
"Siapa yang Anda bawa, Bos?" tanya Alex penasaran melihat sosok baru yang ada di samping bosnya.
"Alex, aku tidak menyuruhmu ikut. Kenapa kamu ada di sini?"
"Dia memaksa ikut, Tuan." Fredi yang berada di balik kemudi turut menyahut.
"Hehehe.... Saya khawatir dengan kondisi Anda, Bos."
"Eki, masuk." perintah Bayu.
"Eki.... " Bayu mengulangi perintahnya karena Prita malah bengong di depan mobil.
"Ah, eh! Iya." Prita ternyata lupa siapa dirinya saat ini. Dia sendiri yang meminta dipanggil Eki, tapi dia sendiri yang lupa.
Fredi dan Alex duduk di baris bangku depan, sementara Bayu dan Prita duduk di bangku belakang. Fredi segera melajukan mobilnya setelah semua naik. Perjalanan panjang menuju Kota J lewat jalan darat akan segera mereka lalui. Butuh waktu sekitar 9 jam perjalanan lewat tol.
Mengapa Bayu memilih perjalanan darat? Karena jarang atau hampir tidak ada pemeriksaan senjata api. Beda jika mereka naik pesawat, mereka tidak bisa membawa senjata bersama mereka.
"Saya senang melihat Anda kembali, Tuan." ucap Fredi.
"Saya juga, Bos. Sepi kalau tidak ada Anda. Saya jadi harus bekerja di kantor selama Bos tidak ada."
"Bagaimana dengan kondisi perusahaan selama aku pergi?"
"Nona Prita bersama teman-temannya sudah bekerja keras membenahinya dengan baik. Tiga orang manager yang melakukan korupsi sudah dipecat dan disuruh mengganti uang perusahaan yang mereka ambil. Jabatan mereka sementara digantikan oleh Ejaz, Edo, saya, dan Alex."
"Kalau Anda menginginkan perubahan lagi, saya akan menyiapkan rapat."
"Nanti kalau urusan ini sudah selesai baru aku bisa mengurusi perusahaan."
"Bos, selama Anda pergi, teman Nona Prita yang bernama Irgi Mahesha itu selalu menghina Anda. Lalu, sepertinya mantan suami Nona Prita masih ada rasa. Dia selalu berusaha mendekati Nona Prita dalam berbagai kesempatan."
"Untunglah Anda segera kembali. Saya takut Nona Prita diambil lagi oleh mantan suaminya."
Rasanya Prita ingin membungkam mulut Alex yang ceriwis. Kenapa dia harus menceritakan hal itu kepada Bayu? Lelaki di sebelahnya itu pasti akan marah. Baru membayangkannya saja sudah merinding. Dengan mengumpulkan segenap keberanian, ia menoleh ke arah Bayu.
Sesuai tebakan, suaminya sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Dia pasti akan memarahi habis-habisan ketika mereka hanya berdua. Prita hanya membalas dengan senyuman.
"Bos, Anda belum mengenalkan orang yang ada di sebelah Anda."
__ADS_1
"Namanya Eki. Dia pengawal baru yang selama ini selalu menemaniku. Baik-baik kalian terhadapnya." Bayu berkata dengan nada dingin. Sepertinya dia masih marah dengan laporan yang diberikan Alex.
"Salam kenal, Eki. Namaku Alex dan di sebelahku Kak Fredi."
"Iya." Prita menjawab dengan singkat.
"Kenapa Anda memilih pengawal yang sekecil ini, Bos?" Alex yang merasa sudah tinggi mengolok-olok Prita yang pendek.
"Supaya gampang disembunyikan, Alex."
"Saya tidak yakin kalau dia bisa membantu."
Alex menatap remeh kepada Prita yang sedang menyamar sebagai Eki. Prita sudah tidak sabar untuk meninju Alex. Tadi sudah membuat suaminya panas, sekarang dia berani menghina fisiknya.
"Saya rasa dia lebih cocok jadi artis atau penyanyi daripada ikut rombongan ini. Pasti jadi beban."
"Hati-hati, Alex. Dia sudah bisa kick boxing dan mua thai. Kamu bisa dibanting kalau membuatnya marah."
Alex mencebikkan bibir, "Hem, tidak meyakinkan."
"Badan sekecil ini kalau terkena angin juga pasti terbang. Beban, beban.... "
"Aduh!" Alex merintih mendapat tonjokan tepat mengenai hidungnya.
Prita sudah hilang kesabaran mendengar ocehan Alex. Dia semakin berani karena mengira dirinya tidak ada. Berani-beraninya dia terus mengganggunya.
Akhirnya Alex bisa diam setelah hidungnya berdarah dan serasa hampir patah. Alex memang sudah salah mencari musuh. Bayu dan Fredi tertawa terbahak-bahak serasa ikut puas melihat kondisi Alex. Baru kali ini ada yang berani melukai anggota termuda Red Wine sekaligus anggota kesayangan Bos Bayu.
"Hahaha.... Eki, jangan kasar-kasar dengan adikku. Kasihan dia." ujar Fredi.
"Bos, dia sudah berani memukulku." Alex mencoba merengek pada Bayu. Biasanya, Bayu memang akan membelanya.
"Aku sudah memperingatkanmu, Alex. Pengawalku ini sangat tempramental. Jangan membuatnya marah, oke?"
"Eki, urusan kita belum selesai. Nanti kalau kita sudah sampai, aku akan menantangmu berkelahi."
"Alex.... "
"Aku juga sudah belajar kick boxing dengan Kak Fredi, Bos. Aku tidak takut untuk melawan Eki."
__ADS_1
"Kamu tidak boleh mengganggu Eki. Kalau mau berkelahi, lawan aku saja."
"Kenapa, Bos?"
"Aku mengajaknya bukan untuk menghadapimu."
"Tapi dia sudah memukul saya duluan, saya mau membalas."
"Nanti kalau kamu nekad melawan Eki, aku pastikan kamu jatuh dan tidak bisa bangun lagi."
Alex kembali terdiam. Ia merasa saat ini ada anggota baru yang lebih disayang oleh bosnya. Bayu tidak lagi membelanya. Alex memendam kekesalan dalam hatinya.
"Fred, bagaimana dengan anak buahmu?"
"Mereka sudah lebih dulu berangkat. Saya menyuruh mereka menunggu di titik yang sudah kita tentukan."
"Jangan langsung bersilahturahmi ke rumah ayahku. Suruh mereka beristirahat dulu di basecamp."
"Baik, Tuan. Nanti akan saya sampaikan."
"Kamu juga. Kalau mengantuk, tidur dulu atau gantian menyetir dengan Alex."
"Baik."
Perjalanan masih terus berlanjut, malam juga kian larut. Fredi menyalakan lagu-lagu band terkenal Indonesia tahun 2010-an untuk menemani perjalanan agar ia tidak mengantuk.
Prita menoleh ke arah Bayu. Tampak ia sedang memandang ke arah jendela kaca. Sepertinya ada yang sedang dia pikirkan. Prita berharap bisa membaca apa yang saat ini ada di dalam fikiran suaminya.
Meskipun mungkin ia terlihat seperti seorang yang kejam, kini Prita semakin menyadari bahwa suaminya benar-benar memiliki sisi kemanusiaan. Dia pergi ke Kota J demi anak buahnya yang bernama Ben yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya. Dia juga menyuruh anak buahnya untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh.
Hal yang lebih membuat Prita terharu, sebelum berangkat Bayu sempat mengatakan padanya jika dia menghabiskan banyak uang untuk mengembalikan perusahaan milik keluarganya. Selain untuk menjaga kenangan yang Prita miliki, juga untuk memberikan tempat kerja bagi anak buahnya.
Dia ingin berhenti dari dunia yang selama ini menjadi tempatnya hidup. Tapi, dia tidak mau menelantarkan anak buahnya begitu saja. Mencari kerja saat ini sangat susah. Banyak orang terpaksa menjadi jahat bukan karena kemauan mereka, tapi karena desakan ekonomi. Dia tidak ingin anak buahnya tetap dalam dunianya sementara ia sudah berhenti. Kalau bisa, mereka berubah bersama-sama.
Bayu juga bilang, mungkin ini terakhir kalinya dia akan menjadi seorang yang kejam yang sangat ringan mengangkat senjata dan menembakkan pada siapa saja yang dianggapnya musuh. Kali ini, meskipun harus membunuh ayahnya, akan dia lakukan.
Dan Prita mengikutinya karena tidak ingin ada pertumpahan darah antara ayah dan anak. Dia berharap keduanya bisa menjadi keluarga yang normal tanpa harus saling membunuh.
Lambat laun rasa kantuk menghinggapi Prita. Ia sudah tak tahan untuk memejamkan matanya, kemudian tertidur tanpa ia sadari di dalam mobil yang terus melaju memecah kesunyian malam.
__ADS_1