ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kamu Cemburu?


__ADS_3

Prita masih terisak di sofa ruang tamu Daniel. Tadi, Ayash datang berkunjung. Rasanya senang mendapat kunjungannya setelah beberapa hari tidak bertemu. Entah kenapa kedatangan Ayash kini menjadi sesuatu yang berharga setelah mereka berpisah.


Memang, keduanya telah bersepakat bahwa hubungan mereka akan tetap baik, hanya hubungan pernikahannya saja yang berakhir. Tapi, imbas darì satu kata cerai itu begitu besar. Ia tak lagi bisa bermanja-manja padanya seperti dulu. Menyentuhnya seperti hal haram jika dilakukan. Anehnya ia semakin merindukan sentuhan itu, apalagi setelah kencan terakhir.


Mereka berpisah dalam kondisi saling cinta. Ya, cinta Prita masih utuh untuk Ayash, seseorang yang kini sudah tak bisa lagi seperti dulu. Menjadi janda mungkin membuatnya lebih leluasa untuk bergaul dengan orang lain. Membuatnya terlepas dari tekanan batin sang mertua yang selama ini membuatnya sesak. Menjadi janda sekaligus membuat dirinya merasa hampa, serasa separuh jiwanya hilang meninggalkan satu lubang besar.


Klek


Pintu ruangan terbuka. Cepat-cepat Prita menghapus air matanya.


"Kamu lagi nangis?" tanya Bayu yang baru nongol dari balik pintu.


"Nggak! Kelilipan!" kilah Prita.


Meskipun ditutupi kebohongan, Bayu sudah tahu kalau Prita tadi sedang menangis. Apalagi ia juga bertemu dengan Ayash di bawah. Pasti ada kaitannya antara kedatangan Ayash dengan tangisan Prita.


"Aku bawakan makanan supaya kamu tidak menangis lagi. Kasihan kamu pasti sangat kelaparan."


Bayu meletakkan bungkusan makanan di depan Prita. Bento box dengan menu yang pasti tidak akan bisa ditolak Prita. Dibukakannya kotak makan itu, iya berikan pada Prita.


"Ayo makan bareng. Kalau nggak mau aku suapin." kata Bayu yang kesal makanan yang diberikan tak kunjung diterima olehnya.


Terpaksa Prita menerimanya. Aroma sukiyaki menyeruak menggugah selera makannya. Meskipun sedih, perut dan lidahnya masih mengenali makanan enak yang menjadi favoritnya. Tampilan bento box selalu cantik, rasanya juga enak. Siapapun yang melihat meskipun awalnya tak berminat pasti juga akan tertarik untuk memakannya.


Melihat Prita yang mulai menikmati makanannya, membuat Bayu menyunggingkan senyum. Ia juga ikut memakan bento bagiannya karena di kantor memang belum makan.


"Daniel mana?"


"Seperti biasa kan, jam segini dibawa perawat untuk dicek."


"Memangnya Daniel belum boleh dibawa jalan-jalan keluar? Aku melihatnya kasihan setiap hari harus tinggal di rumah sakit terus."


"Ini juga untuk kebaikan Daniel."


"Aku rasa kalau terlalu lama harus terkurung di rumah sakit siapa saja juga bisa mati bosan. Daniel masih anak-anak, dia juga butuh bersenang-senang."


"Daniel itu bukan sakit flu atau batuk, Tuan Bayu.... Dia memang harus membatasi diri bertemu dengan orang-orang dan dunia luar."


Prita menghela nafas, "Dia sakit leukemia, daya tahan tubuhnya lemah dan mudah terkena penyakit. Sementara di luaran sana kita tidak tahu siapa orang atau benda-benda yang sekiranya bisa menularkan penyakit. Apalagi Daniel masih kecil. Kalau dilepaskan di luar pasti akan kemana-mana."

__ADS_1


"Kamu juga sepertinya butuh piknik. Wajahmu setiap hari kelihatan lelah. Apa aku perlu menginap setiap hari di sini?"


Prita mendelikkan matanya kepada Bayu.


"Kenapa mendelik begitu? Mau belajar jadi Suzana?"


"Tolong berhenti punya ide-ide aneh seperti itu."


"Apa alasannya? Daniel kan anakku juga. Masa tidak boleh menemani anak sendiri."


"Kalau kamu mau aku temani juga boleh." semakin Prita marah, semakin besar keinginan Bayu untuk menggodanya.


"Orang akan berpikir yang tidak-tidak kalau sering melihatmu di sini. Apalagi kalau sampai menginap."


"Memangnya apa yang akan orang pikirkan?"


"Kalian juga sudah bercerai, kan?"


Mendengar pernyataan itu ***** makan seketika hilang. Lelaki di sampingnya saat ia masih bersuami juga bisa bertingkah kelewatan. Apalagi sekarang sudah tahu kalau dirinya sekarang janda. Entah apa yang ada di pikiran lelaki itu sekarang.


"Tadi aku berpapasan dengan mantan suamimu di lobi. Dia yang mengatakan sendiri kalian sudah bercerai."


Perasaannya semakin buruk. Ayash sampai mengatakan hal itu pada Bayu. Itu artinya dia benar-benar marah karena foto yang Mama Maya berikan waktu itu. Ayash pasti mengira dia punya hubungan khusus dengan Bayu di belakangnya. Makanya dia sengaja mempercepat perceraian.


"Wanita mana yang tidak sedih bercerai dengan orang yang dicintainya?" Prita kembali melahap makanannya. Rasa sedih bercampur kesal membuatnya ingin semakin banyak makan agar lupa dengan permasalahannya.


"Hey, makannya pelan-pelan. Nggak ada yang mau merebut makananmu."


"Kalau masih cinta kenapa sampai bercerai?"


"Karena tetap bersama juga rasanya menyakitkan."


Pundak Prita berguncang. Air matanya kembali luruh. Ia menangis sambil terus mengunyah makanan. Bayu sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi lucu itu. Pipi Prita tampak menggembung penuh makanan sementara matanya mengeluarkan air mata sambil terisak. Prita bisa makan sambil menangis.


"Oh, ayolah.... Apa aku harus menghibur wanita yang aku suka karena menangisi lelaki lain?"


"Pergi sana!" usir Prita. Ia mencoba mengelap air matanya dengan tisu meskipun belum juga berhenti mengalir.


"Mana mungkin aku tega meninggalkan wanita yang sedang menangis sendirian."

__ADS_1


"Memangnya kamu tidak bisa melihat lelaki lain? Dia sudah menceraikanmu ya sudah! Cari yang lain, contohnya aku."


"Kamu pikir setelah bercerai aku mau sama kamu?"


"Dicoba dulu boleh.... "


Prita terkekeh. Tangisannya seketika mereda karena mendengar lelucon yang sangat membagongkan, "Hah! Memang ya dari dulu kamu belum berubah juga. Tidak pernah puas dengan satu wanita."


Bayu mengernyitkan dahinya, "Maksudmu apa?"


Bayu merasa sekarang hidupnya sudah sangat berubah. Dia berusaha menjalani hidup sebaik mungkin. Tapi rasanya usaha yang selama ini telah ia lakukan hanya sia-sia. Dalam ingatan Prita, Bayu masih lelaki bajingan brengsek yang suka main perempuan. Padahal, sudah berapa lama ia meninggalka hal seperti itu. Bahkan, miliknya sama sekali tidak bisa digunakan bertahun-tahun.


"Kamu sudah punya pacar, kan? Tidak etis masih mengganggu wanita lain. Apalagi itu seorang janda."


"Pacar?" Bayu masih tidak paham.


"Wanita yang muncul di TV bersamamu. Katanya kalian pacaran."


Bayu terkekeh, ia tahu wanita yang Prita maksud adalah Shuwan Mey.


"Kamu sedang cemburu?"


Prita menganga. Padahal ia sedang menasihati lelaki di depannya agar menjadi orang yang lebih baik. Tapi, dia malah menganggapnya sedang cemburu dengan wanita itu. Sungguh kesimpulan yanhmg sangat membagongkan.


"Kamu jangan khawatir, apa yang aku lakukan di televisi hanya untuk lip service. Aku hanya membantu Shuwan agar lepas dari masalahnya. Aku ini lelaki yanhmg sangat baik hati, bukan?"


Bayu memajukan tubuhnya, dengan sigap Prita menahan dada Bayu agar tidak sampai memeluknya. Apa yang dilakukan Bayu kemudian mendekatkan mulut ke telinganya.


"Wanita yang aku cinta hanya kamu." bisiknya.


"Ah!" Prita mengeluarkan sebuah ******* ketika Bayu dengan sengaja menggigit telinganya.


"Hahaha.... Titik sensitifmu masih sama ya?" Bayu tertawa puas penuh kemenangan.


Bugh!


Satu tinjuan keras melayang dari tangan Prita mengenai pipi kiri Bayu.


"Aduh!" pekiknya.

__ADS_1


"Cepat keluar!" Teriak Prita.


Bayu masih memegangi pipinya yang kena pukul. Itu pukulan penuh power yang pertama ia rasakan dari Prita. Tenaganya lumayan kuat juga sampai membuat pipinya nyeri.


__ADS_2