ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Makan Siang dengan Tuan Zetian


__ADS_3

Shuwan melangkahkan kaki penuh percaya diri menapaki lobi kantor Bayu. Setiap karyawan yang berpapasan dengannya menyapa dengan senyuman. Bukan rahasia umum lagi, hubungan asmara mereka sudah diketahui oleh seisi kantor. Mereka selalu takjub dengan kecantikan dan keanggunan Nona Shuwan, yang sangat serasi jika bersanding dengan atasan mereka, Pak Bayu Bagaskara.


Shuwan terbilang sering mendatangi kantor Bayu. Diabtak segan mengumbar kemesraan seperti bergandengan tangan di depan umum. Seakan Shuwan ingin menunjukkan pada semua orang jika Bayu adalah miliknya. Para fans Bayu agaknya kecewa mengetahui Pak Bayu telah memiliki kekasih. Tapi, karena kekasihnya secantik Shuwan, mereka tidak bisa protes dan sadar diri. Apalagi Pak Bayu terkenal sebagai bos yang kejam dan galak.


"Oh, Shu. Kamu sudah datang?"


Shuwan langsung menghampiri Bayu yang duduk di meja kerjanya. Dia berikan pelukan dan ciuman singkat di bibir.


"Duduk dulu, Shu."


Shuwan berjalan ke arah sofa. Di sana ada Alex yang hari ini bersikap cuek kepadanya. Seolah anak itu memiliki dendam pada Shuwan.


"Kamu kenapa, Alex?"


Alex hanya fokus pada game di hadapannya. Ia tak menjawab pertanyaan Shuwan. Sudah jelas kalau wanita itu selingkuh tapi bosnya tetap mempertahankannya. Alex sudah sangat jijik kepada Shuwan.


"Kenapa dia?" tanya Shuwan pada Bayu.


"Biarkan saja. Mungkin sedang badmood karena kalah game."


"Apa kerjaanmu masih lama?"


"Sebentar lagi. Aku selesaikan beberapa berkas ini dulu. Apa ayahmu sudah menunggu?"


"Ya, katanya Ayah sudah tiba di restoran."


"Aku jadi tidak enak hati membuatmu sampai menjemputku."


"It's okay. Aku tahu kamu sibuk."


Shuwan merasa tidak nyaman dengan Alex. Biasanya anak itu yang paling ramah terhadapnya tapi kali ini dia terlihat kesal padanya.


"Oke, shu. Ayo kita pergi. Aku sudah menyelesaikan semuanya." Bayu bangkit dari tempat duduknya seraya mengenakan jas yang sedari tadi tergeletak di samping kursi.


Shuwan menggandeng mesra lengan Bayu. Ia terus menempelkan tubuhnya sepanjang berjalan di area kantor. Tentu saja orang-orang memperhatikan mereka. Tapi memang itu yang Shuwan suka. Ia suka diperhatikan dan menjadi pusat perhatian.

__ADS_1


Lelaki yang Shuwan cintai memang Moreno. Tapi, bukan berarti dia tidak menyukai Bayu. Selain karena suruhan ayahnya, Shuwan sejak awal mendekati Bayu sudah ada rasa ketertarikan. Bayu lelaki yang sangat menawan. Dirinya pun tak memungkirinya. Ketika disuruh membunuh Bayu, sebenarnya hatinya menolak. Ia tidak tahu mengapa ayahnya ingin membunuh orang semenarik itu. Pada akhirnya dia juga tidak sanggup melaksanakan apa yang ayahnya perintahkan.


Dia mungkin adalah tipe wanita yang egois dan ingin mendapatkan apapun yang diinginkannya. Oleh karenanya, dia pun berusaha untuk memenangkan hati Bayu dan memanfaatkannya. Itu dilakukannya hanya untuk memenuhi dorongan egonya.


Selain memanfaatkan Bayu demi ayahnya, dia juga memanfaatkan Bayu demi dirinya sendiri. Dia merasa bangga ketika orang-orang memujinya bisa menjadi kekasih seorang Bayu. Banyak orang yang memperhatikannya ketika ia bersama Bayu.


Shuwan dan Bayu tiba di area restoran milik keluarga Shuwan yang terletak di sebuah hotel ternama. Keluarga Shuwan memang menggeluti bisnis di bidang perhotelan dan restoran yang sudah besar. Tidak bisa dibandingkan dengan restoran yang Bayu kelola.


Restoran ini memiliki konsep yang mengambil dari Sun Tung Lok Hongkong. Untuk penataan interiornya sendiri tambil berbeda dengan sentuhan modern elegan.Walaupun menggunakan konsep modern, keaslian karakter oriental tetap dapat dirasakan di setiap ruangnya. Konsep glamour ala Shanghai divisualisasikan dengan memberikan sentuhan kolonial dengan material modern seperti marmer, kuningan, panel kayu, dan kaca berwarna membuat efek yang mewah saat suasana jamuan makan. 


Seorang pelayan menyambut kedatangan mereka berdua kemudian mengarahkan pada ruang VIP. Di dalam sana sudah ada seorang lelaki yang umurnya kisaran 60 tahunan. Di samping kanan kirinya berdiri dua orang bodyguard memakai setelan rapi. Bayu menebak itu adalah ayah Shuwan. Ini pertama kalinya ia bertemu dengannya.


"Papa.... " Shuwan mencium pipi kanan dan kiri ayahnya.


"Kamu pasti Bayu?"


"Benar, Tuan Zetian."


"Ini pertama kalinya kita bertemu. Silakan duduk."


"Aku dengar putriku berpacaran denganmu."


"Benar. Kami sudah perpacaran selama beberapa bulan. Maaf baru sempat menyapa Anda."


"Apa pekerjaanmu?"


"Saya hanya pemilik perusahaan dan restoran kecil. Tidak bisa dibandingkan dengan Anda."


"Oh, iya?"


"Aku dengar kamu juga pemilik klab malam yang paling sukses di kota ini."


Bayu terdiam sebentar. Sebenarnya orang di hadapannya juga sudah tahu semua tentangnya. Tapi, kenapa harus bertenya-tanya lagi. Membuatnya muak saja.


"Mungkin itu beberapa waktu lalu sebelum tiga klab saya bangkrut."

__ADS_1


"Hm, kenapa bisa begitu?"


"Saya sendiri tidak tahu. Mungkin ada orang yang tidak suka dengan usaha saya."


"Bisa jadi. Menjalani bisnis di dunia seperti itu pasti ada banyak musuhnya."


"Bagaimana dengan Shuwan? Dia bisa saja menjadi target kejahatan orang yang membencimu."


Bayu menyunggingkan senyum, "Sepertinya tidak ada yang akan berani mengganggu putri Anda, Tuan. Siapa yang berani berhadapan dengan Tuan Zetian Yan?"


"Hahaha.... orang bisa saja mencari-cari masalah dengan orang lain. Kadang tanpa alasan yang jelas juga mereka menganggap orang lain musuh."


Mata Bayu terpaku pada punggung tangan Zetian. Saat hendak mengambil makanan, jas yang dikenakannya sedikit tertarik sehingga menampilkan bekas luka goresan panjang yang ada di sana. Menyadari hal itu, buru-buru Zetian kembali menarik tangannya dan membenarkan pakaiannya. Bayu pura-pura tidak melihat. Padahal sangat jelas itu bekas luka yang jelas.


Ia jadi teringat dengan kesaksian orang-orang yang ikut mengacaukan tempat usahanya. Katanya orang yang membayar mereka memiliki bekas luka dipunggung tangan. Dari hasil laporan Red Wine juga mobil Zetian tampak beberapa kali di lokasi kejadian. Tidak salah lagi pelakunya adalah Tuan Zetian.


Bayu mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Ia sangat geram menyadari musuhnya ada di hadapannya sendiri. Ingin rasanya ia langsung menghajarnya habis-habisan. Berani-beraninya dia membuat usahanya bangkrut dan rugi besar.


"Sayang, kenapa tidak dimakan?"


Ucapan Shuwan membuyarkan lamunan Bayu. Ia kembali menyantap makanannya dan bersikap biasa saja.


"Bagaimana hubunganmu dengan ayahmu? Aku pernah tinggal di Kota J dan tahu kalau Samuel Bagaskara seorang mafia, kan?"


Kembali. Pembahasan yang memuakkan tentang ayahnya.


"Saya tidak tahu lagi kabarnya. Kami tidak pernah berkomunikasi. Saya menempuh jalan hidup saya sendiri seperti yang saya inginkan."


"Oh, aku kira kamu akan mewarisi usaha ayahmu. Termasuk juga bisnis gelapnya."


Sepertinya Zetian sedikit banyak tahu tentang keluarganya. "Hahaha.... bisnis gelap? Saya tidak mengerti apa yang Anda bicarakan. Ayah saya hanya seorang pengusaha seperti orang pada umumnya. Kebetulan punya perusahaan jasa bodyguard belum tentu juga melakukan bisnis yang tidak-tidak."


"Hm, begitu."


Acara makan siang terus berlanjut dengan diselingi perbincangan tak jauh dari masalah bisnis. Bayu tetap merespon dengan tenang, menyembunyikan gemuruh yang ada di hatinya. Rasa kesalnya ia tekan agar jangan sampai meledak di hadapan Shuwan maupun Zetian. Niatnya memiliki Holly Hotel belum tercapai. Ia masih harus bersabar.

__ADS_1


__ADS_2