
Pagi itu, Bayu masih memeluk Prita dalam dekapannya di atas ranjang. Posisinya Bayu duduk bersandar pada kepala ranjang, sementara Prita berada di depannya. Waktu satu malam bersama istri rasanya belum cukup untuknya. Dia masih ingin lebih lama lagi bersama istrinya. Kalau bisa, setiap hari ia ingin bersama istrinya terus. Ia sudah bosan harus tinggal di rungan yang sempit dengan segala keterbatasannya.
"Sayang.... Lagi, ya.... " Bayu mulai menelusupkan kepalanya pada tengkuk leher istrinya.
"Semalam sudah berapa kali kamu membangunkan aku, Mas.... Masa setiap yang dibawah bangun minta lagi. Nanti kalau sampai aku kesusahan berjalan, kamu juga akan malu."
"Hmmm.... Kenapa harus malu?" Bayu semakin mempererat pelukannya dan menciumi tengkuk istrinya. "Semua orang sudah tahu, kalau suami istri yang sudah lama tidak bertemu bakal melakukan apa di kamar berdua."
Prita mengeluh. Bahkan saat mandi tadi, suaminya masih meminta mengulanginya di kamar mandi. Sekarang, saat mereka sudah bersih dan rapi, suaminya kembali membujuknya untuk mau melakukannya lagi.
"Sebentar lagi Bara akan datang, jangan macam-macam." Prita menahan tangan suaminya yang sudsh mulai bergerilya pada tubuhnya.
"Sebentar saja.... Paling lima menit." Bayu tetap kekeh pada keinginannya. Dia terus saja menelusupkan tangannya ke dalam pakaian istrinya, meraba-raba permukaan kulit lembut yang masih tertutup pakaian.
"Aku tidak percaya dengan kata-kata lima menit. Itu akan menjadi tiga puluh menit atau satu jam. Dan aku tidak akan kuat untuk mandi lagi."
"Biasanya kan aku yang memandikanmu, Sayang.... Kamu tidak perlu repot-repot, punya suami yang sangat pandai memandikan istrinya."
Suara bisikan Bayu, hembusan nafasnya yang menyapu telinga membut tubuhnya seperti merinding. Prita tidak boleh luluh dengan kata-kata manis suaminya. Dia tidak akan menepati ucapannya apalagi soal durasi.
"Pokoknya tidak lagi, sudah cukup semalam untukmu."
"Hm, belum cukup.... Masih banyak ini yang harus aku keluarkan."
"No.... "
"Aku harus rajin menabung supaya kamu cepat hamil."
"Kenapa kamu ingin aku cepat hamil? Anak-anak kita masih kecil-kecil.... "
"Tidak apa-apa, banyak orang yang menyayangi mereka. Pengasuh juga ada. Kalau tambah satu lagi aku rasa mereka tidak akan keberatan. Justru mereka akan semakin senang saudara mereka bertambah. Jadi, kalau main bareng lebih ramai."
Prita heran kenapa lelaki mudah sekali mengatakan ingin memiliki banyak anak. Padahal, punya anak itu bukan hal sederhana, tapi sangat menguras tenaga dan pikiran. Mungkin katena kaum lelaki tidak pernah terjun langsung mengurus bayi selama 24 jam nonstop.
"Aku ingin sekali melihat perutmu membesar lalu aku akan mengusap-usapnya seperti ini." Bayu mempraktikkan mengusap kulit perut Prita yang datar.
"Kalau aku sudah hamil, aku juga harus melahirkan bayi, lho. Lalu, aku harus menyusuinya sampai dua tahun. Apa yakin nanti kamu tidak merasa punya saingan, Mas?"
"Livy sudah pensiun menjadi sainganmu, Mas. Apa kamu mau ada pesaing baru lagi yang lebih kecil dari Livy?"
Seketika Bayu membayangkan tentang Livy yang selalu meliriknya tajam ketika ia berusaha mendekati mamanya saat Livy menyusu. Seakan tidak boleh ada yang berani mendekati mama kesayangan Livy.
"Beri susu formula saja sejak lahir dan ini akan tetap jadi punyaku."
Tangan Bayu sudah aktif naik ke bagian dada, namun Prita kembali menurunkannya.
"Ih.... Kok tega anak sendiri diberi susu sapi. Kalau tidak ada masalah dalam hal menyusui ya lebih baik menyusui sendiri. Makanan terbaik bayi kan ASI."
"Makanya aku bilang tiga anak sudah cukup. Kalau mau tambah lagi, tunggu mereka sampai cukup besar."
"Hm.... " Bayu hanya bisa bergumam setelah kalah debat.
"Lagipula, kamu sendiri yang susah disapih, Mas. Jangan sok-sokan mau baby kalau nantinya bakalan rebutan lagi sama anak kita."
Ya, selain tiga anak kecil di rumah, Prita juga masih punya bayi besar yang tingkahnya lebih manja daripada anak-anaknya.
"Kalau begitu, apa perlu aku kabur saja dari sini, ya?"
__ADS_1
"Kok kabur? Nanti Mas jadi buronan dong.... "
"Aku tidak kuat tinggal di tempat ini lagi." rajuk Bayu.
Padahal kemarin-kemarin dia juga biasa saja tinggal di penjara. Kenapa setelah bertemu istrinya dia jadi ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu?
"Sabar.... Kata Bara kan kamu ada di sini untuk diamankan dari pihak luar, bukan jadi tahanan."
"Diamankan tapi di dalam penjara seperti ini, tidak bisa kemana-mana, tidak bisa bertemu dengan siapapun, sama saja rasanya seperti dipenjara."
"Apa perlu aku yang ikut masuk menemanimu di dalam sana, Mas?"
"Kamu mau ikut dipenjara?"
"Kalau bareng sama Mas tidak apa-apa."
"Jangan, makanan di sini tidak enak."
Tok Tok Tok
Terdengar suara pintu diketuk.
"Bayu.... Buka pintunya!" terdengar seruan keras Bara dari arah luar.
"Tuh kan, Bara sudah datang. Bukain pintunya, Mas."
Prita bangkit dari pangkuan Bayu untuk merapikan pakaian yang sedikit acak-acakan karena perbuatan suaminya. Sementara, Bayu dengan langkah malas beranjak dari ranjangnya lalu berjalan menuju pintu depan. Baru jam enam pagi dan kedatangan Bara membuatnya cukup kesal. Seharusnya dia datang lebih siang lagi agar waktu bersama istri lebih lama.
Saat pintu terbuka, terlihat wajah Bara yang tampak ceria.
"Hai, semalam tidurmu nyenyak, kan?" tanyanya.
"Aku bawakan sarapan untuk kalian berdua. Jangan menghalangiku, aku mau masuk."
Bara mendorong tubuh Bayu yang masih berdiri di depan pintu. Ia dengan penuh percaya diri masuk ke dalam rumah lalu duduk di sofa ruang tamu dan meletakkan makanan yang dia beli sebelum datang.
"Aku tidak tahu apa makanan kesukaan kalian, tapi aku bawakan nasi padang dan rendang."
"Hm.... Baunya enak." Prita turut keluar dari dalam kamar menjumpai Bara.
"Pagi, Mba Prita. Ayo kita sarapan bareng."
"Kamu sampai repot-repot membawakan makanan untuk kami. Terima kasih, ya."
Prita segera bergabung dengan Bara.
"Mas, ayo duduk sini sarapan." Prita menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Bayu menurut, ia menghampiri keduanya dan duduk di sebelah Prita. Prita mempersiapkan satu piring untuk Bayu dan satu piring untuk dirinya. Sementara, Bara sudah mengambil lebih dulu makanannya.
"Kalian harus makan dengan cepat, ya. Soalnya kamu, Bayu, harus kembali lagi ke dalam jam tujuh nanti."
Bayu sudah kehilangan selera makan mendengar harus kembali lagi ke dalam sana.
"Nanti Mba Prita biar aku antar pulang."
"Tidak perlu, aku sudah menghubungi Fredi untuk menjemputku."
__ADS_1
"Memangnya ada apa lagi, kenapa pagi-pagi sekali aku sudah harus kembali? Apa tidak bisa nanti siang atau nanti sore? Tega kamu hanya memberiku waktu sebentar dengan istriku." protes Bayu.
"Hah, aku sudah membiarkan kalian berdua semalaman loh. Coba hitung berapa jam kalian sudah bersama."
"Kalau ayahku sendiri juga mungkin tidak akan melakukan hal ini. Mana terima kasihmu sebagai seorang teman."
"Cih! Untuk apa aku berterima kasih? Yang aku lakukan untuk kalian juga banyak tapi tidak ada yang berterima kasih."
Kalau diingat-ingat lagi, Bayu selalu emosi. Mereka bisa merasakan kenaikan pangkat juga karena dirinya. Tapi, perlakuan yang diberikan padanya tidak sebaik yang pernah mereka katakan.
"Mas.... Sambil dimakan. Walaupun kesal, perut tetap harus diisi." ucapan Prita sekaligus kode agar suaminya tidak terlalu emosi.
Bayu tersenyum. Dia tidak bisa membantah kalau Prita yang sudah berbicara.
"Kamu tahu kan, kalau kami melakukan ini juga demi kebaikanmu. Tempat ini aman sebagai tempat persembunyian."
"Di luar sana, masih banyak yang sedang mencari tahu keberadaan informan kepolisian seperti dirimu yang menyebabkan para penjahat resah karena akhir-akhir ini banyak di antara mereka yang berhasil kami tangkap."
"Kalau sampai mereka tahu tentang dirimu, bukan hanya kamu saja yang dalam bahaya, tapi juga Mba Prita dan anak-anamu."
"Tempat ini memiliki sistem keamanan terbaik, apalagi kamu dijadikan seolah sebagai tahanan, jadi tidak akan ada yang curiga."
"Lalu kapan rencananya aku akan kalian lepaskan? Jangan bercanda dengan mengurungku satu tahun di sini. Aku lebih baik kabur."
"Bersabar dulu, tunggu sampai berita tentang kasusmu mereda juga. Dan tentunya, jika kondisi sudah lebih kondusif."
Prita terus menikmati makanannya sembari mendengarkan perbincangan yang tidak ia pahami. Entah apa yang mereka bicarakan, ia tidak bisa mencernanya dengan baik. Saat pertama bertemu Bara, dia menjelaskan jika Bayu sebenarnya bukan tahanan, tapi memang hanya ditempatkan di dalam tahanan.
Katanya Bayu belum bisa pulang karena masih ada misi khusus yang harus diselesaikan. Setidaknya Prita lega, Bayu tidak terseret oleh tuntutan hukum. Jika orang seperti Bayu yang sukarela membongkar kejahatan dijadikan tersangka, pasti tidak akan lagi orang yang akan berani jujur kepada polisi.
"Bara, tolong perlakukan suamiku dengan baik selama dia di sini, ya." pinta Prita.
"Iya, Mba. Jangan khawatir. Dia sangat disayangi oleh banyak orang di sini."
Bayu tertawa kecil mendengar penuturan Bara. Orang-orang yang bersikap baik padanya bukan karena menyayanginya, tapi karena memanfaatkannya.
Suasana makan menjadi hening. Mereka seperti sudah kehabisan bahan pembicaraan. Tapi, mereka jadi bisa menikmati makanannya dengan tenang. Sampai setengah jam kemudian, makanan yang ada di meja mereka telah habis. Fredi juga sudah datang untuk menjemput Prita. Dan Bara, sudah siap mengantarkan Bayu kembali ke dalam sana.
"Bisa tidak nanti malam aku datang lagi mengunjungi suamiku?" celetuk Prita.
Bara menggaruk-garuk kepalanya, "Maaf, Mba. Sepertinya aku tidak bisa membantu kalau setiap malam kalian ingin berdua. Aku melakukan ini juga tanpa sepengetahuan ayahku."
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti aku saja yang kabur untuk menemuimu." ucap Bayu.
"Jangan coba-coba kabur kalau tidak ingin timah panas menembus kulitmu."
"Woh, lihatlah.... Polisi muda yang baru naik pangkat ini berusaha mengancamku." sindir Bayu.
"Sudahlah, jangan bahas yang aneh-aneh. Kalau kamu berkelakuan buruk, aku akan susah untuk membelamu."
"Ya ya ya.... "
"Mba Prita, nanti kalau ada kesempatan bisa ke sini lagi, aku akan menghubungimu."
"Oh, oke. Terima kasih bantuannya, Bara."
"Mas, aku pulang dulu, ya."
__ADS_1
"Iya, Sayang. Jaga diri dan anak-anak juga. Aku akan berusaha untuk segera bisa pulang."
Sebelum berpisah, mereka berpelukan cukup lama. Disaksikan Fredi dan Bara sebagai penonton. Bayu mengecup kening istrinya dan melepaskan kepergiannya memasuki mobil bersama Fredi.