ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
The Last Date


__ADS_3

Prita duduk di depan cermin meja rias. Tangannya menyapukan satu per satu alat make up wajahnya. Meskipun make up yang digunakan sangat tipis, namun tetap membantu wajahnya terlihat lebih segar.


Rasanya sudah lama dia tak memegang peralatan make up. Mengurusi Daniel di rumah sakit membuatnya tidak sempat memanjakan diri. Hari ini, khusus untuk kencannya dengan Ayash, ia sengaja ingin tampil dengan cantik.


Mungkin setiap keputusan akan melahirkan penyesalan di kemudian hari. Tapi, Prita dan Ayash sama-sama sudah bersepakat akan mengambil jalan perpisahan. Mereka sudah siap dengan konsekuensi di masa mendatang.


Kondisi Daniel sudah lebih stabil, kelihatan lebih sehat dari hari-hari sebelumnya. Dia sudah bisa bermain dan makan dengan lahap. Karena itulah Prita mau menerima ajakan Ayash pergi berkencan. Daniel ia titipkan kepada Leta dan Pak Agus selama nanti ia pergi.


Klek!


"Sudah siap?" tanya Ayash yang baru saja melongok dari arah pintu.


Prita mengangguk. Segera ia sambar tas miliknya dari atas meja seraya berlari menyongsong lelaki yang menjemputnya itu. Penampilan Ayash sangat santai. Ia hanya mengenakan atasan kaos warna hitam dan celana jeans biru. Dia tampak kelihatan lebih muda dan segar.


Keduanya bergandengan tangan sambil tersenyum. Hari ini mereka sangat berbeda, seperti orang yang baru saja berpacaran.


Ayash mempersilakan Prita memasuki mobil ferrari portofino putih miliknya. Ia melajukan mobil itu ke arah utara pusat kota menuju SMA tempat mereka sekolah dulu.


"Kamu yakin kita akan melakukan ini?" tanya Prita. Sebenarnya dia masih ada sedikit rasa kekhawatiran meninggalkan Daniel.


Ayash menggenggam tangan Prita dengan tangan kanan yang tetap pada kemudi.


"Kamu tidak perlu khawatir. Anak-anak akan baik-baik saja."


"Kita akan melewati hari ini berdua saja. Jangan pikirkan hal lain selain aku dan kamu."


Prita mengangguk. Memang kesepakatan awalnya mereka akan sama-sama mematikan ponsel dan benar-benar fokus pada acara kencan yang sudah beberapa waktu lalu di bahas. Katanya, Ayash ingin menikmati satu hari saja bersama Prita sebelum mereka resmi bercerai.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di halaman SMA Bhakti Bangsa. Tak lupa Ayash meminta ijin kepada penjaga sekolah yang dikenalnya untuk bisa memasuki area sekolah.


Sudah sepuluh tahun berlalu sejak mereka lulus dari sana. Tidak banyak yang berubah dari bangunan sekolah itu. Letak ruang kelas, ruang guru, laboratorium, lapangan basket, lapangan futsal, semuanya masih sama.


Dulu, Prita dan Ayash tak pernah satu kelas. Mereka bertemu dan saling kenal di lapangan basket. Prita dulu selalu datang ke lapangan basket, baik saat latihan ataupun jika sedang ada pertandingan. Tentunya dia datang bukan untuk Ayash, melainkan untuk Irgi.


Sejak pertama bertemu, Ayash sudah ilfil dengan Prita. Wanita yang terus menempel pada lelaki yang sudah punya pacar menurutnya tidak tahu diri. Ya, dia kira dulu Prita suka pada Irgi. Dua perpaduan orang yang paling Ayash benci, Irgi Si Songong dan Prita Si Penempel Pacar Orang.


Semakin lama kenal dengan Irgi, dia tak seburuk perkiraannya. Ayash dan Irgi akhirnya bisa berteman. Irgi yang selalu mengajak Prita bersamanya juga membuat Ayash semakin dekat dengan wanita itu. Dan, ternyata memang Prita wanita yang baik tidak seperti rumor yang sering ia dengar.


Mulai muncul benih-benih rasa suka namun selalu membuatnya maju mundur. Menurutnya, ia tak akan sanggup membangun hubungan di antara Prita dan Irgi. Hubungan mereka terlalu intim untuk disebut sebagai sahabat. Belum mengatakan cinta saja Ayash sering cemburu melihat kedekatan Prita dan Irgi. Akhirnya ia memutuskan untuk memendam perasaannya saja. Sampai pada suatu ketika, ia memberanikan diri mengatakan cinta pada Prita. Dan akhirnya mereka bisa berpacaran.


"Aku pertama kali jatuh cinta padamu di tempat ini." ucap Prita.


Mereka duduk di tribun penonton lapangan basket indoor sekolah. Tempat itu memang spot yang paling banyak kenangan di antara mereka berdua.


"Kamu tidak salah? Ada orang tertampan se-SMA Bhakti Bangsa di sampingmu setiap hari kamu masih bisa kagum dengan cowok lain?"


"Siapa? Irgi?"


"Iya, Irgi, pangeran sekolah kita."


"Memang dia seganteng itu, ya?"


"Orang normal ya pasti akan bilang begitu. Aku yang cowok juga mengakuinya kok."


"Hm, bagiku Irgi masih sama sih seperti dirinya waktu SMP. Dia anak yang culun. Berbeda jauh darimu."

__ADS_1


"Kalau suka padaku sejak dulu kenapa tidak bilang?"


"Mana mungkin aku punya keberanian untuk mengakui perasaan pada cowok paling cool di sekolah yang jago basket, karate, dan selalu mendapat peringkat atas di bidang akademik. Aku yakin seleramu pasti sangat tinggi, setidaknya harus artis, model, atau secantik dan sekaya Raeka."


"Seleraku memang tinggi, karena itu aku memilihmu."


"Selama SMA kita tidak sampai berpacaran, ya. Tapi aku sangat bahagia bisa menghabiskan waktu setiap hari bersamamu."


Ayash mendekap Prita ke dalam pelukannya, "Aku juga merasakan hal yang sama. Walaupun kita tidak ada hubungan pacaran, tapi bisa bertemu denganmu setiap hari di sekolah sudah membuatku bahagia."


Keduanya kembali bernostalgia mengingat masa-masa indah sewaktu SMA. Mereka menelurusi setiap jengkal sudut sekolah sembali bercerita tentang hal-hal lucu ataupun menyebalkan yang pernah mereka alami. Hingga tak terasa mereka telah menghabiskan dua jam hanya untuk berkeliling sekolah.


Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang. Mereka pergi meninggalkan sekolah menuju restoran yang dulu sering mereka datangi. Restoran Jepang. Setidaknya seminggu sekali pasti mereka dan teman-teman yang lain mendatangi restoran itu. Menu favorit mereka tentu saja shabu-shabu.


Menikmati satu hari dengan egois tanpa memikirkan hal lain, rasanya sangat menyenangkan. Mereka seperti sedang menikmagi reward kehidupan untuk merasakan me time bersama pasangan. Senyum dan tawa yang sudah lama tak tampak kini terus melekat di wajah mereka. Hidup rasanya tidak ada beban dan kesedihan.


Setelah melewati waktu makan siang di restoran Jepang, mereka beralih ke taman hiburan, tempat favorit anak muda untuk berkencan. Ayash dan Prita serasa menjadi muda kembali. Mereka mencoba satu per satu wahana ekstrem yang ada di sana, seperti yang pernah mereka lakukan sewaktu SMA. Roller Coaster, Kora-Kora, Tornado, Hysteria, Kicir-Kicir, Rajawali, Niagara, semua wahana itu mereka lewati dengan gelak tawa lepas.


Prita jadi ingat waktu double date dengan Irgi dan Raeka. Wajah Raeka sangat pucat ketika diajak naik Kora-Kora. Ia bahkan sampai muntah-muntah karena tidak kuat naik wahana seperti itu.


Hari semakin sore. Mereka memilih wahana bianglala sebagai wahana terakhir sebelum pulang. Prita dan Ayash duduk berhadap-hadapan. Saat bianglala sampai di titik atas, mereka bisa menyaksikan pemandangan Kota S dari atas. Bahkan, laut juga bisa terlihat. Pemandangannya sangat bagus. Ditambah dengan hembusan angin semilir, rasanya membuat betah untuk tetap di sana dan tidak turun.


Tiba-tiba Ayash berpindah duduk ke sisi Prita, memeluknya sembari menyandarkan kepala di bahu Prita seperti orang yang sedang bermanja. Padahal Prita sudah mempersiapkan diri untuk kencan terakhir itu. Namun, segala kelakuan Ayash membuatnya serasa ingin membatalkan saja rencana perceraian mereka. Bukankah suatu hal yang wajar jika dalam suatu pernikahan ada ketidakbahagiaan? Lalu kenapa harus berpisah?


"Ayash.... Kita batalkan saja rencana perceraian kita."


------------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Kenapa ya, Ayash ingin bercerai? Apa karena foto ciuman Prita dan Bayu yang mamanya perlihatkan? Atau karena Daniel? Apa yang Dokter Hansen katakan waktu itu yang membuat Ayash bimbang? Apakah mereka benar-benar akan bercerai? Apakah Ayash akan mati sehingga meminta acara kencan terakhir kepada Prita? 😳


__ADS_2