ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bertemu Rafa


__ADS_3

"Nyonya Prita, ponsel Anda berbunyi." kata Leta.


"Siti, tolong lanjutkan ini, ya."


"Baik, Nyonya."


Prita meninggalkan kegiatan masaknya lalu berjalan ke arah meja makan dimana dia meletakkan ponselnya. Ia mengeryitkan dahi, Raeka melakukan panggilan video kepadanya.


"Halo.... Kenapa, tumben meneleponku?"


"Mukamu kok kelihatan agak kusut. Baru bangun, ya?"


"Memangnya kelihatan, ya?"


"Kelihatan banget. Semalam habis tempur pasti."


"Sok tahu!"


"Ya memang tahu.... Memangnya hanya kamu yang punya pengalaman."


"Hahaha.... Begitulah, masih capek rasanya."


"Ngomong-ngomong, semalam kamu apain kakakku?"


Prita kaget Raeka membahas tentang kakaknya. Apa Rafa mengatakan semuanya pada Raeka? Memangnya Rafa tahu kalau dia berteman dengan Raeka?


"Hah, apaan sih?"


"Jangan pura-pura, deh.... Semalam kamu pergi dengan kakakku, kan?"


"Suamimu baru saja dari sini menghajar kakakku."


Prita mematung. Dia tidak tahu kalau Bayu sampai menyambangi Rafa dan menghajarnya. Rafa tidak tahu apa-apa, dia tidak salah. Prita saja yang sudah berbohong tidak mengatakan yang sebenarnya. Bahkan, dia pura-pura tidak tahu kalau Rafa adalah kakaknya Raeka.


"Kamu jangan bercanda, Ra."


"Lihat sendiri, nih!"


Tampak Raeka sedang berusaha membuat Rafa terlihat di kameranya. Kakaknya itu berusaha menghindar.


"Lihat dulu, Kak. Ini Prita temanku, apa benar semalam dia yang bersamamu?"


Atas desakan Raeka, Rafa akhirnya mau memperlihatkan wajahnya ke kamera, bertatapan secara tidak langsung dengan Prita.


Prita terkejut melihat wajah Rafa yang babak belur. Ia jadi sangat merasa bersalah. Suaminya itu meskipun sudah dituruti kemauannya tapi tetap saja menyakiti orang yang tidak ada hubungannya.


"Em, hai.... " Prita berusaha menyapa dengan tersenyum.


"Hai.... " Rafa juga melakukan hal yang sama.


"Terima kasih untuk yang semalam. Dan maaf, karena aku kamu jadi seperti itu."


"It's Okay. Ini bukan masalah besar."


"Sepatumu ketinggalan. Tapi aku sudah menyimpannya."


"I... iya. Terima kasih." Prita sangat canggung berbicara dengannya, sangat berbeda dengan semalam.


"Kamu harus datang ke sini, Ta! Jelaskan semua secara langsung pada kakakku."


Raeka yang merebut kembali ponsel dari kakaknya langsung memaki-makinya.


"Jangan mau, Ta!" terdengar sahutan dari Irgi. Ternyata dia juga ada di sana.


"Kalau kamu tidak datang aku marah!"


"Iya, Ra.... Iya.... Nanti aku jelaskan."


"Cepat ya, kami tunggu."

__ADS_1


Raeka langsung mematikan sambungan teleponnya.


Prita mendesah. Ada masalah baru lagi yang harus diselesaikan. Memang, seharusnya sejak awal dia katakan saja kalau Bayu itu suaminya. Tapi, pasti Rafa tidak akan mau membantunya.


Prita kembali ke kamarnya, mengganti baju, lalu memperbaiki sedikit dandanannya. Setelah selesai, ia memanggil sopir untuk mengantarnya ke Greenland Paradise.


Sesampainya di sana, dia sudah disambut oleh tiga orang yang sepertinya akan mengintrogasinya habis-habisan.


"Prita, duduk dulu." ucap Rafa.


Entah mengapa setelah apa yang terjadi padanya, Rafa tetap merasa senang melihat kedatangan Prita di kantornya.


"Terima kasih, Kak." ucap Prita dengan canggung. Setelah tahu kalau Rafa kakaknya Raeka, sepertinya tidak sopan kalau dia tetap memanggilnya dengan nama.


"Kamu boleh kok tetap memanggilku Rafa."


Prita tersenyum kaku. Sementara, ia melihat Irgi dan Raeka menatapnya dengan aneh. Tapi, dia tetap duduk di sana bergabung dengan mereka. Semua memang salahnya sendiri, makanya dia juga harus siap dengan konsekuensinya.


"Main apa semalam, Ta?" sindir Irgi.


"Kata kakakku semalam kamu ke klab?" Raeka sangat penasaran. Dia tidak percaya kalau wanita seperti Prita bisa main ke klab.


"Ke klab nggak ajak-ajak? Aku bisa Ta, jadi teman mabuk. Masalahmu berat ya, sampai mainnya ke klab? Habis berapa botol semalam?"


Seperti biasa, perkataan Irgi selalu pedas seperti sambal setan level seribu.


"Baru nikah sudah bermasalah, hati-hati nanti jadi janda lagi."


"Ih, Irgi.... Kata-katanya itu loh disaring." kesal Prita.


Raeka mencubit paha Irgi. Suaminya itu memang kalau bicara suka sembarangan.


"Sepertinya lebih baik kalian berdua pergi deh, biar aku bicara berdua saja dengan Prita."


Rafa mengusir halus kedua adiknya yang sudah membuat tamunya tidak nyaman.


"Aku juga mau di sini. Mau mendengarkan kisah Prita pergi ke klab sepertinya menarik. Dulu dia tidak pernah mencoba hal-hal nakal seperti itu loh." Irgi juga tidak mau kalah.


"Ta.... Kamu baru puber, ya?"


Rafa mendengus kesal. Kedua adiknya itu kenapa jadi biang rusuh? Biasanya dia yang suka mengganggu urusan mereka, tapi kenapa sekarang mereka yang mengganggunya?


"Kalau kalian tidak mau pergi, aku tidak akan meminjamkan lalangan golf. Dan aku akan mengajak Prita untuk bicara di tempat lain."


"Kalian yang keluar atau kami yang keluar?"


"Kakak ipar kok galak."


"Irgi, aku tidak sedang ingin bercanda, ya! Ajak istrimu pulang." Rafa melayangkan tatapan mata intimidatif.


"Iya, iya...."


"Ayo Sayang, kita pulang." Irgi meraih tangan Raeka dan mengajaknya pulang.


"Ta, jangan bikin kakakku baper, ya!" pesan Raeka sebelum meninggalkan ruang kerja kakaknya.


"Maaf, ya. Adanya ini."


Rafa meletakkan kaleng minuman soda di depan Prita.


"Terima kasih."


Rafa memandang ke arah Prita. Sangat terlihat kalau wanita itu merasa canggung dan tidak nyaman. Penampilannya lebih anggun dan elegan berbeda daripada semalam. Semalam, dia memang terlihat sedikit nakal dengan dandanan dan pakaian seksinya.


"Jadi benar, kalau yang semalam itu suamimu?" Rafa memberanikan diri membuka pembicaraan.


Prita mengangguk, "Maaf ya, Kak. Semalam aku sudah berbohong."


"Kenapa jadi canggung begini.... Bicara saja padaku seperti semalam. Aku jadi tidak nyaman kalau kamu begini."

__ADS_1


"Aku tidak enak dengan Raeka."


"Dia lebih tidak sopan lagi kalau bicara denganku. Sudahlah, jangan pikirkan dia."


"Baiklah kalau itu mau kakak."


Rafa mengernyitkan dahinya.


"Eh, Rafa."


"Hahaha.... Kamu lucu juga."


"Semalam aku sampai tidak tidur memikirkanmu. Aku khawatir kamu dibawa pergi preman. Soalnya sepatumu juga tertinggal."


"Aku minta maaf, soalnya aku keburu ditangkap oleh suamiku sampai tidak bisa berpamitan dulu sebelum pulang."


"Tapi kamu tidak apa-apa, kan? Apa kalian bertengkar di rumah?"


"Ehm, ya.... Kami bertengkar sedikit." ucap Prita sembari menggerakkan bola matanya.


(Itu yang semalam namanya bukan bertengkar, Prita.... Kamu bohong, ya? Ngapain hayo semalam?)


"Maaf ya, aku tidak tahu kalau dia sampai datang ke sini dan mencarimu."


"Padahal kamu tidak tahu apa-apa malah jadi ikut terseret."


"Itu sudah tidak masalah, tapi kenapa kamu harus berbohong?"


Prita terdiam sejenak, "Kalau aku bilang dia suamiku, memangnya kamu tetap mau membantuku kabur semalam?"


"Ah, Hm.... " Rafa bingung sendiri mau menjawab apa.


"Makanya aku bilang dia pacarku, supaya kamu tidak terlalu ada beban untuk membantuku."


Rafa mulai bisa mengerti alasan Prita. Itu masuk akal. Jika dia tahu Prita sudah bersuami, dia memang tidak akan mau diajak kabur bersama.


Masalahnya, Prita sudah memberikan kenangan manis yang tidak bisa ia lupakan. Bahkan, setelah tahu Prita sudah bersuami, ia masih mengagumi wanita di depannya itu. Rasanya belum percaya kalau Prita sudah menjadi milik orang lain.


"Sebenarnya apa masalah kalian? Kata Raeka kalian belum lama menikah?"


"Ya.... Kamu pasti sudah tahu kan, kalau suamiku pemilik klab malam."


"Aku baru tahu tadi, Irgi dan Raeka yang memberi tahu. Aku kira pemilik Skylight Bar itu Roy, ternyata Bayu Bagaskara."


"Irgi bilang hubungannya dengan Bayu juga tidak terlalu bagus, dia pernah membatalkan kerjasama dengan Bayu, suamimu."


"Ah, kalau Irgi sih semua orang bisa jadi musuh. Soalnya mulutnya lemes."


"Hahaha.... Tapi jago juga dia bicara. Rasa percaya dirinya juga sangat tinggi."


"Jadi, malam itu aku ingin tahu saja apa yang dia lakukan di klab kalau malam."


"Melihat dia bersama wanita-wanita seseksi itu tentu saja aku marah, kan? Makanya saking kesalnya aku kabur."


"Kenapa tidak melabraknya langsung? Sepertinya akan lebih seru."


"Ehm.... Nanti kita jadi nggak bisa seru-seruan dong di alun-alun."


"Hahaha.... Benar juga, ya."


"Pantas suamimu sangat marah, istrinya suka menantang bahaya sepertimu."


"Aku jadi penasaran, hukuman apa yang semalam suamimu berikan? Apa dia sampai memukulmu? Soalnya kan kamu memang keterlaluan, lari dengan lelaki lain malah nonton dangdutan."


(hukuman yang enak, Rafa)


"Nggak, kami kan sama-sama salah. Dia marah, aku juga marah. Jadi impas, tidak terjadi apapun semalam. Kami sudah damai."


(Bohong.... )

__ADS_1


__ADS_2