ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Penculikan Dean


__ADS_3

Satpam yang bernama Rano mengantar ibu Chika, kepala sekolah ke ruang pos jaganya untuk menemui tamu yang sebelumnya datang ingin mengantarkan sesuatu. Tapi, sesampainya di sana tidak ada satupun orang. Termasuk Jukri, satpam yang tadi Rano suruh menemani tamu itu juga tidak ada.


"Memangnya siapa yang mau menemui saya? Kenapa tidak kamu suruh saja masuk ke dalam?"


"Sudah, Bu. Tapi orang itu tidak mau. Dari pengakuannya katanya ingin memberikan titipan dari bosnya yang baru pulang dari Singapura untuk Anda."


"Singapura? Siapa ya?"


"Sepertinya dia salah satu karyawan dari perusahaan depan itu, Bu. Saya sempat melihat tanda pengenalnya."


"Siapa? Aku tidak mengenal satupun petinggi perusahaan itu. Kamu harus lebih hati-hati menerima tamu, No."


"Maafkan saya, Bu."


"Lalu dimana itu si Jukri. Kenapa ikut meninggalkan pos jaga." gerutu Bu Chika.


"Aaaa.... !"


Terdengar suara teriakan dari arah sebelah timur, dekat dengan arah toilet. Bu Chika dan Pak Rano segera berlari menghampiri asal suara jeritan itu.


Bu Murti, salah seorang pegawai di kantin mematung karena melihat satpam Jukri sudah tergeletak di depan pintu kamar mandi. Beberapa orang yang mendengar teriakannya langsung berkerumun mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua kaget melihat kondisi Jukri.


"Rano, cepat panggil petugas UKS!" perintah Bu Chika.


"Miss Sonia, tolong suruh anak-anak masuk kelas. Kondisikan situasi.


Dalam kondisi panik, sebagai seorang kepala sekolah tetap berusaha untuk tenang. Kondisi sekolah ia atur agar tidak terjadi kehebohan. Orang tua bisa panik jika mengetahui hal seperti ini terjadi.


Beberapa saat kemudian, Empat orang petugas UKS datang membawa tandu. Salah seorang di antaranya memeriksa denyut nadi Jukri.


"Dia hanya pingsan, Bu. Akan kami bawa dulu ke UKS."


Jukri diangkat ke atas tandu dengan digotong empat orang. Ia segera dibawa ke ruang UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Bu Chika, gawat!"


Salah seorang guru menghampirinya dengan sangat panik.


"Kenapa? Ada apa, Miss Lia?"


"Salah satu murid di kelas saya hilang, Bu. Dean Hartadi. Bagaimana ini?" guru itu *******-***** jarinya sendiri. Ada rasa takut bercampur cemas yang dirasakan karena anak muridnya hilang.


"Kok bisa begitu?" Bu Chika ikut-ikutan bingung.

__ADS_1


Keduanya bergegas menuju kelas. Siswa ia teliti kembali dan dihitung ulang. Memang benar, murid mereka kurang satu orang. Dean si lincah dan tidak bisa diam.


"Anak-anak, siapa yang tadi main dengan Dean?"


"Apa ada yang tau, kemana Dean pergi?"


Salah seorang murid bernama Salsa tiba-tiba maju ke depan. Dengan malu-malu, ia mencoba untuk bicara.


"Bu guru, tadi Dean pergi dengan om-om."


Bu Chika mendelikkan mata. Ada orang bisa masuk ke dalam sekolah, mempelajari situasi dan akhirnya berhasil mencuri seorang anak? Reputasi sekolahnya akan hancur jika wali murid tau ada siswa yang diculik dari dalam sekolah. Kepala Bu Chika langsung pening.


"Pak Rano, temani saya ke ruang kontrol!"


Kedua orang tersebut menuju ruang kontrol kemudian mengecek rekaman CCTV di sekitar tempat kejadian.


"Ini dia Bu, tamu yang ingin menemui Anda." ucap satpam Rano saat melihat rekaman dirinya membukakan gerbang untuk orang itu.


Rekaman berikutnya menampilkan lelaki itu duduk bersama satpam Jukri di pos jaga. Lalu, saat Jukri pergi, lelaki itu tampak melihat-lihat situasi. Dia menghampiri anak-anak yang sedang bermain, lalu mengajak Dean pergi.


Tampilan rekaman CCTV selanjutnya lelaki itu membawa Dean ke luar sekolah, di luar sudah ada mobil jeep hitam yang menunggu. Dean masuk ke dalam mobil bersama lelaki itu. Mereka bisa menyimpulkan salah seorang murid memang sudah diculik.


Bu Chika langsung mengambil tindakan. Ia menyuruh satpam Rano menghubungi polisi, bos perusahaan depan, dan tentu saja pihak keluarga Dean.


"Saya tidak pernah menyuruh orang mengantarkan sesuatu kepada Ibu Chika. Kami bahkan tidak kenal, benar, kan, Bu?" kata Pak Hardi, pemilik perusahaan yang namanya dicatut oleh penculik itu.


"Iya, kami tidak saling kenal."


"Ah, orang ini juga bukan karyawan di tempat kami."


"Tapi nametag di lehernya seperti kartu identitas perusahaan Anda."


"Benar, tapi orang itu bukan karyawan kami."


"Mungkin itu nametag palsu."


"Kalian harus bertanggung jawab, ya! Bisa-bisanya membiarkan orang asing masuk ke dalam sekolah!" Maya tampak tidak sabar. Rasanya ia ingin mengamuk, menjambak rambut kepala sekolah jika Rahma tidak menahannya.


"Kami akan bertanggung jawab, Ibu. Karena itu kami meminta bantuan polisi. Kami akan berusaha menemukan Dean secepatnya." Bu Chika mencoba menenangkan.


"Kalau cucu saya sampai kenapa-kenapa, kalian dan sekolahan ini akan saya tuntut!"


"Sabar, Ma."

__ADS_1


"Bisa-bisanya kamu menyuruh mama sabar? Ini Dean hilang, loh. Bukan sedang main petak umpet! Kamu sebagai ayahnya apa tidak khawatir?"


"Kita semua khawatir, Ma. Tapi marah-marah tidak akan menyelesaikan masalah."


Andin mendekatkan tubuhnya pada Ayash, ia memberi kode agar dia mendekatkan telinganya.


"Kalau ini kasus penculikan, aku yakin nanti penculillknya akan menghubungimu dan meminta tebusan." bisiknya.


Ucapan Andin memang masuk akal. Sebenarnya pikiran Ayash juga sudah kalut ketika diberi tahu kalau Dean diculik. Sementara, di saat yang bersamaan namun di tempat yang berbeda, Daniel akan segera dioperasi. Dia tidak mungkin mengabari Prita di saat seperti ini.


"Pak, kami menemukan kandungan obat tidur di dalam botol minuman yang satpam itu minum." kata salah satu tim dari pihak kepolisian.


"Amankan TKP, bawa benda-benda yang sekiranya bisa dilacak sidik jarinya."


"Baik, Pak."


"Apa satpam yang pingsan itu sudah bangun?"


"Belum, Pak. Dia masih pingsan di ruang UKS." jawab Bu Chika.


"Pak Ayash, saya harap Anda sekeluarga bisa bersabar. Kami akan berusaha mencari putra bapak secepatnya."


"Terima kasih, Pak."


"Pak polisi, apa Anda sudah melacak plat nomor yang tertera di mobil?" kata Andin.


"Sudah, Ibu. Tapi yang mereka pakai itu plat nomor kendaraan palsu."


"Kami akan mengumpulkan rekaman CCTV jalan raya untuk mengetahui arah pergerakan mobil tersebut."


Para polisi sibuk mengamankan bukti-bukti di TKP. Kepala polisi itu juga sibuk menelepon dan menerima telepon dari sana-sini.


"Apa kamu punya musuh?"


"Aku tidak pernah merasa punya musuh. Tapi tidak tau juga kalau ada orang yang menganggapku musuh."


"Mungkin ada orang yang akhir-akhir ini paling bermasalah denganmu?"


Orang yang bermasalah dengannya? Di otak Ayash hanya ada satu nama. Bayu. Hanya dia yang selalu bermasalah dengannya. Tapi tidak mungkin Bayu menculik Dean. Dean juga anak Prita. Atau mungkin juga Bayu menjemput Dean diam-diam karena ingin dibawa ke Kota J?


Kemarin hanya Livy yang diajak karena Dean tidak mau ikut jadi ditinggal. Prita sudah ijin membawa Livy dan pamit untuk operasi Daniel di Kota J.


Bayu juga sempat melakukan itu, menjemput Dean tanpa bilang-bilang. Tapi, kali ini orang yang menjemput Dean bukan Bayu, melainkan orang lain. Apa mungkin Bayu menyuruh orang lain menjemputnya?

__ADS_1


__ADS_2