
Bayu menggendong Dean di pundak kanannya. Anak itu kegirangan karena merasa menjadi tinggi dan bisa melihat segala sesuatu dari atas. Sejak turun dari mobil ia tertawa-tawa. Bayu mengajaknya masuk ke kantornya setelah ia jemput dari TK.
Kehadiran Bayu yang membawa seorang anak kecil itu sontak menarik perhatian semua karyawan. Mereka bertanya-tanya, siapa gerangan anak yang Bayu bawa ke kantornya. Bayu belum menikah. Mungkinkah ia anak dari pacarnya atau memang Bayu telah memiliki anak tanpa pernikahan? Hubungan keduanya tampak dekat.
"Siapa itu, Pak?" tanya salah seorang karyawan yang punya nyali untuk bertanya.
"Anakku." jawab Bayu singkat.
Ia terus membawa Dean dengan posisi yang sama bahkan saat menaiki lift.
"Kamu suka jadi tinggi."
"Iya, Uncle. Semuanya jadi kelihatan rendah. Aku mau cepat-cepat besar dan menjadi tinggi."
Setibanya di ruang kerjanya, sudah ada Reni di sana dengan beberapa kantong mainan yang ia pesan.
"Pak, ini mainan yang Anda minta."
Entah mengapa Reni lebih sering jadi kurir mainan daripada mengerjakan tugasnya di kantor. Faedahnya, bosnya itu tidak peenah marah-marah lagi atau mau mengancam memecatnya jika pekerjaan tidak beres.
"Terima kasih, Reni."
"Dean, ambil mainanmu!" Bayu menuru kan Dean dari atas bahunya. Anak itu langsung berlari membuka sendiri kantong belanjaan yang katanya berisi mainan.
"Kalau boleh tau, anak ini siapa, Pak?"
"Dia anakku. Namanya Dean." jawab Bayu dengan senyum manisnya.
"Anak dari Nona Shuwan?"
Senyuman di wajah Bayu berubah menjadi tatapan keheranan ketika Reni menebak Dean sebagai anak Shuwan.
"Dia anak dari calon istriku, bukan Shuwan."
"Tapi, Bapak kan pacaran dengan Nona Shuwan...."
"Itu dulu, sekarang sudah tidak lagi."
"Kalau begitu saya permisi dulu, Pak."
Reni keluar ruangan masih dengan kepala dipenuhi tanda tanya. Ia penasaran sekali dengan wanita yang disebut-sebut calon istri bosnya itu. Setahu dia, hanya Shuwan wanita yang pernah datang ke kantor itu.
Tak berselang lama dari kepergian Reni, gantian Shuwan yang memasuki ruangan Bayu. Ia bisa bebas masuk ke sana karena semua karyawan tau kalau Shuwan adalah pacar Pak Bayu. Betapa terkejut saat Shuwan masuk ke sana dan mendapati Bayu sedang bermain bersama seorang anak lelaki.
"Kamu datang, Shu?"
__ADS_1
Bayu memicingkan sebelas alisnya. Ia heran kenapa Shuwan masih datang ke kantornya padahal sudah jelas waktu itu ia memutuskannya. Wanita seperti Shuwan memang tidak tau malu. Waktu itu mereka bertemu, ada Moreno juga. Tapi, dia masih saja berharap untuk mendekati Bayu. Bukankah Shuwan terlalu serakah.
"Siapa anak itu?"
"Dia anakku."
Dean yang asyik dengan mainannya, tidak mempedulikan keberadaan dua orang dewasa itu.
"Apa anak dari wanita yang aku lihat di klab memanah waktu itu?"
"Iya."
Shuwan hampir tak percaya, "Jadi kamu memutuskanku demi seorang janda? Aku kira seleramu tinggi. Ternyata dia hanya seorang janda."
Bayu langsung maju berdiri menatap tajam pada Shuwan. Dia tidak suka wanitanya diremehkan.
"Memangnya kenapa kalau dia janda? Statusnya jelas, kan? J.A.N.D.A. Janda. Artinya dia bukan istri orang. Berarti ada kesempatan untukku memilikinya."
"Kalau statusmu sendiri apa? Perawan atau janda? Sampai berani menganggap dirimu lebih baik darinya?"
Kata-kata yang Bayu lontarkan sangat menohok. Itu memang kenyataan tapi membuat Shuwan sangat kesal mendengarnya. Shuwan menggenggam tangannya.
Shuwan menarik nafasnya dalam-dalam, "Menikah dengan janda hanya membuatmu akan kerepotan. Apalagi untuk mengasuh anak yang dia bawa dari suami sebelumnya. Keluarga mantan suaminya juga pasti akan mempermasalahkan jika cucu mereka dibawa oleh mantan istri yang menikah lagi. Kamu pasti akan menyesal jika sampai menikahi seorang janda."
"Hahaha.... Apa kamu sedang melawak? Lucu sekali!"
"Kamu bicara seperti itu seolah-olah menyukaiku? Memangnya kamu pernah menyukaiku? Sejak awal bukankah kamu hanya mendekatiku untuk maksud tertentu?"
"Aku memang menyukaimu."
"Tidak, kamu tidak menyukaiku. Kamu hanya berambisi memiliki segalanya. Kamu orang yang tidak mau kalah dan sangat serakah. Aku kasihan padamu."
"Lebih baik kamu berhenti menggangguku dan fokus saja dengan Mario. Sebelum semuanya jadi lebih kacau dan kamu tak akan mendapatkan apapun."
"Apa dia tau kondisimu? Apa dia tau tentang impotensi yang kamu derita?" Shuwan mengatakannya dengan penuh kemenangan. Dia belum mau kalah. Ia seperti memiliki senjata untuk merendahkan seorang Bayu.
"Memangnya kenapa kalau aku impotensi? Aku yakin dia tetap akan menerimaku." Bayu dan Prita sudah membuat kesepakatan, asalkan Daniel bisa sembuh, mereka akan menikah.
"Hahaha.... Ya, mungkin dia akan menerimamu. Tapi tidak tau jika dia akan tetap setia padamu. Pada akhirnya dia akan sama saja sepertiku."
"Dia jauh berbeda darimu."
"Kamu pikir hanya lelaki yang butuh s*x? Wanita juga butuh. Apalagi dia seorang janda, pasti sudah sangat banyak pengalamannya. Mana mau yang seperti itu bertahan dengan lelaki seperti itu."
Bayu sudah merasa mulai dihina oleh seorang Shuwan. Kelemahannya dijadikan bahan olok-olokan.
__ADS_1
"Itu hanya berlaku untuk wanita jablay sepertimu."
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan nasib orang lain, sebaiknya kamu khawatirkan saja nasibmu sendiri."
"Untuk urusan kepuasan, aku pastikan istriku nanti akan sangat puas dengan pelayananku. Karena aku sangat ahli dalam hal memuaskan wanita, kecuali dirimu yang bahkan tidak bisa membuatku bernafsu."
Klek!
Prita muncul dari balik pintu bersama seorang security.
"Pak, ada yang mencari Anda." ucap security itu.
"Masuklah!" perintah Bayu.
Prita sebenarnya ragu ingin masuk atau tidak ketika melihat Shuwan juga ada di dalam sana. Wanita itu terlihat menakutkan. Ibarat singa betina yang siap memangsa.
Ia tidak tau respon apa yang harus ditunjukkan. Mau menyapa tapi sepertinya bukan waktu yang tepat. Kalau tidak menyapa, artinya tidak sopan karena mereka pernah bertemu di klab memanah.
"Kenapa berdiri terus di situ? Masuklah!"
"Em, aku bisa menunggu di luar jika ada urusan kalian yang belum selesai."
"Tidak perlu. Dia sudah tidak punya urusan lagi denganku."
"Sepertinya kita pernah bertemu." ucap Shuwan dengan nada yang diperhalus seakan tidak terjadi apapun.
"Iya, beberapa hari lalu kita bertemu di tempat memanah." Prita membalas dengan senyuman.
Prita sebenarnya tau, Shuwan hanya berpura-pura tidak terlalu mengingatnya. Shuwan pasti sangat ingat dirinya. Sorot mata penuh kemarahan yang ia lihat saat Moreno melatihnya tidak bisa Prita lupakan.
"Apa kamu pacar Bayu?"
"Ah, em, iya."
"Aku mantan pacarnya." jawabnya dengan nada tenang. Seolah dia ingin Prita menilai dirinya apa pantas menjadi pacar Bayu menyaingi dirinya yang lebih cantik.
"Shu, cepat keluar dari sini!" Shuwan akan banyak bicara macam-macam jika dia ada di sana lebih lama lagi.
"Iya, iya, aku mengerti." Shuwan menambilkan senyum seringai.
Sebelum pergi keluar ruangan, Shuwan membisikkan sesuatu kepada Prita.
"Bayu itu impotensi."
Prita mendelik mendengar kata-kata Shuwan. Wanita itu sungguh aneh, untuk apa dia mengatakan hal seperti itu kepadanya?
__ADS_1