
Pagi yang tenang di kediaman Tuan Zetian. Ia sedang menikmati sarapannya seperti biasa. Dia makan sendirian. Di sekitarnya ada asisten dan beberapa pelayan yang sedang berdiri menunggu perintah.
Sejak Shuwan memilih tinggal di apartemen, Zetian hidup sendiri di rumah besar itu. Tentunya dia tak pernah merasa kesepian meskipun hidup sendiri. Kesibukannya bekerja mengalihkan rasa kesepian untuk hal yang lebih produktif. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di tempat perusahaan daripada di rumah sendiri. Rumah hanya tempat persinggahan untuk melepas penat.
"Tuan, ada hal buruk yang terjadi dengan Nona Shuwan." bisik asistennya.
"Katakan, apa itu?"
Asisten memperlihatkan layar tablet yang dibawanya. Sederet kabar online yang sedang trending berjajar di mesin pencarian. Mata Zetian membelalak. Seketika ***** makannya langsung hilang melihat deretan berita itu. Judul berita menggemparkan tentang Shuwan dan Moreno ada di sana.
Moreno Belum Lama Bercerai Tapi Sudah Dekat dengan Wanita Cantik Lain?
Moreno, Atlet Panahan Nasional Bercerai karena Orang Ketiga
Mengenal Lebih Jauh Sosok Shuwan Mey, Wanita yang Diduga Pelakor Rumah Tangga Atlet Panahan
Selingkuhan Moreno Ternyata Anak Pengusaha
Moreno Tinggalkan Anak dan Istri Demi Wanita Bernama Shuwan Mey
7 Fakta Tentang Shuwan Mey Nomor 5 Bikin Kaget
Moreno dan Manajer Holly Hotel Ada Apa?
"Antar aku ke tempat Shuwan!" perintah Zetian.
Amarah Zetian sudah memuncak. Tidak tahu lagi apa yang nanti akan ia lakukan terhadap anaknya yang sangat bodoh itu. Jauh-jauh hari dia sudah memperingatkannya agar menjauhi duda itu. Tapi anak itu keras kepala. Akhirnya muncul berita yang tidak-tidak.
Berita itu bukan hanya akan berpengaruh pada Shuwan, tapi juga nama baik keluarga besarnya serta bisnis-bisnisnya.
"Shuwan Mey....!" seru Zetian.
Shuwan yang sedang berdandan di dalam kamar langsung keluar setelah mendengar teriakan ayahnya. Pagi-pagi sekali ayahnya sudah datang ke apartemennya.
"Ada apa, Pa?" tanya Shuwan dengan wajah polosnya. Dia memang belum tahu apa-apa.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Shuwan. Zetian memang tipe orang tua yang tempramental. Bukan sekali ini saja dia berbuat kasar kepada anaknya. Ia selalu memukul Shuwan jika perbuatannya membuat ia murka. Terkadang meskipun Shuwan tidak bersalah, Zetian tetap melampiaskan kekesalannya pada Shuwan. Karena itulah Shuwan memilih tinggal sendiri di apartemen.
"Kenapa Papa menamparku? Aku salah apa?"
"Berikan itu padanya!"
Asisten Tuan Zetian memberikan tabletnya kepada Shuwan. Wanita itu sangat kaget ada ribuan berita tentang dirinya di internet. Tangannya gemetar. Selama ini ia sangat berhati-hati jika pergi dengan Moreno. Bagaimana bisa hubungan keduanya menjadi sorotan publik?
"Pembelaan apa yang mau kamu katakan dengan kelakuanmu itu! Aku sudah bilang, tinggalkan duda itu!"
__ADS_1
"Papa.... aku sudah sangat berhati-hati. Kami juga jarang bertemu."
"Kalau sudah seperti ini siapa yang repot? Kamu bisa menyelesaikan semua ini sendiri?"
"Papa.... maafkan aku.... " Shuwan memelas. Air matanya mulai mengalir. Ia tahu sudah membuat sebuah kesalahan fatal. Kelakuannya bukan hanya akan berimbas pada dirinya sendiri, tapi juga pada bisnis ayahnya.
"Untuk menghapus berita-berita semacam ini perlu uang yang banyak. Kamu punya Bayu yang bisa kamu mintai uang. Tapi Papa tidak jamin dia masih akan mau menerimamu sebagai pacarnya."
"Atau kamu mau meminta bantuan Moreno? Hahaha... Aku rasa dia tidak bisa melakukan apa-apa. Seleramu memang payah!"
"Sepertinya Papa akan memecatmu sementara dari hotel. Kamu jangan pergi ke hotel dulu sebelum berita ini mereda."
Setelah mengatakan hal itu, Zetian pergi. Shuwan masih menangis terisak sendirian. Tidak ada tempat untuknya mengadu. Ayahnya, keluarga satu-satunya tak pernah memperlakukannya seperti anak. Selama ini dia hanya diperlakukan sebagai boneka yang harus selalu menurut. Jika membuat kesalahan, ia akan dihukum dan dipukul.
Menemui Moreno sangat tidak mungkin. Dia masih fokus dengan pertandingannya di Amerika Serikat. Mungkin juga di sana ia akan kewalahan diburu wartawan. Karena namanya sebagai atlet nasional cukup dikenal di negara ini.
Satu-satunya harapan adalah menemui Bayu. Mungkin Bayu akan menendangnya jika dirinya sekarang sedang menjadi bahan pembicaraan di seluruh negeri. Tapi dia bahkan akan berusaha merendahkan diri agar Bayu tetap mau membantunya. Bayu sudah tahu hubungannya dengan Moreno. Kali ini dia juga pasti akan memaklumi.
Saat tiba di kantor Bayu, tatapan karyawan yang biasanya ramah dan penuh senyum kini berubah menjadi tatapan kebencian dan rasa jijik. Shuwan paling tidak suka melihat orang lain merendahkannya seperti itu. Dia sudah terbiasa disanjung dan dipuji. Saat dianggap remeh, hatinya terasa sangat sakit.
Klek
Shuwan membuka pintu ruangan Bayu. Tampak di dalam sana ada Bayu sedang duduk di kursi kerjanya. Sementara di sofa ada Alex dan satu orang yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Karena dia adalah Fredi, anggota Red Wine.
"Oh, Shuwan. Masuk." pinta Bayu.
Bayu yang melihat wanitanya menangis bangkit dari kursi seraya menghampiri Shuwan.
"Ada apa, Shu? Kenapa menangis?"
Reflek Shuwan melabuhkan pelukannya pada dada Bayu. Tangisannya pecah. Kali ini ia benar-benar tak punya lagi tempat bersandar selain Bayu yang seharusnya menjadi orang yang ia manfaatkan demi ayahnya. Bayu membuatnya nyaman. Ia memang egois. Satu sisi ia mencintai Moreno, sisi lain ia nyaman bersama Bayu.
"Kalian keluar dulu. Aku mau bicara berdua dengan Shuwan."
Alex dan Fredi mematuhi perintah bosnya. Mereka berdua keluar. Sementara, Shuwan ia ajak duduk di sofanya. Dengan lembut ia usap air mata yang mengalir dari mata Shuwan.
"Katakan, ada masalah apa? Kenapa datang dan langsung menangis?"
"Kamu belum melihat berita di internet hari ini?"
Bayu mengerutkan dahi. Tentu saja ia pira-pura tidak tahu padahal dia sendiri yang meminta agar berita semacam itu di blow up.
Shuwan memberikan layar ponselnya yang menampilkan laman pencarian berita.
"Hah! Siapa orang kurang kerjaan yang membuat berita semacam ini? Apa urusannya dengan mereka kalau kalian punya hubungan? Netizen terlalu kepo dengan kehidupan orang lain."
"Apa kamu tidak marah dengan berita ini?"
__ADS_1
"Kenapa aku harus marah? Kamu sudah menjelaskan kalau hubungan kalian hanya sebatas hubungan fisik saja. Itu juga karena salahku yang tidak bisa memuaskanmu. Aku sudah cukup kamu mencintaiku seperti biasanya." Bayu mengusap rambut Shuwan.
"Bisakah kamu menolongku untuk meredam berita ini agar tidak semakin viral? Pagi ini aku sudah kena tamparan Papa." Shuwan memasang wajah memelas seperti anak kucing yang meminta ditolong.
"Pipi mana yang Papamu tampar?"
Shuwan memperlihatkan pipi kanannya yang memerah. Ayahnya menamparnya dengan keras.
"Oh, Ya Tuhan, ayahmu sungguh keterlaluan." Bayu mendaratkan ciuman pada pipi yang kena tamparan itu. Membuat Shuwan merasa dicintai.
"Aku akan berusaha menghapus berita-berita sampah yang sudah terlanjur beredar ini."
"Terima kasih, Sayang." Shuwan memberikan pelukan hangat sebagai rasa terima kasih.
"Bayu.... "
"Hm?"
"Apa penyakitmu sudah sembuh?"
"Kenapa? Kamu ingin tidur denganku?"
Wajah Shuwan memerah, "Ya, tentu saja. Kamu kan pacarku."
"Maafkan aku. Penyakitku belum sembuh."
Tangan nakal Shuwan sudah menjelajah ke daerah yang terlarang.
"Bagaimana kalau aku bantu menyembuhkannya? Siapa tahu jika rajin aku sentuh bisa cepat normal."
"Itu tidak akan berhasil. Kamu hanya perlu bersabar." Bayu menyingkirkan tangan Shuwan.
"Lebih baik kita pikirkan sekarang nasib Holly Hotel. Bagaimanapun juga, kamu manajernya. pasti ada imbas karena berita itu. Lalu apa rencanamu?"
Shuwan menggeleng, "Aku tidak tahu. Kalau ayahku sudah seperti itu, artinya dampaknya akan parah."
"Bagaimana kalau sementara pengelolaan hotel aku ambil alih sampaj isu reda? Aku tidak mau Holly Hotel viral gara-gara berita buruk."
"Pergantian kepemimpinan tidak semudah itu dilakukan. Perlu persetujuan dari para pemegang saham."
"Aku tahu. Aku tak terlalu peduli mereka akan mendukungku atau tidak. Yang terpenting, apa nanti kamu mau mendukungku?"
Shuwan menatap serius pada Bayu. Ia mencoba percaya pada lelaki di hadapannya. Selama ini, Bayu memang selalu membantunya bahkan memaklumi hubungannya dengan Moreno karena alasan masuk akal yang ia kemukakan. Ayahnyabsaja tak pernah memperlakukannya semanis yang Bayu lakukan padanya.
-------‐--------‐------------------------‐-----------------------------‐------
Nggak ada Prita-Bayu wek 😅
__ADS_1