ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Pertemuan di Makam


__ADS_3

Andin berjalan lunglai menyusuri deretan makam yang berderet rapi di kanan kirinya. Tangannya menggenggam satu buket bunga anggrek ungu. Tatapannya sendu seakan tak lagi ada gairah hidup.


Setiap tahun, perasaan yang sama selalu ia rasakan saat mengunjungi pusara ibunya. Hari ini tepat 14 tahun peringatan kematian ibunya. Waktu yang sudah cukup lama, namun tidak untuk Andin. Kesedihan ditinggal seorang ibu tak pernah bisa ia lupakan. Berjalannya waktu tak membuatnya melupakan sosok wanita penuh kasih sayang yang sudah membesarkannya hingga nafas terakhir.


Wulandari. Itu nama yang tertulis pada batu nisan. Andin meletakkan buket bunga yang dibawanya di sana, anggrek ungu kesukaan ibunya.


Ia termenung di depan pusara ibunya. Akankah ibunya bahagia melihat kehidupan yang Andin jalani dari atas sana?


Terkadang ada rasa sesal di hatinya. Setelah ibunya meninggal, sikapnya sangat berubah. Ia menjadi anak yang nakal dan bertindak sesuka hati. Tingkahnya selalu membuat ayahnya jadi khawatir. Ia bukan hanya merusak dirinya sendiri, tapi juga menyusahkan orang lain.


Sebenarnya bukan maksud ia menjadi anak yang nakal. Ia hanya kecewa pada keadaan. Kenapa begitu cepat ibunya pergi meninggalkannya? Ia merasa sangat sedih. Untuk menghilangkan kesedihannya, dia sampai mencoba rokok, berteman dengan anak-anak nakal dan menjahili orang. Tujuannya hanya satu, ia ingin melupakan kesedihannya.


Tapi, semua itu hanya sementara. Mungkin ia masih bisa tertawa-tawa saat bertingkah gila bersama teman-temannya. Saat sendiri, ia kembali merasa sepi. Merutuki nasibnya sebagai anak piatu yang malang dan menyedihkan.


Kini, kehidupannya juga tak kalah menyedihkan dengan dulu. Ia menjalani pernikahan palsu, membohongi ayahnya dan berpura-pura bahagia.


Dia ingin menjalani hidup yang normal seperti orang-orang. Menikah dengan lelaki yang dia cintai, memiliki anak, kemudian hidup dan menua bersama. Segalanya jadi kacau, mimpinya seketika hancur saat Arga mengingkari janjinya.


"Kenapa aku harus bertemu dengan lelaki sebangsat itu. Sialan!" umpatnya.


"Ibu, maafkan Andin yang belum bisa membuat ayah hidup tenang. Aku masih suka membuat masalah seperti dulu."


Andin mengusap nisan ibunya, membayangkan bahwa yang ada di hadapannya saat ini benar-benar ibunya.


"Aku akan berusaha lagi menjalani hidup ini dengan baik dan membuat Ayah bahagia. Mama juga harus bahagia di atas sana."


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Andin kembali berdiri seraya membenarkan letak kacamata hitamnya.


Saat baru berjalan beberapa langkah, langkahnya kembali terhenti. Di depan sana pada jarak sepuluh meter, ada seorang lelaki memakai pakaian hitam sembari menggandeng anak perempuan yang juga memakai pakaian berwarna hitam.


Lelaki itu adalah Arga.


Dari sekian banyak tempat di dunia ini, kenapa dia harus bertemu dengan lelaki itu di sana? Alangkah lebih baik jika dia tak bertemu dengannya sama sekali. Canggung. Rasanya canggung bertemu dengan orang yang telah menyakitinya namun tak bisa ia benci.


Menyebalkan.


Dalam hati terdalamnya Andin masih mengharapkan lekaki itu kembali meraih tangannya dan mengajaknya hidup bersama. Ia menghela nafas, mencoba meyakinkan hati bahwa bukan Arga lelaki terbaik untuknya. Dia hanya seorang lelaki brengsek dan jahat.


Arga menuntun anaknya berjalan mendekat ke hadapan Andin.


"Kamu dari makam ibumu, Ndin?"


Andin mengangguk. "Kakak sendiri?"


"Aku mau ke makam mamaku juga."


"Kamu mau menemaniku?"


Seharusnya Andin menolak ajakan itu. Seharusnya ia mengabaikan sapaan pertama dari Arga. Tapi, realitanya, saat ini ia tengah menemani Arga duduk di dekat makam mamanya.


Arga meletakkan buket mawar merah di atas makam itu. Sejenak ia mejamkan matanya sembari menangkupkan kedua tangan lalu merapalkan doa.

__ADS_1


Suasana hening, tak banyak orang yang mengunjungi makam hari itu. Hanya terlihat beberapa orang saja yang berziarah sama seperti mereka.


"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Ndin."


"Kakak tidak mampir ke mansion?"


"Tidak, aku hanya sebentar saja di Kota S. Kebetulan rekan bisnisku memberi undangan pesta jadi aku datang. Setelah ini aku akan kembali ke Kota J."


"Bagaimana kabarmu?"


Pertanyaan paling Andin benci. Kabar? Apa dia harus menjawab kalau kabarnya belum baik? Hidupnya masih kacau gara-gara perbuatannya.


"Baik." jawabnya ringan.


"Kalau mantan sekertarismu sendiri, bagaimana keadaannya sekarang?"


Entah mengapa Andin spontan ingin menanyakan hal itu. Arga tak langsung menjawab.


"Dia sudah meninggal."


Jawaban Arga membuat Andin terdiam, "Maaf, aku turut berbela sungkawa."


"Tidak apa-apa. Terima kasih."


"Jadi, sekarang anak ini tinggal bersamamu?"


"Iya. Meisya tidak punya keluarga lain. Aku sudah mencoba mencari keluarganya, tapi memang seperti yang pernah Meisya sendiri bilang, dia tidak punya siapa-siapa selain anaknya."


"Lagipula, dia adalah darah dagingku. Setidaknya aku harus menebus kesalahanku padanya dengan membesarkan dia sebaik-baiknya."


"Halo, Arsya, perkenalkan nama tante, Andin." Andin mengulurkan tangannya ke hadapan Arsya. Anak itu membalas jabatan tangannya.


"Nama saya Arsya, Tante."


Andin mengusap kepala anak itu. Ada rasa iba yang ia rasakan. Nasib anak itu sama dengannya, ditinggal oleh ibu dan menjadi piatu. Setidaknya Andin masih beruntung, ibunya meninggal saat ia SMP. Tapi, anak ini, sudah ditinggal ibunya di usaianya yang masih kecil. Rasa marah dan benci yang seharusnya ia rasakan berubah menjadi rasa empati. Begitulah Andin, dibalik sikapnya yang seolah keras kepala, sebenarnya sangat peduli pada perasaan orang lain.


"Arsya yang kuat, ya. Walaupun mama tidak ada di sampingmu, tapi dia tetap melihatmu dari atas. Berusahalah menjadi anak baik dan pintar agar mamamu di atas sana bisa tersenyum melihatmu."


Arsya mengangguk.


"Tante Andin ini calon istri Papa, kan?"


Pertanyaan Arsya membuat Andin kaget. Dia memandang ke arah Arga yang juga sepertinya sama kagetnya dengan dirinya.


"Kata Mama, sebenarnya dia tidak mau menemui Papa seumur hidupnya. Mama tahu, Papa sudah melakukan kesalahan yang tidak disengaja. Mama tidak ingin memberatkan kehidupan Papa untuk bertanggung jawab terhadap hidupnya."


"Tapi, ternyata Mama punya penyakit parah dan hidup Mama tidak lama. Dia sangat khawatir kalau aku hidup terlantar. Mama tidak memiliki saudara. Mama juga tidak tega menitipkan aku ke panti asuhan."


"Terpaksa Mama menghubungi Papa untuk menitipkan aku pada Papa."


"Tante.... Mama tidak bermaksud merebut Papa dari Tante. Mama hanya ingin menitipkan aku pada orang yang dipercayainya."

__ADS_1


"Mama juga menyesal sudah membuat hubungan Tante dengan Papa tidak baik."


"Tolong maafkan Mamaku ya, Tante.... "


"Arsya, kenapa kamu bisa berbicara seperti itu?" Arga agaknya juga kaget anaknya bisa bercerita tentang hal itu.


"Mama yang menceritakan sendiri pada Arsya setiap hari. Di surat yang Mama tulis untuk Arsya juga ada pesan agar Arsya memintakan maaf untuk Mama kepada Tante Andin."


Sementara, Andi masih mematung mendengar cerita yang disampaikan anak kecil itu. Rasa di hatinya campur aduk. Dia jadi semakin tidak bisa membenci wanita yang membuat Arga meninggalkannya. Kenapa masalah begitu rumit?


"Tante.... "


Andin menoleh ke arah Arsya. "Apa Tante mau memaafkan Mamaku?" tanyanya lagi.


Andin tersenyum, "Iya, Sayang. Tante sudah memaafkan mamamu."


"Terima kasih."


"Apa Tante juga mau memaafkan Papaku?"


Andin memandang ke arah Arga. Lelaki itu membalas tatapannya datar, namun ada binar pengharapan yang terpancar dari matanya.


"Arsya, biar itu jadi urusan antara tante dan papamu saja, ya."


"Tapi, Tante.... Papa sangat mencintai Tante."


"Arsya sering lihat Papa melamun sambil memandangi foto Tante di kamarnya. Di rumah Papa ada banyak banget foto Tante, loh."


"Kalau Tante mau menikah dengan Papa, Arsya juga tidak keberatan."


"Arsya, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Nanti jadi beban pikiran untuk Tante Andin."


"Kesalahan Papa memang sangat besar dan tidak pantas dimaafkan."


Andin mencoba menghela nafas. Dadanya terasa sesak. "Em, sepertinya aku harus segera kembali. Ini sudah terlalu lama aku di sini."


"Arsya, kamu sehat-sehat, ya." ucap Andin dengan seulas senyum.


Arga menahan tangan Andin ketika ia hendak beranjak pergi, "Andin, biar aku mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, Kak. Bagaimanapun juga aku masih adik iparmu. Aku tidak mau ada gosip-gosip kurang baik jika ada yang melihat kita bersama. Apalagi memang dulu kita hampir menikah."


Dengan terpaksa Arga melepaskan tangannya dari Andin. Ia membiarkan wanita itu berjalan pergi meninggalkan dirinya. Hanya bagian punggungnya yang bisa ia lihat semakin menjauh, semakin tak tergapai.


"Papa, Tante Andin marah, ya?"


"Tidak, Sayang. Tante Andin hanya butuh waktu untuk berpikir."


"Tante Andin itu sepertinya orang yang baik ya, Pa?"


"Tentu saja, dia sangat baik. Makanya papa menyukainya."

__ADS_1


"Kalau Tante Andin tidak mau sama Papa, terus Papa bagaimana?"


"Hahaha.... Kenapa kamu yang memikirkannya? Papa kan sudah ada kamu yang mau tinggal bersama papa."


__ADS_2