
"Lalu, apa sekarang kamu masih im.... "
"Kya.... Bayu.... "
Pertanyaan Tio terpotong oleh suara teriakan Karla yang tiba-tiba masuk ke ruangan mereka. Dengan perasaan gembira, dia berlari menghampiri dan langsung duduk di pangkuan Bayu secara paksa dan memberi pelukan erat. Wanita yang sudah bersuami itu masih saja bertingkah seperti itu saat berada di dekat Bayu.
"Karla, sadar status.... Ingat suami di rumah." Jaka mengingatkan.
"Ih! Apa-apaan sih, jadi horror kan kamu bilang seperti itu." umpat Karla yang mood-nya jadi buruk karena Jaka. Mendengar kata suami, yang terlintas di benaknya hanya lelaki tua berbadan buncit dan mesum. Kalau saja bukan karena uangnya, tidak mungkin Karla mau menjadi istri kedua lelaki semacam itu.
"Apa kabar, Bay? Lama tidak bertemu."
Karla masih duduk di pangkuan Bayu dengan kedua tangan yang melingkar di leher. Bayu selalu tampak mempesona di matanya.
"Aku baik-baik saja. Tolong turun dari pangkuanku. Sepertinya sekarang kamu tambah gendut. Aku keberatan."
"Hahaha.... " Terdengar suara tawa yang renyah dari Tio, Angga, dan Jaka.
Sementara, Karla tampak kesal. Dia turun dari pangkuan Bayu dengan kasar dan mengambil tempat duduk yang agak jauh dari Bayu. Ia membuang muka karena merasa direndahkan.
"Parah kamu Bay, Princess kita jadi marah."
"Sori Karla, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Mungkin makanmu enak-enak sekarang jadi tubuhmu lebih berisi. Atau mungkin saat ini kamu sedang hamil?"
Karla mengambil sebatang rokok dari atas meja. Ia nyalakan rokok itu dengan pemantik dan menyesapnya.
"Kalau aku mau punya anak, itu hanya denganmu, Bayu. Aku tidak mau punya anak dari suamiku yang sekarang. Kasihan anakku nanti jadi buruk rupa."
"Kejam kamu Karla, suami sendiri dihina-hina."
"Dia memang pantas dihina. Salah siapa tidak berlaku adil kepadaku. Walaupun aku istri kedua, tetap saja aku masih istrinya."
Karla akhir-akhir ini sedang stres. Awal-awal menikah, suaminya terlihat sangat menyayanginya. Setiap apa yang dia minta selalu dipenuhi. Mobil, rumah, apartemen, barang-barang mewah, akan suaminya berikan tanpa berpikir panjang. Masalah mulai muncul saat dia memiliki ide untuk membangun sebuah perusahaan kosmetik. Suaminya menolak untuk memberikan modal. Alasannya, kemampuan bisnis yang dia miliki belum mumpuni. Padahal, dia ingin mendirikan perusahaannya sendiri.
Sementara, ia dengar istri pertama suaminya diberi hadiah sebuah restoran mewah untuk diurus bisnisnya sendiri. Anak-anaknya juga diberi kekuasaan untuk mengurusi bisnis-bisnisnya yang lain.
Sekarang, suaminya itu semakin jarang datang menemuinya. Dia hanya akan datang untuk berhubungan badan, lalu pergi setelah mendapat kepuasan. Dari hari ke hari dia semakin merasa diperlakukan sebagai pelacur atau wanita simpanan daripada sebagai seorang istri.
__ADS_1
Dia pernah datang menemui istri pertama suaminya itu. Wanita yang sudah jauh lebih tua itu juga tau dia istri kedua suaminya. Tapi, sikapnya sangat biasa saja. Seakan dia tidak peduli jika suaminya memiliki istri yang lain. Padahal, ia ingin menggunakan isu pelakor untuk menghancurkan kehidupan keluarga suaminya agar dia bisa menjadi penguasa satu-satunya harta.
"Coba periksa dulu Karla, siapa tau kamu memang benar-benar hamil. Wanita hamil itu tidak baik kalau merokok apalagi minum-minuman beralkohol."
Karla berdecih mendengar saran tak bermutu dari Anggap. Dia malah menenggak habis segelas wine yang ada di hadapan Tio.
"Wanita yang satu ini nggak usah dinasihatin deh, tingkahnya semakin menjadi-jadi. Apa yang dilarang malah dilakuin."
"Biarin lah Tio, itu memang caranya bersenang-senang. Kasihan, di rumah dia sudah menderita jangan ditambah lagi penderitaannya."
"Tuh, jadi lelaki seperti Angga, tau perasaan wanita."
"Ngomong-ngomong Tuan Bayu tumben ada di sini."
"Katanya anak Bayu sedang sakit dan dirawat di sini, Kar."
"Uhuk uhuk.... " Karla tersedak saat sedang minum. Perkataan Angga membuatnya terkejut.
"Anak? Kamu punya anak, Bay?" Karla melotot seakan tidak suka mendengar berita itu.
"Bagaimana bisa.... Kamu kan impotensi, Bay!"
"Bayu berhasil membuat anak sebelum itu, Kar. Anaknya sudah lima tahun usianya."
Karla meneguk ludahnya sendiri. Ia tidak rela ada wanita yang melahirkan keturunan Bayu selain dari dirinya.
"Siapa.... siapa wanita yang sudah melahirkan anak untukmu?"
"Siapa lagi kalau bukan Prita, Kar. Wanita yang dulu dibawa kemana-mana oleh Bayu."
Karla meremas ujung bajunya sendiri. Lagi-lagi wanita kampungan itu. Padahal sudah lama wanita itu pergi dari kehidupan Bayu tapi sekarang datang lagi dan membawa seorang anak.
"Hahaha.... Paling itu bukan anakmu, Bay. Wanita itu pasti berbohong."
"Aku sudah melakukan tes DNA dan hasilnya menyatakan kalau dia anakku."
"Mereka katanya mau menikah, Kar. Prita dan Bayu." Tio sepertinya ingin memanasi situasi. Dia malah membahas hal seperti itu di depan Karla. Tentu saja wajah Karla semakin terlihat marah. Ia kembali meneguk minumannya.
__ADS_1
"Apa mau wanita itu denganmu? Memangnya punyamu sudah sembuh?" Karla menampikkan senyum seringainya.
Bayu terdiam sejenak. Dia sedang memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Karla. Wanita itu tidak akan puas jika belum mendapat jawaban yang diinginkannya.
"Seperti yang kamu tau, Karla. Aku belum sembuh dan sepertinya tidak akan sembuh. Tapi setidaknya aku sudah punya anak, jadi barangku sudah tidak telalu penting lagi."
"Hah! Mana ada orang yang bisa hidup tanpa s*x."
"Makanya aku memilih Prita. Biar dia yang menderita, bukan kamu, Karla. Prita pantas mendapatkan balasan karena telah berani meninggalkan aku dulu." Bayu membalas ucapan Karla sambil tersenyum.
Karla menenggak satu gelas lagi minumannya. Ia memikirkan, jika dia hidup bersama Bayu, iti hal yang sangat diimpikannya. Tapi, tanpa s*x.... sepertinya dia tidak akan kuat sekalipun itu demi Bayu. Masih mending jika dia hidup bebas, setiap malam bisa memilih dengan siapa lelaki yang bisa ia tiduri.
Bayu melihat arah jam tangannya, sudah pukul setengah sepuluh malam. Ini sudah sangat larut dan dia harus kembali ke rumah sakit menemani Prita dan Daniel.
"Bro, aku pulang dulu, ya."
"Kenapa cepat-cepat, Bay. Belum ada jam dua belas." cegah Angga.
"Aku ada urusan lain. Kalian berdua juga katanya sudah punya anak istri, buruan pulang. Kalau Tio dan Karla sih aku tidak berkomentar."
"Sebentar lagi, Bay. Aku juga tidak setiap malam kok main ke klab."
"Oke, selamat bersenang-senang. Aku pergi dulu."
Bayu meninggalkan segepok uang di atas meja sebelum beranjak pergi. Teman-temannya selalu takjub, betapa ringan orang seperti Bayu menghambur-hamburkan banyak uang. Tentunya merek juga senang karena malam ini mereka tak harus mengeluarkan uang karena Bayu sudah mentraktir mereka.
"Aku jadi penasaran ingin melihat anak Bayu."
"Ya, aku juga. Anaknya sudah lebih besar dari anak kita."
"Gila sih, dia curi start bikin anak. Diam-diam bisa mengalahkan kita."
"Anaknya kira-kira pecicilan dan galak seperti ayahnya apa nggak, ya?"
"Sepertinya begitu. Anak Bayu sudah pasti mirip seperti Bayu."
Karla hanya melanjutkan minumnya. Dia jengah mendengarkan percakapan ketiga temannya itu tentang Bayu. Dia iri dengan hidup semua orang. Mereka sepertinya memiliki kehidupan yang bahagia, sedangkan dia selalu menderita. Tidak pernah sedetikpun dia merasakan bahagia yang sesungguhnya.
__ADS_1