
Alex mulai meregangkan sedikit tubuhnya. Ternyata sedari tadi ia tertidur. Ia melirik ke arah Fredi, tentu saja Fredi masih fokus pada kemudinya. Kalau sampai Fredi tertidur saat menyetir, mungkin saat Alex bangun dia sudah pindah alam.
"Sudah bangun?" tanya Fredi.
"Iya, Kak. Kamu belum mengantuk?"
"Belum."
"Berapa lama lagi kita akan sampai?"
"Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi."
"Mau aku gantikan?"
"Tidak perlu, aku masih kuat menyetir. Besok saja pulangnya gantikan aku."
"Hm, oke."
Alex menyamankan duduknya. Setelah tidur, kondisi badannya terasa lebih enak dan rasa pegalnya hilang. Untung ada Fredi yang kuat menyetir, ia tak harus kelelahan menggantikannya.
"Astaga!"
Alex terlonjak kaget hingga kepalanya membentur kaca jendela mobil. Jantungnya seakan copot melihat pemandangan yang mencengangkan.
"Kenapa, Lex?" Fredi penasaran sekali melihat respon Alex yang sangat ekspresif teehadap sesuatu. Ia sengaja memelankan mobilnya agar Alex tidak lebih kaget.
"Kak.... Coba lihat ke spion belakang." ucap Alex.
Fredi menuruti perkataan Alex. Ia mengarahkan matanya menatap spion yang mengarah pada bangku belakang. Seketika ia mengerem mobilnya saking kaget. Daripada terjadi kecelakaan, Fredi memilih menghentikan sementara mobilnya di pinggir tol. Kalau ada petugas tol yang melihat, sudah pasti mereka akan dimarahi.
Alex dan Fredi saling berpandangan, setelah melihat pemandangan yang tak wajar. Mereka bahkan sampai merinding melihatnya. Apa yang saat ini mereka saksikan lebih menyeramkan daripada melihat hantu.
"Kak Fredi, apa kamu berpikiran yang sama denganku?" Ucap Alex yang masih tercengang.
"Sepertinya iya." Fredi sama saja dengan Alex.
Keduanya memandangi penumpang di jok belakang, dimana bos mereka sedang tertidur sembari memeluk Eki di sampingnya.
Mereka yang tidak tahu kalau itu adalah Prita, menganggap bosnya telah memiliki kelainan menjadi seorang penyuka sesama jenis. Melihat posisi mesra keduanya, Fredi dan Alex sampai bergidik.
"Hmm.... "
__ADS_1
Suara Bayu kembali mengagetkan mereka.
"Kak, jalankan lagi mobilnya. Jalankan! Takutnya nanti bos marah!" perintah Alex sembari setengah berbisik.
Fredi segera melajukan kembali mobilnya sebelum bosnya menyadari.
"Kak.... Kita pura-pura tidak tahu saja, ya."
"Aku setuju."
Alex jadi berpikir, pantas saja sepertinya Eki saat ini diistimewakan, berarti memang dia ada tempat khusus di hati bosnya. Alex jadi bersyukur, meskipun ia pernah jadi anak buah kesayangan, tapi bosnya tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Sungguh mengerikan.
Mungkin Bos Bayu sempat amnesia. Aneh saja, sejak kembali setelah menghilang lama, bosnya jadi bertingkah berbeda. Dia mengenalkan seorang pria dan langsung terlihat sangat dekat dengannya. Apa mungkin alasan bosnya menghilang karena telah berubah selera? Bulu kuduk Alex langsung merinding.
Fajar hamoir tiba. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya mobil yang Fredi bawa sampai di rumah yang Bayu sebut sebagai basecamp. Rumah luas tingkat dua itu merupakan rumah pribadi Bayu di Kota J yang sering digunakan untuk istirahat bersama anak buahnya. Rumah itu memiliki sepuluh kamar yang mampu menampung banyak orang.
Anak buah Alex sudah lebih dulu sampai. Mereka duduk berjajar di halaman menantikan kedatangan Bayu.
Fredi dan Alex kembali berpandangan saat mobil mereka telah berhenti. Keduanya seakan sedang bertelepati, mendiskusikan siapa yang kira-kira akan membangunkan Bayu. Posisi kedua lelaki di belakang sana masih tampak mesra, sebenarnya membuat mereka mau menangis ketakutan. Bosnya sangat-sangat tidak normal.
"Kak.... Kamu saja yang bangunkan."
"Kamu saja, Alex. Kamu kan pernah jadi kesayangan Bos."
"Jadi kamu iri?"
"Amit-amit, Kak!"
"Ah.... Apa kita sudah sampai?"
Bayu memegangi kepalanya yang terasa berat ketika terbangun. Ia tetap menjaga agar tubuhnya tidak banyak bergerak supaya Prita tidak terganggu tidurnya.
"Bukakan pintu mobilnya." perintah Bayu.
"Baik, Bos!"
Alex segera turun dan membukakan pintu samping tempat bosnya duduk. Lagi-lagi Alex harus tercengang, melihat bosnya keluar dari mobil sambil menggendong Eki yang masih tertidur. Apalagi Bayu menggendongnya ala bridal style. Tentu saja pikiran kedua orang itu menjadi semakin aneh.
Alex dan Fredi membuntuti Bayu dari belakang. Saat menjumpai anak buahnya Fredi tak lupa menyuruh mereka untuk beristirahat.
"Kak, itu si Eki tidur atau mati? Masa digendong Bos seperti itu tidak bangun." bisik Alex.
__ADS_1
"Mungkin dia pingsan."
Hal yang mengejutkan berikutnya, Bayu terus membawa Eki ke lantai atas menuju kamar utama, kamar yang biasa Bayu gunakan.
"Em, Bos.... Anda mau membawa Eki ke mana?" Alex memberanikan diri untuk bertanya.
"Ke kamar." Bayu menjawab tanpa menghentikan langkahnya.
"Bagaimana kalau Eki tidur dengan saya saja?" Alex menawarkan diri.
Bayu langsung menghentikan langkahnya. Dia menatap tajam ke arah Alex yang berani menawarkan agar istrinya tidur dengannya. Sungguh kurang ajar. Tapi, beberapa saat kemudian Bayu kembali sadar. Penampilan Prita saat ini memang sebagai Eki yang bergender laki-laki.
Alex yang merasa diberi tatapan intimidatif langsung ciut nyalinya. Padahal niatnya sudah baik.
"Saya hanya khawatir dia akan mengganggu istirahat Bos." lanjut Alex.
Fredi memilih diam daripada kena batunya. Apapun yang akan bosnya lakukan, ia cukup pura-pura tidak tahu agar selamat.
"Dia akan tidur di kamarku. Kalian masuk kamar masing-masing saja dan beritirahatlah."
"Baik, Bos."
Alex sudah tidak bertanya lagi. Ia membukakan pintu kamar utama untuk bosnya lalu menutupnya kembali. Alex bernafas lega setelah bosnya masuk.
"Bos Bayu parah, Kak. Dia bawa cowok ke kamarnya. Aku harus memberitahu Nona Prita." Alex mengelus-elus dadanya, memastikan jantungnya belum copot.
"Kalau mau selamat lebih baik pura-pura tidak tahu, Alex."
"Tapi ini tidak bisa dibiarkan, Kak."
"Nanti giliranmu yang dibawa masuk ke dalam kamar lho."
Alex bergidik ngeri, "Mending aku ke kamar melanjutkan tidur. Pusing aku lama-lama memikirkan Bos. Menyeramkan!"
Alex segera berlari menuju kamarnya, begitu pula dengan Fredi.
Sementara, di dalam kamar Bayu membaringkan Prita dengan hati-hati. Sepertinya istrinya sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Bayu melepaskan sepatu yang masih melekat di kaki. Kemudian, ia beralih ke arah dada Prita. Ia sibakkan kaos dan hoody yang menutupi area dada. Terlihat lilitan kain di area itu.
Pasti rasanya sangat tidak nyaman berpakaian seperti itu. Dadanya bisa sesak. Lalu, Bayu berinisiatif melepaskan lilitan kain panjang itu. Perlahan ia melonggarkan kain itu jangan sampai membuat istrinya bangun. Ketika seluruh lilitan kain berhasil dilepas, dada Prita langsung menyembul. Ini baru pemandangan yang Bayu sukai.
__ADS_1
Namun, tidak kali ini ia akan menyerang istrinya. Ia akan membiarkan Prita tidur dengan nyenyak dalam dekapannya ditemani mimpi yang indah.
Bayu merebahkan dirinya. Memandangi betapa manisnya sang istri saat tertidur. Sebenarnya ia ingin melepaskan rambut palsunya juga, namun sepertinya akan semakin mengganggu ketenangan tidur istrinya. Karen itu, ia biarkan saja istrinya tetap memakainya. Walaupun tampak seperti laki-laki, tapi Prita tetap terlihat cantik di matanya.