ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Memberi Penguatan


__ADS_3

"Masih punya muka ya dia datang ke butik."


"Iya, aku kira setelah berita tentang ayahnya tersebar di mana-mana, dia tidak akan muncul lagi."


"Sumpah! Kalau aku mungkin sudah bunuh diri punya ayah seperti itu."


"Harusnya dia kabur ke luar negeri, di kota ini keluarganya sudah terkenal buruk."


"Anak pengusaha tapi pengusaha ganja. Hahaha.... "


"Tukang main politik kotor pula. Parah sih.... "


"Siapa yang menyangka, ya kan.... "


Andin baru saja kembali setelah bertemu dengannya di kafe. Dia kembali ke butik dan mendapati anak buahnya sedang membicarakan sesuatu. Dari perkataan yang ia dengarkan, sudah jelas jika mereka sedang menjelek-jelekkan Valerie di belakangnya.


Andin dan Valerie belum lama bekerjasama. Saat Andin kembali ke Kota J, ia kembali bertemu dengan Valerie, adik angkatannya saat bersekolah di Luar Negeri. Mereka lulusan dari kampus yang sama. Bahkan, Valerie juga pernah ikut magang di butiknya yang ada di luar negeri.


"Coba obrolan kalian itu langsung diucapkan depan orangnya!" seru Andin.


Keempat karyawan wanita itu terkejut, tiba-tiba sudah ada Andin di dekat mereka. Tawa dan gunjingan yang sedari tadi mereka nikmati seketika lenyap, yang tersisa hanya ketakutan akan dipecat oleh bos mereka.


"Maafkan kami, Bu Andin." ucap salah seorang di antara mereka dengan nada sungkan dan ekspresi ketakutan.


"Lanjutkan saja obrolan kalian! Lanjutkan!" Andin jadi emosi dengan tingkah karyawannya sendiri. Mereka berempat tak ada yang berani membantah Andin.


"Apa untungnya kalian membahas hal seperti itu? Kalian mau membunuh orang, ya, dengan kata-kata kalian?"


Keempat wanita itu saling berpandangan. Mereka sampai dituduh Andin ingin membunuh Valerie.


"Bu.... Kami memang salah karena mengobrol di jam kerja. Tapi, kami tidak sampai sejauh itu bermaksud ingin membunuh Bu Valerie. Kata-kata Bu Andin itu terlalu menyeramkan."


"Iya, Bu. Kami kan hanya mengobrol sedikit saja dan yang kami bicarakan itu kenyataan."


"Tujuan kalian membahas hal seperti itu untuk apa sih? Kalian mau lihat Valerie jadi depresi?"


"Kata-kata yang kalian anggap sepele itu tanpa sadar bisa sangat menyakitkan loh bagi orang lain."


"Ya kalau dia tahan dengan gunjingan orang mungkin tidak akan kenapa-napa. Tapi tidak semua orang sekuat itu. Ada orang yang terpuruk hanya karena ucapan buruk."


"Aku tidak habis pikir ada orang semacam kalian. Tidak merasa bersalah setelah mengucapkan hal-hal yang buruk kepada orang lain."


"Senang ketika ada orang yang keluarganya bermasalah jadi terpuruk, depresi, mungkin kalau sampai orangnya bunuh diri kalian akan lebih tertawa puas, ya!?" nada suara Andin meninggi.


"Nanti yang disalahkan orangnya karena tidak kuat mental. Padahal pembunuh sesungguhnya adalah orang-orang seperti kalian. Hanya saja kalian bermain bersih, membunuh tanpa menyentuh, membunuh hanya dengan ucapan buruk kalian."

__ADS_1


Mereka berempat seperti sedang diceramahi. Sebenarnya tak ada maksud sejauh itu, tapi mereka kembali berpikir bahwa memang apa yang dilakukan memang salah. Tidak sepatutnya mereka bersikap seperti itu.


"Kalau tidak bisa memberikan bantuan, bukankah lebih baik diam? Itu sudah sangat membantu."


"Orang-orang seperti Valerie itu butuh dukungan, sulit menjalani hidup seperti dia. Memangnya dia bisa memilih dilahirkan dari orang tua yang seperti apa? Yang bersalah itu ayahnya loh, sudah diproses juga secara hukum. Kenapa kalian ikut-ikutan mengadili Valerie? Salah apa dia kepada kalian?"


"Apalagi kita teman satu kantor, kalau bukan kita yang memberi dukungan, lalu siapa lagi?"


"Iya, Bu. Maafkan kami. Kami mengaku salah dan tidak akan mengulanginya lagi."


"Kak Andin, ada apa ini? Daritadi sepertinya Kakak sedang marah-marah?"


Valerie menatap heran kepada Andin. Ia baru saja keluar dari ruangannya dan mendengar Andin berbicara dengan nada setengah berteriak.


Mendengar kehadiran Valerie, raut wajah Andin yang semula garang langsung berubah menjadi ceria.


"Ah, tidak. Biasalah, hanya mengingatkan mereka untuk lebih serius bekerja." ucap Andin dengan senyuman lebar yang merekah di bibirnya.


Valerie menengok ke arah para karyawan, raut wajah mereka terlihat pucat seperti ketakutan.


"Pekerjaan mereka baik-baik saja kok, Kak. Semuanya diselesaikan dengan baik." jawab Valerie.


Valerie tidak tahu apa yang baru saja mereka bicarakan tentang keluarganya. Seandainya dia tahu, apa mungkin dia masih bersikap baik kepada mereka.


"Tapi jangan dengan nada marah-marah juga, Kak. Kasihan mereka ketakutan."


"Ah, iya. Lain kali akan aku usahakan berbicara dengan nada lebih santai. Tapi, aku tidak sedang marah-marah. Yang tadi itu namanya ketegasan."


"Hem, oke deh, terserah Kak Andin saja. Aku mau membahas beberapa desain yang sudah aku buat beberapa hari ini. Apa kak Andin mau melihatnya?"


"Boleh, boleh.... "


"Ke ruanganku sebentar, ya."


"Oke."


"Kalian jangan ulangi yang tadi, ya."


Andin memperingatkan karyawannya sebelum pergi. Mereka mengangguk.


"Kak, makasih, ya.... " ucap Valerie ketika mereka sampai di dalam ruangannya.


Valerie mengucapkan hal itu sambil tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Lah, berterima kasih untuk apa? Memangnya aku sudah melakukan apa? Melihat desainmu saja belum." Andin sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud Valerie.

__ADS_1


Valerie tertawa sambil menangis mendengar ucapan Andin. Dia tidak menyangka jika seniornya saat kuliah itu memang sebaik itu.


"Lah, kok malah nangis." gumam Andin.


"Hahaha.... " Valerie mengusap air matanya yang jatuh. "Kak.... Sebenarnya aku sudah tahu apa yang mereka bicarakan sejak pagi tadi." Valerie menghela nafas panjang untuk menghentikan tangisannya.


Andin melongo, ternyata Valerie sudah tahu.


"Mereka sudah menggunjingku sejak aku baru datang ke kantor. Mereka terus membahas tentang ayahku sepanjang hari. Katanya aku tidak tahu malu masih berani datang ke kantor. Terus terang itu memang membuatku sedih."


"Tapi, mendengar Kak Andin yang membelaku seperti tadi, aku jadi merasa senang. Setidaknya masih ada satu orang yang tidak mempermasalahkan keberadaanku hanya karena perbuatan ayahku."


"Terima kasih, ya, Kak." air matanya kembali luruh ketika mengucapkan terima kasih itu.


Andin langsung memeluk Valerie, mengusap punggungnya untuk diberi penguatan.


"Sabar, ya. Kamu tidak berbuat salah apa-apa. Kita akan tetap bekerja bersama-sama."


Valerie membalas pelukan Andin dengan erat. Baru kali ini dia menemukan tempat yang bisa memahami perasaannya saat ini.


Tidak ada yang tahu bahwa sangat berat untuknya ketika memutuskan kembali masuk kantor setelah berita tentang ayahnya menyebar dimana-mana. Orang-orang akan terus memandanginya kemanapun ia pergi. Seolah ia ikut menjadi bagian dari kesalahan yang dilakukan ayahnya.


Andin adalah orang yang mendorongnya untuk segera kembali ke kantor. Dia meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.


Senang rasanya mengetahui ada orang yang benar-benar menyayanginya, padahal dia hanya orang lain yang tidak ada hubungan darah.


"Jadi, mana desain pakaian yang ingin kamu tunjukkan padaku?" tanya Andin setelah tangisan Andin mereda.


"Ah, iya, Kak. Ada di meja. Aku membuatnya saat tidak datang ke kantor."


Andin memperlihatkan buku desain pakaian yang sudah ia gambar kepada Andin. Mereka melihat satu per satu desain yang dibuat, Andin memberikan penjelesan seputar gambar desain yang telah ia buat. Sesekali Andin berbicara menanyakan hal-hal yang masih ia ragukan, juga memberi sedikit masukan tentang desain yang Andin buat.


Tok tok tok


"Masuk." seru Andin.


Salah seorang karyawan melongok dari balik pintu.


"Bu Andin, ada yang mencari." katanya.


"Siapa?"


"Pak Arga."


Andin keheranan, untuk apa Arga datang ke tempatnya lagi. Dia sudah bilang, tidak suka kalau Arga datang ke kantornya. Dia lebih suka menemui Arga di luar kantor. Ini sudah kedua kalinya Arga memaksa datang ke tempatnya. Sepertinya dia harus menegaskan lagi kalau dia tidak menyukai hal itu. Hubungan mereka sama sekali tidak spesial dan sedekat itu.

__ADS_1


__ADS_2