
Bayu menggandeng Prita berjalan menuju area lobi perusahaan diikuti oleh Fredi dan anak buahnya yang lain. Puluhan pasang mata memperhatikan mereka. Selain karyawan yang mencari masalah dengan Prita, karyawan yang tidak tahu apa-apa juga ikut menonton dari jarak yang sedikit jauh. Suasana hening saat Bayu mulai mendekat ke arah tengah.
Karyawan yang merasa ikut mengganggu Prita terlihat gelisah. Tapi semua sudah terlambat. Mereka harus mendapatkan balasan atas perbuatan mereka yang tidak manusiawi.
Alex datang menghampiri Bayu sembari menyerahkan rekaman CCTV yang sudah ia ambil di bagian kejadian. Bayu memperhatikan wajah-wajah yang mengganggu istrinya. Yang paling menarik perhatian adalah wanita yang berani menampar dan menuangkan minuman kepada istrinya.
Wanita itu tepat berada di depannya sedang menunduk ketakutan. Sepertinya dia yang paling merasa berdosa.
"Bawa juga Kirana ke sini."
Salah seorang security mempersilakan Kirana yang sedari tadi berdiri menonton ikut maju ke depan. Kirana tetap bersikap tenang, karena dia merasa tidak bersalah. Sekalipun atasannya akan memecatnya, dia tidak takut karena dia merasa benar.
Bayu tahu, dia salah satu karyawan terbaik di bagian HRD yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaan. Namun kelemahannya kali ini, dia terlalu mencampuri urusan orang yang dia sendiri tidak mengerti.
"Kirana, apa sekarang kamu sudah merasa bersalah?" tanya Bayu.
"Saya tidak ikut mengganggu wanita ini, Pak. Saya hanya tidak tega melihat Nona Shuwan yang sedang hamil."
Bayu berdecih, "Rasa empatimu itu salah tempat. Sayang sekali, padahal kamu karyawan yang baik tapi tidak profesional."
"Kalian semua dengarkan aku!" Nada Bicara Bayu tiba-tiba meninggi. Suasana kembali hening.
"Wanita yang sudah kalian ganggu ini, apa kalian tidak tahu, siapa sebenarnya dia sampai kalian tidak menghargainya sama sekali?"
Layar monitor besar dan kecil yang ada di ruangan itu tiba-tiba menyala menampilkan foto-foto lama seorang anak kecil bersama kedua orangtuanya yang diambil di perusahaan pada masa lalu. Sebagian besar dari mereka tahu, kalau itu adalah foto dari keluarga Rudi Hartanto, pendiri perusahaan Minata Food.
"Namanya Prita Asmara, Putri dari Rudi Hartanto, pendiri perusahaan yang saat ini kalian gunakan untuk bekerja."
Semuanya tercengang dan saling bertanya-tanya. Ternyata itu adalah putri dari bos yang diceritakan secara turun temurun sebagai bos terbaik yang bahkan rela menggunakan uang pribadi untuk membantu kesejahteraan karyawan. Dan putrinya sekarang ada di hadapan mereka.
"Sekarang, dia adalah istriku."
Suasana semakin riuh mendengar pengakuan Bayu.
"Berani-beraninya kalian berbuat kejam kepada istri atasan kalian sendiri dan membela wanita yang tidak jelas dan kalian tidak tahu apa-apa tentangnya!" nada bicara Bayu kembali meninggi.
"Kalian tahu kondisi perusahaan sedang tidak terlalu baik dan kalian membuat masalah seperti ini!?"
"Apa kalian punya banyak waktu untuk main-main!" kemarahan Bayu membuat semuanya terdiam.
"Bang*sat kalian semua!"
Ini pertama kalinya mereka melihat Bayu marah-marah secara langsung. Prita menggenggam tangan suaminya agar lebih bersabar.
Ahn.... Uhhh.... Terus, Moreno.... Terus....
"Wanita seperti ini kan yang kalian bela!?"
Semua mata kembali tertuju pada layar yang menampilkan adegan erotis antara Shuwan dan Moreno. Mata mereka membelalak, mulutnya ternganga tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat. Suasana jadi riuh, mereka membahas tentang kelakuan Shuwan yang ternyata jauh berbeda dengan sikap yang ditunjukkannya.
Adegan itu memperlihatkan jika Moreno dan Shuwan sering melakukannya. Mereka juga tampaknya sedekat itu, terlihat dari foto-foto mesra yang ditampilkan. Ternyata gosip yang sempat beredar adalah benar. Atlet panahan kebanggaan mereka yang memiliki paras menawan ternyata punya skandal buruk sepeeri itu.
"Puas kalian menjelek-jelekkan istriku di belakang!?"
Bayu yang tahu istrinya sering dijadikan bahas gosip di antara karyawan rasanya ingin memecat mereka semua.
__ADS_1
"Mas.... Sudah cukup." Prita berbicara setengah berbisik.
"Belum, ini belum selesai."
Bayu menatap Kirana yang wajahnya berubah pucat, sama seperti karyawannya yang mencari masalah dengan istrinya. Saat ini mereka sudah benar-benar terbukti membela orang yang salah.
"Kirana, apa sekarang kamu sudah merasa bersalah?"
"Iya, Pak. Saya mengaku bersalah."
"Pak, kami juga mengaku bersalah."
"Saya juga.... "
"Saya juga."
"Kami bersalah, maafkan kami."
Bayu tertawa, padahal yang ia tanya Kirana, tapi karyawan lain juga meminta maaf padanya.
"Kirana, masih ingat yang kamu ucapkan di ruanganku?"
Kirana mengangkat kepalanya, dia seketika lupa apa yang sudah ia katakan saat mengantarkan Shuwan.
"Kamu bilang aku harus memberikan contoh sikap bertanggung jawab di hadapan para karyawan."
Kirana baru ingat kalau tadi ia memang mengatakannya.
"Karena kamu bersalah, apa kamu siap mempertanggungjawabkan kesalahanmu?"
Bayu kagum dengan sikapnya. Kirana sama sekali tidak berubah. Meskipun keras kepala dan pendiriannya sangat kuat, Kirana tetap mau mengakui kesalahannya dan siap menerima konsekuensi.
"Kamu.... yang sudah menampar istriku, maju!" perintah Bayu.
Wanita itu maju dengan gemetar. Belum dimarahi dia sudah menangis duluan. Sangat berbeda dengan yang terlihat di rekaman CCTV. Gayanya yang sok pemberani kenapa sekarang jadi pengecut.
"Pak, maafkan saya.... Saya tidak tahu kalau dia istri Bapak.... Huhuhu.... "
"Memangnya kalau dia bukan istriku kamu boleh menyakitinya?"
"Pak, ini kan salah Nona Shuwan. Dia yang cerita kalau ada pelakor yang mau merebut Bapak darinya. Huhuhu.... "
"Pada kenyataannya kamu yang sudah menampar istriku dengan tanganmu. Sudah untung aku tidak memasukkanmu ke dalam penjara atau mematahkan tanganmu!" Bayu sangat geram sekali dengannya.
"Lakukan sekarang!" teriak Bayu.
Bayu membawa istrinya mundur ke belakang sedikit menjauh.
"Mau kamu apakan mereka? Kamu sudah janji kan tidak akan memberi hukuman yang menyakitkan? Aku rasa seperti ini saja juga sudah cukup, mereka tidak akan mengulangi perbuatannya."
Bayu tersenyum kepada istrinya. Dia masih tampak mengkhawatirkan nasib yang kan menimpa karyawannya.
"Aku ini sangat baik hati, hanya mau mengembalikan apa yang tadi mereka berikan padamu."
Anak buah Bayu mulai berjalan ke arah depan membawa ember berukuran sedang yang baunya sangat menyengat. Mereka penasaran apa yang ada di dalam ember itu dan untuk apa.
__ADS_1
Byur!
Dua orang pertama yang mendapat guyuran isi ember itu adalah Kirana dan Juwita. Mereka menjerit ketika kotoran sapi pekat sedikit cair mendarat di seluruh tubuh mereka. Baunya sampai ingin membuat muntah. Karyawan lain yang ada di belakang mereka jadi ribut, takut mendapatkan hukuman yang sama.
"Maafkan saya, Pak.... Huhuhu.... " Juwita tersungkur di lantai sembari menangis tersedu-sedu. Tubuhnya sangat kotor dan bau. "Hoek.... Hoek.... " Dia sendiri ingin muntah dengan bau tubuhnya.
Sementara, kirana tetap berdiri tegar menerima hukumannya. Ia juga terisak menyesali perbuatan bodohnya.
Byur byur byur
Disusul kemudian anak buah Bayu mengguyurkan cairan pekat kotoran sapi pada karyawan yang lain. Mereka yang semuanya perempuan menangis dan sesekali ingin muntah-muntah.
"Mas.... Ini sudah kelewat batas." Prita menggoyangkan lengan Bayu. Ia kasihan melihat para karyawan diperlakukan seperti itu.
"Hoek.... Hoek.... Hoek.... "
Suara Prita mengalihkan perhatian bayu. Istrinya seperti ingin muntah.
"Kamu hamil, Sayang?" tanyanya.
Prita menutup mulutnya sembari mengeryitkan dahi, "Ini mual karena bau, Mas.... Bukan karena hamil."
"Kalau hamil juga tidak apa-apa, lagipula kita kan sudah menikah."
"Kita menikah saja batu dua minggu, masa aku hamil. Ada-ada saja."
"Siapa tahu, kan.... Nanti dicek saja. Aku kan rajin menabung. Mungkin salah satunya sudah tumbuh menjadi bayi di perutmu." Bayu mendaratkan ciuman di kening istrinya.
Alex membawakan masker untuk Prita dan Bayu. Dia memang sangat pengertian.
Kali ini pandangan mereka tertuju pada para karyawan yang bentuknya sudah sama persis seperti kotoran sapi. Warnanya hitam dan baunya busuk. Tangisan mereka tak meluluhkan kemarahan Bayu. Penyesalan juga sudah terlambat.
"Rupa kalian sudah sama persis dengan hati kalian, busuk!"
"Ini pelajaran bagi siapa saja yang berani membuat masalah di kantor ini. Tugas kalian bekerja dengan baik, bukan mengurusi masalah orang lain yang kalian sendiri tidak tahu."
"Aku tidak akan memecat kalian. Tapi, kalau kalian mau mengundurkan diri, dipersilahkan."
"Jangan harap perusahaan akan memberikan catatan baik saat kalian mengundurkan diri."
"Aku pastikan kalian tidak akan diterima bekerja di manapun setelah keluar dari perusahaan ini."
Hukuman yang Bayu berikan lebih berat daripada sanksi pemecatan. Mereka harus bertahan untuk tetap bekerja di sana dengan menanggung malu karena kejadian itu. Daripada hukuman fisik, ini lebih pada hukuman mental. Apalagi selama bekerja nanti tingkah laku mereka pasti akan lebih diawasi.
"Kalian bereskan diri kalian dan semua kekacauan ini sampai bersih!"
"Dan yang lain, kembali bekerja karena jam kerja belum selesai!"
Bayu menarik tangan Prita, mengajaknya berjalan menuju lift. Sepertinya dia ingin kembali mengajaknya ke ruangan.
"Eh, Mas.... Mau kemana?"
"Ke ruanganku. Temani aku bekerja."
"Tapi aku belum bilang Pak Ahmad, dia sudah menunggu sangat lama di luar."
__ADS_1
"Aku sudah menyuruhnya pulang sejak tadi."