ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Penangkapan Bayu


__ADS_3

Andin berjalan terburu-buru memasuki lobi sebuah rumah sakit. Kepada resepsionis, ia menanyakan pasien yang bernama Prita Asmara, sahabatnya.


Beberapa saat yang lalu, Bayu tiba-tiba menghubunginya saat ia sedang berada di butik. Ia kaget sekali saat diberi kabar jika Prita sedang berada di rumah sakit Kota J.


Salah seorang perawat yang ada di bagian resepsionis itu menawarkan diri untuk mengantarkannya ke kamar yang dimaksud. Mereka memasuki lift di lantai satu, lalu suster itu menekan tombol lantai 14.


Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di lantai 14. Perawat itu meninggalkan Andin di depan kamar nomor 101 di lantai itu.


Andin menekan engsel pintu dengan sedikit ragu. Saat pintu berhasil ia buka, Bayu memandang ke arahnya. Ia bangkit dari kursinya setelah melihat kedatangan Andin.


"Masuklah." pintanya.


Andin perlahan melangkahkan kaki mendekati ranjang pasien yang ada di samping Bayu. Ia melihat ada Prita yang terbaring di atas sana dalam posisi memejamkan mata dengan serangkaian alat medis yang masih terpasang di tubuhnya.


"Kenapa bisa seperti ini?" Andin tampak masih syok melihat kondisi Prita.


"Dia terkena tembakan."


Andin menatap tajam ke arah Bayu, "Bagaimana bisa Prita tertembak? Apa yang terjadi padanya?"


"Andin, maaf. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Nanti kalau Prita sudah sadar, kamu bisa mendengarnya sendiri darinya."


Andin seketika terduduk lemas di samping Prita. Ia pegangi tangan lembut yang tidak bergerak.


"Bisakah aku merepotkanmu untuk menjaganya selama ia masih belum sadar?"


"Memangnya Pak Bayu mau kemana?" sungguh aneh mendengarkan Bayu ingin menitipkan istri padanya.


"Kamu tahu kasus yang sedang hangat saat ini, kan?"


Andin kembali mengangkat kepalanya dan menatap Bayu, "Maksudnya kasus Tuan Saddam itu, ya? Penimbunan ganja?"


Bayu mengangguk, "Aku ikut terlibat."


Andin membulatkan mata, "Pak Bayu sedang bercanda, ya?"


Bayu tersenyum, "Kalau nanti ada apa-apa denganku, tolong jaga Prita."


"Ah, Ya Tuhan.... Sebenarnya kenapa ini?"


"Lalu, bagaimana dengan anak-anak."


"Aku juga belum tahu. Sebelum ke Kota J, Prita sudah menitipkan mereka kepada Ayash."


"Ah.... Apa dia bisa menjaga tiga orang anak kecil." Andin ikut pusing membayangkan Ayash mengasuh ketiga anaknya sendiri.


Tok tok tok


Ada yang mengetuk pintu lalu membukanya. Dua orang lelaki masuk dengan keadaan seperti sedang sakit. Salah satu berjalan menggunakan bantuan tongkat, satu lagi tangannya diperban.

__ADS_1


"Aku menemui mereka dulu ya, Andin."


Andin mengangguk. Bayu berjalan menghampiri Alex dan Fredi yang masih berdiri di depan pintu.


"Duduklah." Bayu menyuruh mereka duduk di sofa ruang tamu.


Fredi membantu Alex duduk dengan sebelah tangannya.


Bayu menatap mereka dengan perasaan terenyuh. Kedua anak buahnya itu juga harus merasakan tertembus peluru untuk membantunya, sama seperti Prita.


"Bagaimana dengan kondisi kalian?"


"Kami baik-baik saja, Tuan. Justru yang kami khawatirkan kondisi Nona Prita. Karena itu kami datang kesini."


"Dia tidak apa-apa. Kata dokter mungkin beberapa hari lagi dia akan sadar."


"Kemarin saya sudah membereskan pemakaman ayah Anda dan Ben."


"Terima kasih, Fredi. Kamu sudah sangat membantuku."


Mengingat kembali ayahnya dan Ben yang sudah meninggal, mata Bayu berkaca-kaca. Ia masih belum percaya jika harus kehilangan dua orang itu dalam waktu yang bersamaan. Dia menembak ayahnya bahkan di luar kesadarannya. Yang ia rasakan saat itu kekecewaannya kepada sang ayah yang bahkan sampai nafas terakhir kehidupannya, ia masih berniat mencelakainya, putranya sendiri.


"Saya sempat ditanya-tanya mengenai hubungan saya dengan mereka. Saya hanya menjawab bahwa saya hanya perwakilan Anda."


"Iya, jangan terlalu banyak bicara kepada polisi. Jawab saja seperlunya."


"Fredi, besok kamu pulang ya ke Kota S. Cek kondisi rumah dan anak-anakku juga. Katanya mereka sedang bersama Ayash."


"Alex, kamu tetap jalani perawatan di sini sampai sembuh. Kalau sudah sembuh, tolong jaga istriku juga."


"Kenapa harus saya, Bos? Anda mau kemana?"


"Kalian tahu sendiri aku terlibat dalam masalah yang dibuat oleh Tuan Saddam. Kemungkinan besar aku akan ikut ditahan."


Alex dan Fredi saling berpandangan. Mereka tidak siap jika bosnya itu dipenjara dan meninggalkan mereka.


"Saya akan mencarikan pengacara yang paling bagus untuk Anda. Mungkin hukuman yang harus Anda jalani bisa diganti dengan membayar denda saja. Lagipula, Anda hanya membantu, bukan pelaku utama.


"Iya, Fred. Aku juga sudah menghubungi pengacaraku. Polisi belum memanggilku karena istriku juga menjadi korban. Aku rasa mereka hanya menunda waktu penangkapanku saja."


"Kasihan Nona Prita kalau Anda ditahan."


"Karena itu aku meminta kalian untuk ikut menjaganya jika aku harus ditahan."


Klek!


Bara menengokkan kepalanya dari balik pintu.


"Masuk saja!" ucap Bayu. Dia sudah tahu kalau hari inj Bara akan datang menemuinya.

__ADS_1


"Kedatanganku tidak mengganggu, kan?" tanyanya.


"Tidak usah sungkan, aku tahu kamu datang kesini untuk menjalankan tugasmu."


"Aduh, aku jadi tidak enak hati. Padahal istrimu belum sadar, tapi aku harus datang menemuimu."


"Loh.... Ada Bara."


Andin berjalan menghampiri Bara untuk memastikan jika orang yang baru saja datang benar-benar Bara.


"Hah, kok ada Kak Andin di sini?" Bara juga ikut terkejut melihat orang yang dia kenal ada di sana.


"Kalian saling kenal?" tanya Bayu penasaran.


"Pacarnya Bara juniorku di kampus, namanya Valerie, putranya Tuan Saddam."


Bayu baru tahu kalau ternyata Valerie dan Bara itu berpacaran. Tapi, kenapa waktu itu Tuan Saddam mau menjodohkan putrinya dengannya?


"Siapa yang pacaran, Kak. Aku dan Valerie kan hanya pernah jadi teman dekat saja."


"Teman tapi saling suka, kan?"


Bara menggaruk-garuk kepalanya, "Kak Andin sendiri kenapa bisa ada di sini?"


"Istrinya Pak Bayu itu sahabatku."


Bara mangguk-mangguk.


"Kamu.... Kenapa ada di sini? Jangan bilang kamu mau menangkap Pak Bayu ya, Bara.... "


Bara bingung mau memberikan penjelasan apa. Karena pada kenyataannya, dia memang datang untuk menjalankan tugasnya.


"Bara.... Kamu keterlaluan kalau menangkap Pak Bayu sekarang. Istrinya masih di sana loh, belum sadar. Apa kamu tidak bisa menjadi polisi yang punya rasa kemanusiaan?" Andin mengomel. Membuat Bara semakin tidak enak hati dengan kehadirannya di sana.


"Kamu tahu tidak? Sahabatku itu sudah tidak punya keluarga, anaknya tiga masih kecil-kecil. Kalau kamu menangkap Pak Bayu, siapa coba yang akan menjaganya dan mengurusi anak-anaknya?"


"Andin, jangan membuat posisi Bara jadi serba salah. Biarkan dia datang untuk menjalankan tugasnya." ujar Bayu setelah melihat ekspresi Bara yang kebingungan menghadapi omelan dari Andin.


"Ckckck.... Sepertinya musuhmu jadi banyak sekarang, Bara. Kamu tega menangkap ayah pacarmu sendiri."


"Kami tidak pacaran, Kak."


"Sekarang kamu juga mau menangkap suami dari sahabat baikku. Sepertinya aku akan ikut memusuhimu."


"Ah.... Kenapa profesiku malah jadi musuh masyarakat? Tujuanku kan untuk mengayomi masyarakat." guman Bara. "Aku hanya menjemput Bayu untuk kepentingan interogasi. Kalau dia tidak bersalah, kami akan membebaskannya."


"Benar loh, ya.... Jangan sampai ada acara penyiksaan dulu supaya saksi jadi mau mengakui kesalahan yang tidak dilakan." an am Andin.


"Iya, Kak Andin. Aku ini polisi yang berdedikasi, tidak akan mengingkari ucapanku sendiri."

__ADS_1


"Aku pegang kata-katamu."


Andin tak terlalu tahu masalah yang Bayu hadapi. Tapi, melihat bahwa dia suami Prita, Andin yakin jika Bayu pasti tidak bersalah. Mungkin dia hanya kena fitnah atau melakukan sesuatu karena terpaksa, misalnya di bawah ancamam. Itu bisa saja terjadi.


__ADS_2