
Ayash mengunjungi mansion untuk bertemu ibunya. Di rumah itu, tampak anak-anak sedang bermain ditemani beberapa pengasuh. Sementara, mamanya sedang merangkai bunga di lantai atas.
"Ma, aku akan bercerai dengan Prita."
Maya merasa lega mendengar perkataan anaknya. Tapi ia tetap fokus pada bunganya berpura-pura tak terlalu tertarik dengan topik bahasan yang Ayash bawa.
"Baguslah kalau kamu sudah sadar. Mama senang mendengarnya."
"Tapi aku ingin mengajukan satu syarat pada Mama?"
"Syarat apa? Mau cerai kok pakai syarat segala."
"Jangan ganggu Prita lagi setelah kami bercerai, jangan temui dia lagi untuk marah-marah. Mama bisa melakukan itu, kan?"
"Ya, tentu. Untuk apa juga mama menemuinya kalau dia bukan siapa-siapa."
"Dean dan Livy akan tetap tinggal di sini. Tapi, ijinkan Prita menemui mereka kapanpun dia mau. Mama tidak boleh membatasinya."
"Untuk apa anak-anak bertemu dengan ibu seperti dia? Tidak ada baiknya memiliki ibu yang berani berselingkuh di belakang suaminya."
"Kalau Mama tidak bisa melakukan itu, berarti aku biarkan saja Dean dan Livy tinggal bersama Prita."
"Loh, kok begitu?" Maya melotot pada Ayash. Dia tidak terima cucunya dibawa Prita. "Mereka cucuku, mama juga berhak mengasuh mereka!"
"Prita mama mereka. Dia yang sudah melahirkan mereka. Dia lebih berhak daripada Mama."
"Tidak bisa! Mama tidak tidak mau! Mereka harus tinggal bersama mama!"
"Iya, Ayash juga tidak melarang mereka tinggal di sini. Ayash kan hanya meminta Mama tetap mengijinkan Prita bertemu anaknya. Kalau Mama tidak mau ya aku bawa saja mereka pergi dari sini."
""Eh, tidak boleh! Iya, iya.... Mama akan ijinkan mereka bertemu mamanya."
*****
__ADS_1
"Ayash, apa kita batalkan saja rencana perceraian kita?"
"Tidak, kita akan tetap bercerai." jawab Ayash.
Namun kelakuannya justru bertolak belakang dengan apa yang diucapkannya. Ia semakin mempererat pelukannya, menciumi dahi, pipi, hingga telinga Prita hingga wanita itu memejamkan matanya. Gigitan kecil serta hembusan nafas yang terasa pada daun telinga membuat Prita meremang. Rasanya geli sekaligus nikmat.
Tak lama Ayash beralih pada bibir tipis Prita yang tampak segar dengan polesan lipstik warna mauve. Dikecupinya bibir itu, sesekali menggigitnya. Ketika mulut Prita terbuka, ia berikan ciuman lebih intens sembari menekan tengkuk Prita agar ciuman mereka dalam. Sesekali ia lepaskan ciumannya memberi kesempatan Prita untuk bernafas. Ayash menghentikan ciumannya ketika bianglala terhenti.
Malam telah menyelimuti ketika mereka keluar dari taman bermain. Keduanya berdiam diri di dalam mobil, seperti bingung hendak membahas tentang apa. Karena setelah malam ini, mereka akan berpisah.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang." Prita berusaha menghilangkan keheningan.
"Kamu langsung antar aku ke rumah sakit, ya. Aku akan gantian jaga dengan Leta."
Ayash tiba-tiba memegangi tangan Prita. "Aku memintamu menemaniku seharian. Jadi kamu baru boleh pulang besok. Malam ini kita akan menginap di apartemen."
Antara bimbang, pada akhirnya Prita menuruti kemauan Ayash. Mereka kembali ke apartemen yang biasa mereka tempati. Selama Daniel dirawat, Prita hampir tak pernah pulang. Berbulan-bulan ia tinggal di rumah sakit bersama Daniel.
Prita melayangkan pandangan ke sekeliling. Ia rindu dengan kesehariannya dulu. Memasak, membersihkan rumah, memandikan anak-anak, sampai mengantar jemput Daniel dan Dean. Sekarang rutinitasnya hanya mendampingi Daniel menjalani pengobatan kanker darah.
"Ahhh.... " Prita mengeluarkan lengkuhan ketika Ayash menciumi area lehernya. Sesekali kulit lehernya dihisap kuat dan digigit kecil hingga terasa ngilu bercampur nikmat. Rasanya seperti ada sengatan-sengatan listrik di sekujur tubuh.
"Ayo kita lakukan di kamar." bisikan Ayash membuat Prita kembali meremang.
Dalam hitungan detik Ayash sudah mengangkat tubuhnya dalam posisi bridal style. Reflek Prita mengalungkan lehernya pada Ayash. Keduanya melanjutkan berciuman sembari Ayash berjalan membawa wanitanya masuk ke kamar.
Perlahan tubuh Prita diturunkan tanpa melepas ciuman mereka. Ciuman panas yang Ayash berikan membuat Prita tersengal-sengal. Ia sampai tak sadar jika tangan Ayash begitu lincah meloloskan pakaiannya di sela-sela ciuman.
Keduanya sama-sama sudah tak mengenakan apapun. Ayash memandangi wanita di bawahnya dengan tatapan penuh cinta. Wanita yang sudah sepuluh tahun menjadi sahabatnya, wanita yang tiga tahun menjadi pacarnya, dan tepat lima tahun menjadi istrinya. Ia tak tahu apakah nanti bisa melupakan Prita setelah berpisah. Dia masih sangat mencintainya. Namun, perpisahan tetaplah suatu keputusan yang harus ia ambil demi kebaikan bersama.
"Bolehkah malam ini aku melakukannya?"
Prita hanya mengangguk. Iapun sebenarnya merindukannya. Sudah lama mereka tak melakukan hubungan itu.
__ADS_1
Prita memandangi wajah lelaki yang sebentar lagi akan berpisah dengannya. Tangannya menelusuri setiap sisi wajah, seakan ingin mengabadikannya dalam memori. Perlahan tangannya turun, menyentuh dada bidang yang selama ini menjadi tempatnya bersandar dan lengan kokoh yang selalu menguatkannya. Luka bekas tembakan di lengan kiri itu tak bisa ia lupakan. Luka yang Ayash dapat saat hari pernikahan mereka.
"Ta, malam ini aku akan membuatmu tidur nyenyak."
Setiap bisikan yang terlontar dari mulut Ayash membuat wajah Prita bersemu merah. Siapa wanita yang tidak merona jika diperlakukan dengan romantis.
Ayash kembali memagut bibirnya, mengajaknya beciuman dalam hingga lidah mereka saling bertemu. Tangannya tak tinggal diam, menelisik setiap lekukan tubuh Prita yang membuat wanita itu sesekali mendesah dan menggelinjang penuh kenikmatan. Ayash tahu titik-titik sensitif yang mampu membuat Prita menikmati sentuhannya.
Mereka melakukannya dalam tempo yang santai, tak terburu-buru. Seakan ingin lebih lama menikmati waktu berdua. Malam yang semakin larut namun keduanya masih syahdu memadu kasih. Sesekali terdengar suara ******* dan lengkuhan yang saling bersahutan. Tubuh mereka menyatu seperti perasaan cinta yang mereka miliki. Dinginnya AC tak mampu menghapuskan setiap tetes peluh yang keluar serta berbaur menjadi satu.
Rasanya malam ini menjadi malam yang sangat panjang bagi mereka. Kenikmatan yang mereka rasakan bertubi-tubi tiada berhenti. Pada akhirnya, lewat tengah malam aktivitas mereka terhenti setelah sama-sama kelelahan menikmati cumbuan yang tiada habisnya. Tidur mereka sangat lelap.
Saat fajar menyingsing, Ayash menjadi orang pertama yang terbangun. Ia tersenyum melihat sosok wanita yang masih tertidur di sebelahnya. Wajahnya menyiratkan ketenangan. Sepertinya dua insan itu sangat menikmati kegiatan tadi malam.
Senyum di wajah Ayash semakin memudar. Wajahnya berubah sendu. Ia sadar, bahwa mulai hari ini mereka akan mulai berjauhan. Itulah keputusan terbaik namun menyakitkan yang harus mereka pilih.
Merasa ada yang menyentuh bibirnya, Prita perlahan tersadar dari tidurnya. Ternyata Ayash yang baru saja mendaratkan ciuman di bibirnya. Tampilannya sudah rapi. Mungkin Ayash akan bersiap pergi ke kantor.
"Selamat pagi." sapanya. "Apa tidurmu nyenyak?"
Prita mengangguk. Itu adalah tidur terbaiknya setelah beberapa bulan terakhir. Tubuhnya serasa direset ulang menjadi baru.
"Kamu sudah mau berangkat ke kantor?"
"Iya." Ayash mencium kening Prita. "Aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Kamu bisa mandi lebih dulu atau sarapan dulu. Kalau sudah selesai, Pak Ahmad sudah siap menjemputmu di bawah."
"Beberapa hari ini aku akan sangat sibuk. Mungkin tidak ada waktu untuk menjenguk Daniel. Tolong rawat dia dengan baik, ya."
Prita mengangguk dan tersenyum.
"Satu minggu lagi kita akan bertemu di pengadilan." Ayash mengusap puncak kepala Prita. "Aku berangkat dulu."
Meskipun ia terus mengulas senyuman, namun hati Prita rasanya sakit. Ia tak kuasa menahan lagi air matanya ketika Ayash telah pergi meninggalkannya di kamar. Sebaik apapun cara perpisahan yang mereka lakukan, rasanya tetap menyakitkan.
__ADS_1
---------‐-----------------------------‐----------‐-----‐-‐-‐-----------------
Maaf ya, nulisnya nyesek sendiri. Ini kalau hamil lagi tambah repot mba Prita 🥲