
Bantu Vote di Lomba Update Tim ya, Bunda 😘
--------------------------------------------------------------‐---------------
"Jadi semalam kamu sendiri yang pergi?"
"Benar, Tuan."
Samuel menggeram mendengar perkataan Ben. Dia menyuruh Bayu pergi bersama Ben, tapi anak itu mengabaikan perintahnya. Memang, bukan urusan yang terlalu penting, Ben saja sudah cukup menanganinya sendiri. Dia hanya ingin mengetes tingkat kepatuhan anaknya. Ternyata Bayu masih bertingkah seenaknya sendiri.
"Anda tidak perlu marah. Bos Bayu.... Ah, maksud saya Tuan Muda Bayu masih menikmati masa bulan madunya. Lagipula saya bisa menanganinya sendiri."
Samuel menunjukkan senyum seringainya, "Apa kamu sedang berusaha membelanya?"
"Tidak, Tuan."
"Jangan pernah lupa posisimu, kamu adalah anak buahku, bukan anak buah Bayu."
"Iya, Tuan. Saya akan selalu mengingatnya."
"Anak itu sudah aku peringatkan untuk tidak lemah terhadap wanita. Tapi, kelakuannya malah seperti itu."
Samuel tidak pernah menyukai orang yang suka membantahnya sekalipun itu anaknya sendiri. Ia ingin Bayu selalu tunduk pada perintahnya apapun yang terjadi. Sebagai anak dan calon pewarisnya, dia harus menghormati ayahnya. Bayu harus bisa menggantikannya di segala bidang yang ia geluti. Entah itu dalam tambang batubara, maupun bisnis-bisnis terselubungnya.
Sementara, Ben yang sudah lama mengikuti dan menemani Bayu, ia lebih suka melihat kehidupan bos mudanya yang sekarang. Dia terlihat bahagia dan lebih banyak tertawa. Sifat penyayangnya bisa muncul saat menghadapi anak-anaknya dan istrinya. Tapi, Ben sendiri tidak bisa membantah perintah tuannya.
Bayu akan lebih susah keluar dari cengkeraman ayahnya sendiri. Mungkin kemarin dia bisa menang melawannya, dia mendapatkan kebebasan yang diinginkannya. Tapi, saat ini ada banyak orang yang harus ia sayangi dan ia lindungi, Prita dan anak-anaknya. Samuel akan menggunakan itu untuk mengendalikan Bayu. Mau tak mau Bayu harus kembali tunduk kepada ayahnya jika tidak mau salah satu orang yang ia sayangi tersakiti.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ketersediaan barang di Kota A? Bukankah sudah mulai memasuki masa panen?"
"Kami masih mengumpulkan hasil panennya. Tidak terlalu banyak orang yang kami libatkan agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak manapun."
"Hem, bagus itu. Tidak masalah butuh waktu yang lebih lama dengan orang sedikit daripada terburu-buru dan akhirnya tercium oleh polisi."
"Kamu memang anak buahku yang paling pintar, Ben." puji Samuel.
Beni dulu hanyalah seorang anak panti asuhan yang sering mendapat siksaan dari orangtua angkatnya. Samuel memungutnya saat ia dibuang di jalan lalu membesarkannya hingga menjadi seorang Ben yang sekarang.
Umur Ben hampir sama dengan Bayu, tapi ia juga masih betah melajang. Dia mengabdikan hidupnya untuk melayani penyelamatnya, Tuan Samuel. Ben sadar diri, kehidupannya bukan dunia yang indah untuk mengajak seorang wanita hidup bersamanya.
Kehidupannya sangat berbahaya. Karena itu, dia memilih untuk tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun. Jika sesekali ia ingin menikmati rasanya tidur bersama wanita, ia cukup mengeluarkan setumpuk uang dan para wanita akan berebutan menghangatkan ranjangnya. Intinya, kehidupannya tak jauh berbeda dengan kehidupan Bayu di masa lalu.
Bedanya, sekarang Bayu bisa meninggalkan dunia itu untuk berkomitmen dengan seorang wanita. Wanita yang dengan ambisius ia pertahankan mati-matian sekalipun harus menentang ayahnya sendiri.
Samuel akan menyelundupkan ganja-ganja itu ke seluruh wilayah nusantara. Saat tidak ada Bayu, dia hanya berani menyelundupkan dalam jumlah kecil. Kini, ia kembali bisa menguasai Bayu. Tentu anaknya yang cerdas itu pasti akan bisa membantunya menyelundupkan ganja dalam jumlah besar mengingat permintaan dari Kota J adalah yang terbesar, namun paling sulit dilakukan. Ada terlalu banyak polisi di kota itu.
"Kamu sudah menghitung estimasi pengiriman bisa dilakukan? Client sudah bertanya terus tentang barangnya."
"Saya usahakan dalam waktu satu minggu ini semuanya bisa clear."
"Ingat Ben, aku tidak butuh ucapan, tapi aku butuh perbuatan."
Ben mengangguk.
"Pastikan nanti Bayu harus ikut denganmu. Aku tidak mau tau caranya, yang jelas Bayu harus mau ikut."
"Kalau dia tetap bandel tidak mau ikut, ancam menggunakan anaknya atau istrinya."
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Hal curang seseorang yang biasa berkecimpung di dunia hiburan memang adalah menggunakan kelemahan lawan sebagai ancaman.
Sebenarnya diam-diam Samuel juga sedang memberi pelajaran sekaligus tes kepada Bayu. Dia sedang memberi pelajaran bahwa musuhnya nanti di dunia ini pasti akan mencari-cari kelemahannya. Ketika mereka mengetahui dia punya keluarga, maka siap-siap keluarganya yang akan ikut mereka incar.
Samuel juga mengetes Bayu, apakah dia akan menjadi lemah di hadapan seorang wanita? Ternyata anaknya itu sangat lemah. Buktinya, dia mengabaikan perintahnya tadi malam untuk menemani tidur istrinya.
Tes selanjutnya adalah apakah Bayu akan berhasil menjaga keluarganya dengan baik? Dulu, dia gagal menjaga istrinya sendiri. Istrinya mati terbunuh oleh musuhnya. Istri yang sangat ia cintai, ibunya Bayu, yang hingga kini juga masih sangat ia cintai. Dia sampai tidak menikah lagi saking tidak bisa move on dari kesedihannya setelah istrinya mati.
Dia tidak ingin Bayu merasakan hal yang sama dengannya. Kehilangan adalah hal yang paling menyakitkan melebihi rasanya tertembak peluru. Hidupnya bagaikan ikut mati saat belahan jiwanya pergi. Samuel merasa hanya seonghok mayat hidup yang berjalan tanpa arah.
"Kamu sudah menemukan informasi tentang Zetian Yan?"
"Belum, Tuan."
"Tetap cari dia sampai ketemu. Aku juga harus memberi orang itu pelajaran. Berani-beraninya dia mengancam nyawa anak dan cucuku."
"Baik, Tuan."
Diam-diam Samuel mengikuti kasus yang berkaitan dengan anaknya itu. Dia dengar dari orangnya kalau Bayu sempat tertembak dan kritis karena orang itu. Katanya Zetian juga berniat menculik cucu pertamanya yang bahkan saat itu belum pernah ia temui, Daniel.
Dibalik sifat angkuh, keras kepala, dan kejamnya, Samuel tetaplah seorang ayah yang tidak bisa mengabaikan anaknya. Dia memang suka memukuli Bayu sejak dulu, tapi ia sendiri tidak rela jika ada orang lain yang berani mengancam anaknya. Hanya dia yang berhak mengusai anaknya.
"Anda akan tetap tinggal di sini atau kembali ke Kota J, Tuan?"
"Tentu saja aku akan kembali ke Kota J. Seluruh pekerjaanku ada di sana. Tapi, beberapa hari ini aku mau tetap di sini. Aku masih ingin melihat kedekatannya dengan anak dan istrinya. Apa dia bisa mengurus mereka dengan baik? Aku penasaran."
Ben hanya terdiam. Sebenarnya, Tuannya itu hanya ingin ikut merasakan kehangatan keluarga. Dia ingin berkumpul bersama anak, menantu dan cucunya serta membincangkan hal-hal sepele dengan candaan ringan. Tapi, orang itu terlalu malu untuk mengakui keinginannya. Dia lebih cenderung memperlihatkan ambisi dan emosinya. Andaisaja tuannya itu mau meninggalkan usaha terlarangnya, pasti dia bisa menikmati masa tuanya dengan nyaman.
__ADS_1