ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Belanja Kebutuhan Bayi


__ADS_3

"Mas, ini ini bangus nggak?"


Prita memperlihatkan sebuah baju tidur untuk calon anaknya. Ia mengajak Bayu mengunjungi toko pakaian khusus anak untuk membeli berbagai perlengkapan bayi yang nantinya akan mereka butuhkan.


Bayu hanya bisa menghela nafas setiap kali Prita menanyakan pendapatnya. Menurutnya, semua baju yang ada di toko itu bagus-bagus. Tapi, istrinya sejak tadi sibuk memilih-milih tapi tidak banyak yang akhirnya masuk keranjang.


Walaupun meminta pendapat Bayu, setelah Bayu memberikan pendapatnya, tetap saja Prita memilih yang disukainya. Seakan tidak ada gunanya juga Prita bertanya kepadanya. Tapi, sejak tadi Prita terus bertanya. Kalau dia tidak mau menjawab, Prita akan ngambek dan marah. Kalau dia jawab, pasti akan dibantah juga. Jadi memang membingungkan menghadapi wanita, apalagi wanita hamil.


"Sayang, kita borong saja ya seisi toko ini. Semuanya bagus, kok. Uangku juga tidak akan habis hanya untuk memborong semua ini. Kamu juga tidak perlu capek-capek memilih."


"Mas, tapi kan tidak semuanya akan terpakai. Jangan asal borong kalau sekiranya tidak perlu. Hidup juga butuh perhitungan."


Bayu sudah memberikan usul terbaiknya. Namun, sekali lagi pendapatnya seakan masih salah di mata istrinya. Ternyata lebih mudah mengurus perusahaan daripada mengurus istrinya sendiri. Hal sederhana saja bisa menjadi sangat rumit.


"Ya sudah, kalau begitu, setiap barang yang menarik untukmu, langsung saja dimasukkan dalam keranjang, Sayang. Kamu bisa kelelahan kalau terlalu lama berdiri seperti ini."


"Makanya dibantu dong.... Dari tadi aku sudah meminta pendapat tapi kamu tidak mau berpendapat. Akhirnya jadi aku kan yang repot sendiri." Prita memonyongkan bibirnya karena marah.


Bayu kembali menghela nafas. Memang, hari ini dia serba salah. Diam salah, bicara juga salah. Sejak tadi dia sudah berpendapat, tapi tidak pernah diterima. Sepertinya Bayu hanya harus bersabar.


"Iya, Sayang. Maaf, ya.... Aku salah. Ayo, aku temani pilih-pilih lagi."


Bayu menunjukkan senyum termanisnya. Lebih baik ia mengalah daripada Prita bertambah marah.


Prita menggandeng lengan suaminya, bergelayut manja di sana. Ia merasa disayangi hanya karena Bayu mau mengalah padanya. Sebenarnya dia juga tahu kalau dirinya agak mengesalkan dalam hal memilih pakaian untuk Baby Dylan. Tapi, dia senang dengan respon Bayu yang tetap bersabar dengan kelakuannya.


"Mas.... Kita ke sana. Aku mau memilih keranjang bayi." ucap Prita dengan manjanya.


Bayu menuruti kemauan Prita. Mereka berjalan menuju area khusus keranjang bayi. Ada banyak model dan tipe keranjang bayi dengan harga paling terjangkau hingga yang paling mahal.


"Mas, kira-kira yang cocok untuk baby Dylan yang mana?"

__ADS_1


"Pilih saja yang paling mahal, menurutku itu yang paling bagus." jawab Bayu singkat.


Prita melihat list harga keranjang bayi yang tersedia di toko itu. Ia melihat deretan harga termahal yaitu 200 juta. Prita penasaran seperti apa keranjang bayi yang dibanderol dengan harga sebegitu mahalnya.


Ketika melihat bentuknya, Prita akui memang bagus. Tapi, menurut Prita kurang sesuai dengan harganya. Menurutnya kualitas barang seperti itu seharusnya bisa lebih murah lagi harganya.


"Ini terlalu mahal, Mas. Bahan dan bentunya tidak terlalu bagus. Menurutku harganya mengada-ada."


Padahal menurut Bayu keranjang bayi itu yang paling bagus dan menurutnya harga yang ditawarkan juga wajar melihat merk serta kualitasnya. Sekali lagi, Bayu memilih diam. Ia akan mengikuti keinginan istrinya.


"Iya juga, sih. Jadi, menurutmu mana yang harga dan barangnya sesuai, Sayang?"


"Yang ini menurutku cocok." Prita menunjuk satu keranjang bayi dengan warna biru muda yang cukup terlihat mewah juga.


"Ini harganya hanya 25juta, bentuknya tidak kalah dengan yang 200 juta tadi. Benar, kan?"


Bayu menyunggingkan senyum, "Benar, Sayang. pilihanmu selalu yang terbaik." pujinya. Tentu saja Prita jadi senang karena dipuji. "Aku panggilkan pelayan untuk membungkus ini, ya?"


"Mas, kebagian sana.... Aku belum membeli mainan juga untuk Baby Dylan."


Prita kembali menunjuk ke arah lain. Ternyata proses belanja masih belum selesai. Bayu harus memanjangkan kesabarannya demi membahagiakan istrinya. Padahal Dylan juga belum lahir, untuk apa juga mainan? Mana ada bayi yang lahir terus bisa main? Istrinya memang aneh.


"Bayu.... "


Dari jarak lima meter, tiba-tiba mereka kedatangan sosok Karla, teman lama Bayu sekaligus wanita yang sangat ingin ia hindari. Sudah nyaman hidupnya di Kota S jauh dari Karla, sekarang wanita itu tiba-tiba muncul lagi di hadapannya.


Bayu sudah was-was kalau nantinya Prita akan sangat marah. Salah berpendapat saja dia sudah ngambek, apalagi melihat Karla datang menghampiri mereka. Bisa-bisa perang dunia ketiga.


"I miss you, Bayu.... "


Karla merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Bayu. Namun, sebelum pelukan itu mendarat pada tubuh Bayu, Prita sudah lebih dulu berdiri di hadapan Karla sehingga ia yang akhirnya Karla peluk.

__ADS_1


"Apa-apaan sih, kamu menghalangiku." Karla melepaskan pelukan dengan kasar. Dia kesal karena Prita menghalanginya.


"Bayu.... Dia jahat sekali. Kita kan sudah lama tidak bertemu. Masa tidak boleh berpelukan sebentar." rengek Karla.


"Memangnya harus berpelukan kalau bertemu?" Prita berkata dengan ekspresi wajah datar. Dia tidak menyukai kehadiran Karla di sana. Mood-nya langsung rusak gara-gara Karla.


"Itu hal wajar dimana-mana, Prita. Jangan seperti baru keluar dari gua dan tidak tahu apa-apa deh."


"Tuh, kenapa kamu tidak peluk saja bapak-bapak yang di sana?"


Prita menunjuk pada sosok satpam tua yang berjaga di depan pintu lift. Karla ikut melihat ke arah yang Prita tunjuk, lalu bergidig takut.


Karla sudah muak dengan para lelaki tua. Satu suaminya yang jarang pulang saja ia berharap tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Dia ngeri sendiri kalau harus melayani lelaki tua yang gendut dan sudah bau minyak angin, meskipun itu suaminya sendiri. Karla masih menjadi istri kedua seorang pengusaha.


"Kenapa? Tidak mau, kan?" sindir Prita. "Mau peluk pakai pilih-pilih segala. Pintar sekali memilih suamiku yang tampan untuk dipeluk. Aku sebagai istrinya tidak sudi suamiku dipeluk-peluk olehmu!"


Karla sampai tercengang mendengar perkataan Prita. Dia tidak yakin kalau wanita hamil yang ada di hadapannya benar-benar Prita. Sejak kapan dia bisa berbicara selugas itu, tanpa ragu-ragu dan berpikir panjang.


"Bayu, sepertinya istrimu sedang tidak waras. Masa pelukan saja sampai dipermasalahkan." Karla menggeleng-gelengkan kepalanya masih tidak percaya.


"Sepertinya yang tidak waras di sini justru kamu, Karla."


"Apa!?" Karla kembali tercengang.


Bayu menarik lengan istrinya lalu memeluknya posesif di depan Karla, "Karla, dia istriku. Wajar kalau dia tidak suka aku akrab atau dekat dengan wanita lain. Aku sendiri juga tidak akan suka jika dia dekat dengan lelaki lain."


"Kamu juga sudah bersuami, belajarlah untuk menjaga kehormatan diri. Jangan seperti ini terus."


"Nanti, orang-orang akan bahagia dan kamu akan tetap seperti ini. Itu rugi, Karla. Sebaiknya kamu berhenti."


"Sayang, kita pergi dari sini, ya. Aku tidak mau melihatmu ribut dengan Karla."

__ADS_1


Prita mengangguk. Bayu membawa istrinya keluar dari toko itu sebelum ada perselisihan yang melebar.


__ADS_2