ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Cara Menghilangkan kesedihan


__ADS_3

"Papa.... "


Daniel berseru sambil melambaikan tangan ke arah kaca ketika melihat Ayash datang. Anak itu kegirangan melihat kedatangan papanya. Ayash membalas lambaian tangan Daniel sambil tersenyum. Di tangannya ia menenteng lego yang sebelumnya ia janjikan.


Dokter Hansen menyadari kedatangan Ayash. Ia menyuruh perawat menggantikannya menangani Daniel. Sementara, ia keluar ruangan menemui Ayash.


"Kamu sudah kembali?"


"Iya, Om."


"Siapa Nona cantik ini?"


"Dia istriku, Om. Namanya Andin."


"Saya Andin, Dokter."


Andin mengulurkan tangannya, disambut jabatan tangan dari Hansen.


"Oh.... Saya dokter Hansen, yang menangani Daniel."


"Kalau begitu ayo ke ruanganku."


Hansen memandu mereka menuju ruangannya.


"Aku sampai tidak tahu kalau kamu sudah menikah lagi, Yash. Setahuku yang kemarin menikah adalah kakakmu."


"Iya, Om. Memang seharusnya Kak Arga yang menikah. Aku yang menggantikannya karena dia tidak datang."


"Ah.... Begitu."


Hansen tidak mau ingin lebih tau tentang masalah itu. Sepertinya mereka berdua akan tidak nyaman jika ia membahasnya. Ia akan fokus membahas Daniel daripada membahas kehidupan pribadi walindari pasiennya.


"Bagaimana kondisi Daniel sejauh ini?"


"Dia semakin baik. Memang parawatannya membutuhkan waktu yang lama, tapi aku harap Daniel bisa sembuh. Kami akan selalu mengusahakan yang terbaik sembari menunggu donor sumsum tulang belakang yang cocok."


"Om belum membahasnya dengan Prita?"


Hansen melirik ke arah Andin. Ia paham yang Ayash maksud. Tapi, dia tidak ingin membicarakannya saat ini. Ia sendiri merasa bersalah karena setelah membahas hal itu Ayash justru memilih untuk menceraikan Prita. Padahal ada jalan lain yang bisa mereka tempuh demi kesembuhan Prita.


Hansen adalah dokter keluarga yang sudah tahu seluk-beluk keluarga Ayash. Mungkin, dia juga lebih tahu tentang kondisi Ayash daripada kedua orang tuanya sendiri. Sejak dulu, Ayash memang selalu meminta pendapatnya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan. Baik selama di Indonesia maupun di Singapura, mereka tetap berhubungan baik.


"Baiklah, nanti aku akan membahasnya dengan Prita."


"Sekali lagi aku tegaskan, Ayash, ada banyak hal yang bisa ditempuh. Otak kita harus terjaga untuk tetap berpikir tenang. Semua pasti ada solusinya."


"Om bilang kemoterapi hanya bisa memperpanjang harapan hidup. Aku hanya ingin Daniel benar-benar sembuh dan menikmati hidupnya. Please, Om harus segera membahasnya dengan Prita."


"Iya, akan aku lakukan."


*****


"Cengeng!"


"Katanya mau ambil minum.... kenapa masih di sini?"


Prita berusaha menghentikan tangisannya karena sejak tadi Bayu masih berdiri di depan pintu mengawasinya. Bayu juga mengejeknya yang sedang menangis.


"Ambilin minumnya dong."


Orang itu memang mengesalkan. Sangat ahli mengganti rasa sedihnya dengan kemarahan. Prita tak menggubris. Ia masih sibuk mengelap air matanya yang jatuh.


"Ternyata kamu munafik juga, ya. Tadi katanya nggak apa-apa melihat mantan suami membawa istri baru. Sekarang malah nangis sendirian di pojokan. Kalau tidak suka bilang di depan mereka."


"Memangnya aku tidak boleh sedih?" Air mata Prita kembali mengalir. Hanya mendengar kata mantan suami dan istri baru saja membuatnya lemah. Sepertinya ia sedang tidak bisa membahas hal itu.


"Tidak boleh!"


Bayu berjalan mendekati arah Prita kemudian duduk di sampingnya.


"Sebenarnya aku senang dia sudah menikah lagi. Artinya kesempatanku untuk mendapatkanmu lebih besar."

__ADS_1


"Memangnya siapa yang mau denganmu." gumam Prita.


"Kamu mau aku membantumu memisahkan mereka?"


"Kamu apa-apaan sih. Aku menangis bukan karena tidak suka mereka menikah."


"Lalu kenapa?"


"Aku juga tidak tahu. Aku hanya ingin menangis saja. Lebih baik kamu pergi kalau tidak mau melihat orang menangis."


"Aku di sini memang bukan untuk melihatmu menangis. Aku mau membantumu berhenti menangis."


"Mau aku beritahu caranya agar kamu tidak sedih lagi?"


"Apa?"


"Akhiri jandamu dan menikah denganku."


"Hahaha.... Itu pilihan terakhir di hidupku jika sudah tidak ada lelaki lain."


"Memangnya kenapa? Apa yang kurang dariku? Aku lebih tampan dari pada mantan suamimu, aku lebih kaya darinya, gen ku unggul, sudah terbukti dengan Daniel, kan? Aku juga janji akan setia padamu."


Prita terkekeh dengan orang sombong di sampingnya, "Masalahnya aku benci kamu."


"Memangnya kenapa? Apa karena masa lalu? Kamu masih melihatku yang dari masa lalu?"


"Aku tidak tahu. Pokoknya aku benci kamu."


"Bagian mana yang kamu benci? Mungkin aku bisa mengubahnya."


"Semuanya. Aku benci semua yang ada padamu."


Ucap Prita dengan lantang di hadapan Bayu. Tetapi lelaki itu malah tertawa kecil dengan nada bicaranya yang serius. Prita memang benar-benar tidak menyukai Bayu.


Bayu menarik tangan Prita dan meletakkan pada dadanya. Reflek Prita ingin kembali menarik tangannya namun Bayu menahannya. Ia bisa merasakan dada bidang itu meskipun dari luar kemeja.


"Lepas! Apa-apaan sih!"


"Katanya benci semuanya. Aku mau tau, apa kamu juga membenci tubuhku? Apa tubuh ini kurang nyaman jika aku gunakan untuk memelukmu? Bagian mana yang harus aku ubah?"


"Sepertinya otakmu yang lebih dulu harus kamu ubah."


"Hahaha.... oke, aku lepaskan."


"Setidaknya caraku ini bisa membuatmu berhenti menangis, kan?"


"Iya, tapi aku jadi kesal sekarang!" gumam Prita.


"Mau jujur-jujuran, nggak?"


"Tentang apa?"


"Aku akan bertanya dan kamu harus menjawabnya dengan jujur."


"Kalau pertanyaanmu aneh aku tidak mau menjawabnya."


"Oke, aku tidak akan aneh."


"Apa kamu pernah merasa menyesal bertemu denganku?"


Prita melayangkan tatapan mata serius, begitupun Bayu, binar matanya juga menunjukkan keseriusan.


"Ya. Aku menyesal. Seandainya malam itu aku tidak menolongmu, seandainya malam itu aku nenginap saja di rumahnya, hidupku pasti akan lebih mudah."


"Artinya kamu juga menyesal memiliki Daniel?"


Prita tak mampu menjawabnya.


"Daniel tidak akan ada jika kita tidak bertemu. Kenapa kamu masih merawatnya kalau kamu menyesal memilikinya?"


"Aku tidak menyesal!"

__ADS_1


"Berarti kamu tidak menyesal dengan pertemuan kita?"


"Aku hanya tidak menyesal memiliki Daniel."


"Jika dulu aku mendekatimu dengan cara yang baik, apa kamu akan memilihku?"


"Tidak, aku tidak akan pernah memilihmu."


Bayu menyunggingkan senyum, "Itulah sebabnya aku menggunakan cara licik untuk mendapatkanmu. Apa kamu mau aku menjadi seperti itu lagi?"


"Tidak bisakah kamu mencari wanita lain sebagai targetmu? Siapapun asal jangan aku."


"Tidak bisa. Aku hanya menyukaimu."


"Prita.... Prita.... "


Terdengar suara panggilan dari luar. Itu suara Ayash. mungkin dia sudah selesai mengunjungi Daniel. Prita segera beranjak dari ranjang untuk menemui Ayash dan Andin.


Bayu yang tidak mau ditinggalkan, menarik tangan Prita kemudian mengajaknya bersembunyi di samping ranjang.


"Apa-apaan sih? Aku mau menemui mereka. Bagaimana kalau mereka melihat kita di sini?" Prita melotot sebagai kode ia tidak menyukai kelakuan Bayu.


Bayu justru tersenyum dengan dituasi itu, "Kalau tidak mau ketahuan, sebaiknya kamu diam."


Bayu membungkam mulut Prita dengan mulutnya. Mata Prita membola. Tangannya berusaha mendorong dada Bayu, namun usahanya gagal. Bayu meraih tengkuknya hingga ciuman mereka semakin dalam.


Srek!


Terdengar suara pintu terbuka. Prita semakin berusaha melepaskan diri dari Bayu. Tapi, lelaki itu semakin gila ******* bibirnya. Seakan tak memberi kesempatan Prita untuk berbicara maupun bernafas. Situasi itu membuatnya takut. Ia takut Ayash akan melihatnya dengan lelaki gila itu. Yang bisa ia lakukan hanya diam sambil memejamkan mata. Berharap perbuatan mereka tidak akan ketahuan.


"Ta.... Prita.... " Ayash masih memanggil-manggil dari arah pintu kamar.


"Gimana, Prita nggak ada, ya?"


"Apa mungkin di kamar mandi?"


Prita semakin tegang. Kalau sampai Ayash masuk kamar menuju kamar mandi, ia akan melihatnya. Sementara, Bayu semakin memanfaatkan posisi Prita yang ketakutan untuk terus menciuminya. Prita benar-benar harus menahan diri agar tak mengeluarkan suara des*han.


"Permisi.... "


"Itu ada perawat datang."


"Kita temui dulu perawat itu. Mungkin Prita sedang keluar sebentar."


Selamat, Ayash dan Andin meninggalkan kamarnya. Bayu melepaskan ciumannya dan tertawa melihat wajah Prita yang sangat merah. Terlihat sangat seksi dan membuatnya ingin kembali menerkamnya.


"Kamu gila!" umpat Prita.


"Tapi kamu jadi nurut gitu kalau posisinya kepepet. Kamu takut ketahuan, ya?"


"Padahal nggak apa-apa juga kan malau mereka lihat? Biar mereka tau kalau kamu sudah move on. Jadi mereka tidak akan merasa bersalah lagi pedamu."


Prita terdiam sejenak. Benar yang dikatakan Bayu. Untuk apa dia takut ketahuan padahal ia dan Ayash sudah bercerai.


"Ah!" Prita langsung menutup mulut ketika tak sengaja mengeluarkan suara.


Bayu memang gila. Dia membawa tangannya ke area antara kedua paha.


"Kamu membuatnya seperti ini gara-gara ciuman tadi." bisik Bayu.


Prita langsung berlari menjauh. Orang itu belum tobat dan masih mes*m seperti dulu. Otaknya jadi ikut kotor gara-gara membayangkan yang tidak-tidak.


"Kamu dari kamar mandi, ya? Aku cari-cari tadi tidak ada." tanya Andin.


"Iya. Tadi aku di kamar mandi, tidak dengar kalian panggil. Kalian sudah bertemu Daniel?"


"Iya, sudah. Kalau begitu aku dan Andin pamit dulu, ya. Kasihan Dean dan Livy di rumah."


"Oke, hati-hati, ya."


Ayash memberikan pelukan kepada Prita, begitupula dengan Andin. Prita tersenyum mengantarkan kepulangan dua orang itu. Wajahnya kembali murung setelah mereka pergi. Mungkin memang saat ini ia sedang menjadi orang munafik. Di depan mereka ia bisa tersenyum, di belakang ia bersedih.

__ADS_1


"Mau nangis lagi? Sini aku hibur?" Bayu merentangkan tangannya seolah menawarkan pelukan untuk Prita.


Karena malas memperpanjang urusan, Prita memilih keluar. Dia lebih baik menunggu Daniel menyelesaikan kemoterapi.


__ADS_2