
"Sepertinya teman-temanmu keberatan aku ada di sini." ucap Shuwan sungkan.
"Apa kalian keberatan?" tanya Prita pada Andin dan Raeka.
"Aku tidak." tegas Raeka.
"Aku juga tidak, santai saja, Shuwan."
Shuwan menunduk malu. Perlakuannya selama ini terhadap mereka kurang baik, tapi mereka tetap bersikap biasa saja. Ia jadi malu, apalagi dengan kondisinya yang sekarang ini sedang hamil tanpa suami. Sungguh sangat memalukan. Mungkin itu balasan karena sikapnya selama ini yang tidak baik.
Beberapa saat kemudian, pesananan yang mereka nantikan akhirnya tiba. Mereka menyambutnya dengan gembira. Puncak kesenangan jalan bareng teman selain ngobrol memang makan-makan. Apalagi Prita memesankan mereka banyak makanan hingga memenuhi meja yang tersedia.
"Ayo Shu, dimakan. Kenapa malah diam?"
Prita melihat Shuwan masih canggung berada di antara mereka.
"Shuwan, kamu tidak perlu sungkan begitu. Karena Prita sudah mengajakmu, berarti kamu sudah menjadi bagian dari kami sekarang." ucap Raeka.
"Kami tidak akan menyinggung apapun tentangmu yang bisa membuatmu tidak nyaman, kamu tenang saja." tambah Andin.
"Kenapa kalian tetap bisa bersikap seperti ini padaku?"
"Bukankah selama ini kalian benci padaku?"
Prita, Andin, dan Raeka saling berpandangan.
"Kalau kesal dengan perbuatanmu itu tentu saja, Shu. Tapi, sekarang aku lebih khawatir pada keadaanmu, apa kamu baik-baik saja?"
Prita menggenggam tangan Shuwan yang duduk di sampingnya, sepertinya wanita itu sedang tertekan.
Mendapat perlakuan lembut seperti itu, membuat Shuwan menitihkan air mata. Selama ini, hampir tidak ada yang pernah peduli padanya, termasuk teman-temannya. Hari ini, yang menanyakan tentang keadaannya justru orang yang sudah ia sakiti selama ini.
Prita memberikan tisu kepada Shuwan, lalu memberikan sebuah pelukan.
"Shuwan, aku memang tidak bisa membantumu apa-apa. Tapi, aku berharap kamu bisa menghadapi semua ini dengan baik."
"Terima kasih, Prita."
"Shuwan, ayo makan! Untuk apa bersedih-sedih, habis ini kita nonton bareng, ya!" ucap Andin yang membuat mood Shuwan membaik.
Mereka menikmati hidangan shabu-shabu secara bersama-sama di selingi beberapa cerita lucu yang pernah Andin alami ketika berlibur ke Jepang. Suasana yang hangat mampu membuat Shuwan tersenyum. Baru kali ini ia menemukan cyrcle pertemanan yang menyenangkan.
"Kira-kira bayimu cewek apa cowok, Shu?" tanya Andin.
"Masih belum jelas, soalnya baru memasuki 12 minggu."
"Untuk mengetahui jenis kelamin janin paling tidak menunggu usia kehamilan 18 sampai 21 minggu, Ndin."
__ADS_1
"Wah, kalau ibu tiga anak sudah bicara informasinya pasti valid."
"Shuwan, bagaimana dengan Coach Moreno?"
Shuwan terdiam sementara mendengar pertanyaan Raeka.
"Kalau kamu tidak mau menjawab tidak apa-apa kok, jangan jadi beban."
"Tidak apa-apa, kalian juga boleh tahu."
"Kak Moreno belum mau menikahiku." ucap Shuwan sembari menunjukkan senyuman getir.
"Dia kok begitu, sih! Lelaki tidak bertanggung jawab." kesal Andin.
Prita jadi teringat tentang dirinya sendiri. Dulu, dia juga pernah berada di posisi Shuwan, hamil di luar pernikahan. Bedanya, ada Ayash yang mau menerima kondisinya apa adanya karena saatbitu Bayu masih seorang baji*ngan di mata Prita.
"Alasannya apa, kenapa tidak mau menikahimu?"
"Entahlah, katanya waktunya belum tepat."
"Benar-benar ya, pelatih kita tak sebaik kelihatannya. Tega sekali dia padamu."
"Kak Moreno memang baik, mungkin dia hanya bingung dengan kondisinya sekarang. Dia sudah dikeluarkan dari tim atlet nasional."
"Itu bukan alasan, dia tetap harus bertanggung jawab padamu."
Shuwan menoleh ke arah Prita. Sepertinya dia ingin mengatakan hal yang serius.
"Apapun yang akan Pelatih Moreno putuskan terhadapmu, sekalipun ia tidak mau bertanggung jawab, kamu harus tetap kuat, ya."
Shuwan mengangguk, "Dia bahkan menyarankan aku untuk menggugurkan bayi ini, tapi aku tidak mau."
Andin, Raeka, dan Prita tercengang mendengar pengakuan Shuwan.
"Itu namanya sudah kelewatan."
"Aku tidak menyangka Coach Moreno bisa sekejam itu."
"Shuwan, jangan pernah berpikir untuk membuang bayi itu, dia tidak bersalah."
"Iya, aku tahu. Kalau ada yang patut dipersalahkan adalah aku, ibunya."
"Rencananya memang aku akan membesarkannya sendiri jika Moreno tidak mau mengakuinya."
"Prita, aku minta maaf, ya. Kemarin sempat mengaku-ngaku Bayu sebagai ayah dari anakku."
"Aku hanya sangat bingung memikirkan nanti anak ini lahir tanpa ayah."
__ADS_1
"Iya, Shuwan. Aku sudah memaafkanmu. Aku juga tahu yang kamu rasakan."
"Sepertinya sekarang aku sedang mendapatkan karmaku."
"Jangan bilang begitu, semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik."
"Aku tidak menyangka masih ada orang sebaik dirimu, padahal aku sudah banyak menyusahkanmu."
Prita hanya tersenyum.
"Shuwan, kamu mau tahu sesuatu?" tanya Andin.
"Apa?"
"Dulu, waktu SMA, Raeka juga sama sepertimu, suka membuli Prita. Hahaha.... " Andin sangat suka membuka kembali masa lalu.
Raeka jadi berwajah muram karena masa lalunya yang memalukan dibuka kembali oleh Andin.
"Dulu kalian musuhan?" Shuwan penasaran dengan cerita mereka.
"Nggak musuhan, Raeka saja yang memusuhi Prita. Parah juga dia mengganggu Prita. Jadi, mungkin gangguan yang kamu berikan untuk Prita itu bukan apa-apa. Dia sudah berpengalaman oleh Nona Raeka."
"Andin, bisa kan tidak usah dibahas lagi." Raeka sudah malas kalau Andin mulai membahas masa lalu. Ia juga malu pernah menjadi orang seperti itu dulu.
"Nggak bisa, aku senang membahasmu yang dulu. Hahaha.... "
"Aku dan Raeka hanya salah paham, tapi sekarang semuanya sudah selesai."
"Salut dengan kalian, pernah musuhan tapi bisa seakrab ini."
"Semua berkat wanita berhati malaikat ini." Andin menunjuk ke arah Prita.
Shuwan merasa Prita memang sebaik itu. Tadi dia sampai meraih tangannya saat ia sedang berjalan sambil melamun. Ia juga mengajaknya bergabung dengan teman-temannya dan mentraktirnya makan. Mungkin dia tahu kondisinya yang sedang down dan membutuhkan teman bicara.
Shuwan heran terhadap dirinya sendiri, mengapa dia bisa memperlakukan Prita dengan buruk, padahal dia orang yang sangat baik.
"Eh, lanjut nonton film, yuk!" ajak Andin.
Tak terasa, mereka sudah ngobrol di restoran cukup lama dan makanan yang ada di meja hampir habis. Dari food court, mereka beralih ke bioskop. Prita membelikan empat tiket film Warkop DKI, popcorn, dan minuman.
"Biar aku yang bayar." Shuwan menawarkan diri.
"Jangan, hari ini memang tugasnya Prita membayari kita semua." cegah Andin.
"Ayo masuk, mau dimulai filmnya." Andin menarik-narik tangan Shuwan.
Selama pemutaran film, mereka berempat tertawa-tawa melihat kelucuan adegan dalam film. Terutama Andin, dia sampai terpingkal-pingkal dengan genre film kesukaannya itu. Andin memang orang yang sangat ekspresif.
__ADS_1
Sekumpulan wanita dewasa itu seperti kembali menikmati masa remajanya yang tidak dipusingkan oleh masalah kehidupan. Anak dan suami sementara dilupakan. Bahkan, Shuwan yang sedang stres juga bisa melupakan masalah-masalahnya ketika bersama mereka.