lelaki yang suka main-main dengan wanita."
Rafa tersenyum, "Ya, aku hanya mengisi waktu setelah bekerja. Iseng saja untuk menghilangkan penat."
"Sejak adikku menikah, tidak ada lagi orang yang bisa aku ganggu. Jadi aku pergi ke klab untuk menghilangkan rasa bosan."
"Kamu punya adik?"
Prita sudah tahu tapi tetap menanyakannya. Dia ingin memastikan, apakah adik yang akan diceritakan itu adalah Raeka.
"Ya, aku punya seorang adik perempuan yang sangat cantik. Dia itu tidak bisa apa-apa selain belanja dan check out keranjang di online shop."
Prita menutupi mulutnya dengan tangan agar tidak terlihat kalau sekarang ia sedang tertawa. Rafa benar-benar sedang membahas tentang Raeka.
"Menyenangkan sekali bisa mengganggunya setiap hari. Dia gampang ngambek, dan ekspresinya sangat lucu."
"Kami itu empat bersaudara, dia anak paling bungsu dan anak perempuan satu-satunya. Sejak kecil dia sering dibuat menangis oleh kakak-kakaknya, termasuk aku. Kami suka mengganggunya. Sampai sebelum menikah juga masih sama. Jadi, rasanya sepi tidak ada yang diganggu lagi."
"Sepertinya seru ya, punya banyak saudara. Aku yang hanya anak tunggal tidak tahu rasanya punya saudara."
"Hahaha.... Punya saudara itu kadang menyenangkan, tapi lebih banyak menyebalkan. Apalagi saat orang tua membanding-bandingkan dengan anak yang mereka anggap lebih baik. Rasanya sangat mengesalkan."
Seperti yang Prita minta, Rafa hanya membawa mobilnya mengelilingi kota.
"Tapi alasanku sekarang mengunjungi klan sudah berbeda."
"Aku datang ke klab karena berharap bisa bertemu denganmu lagi."
Prita menoleh ke arah Rafa. Lelaki itu pergi ke klab ingin bertemu dengannya lagi?
"Aku rasa, malam ini adalah hari keberuntunganku. Setelah sekian lama menantikanmu di klab itu, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi."
"Aku rasa kita berjodoh." Rafa melanjutkan kata-katanya sambil tersenyum.
"Ah, maksudku, beruntung bisa bertemu denganmu. Aku tidak bermaksud masuk ke dalam hubunganmu dengan pacarmu."
"Kalau boleh memberi saran, sebaiknya kamu menyelesaikan masalahmu baik-baik dengan pacarmu. Kabur bukan suatu cara menyelesaikan masalah."
__ADS_1