ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pergi Ke Club 2


__ADS_3

"Minumlah." Roy menyuguhkan segelas red wine di hadapan Prita.


"Maaf, aku tidak bisa minum." tolak Prita.


"Oh, ayolah, ini hanya wine. Sama saja dengan makan buah anggur. Di sini minum hanya hal biasa untuk menghormati orang lain."


"Aku akan menjawab pertanyaanmu jika kamu mau menghargai pemberianku."


Glek


Prita menenggak satu sloki wine yang ada di hadapannya. Ia ingin urusannya cepat selesai.


Roy terkesima dengan gaya badass yang Prita tampilkan ketika menenggak minumannya. Sangat seksi.


"Apa benar club ini milikmu?" Prita tidak mau berbasa-basi lagi.


"Ya, benar. Skylight Bar ini milikku. Namaku Roy. Orang yang sering datang ke sini pasti tau siapa aku."


"Bukannya ini milik Bayu? Bayu Bagaskara?"


Roy mengerutkan dahi, penasaran kenapa wanita itu bisa mengenal bosnya.


"Rafa, ada yang mencarimu di luar!"


Terdengar suara yang berasal dari arah pintu menginterupsi pembicaraan mereka.


"Ah, oke. Aku segera ke sana." jawab Rafa dengan nada tak kalah keras.


"Prita, aku keluar sebentar. Nanti, setelah urusanku selesai aku akan kembali lagi kesini."


Prita mengangguk, mengijinkan Rafa keluar meninggalkannya.


"Apa kalian berteman?"


"Aku baru mengenalnya malam ini."


"Ah, begitu. Dia member tetap di club ini. Dia sering datang. Aku sudah akrab dengannya."


Tiba-tiba kepala Prita teras aperat dan pusing. Pandangannya menjadi kabur dan akhirnya ia pingsan dengan kepala yang ia jatuhkan tepat di atas meja.


Roy sampai kaget melihatnya. Wanita itu langsung pingsan tak berselang lama meminum wine yang ia berikan. Pasti dia tidak pernah minum sebelumnya. Padahal sari caranya menenggak habis wine dalam satu tegukan, ia kira wanita itu akan menjadi teman minum yang mengasyikan.


Roy turut meletakkan kepalanya di atas meja. Ia memandangi wanita itu. Wajahnya masih terlihat cantik meskipun sedang tertidur. Ia jadi berpikir, sebenarnya untuk apa dia datang menemuinya? Apa mungkin wanita seperti itu ingin ia tiduri seperti yang lainnya? Tapi wajah nya terlalu polos untuk disebut sebagai wanita nakal. Lalu, kenapa dia menyebut nama bosnya? Apa mereka saling kenal?

__ADS_1


Wanita seperti dia tidak seharusnya ada di tempat seperti ini. Meskipun cara berpakaiannya tidak terbuka, tapi paras wajahnya bisa menarik perhatian lelaki. Dia tetap terlihat seksi dari sudut pandang kaum lelaki.


Ia menyingkirkan helaian rambut yang menghalanginya menikmati keindahan wajahnya. Semakin dilihat, semakin ia tak bisa menahan diri. Rasanya ia jadi menginginkannya.


Memang tidak etis jika dia menikmati seorang wanita dalam kondisi mabuk atau tidak sadarkan diri. Tapi, sepertinya melewatkan kesempatan malam ini akan membuatnya menyesal.


"Bobi, apa ada kamar sebelah yang kosong?" tanya Roy kepada salah seorang anak buahnya.


"Kamar 26 kosong, Bos."


"Oke."


"Heh! Kamu mau bawa kemana wanita itu?" tanya salah seorang lelaki bertato yang tadi duduk bersamanya.


"Aku mau memindahkannya ke kamar. Dia pasti tidak nyaman tertidur di sini. Aku kasihan."


"Halah! Paling itu alasanmu saja. Kamu pasti mau apa-apain dia, kan?"


"Kalau sudah selesai panggil aku, ya. Aku juga mau!"


Roy menggendong Prita ala bridal style. Ia tak menggubris ucapan temannya itu dan tetap berjalan menuju kamar nomor 26.


Sementara itu, Alex baru kembali dari toilet. Ia kebingungan karena di ruangan itu sudah tidak ada lagi Roy.


"Baru saja keluar. Sepertinya mau bersenang-senang dengan seorang wanita cantik di kamar sebelah." jawab lelaki bertato itu.


Wanita cantik? Semua wanita memang akan dianggap cantik terutama oleh lelaki hidung belang. Asal punya lubang dan bisa memuaskan ya mereka sebut cantik. Roy juga setiap malam sudah biasa bermain dengan wanita yang berbeda-beda. Alex juga sudah tau.


"Kamu juga kesini, Alex. Ayo minum dan kita bersenang-senang. Kamu sudah cukup umur kan melakukan semua ini?"


"Maaf ya, tapi aku aku tidak bisa minum."


"Payah! Sejak dulu tidak ada kemajuan. Kalau kamu seperti itu terus, otakmu tidak akan berkembang. Kayak anak kecil terus."


Alex sejak remaja sudah akrab dengan dunia kebebasan seperti itu. Melihat orang mabuk, main wanita, bukan hal baru. Tapi, dia tidak pernah tertarik untuk mencoba hal-hal tersebut. Pernah ia mencicipi sedikit bir. Rasanya pahit seperti mencekik lidah. Bukan kesukaannya. Ia juga heran kenapa orang-orang menyukai minuman semacam itu.


Sudah bagus hobinya main game. Itu hal paling mengasyikan yang bisa dilakukan. Ia berharap juga pekerjaannya tidak terlalu banyak agar punya lebih banyak waktu untuk bersantai. Seperti motto hidupnya, 'kerja tanpa lelah, gaji melimpah'.


"Kak Roy di kamar berapa?" tanya Alex lagi.


"Kenapa? Sebaiknya kamu tunggu saja sampai mereka selesai bersenang-senang. Dia akan marah kalau sampai kamu mengganggu kesenangannya."


Walaupun sedang tanggung main tusuk-tusukan sekalipun Alex tetap harus menemui Roy. Dia tidak ingin menunda pekerjaannya dan menumpuk di hari-hari berikutnya. Pokoknya, weekend dia sudah harus bebas tugas atau Bos Bayu akan membebaninya dengan tugas yang lebih berat.

__ADS_1


"Bos besar akan menggantungku jika aku tidak menyelesaikan pekerjaanku secepatnya. Karena itu aku harus bertemu dengan Kak Roy sekarang juga."


"Ah! Terserah kamu saja. Tadi aku dengar dia di kamar 26. Coba saja kamu cek sendiri. Aku mau lanjut bersenang-senang. Sana cepat pergi dasar anak ingusan!"


Lelaki itu mengusir Alex dengan sangat tidak sopan. Alex bersumpah suatu saat akan meminta bosnya untuk mem-blacklist orang itu agar tidak bisa datang ke club lagi.


Alex keluar ruangan dengan perasaan kesal. Ia berjalan menuju kamar nomor 26 yang berjarak dua kamar dari ruangannya sebelumnya.


Ketika Alex hendak membuka pintu, ternyata terkunci dari dalam.


Tok tok tok


Alex mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban. Ia masih mencoba bersama dan kembali mengetuknnya. Tetap tidak ada jawaban.


Dor dor dor!


"Woy, buka!" teriak Alex. Ia kesal sekali sampai menggedor dan menendang keras pintu itu. Beberapa orang yang kebetulan lewat berbisik-bisik melihat kelakuan Alex.


Klek


"Bangsat! Ganggu orang senang-senang!" Roy membuka pintu dengan perasaan sangat marah. Ia hanya mengenakan ****** ******** karena terburu-buru membuka pintu.


"Bajingan! Mau apa kamu, Alex! Tidak bisa menunggu sebentar apa?"


"Kalau bukan permintaan Bos Bayu, aku juga tidak mau mengganggumu. Tadi kan aku sudah meminta laporan keuangan bulan lalu. Tinggal kakak berikan dan aku akan pergi."


Mendengar tentang laporan keuangan dan nama Bayu disebut, amarah Roy melunak. Dia memang belum menyelesaikan laporan bulan lalu.


"Beri aku waktu beberapa hari, Alex. Aku masih sibuk dengan urusanku."


"Aku sudah memberimu waktu sejak satu minggu lalu, Kak. Kalau seperti ini terus, aku juga akan ikut kesulitan."


Roy menyunggingkan senyum, mencoba merayu Alex. "Adikku yang manis, bantulah kakakmu ini sekali lagi. Aku janji dalam dua hari akan membereskan semuanya."


Alex mendorong tubuh Roy hingga pintu kamar terbuka lebih lebar. Dia meringsek masuk ke dalam. Ia penasaran siapa wanita yang malam ini membuat Roy begitu sibuk dan berani memakinya.


Tampak Seorang wanita terbaring di atas ranjang mengenakan dres warna hitam. Bagian bawah pakaiannya sudah tersingkap hingga memperlihatkan paha dan ****** ***** warna putih yang dikenakan.


"Mau apa kamu?"


Roy menahan tangan Alex agar tidak mendekati wanitanya. Namun, Alex menepisnya. Ia tetap berjalan mendekati wanita itu.


"Nona Prita!"

__ADS_1


Wanita itu adalah seseorang yang Alex kenal. Bukan orang lain, melainkan Prita, wanita kesayangan bosnya. Entah apa yang akan Bayu lakukan jika tahu wanitanya ada di sana, di club miliknya sendiri.


__ADS_2