
Perawat kembali membawa bayi Shuwan kepada mereka beserta satu tas perlengkapan bayi. Dia juga harus segera keluar dari ruangan itu dan berpura-pura tidak tahu menahu tentang bayi itu.
"Biar aku yang menggendongnya, Ra. Nanti di tempat parkir aku berikan lagi padamu." ucap Prita.
Raeka mengangguk. Ia membiarkan Prita menggendong anak perempuan Shuwan. Dilihatnya Prita menambahkan selimut untuk menutupi bayi mungil itu.
"Kalaupun ada orang yang mengenali kita, aku bisa memberi alasan kalau aku sedang memeriksakan Livy." ujar Prita memberikan alasan atas tindakannya agar mereka paham.
Selanjutnya, mereka berempat berjalan beriringan meninggalkan ruang perawatan itu. Sepanjang koridor yang mereka lewati tampak sepi, hanya terlihat satu dua orang yang lewat. Mungkin karena sudah lewat tengah malam.
Mereka berusaha berjalan dengan santai untuk menghindari kecurigaan orang-orang. Apa yang mereka lakukan seperti sedang melakukan sebuah kejahatan besar.
Mereka juga tidak tahu, mengapa Shuwan sampai mewasiatkan hal seperti itu. Meskipun ayahnya buronan, tidak pernah lagi mengurusinya, namun sanak keluarganya yang lain juga masih ada. Upaya Shuwan untuk menutupi keberadaan anak itu masih menjadi misteri.
Sesampainya di tempat parkir, Prita memberikan bayi itu kepada Raeka. Mereka harus pisah mobil karena Irgi dan Bayu membawa mobil sendiri-sendiri.
"Ta, kamu jangan pulang dulu, ya. Mampir dulu ke apartemenku." ucap Raeka sembari menggendong bayi itu.
Prita mengangguk. Mereka memasuki mobil masing-masing menuju apartemen milik Raeka dan Irgi.
Sesampainya di apartemen Irgi, mereka kembali kebingungan dengan apa yang akan dilakukan dengan bayi mungil itu. Terlebih Raeka, dia sama sekali tidak punya pengalaman mengurusi bayi. Tiba-tiba dia dipercaya untuk mengurusi bayi yang baru lahir.
"Sayang, kamu yakin ingin mengambil bayi itu?" tanya Irgi.
Dia tak yakin istrinya mampu mengasuh seorang bayi. Selama ini saja tingkah Raeka masih seperti bayi, apa-apa selalu dilayani.
"Kamu tidak setuju kalau aku menginginkannya, Sayang?" tanya Raeka sembari menggoyang-goyangkan bayi dalam gendongannya.
"Bukan begitu, tapi apa yang sedang kamu gendong itu bayi asli loh, bukan boneka."
"Iya, aku juga tahu."
"Dia bisa menangis, bisa rewel, bisa mengompol, bisa pup, dan bisa membuatmu begadang semalaman. Kamu yakin bisa menanganinya?"
Kata-kata Irgi sangat menakutkan kalau Raeka mendengarkan. Namun, dia sudah terhipnotis dengan kelucuan bayi itu sehingga kata-kata Irgi tidak bermakna apa-apa baginya.
"Kalau kamu masih ragu, aku bisa membantu merawatnya, Ra." Prita menawarkan diri.
__ADS_1
"Sayang, kamu sendiri kan sedang hamil.... Kamu lupa? Kamu tidak boleh kelelahan, loh."
Bayu mencegah istrinya yang terlalu baik hati itu untuk menawarkan bantuan yang bisa membahayakan kehamilannya sendiri. Bayu saja sampai harus berpuasa demi kesehatan istri calon bayinya. Istrinya itu terlalu baik sampai kadang lupa dengan kondisinya sendiri.
"Tidak usah, Ta. Anakmu sudah banyak dan masih kecil-kecil. Biarkan aku saja yang merawat anak ini."
Raeka sudah mencintai bayi itu. Dia bertekad akan membesarkannya dengan sepenuh hati seperti anaknya sendiri.
"Sayang.... " Irgi kembali mengingatkan istrinya yang terlalu percaya diri itu. Dia khawatir istrinya tidak bisa merawatnya dengan baik.
"Kamu tenang saja, aku juga tidak akan merawatnya sendiri. Aku akan mencarikan beberapa pengasuh untuk membantuku, Sayang." ucap Raeka dengan enteng.
"Bagaimana dengan keluargamu? Mereka pasti akan bertanya-tanya tentang asal-usul anak ini.... "
"Aku yakin itu tidak masalah. Masa kehadiran satu bayi di keluarga Wijaya akan membuat papa dan mamaku marah." Raeka menimang-nimang bayi itu dengan senang, seperti seorang anak yang mendapatkan mainan baru.
"Ra, bukannya tadi di rumah sakit dokter memberikan surat dari Shuwan?"
Raeka baru ingat tentang surat itu. Jika Prita tidak mengatakannya, Raeka juga akan lupa.
"Ah, iya, Ta. Kamu gendong dia dulu, aku mau membuka suratnya."
Untuk Raeka.
Saat menuliskan surat ini, aku sedang menahan rasa sakit yang tak tertahankan di area perutku. Raeka.... Aku sangat khawatir dengan bayiku. Aku takut terjadi apa-apa dengannya. Apalagi saat dokter mengatakan sepertinya aku harus mengikhlaskan bayiku yang mungkin tidak bisa terselamatkan. Aku tidak terima dokter mengatakan hal itu. Aku yakin, anakku seorang anak yang kuat.
Raeka.... Mungkin aku teman yang paling tidak tahu diri. Kita belum lama berteman, hubungan kita bahkan sebelumnya sangat buruk. Tapi, kebersamaan yang kita jalani akhir-akhir ini, membuatku merasa benar-benar memiliki seorang teman. Kamu sangat baik sekali kepada orang yang pernah jahat kepadamu. Sementara, mungkin aku akan menjadi orang yang paling tidak tahu diri saat kamu mendengarkan permintaanku.
Raeka.... Jika terjadi sesuatu yang buruk padaku, tolong rawat anakku. Tidak ada orang yang aku percaya selain dirimu.
Jangan sampai Moreno tahu tentang keberadaan anakku. Sebelum anak ini lahir, dia juga sudah menginginkan anak ini mati. Jadi, aku sudah menganggapnya bukan ayah untuk anakku.
Kamu juga harus merahasiakan anakku dari keluargaku. Berikan identitas baru untuknya, aku tidak berharap dia hidup di lingkungan keluarga yang mengerikan sepertiku dulu. Percayalah, keluarga besarku bukan tempat yang baik untuk kehidupan anakku. Mereka bahkan membuangku ketika ayahku dan aku bermasalah. Kami memang memiliki ikatan darah, namun tidak ada kasih sayang di antara hubungan kami, semuanya hanya dikaitkan dengan urusan bisnis dan keuntungan semata.
Jika kamu tidak berkenan merawatnya sendiri, setidaknya carikan panti asuhan yang terbaik untuk tempat tumbuh anakku. Aku berharap dia bisa hidup di dunia ini dengan dipenuhi cinta dan kasih sayang, tidak seperti kehidupanku dulu.
Aku juga sudah mengurus semua hartaku untuk calo anakku. Kamu bisa menghubungi pengacaraku untuk pengalihan harta.
__ADS_1
Aku memang tidak tahu diri, tapi, aku tetap mengharapkan bantuanmu, Raeka.
Shuwan Mey
Raeka dan Prita saling berpandangan setelah selesai membaca pesan dari Shuwan. Apa yang ia sampaikan dalam suratnya tak jauh berbeda dengan apa yang mereka dengar dari dokter yang menanganinya.
Kehidupan Shuwan lebih memprihatinkan dari yang mereka kira. Ternyata sejak dulu dia tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Sampai keberadaan anaknya sendiri harus ia sembunyikan demi menghindari terulangnya kehidupannya yang dahulu.
"Jadi, bagaimana selanjutnya?" tanya Prita.
"Tentu saja aku akan merawat anak ini." Raeka meminta kembali bayinya dari gendongan Prita.
"Kamu yakin, kan?"
"Iya, aku yakin. Lagipula, aku juga sudah menginginkan seorang bayi. Mungkin juga ini cara Tuhan mengabulkan keinginanku."
"Sayang, kita pulang sekarang, ya.... Ini sudah jam dua pagi loh. Kamu harus istirahat." ucap Bayu mengingatkan.
"Sebentar lagi, Mas.... Aku masih mau di sini."
"Tidak apa-apa, Ta. Kamu pulang saja. Tidak usah khawatir, aku akan menjaga bayi ini dengan baik."
"Kalau mau menginap di sini juga boleh, Ta." ujar Irgi.
"Aku juga punya anak-anak kecil, kalau mereka bangun pagi-lagi mamanya tidak ada nanti pada nangis."
"Ku takut nanti Raeka tidak bisa menyusui bayi dengan benar. Nanti dia kira sedang main boneka kan bahaya."
"Ihh.... Aku bisa ya.... " Raeka mendelikkan mata ke arah Irgi.
"Ya sudah, Ra. Aku pulang dulu. Besok aku usahakan datang lagi ke sini."
"Terima kasih sudah mampir, Ta."
"Aku pulang dulu, Ir."
"Ayo, Mas."
__ADS_1
Prita menggandeng lengan suaminya yang tampak sedang kesal karena sejak tadi Prita belum mau pulang juga.