ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Menghabiskan Malam Bersama


__ADS_3

"Heh! Karla! Kamu kan sudah menikah, kenapa jam segini belum pulang? Mana mabok lagi."


"Hahaha... memangnya kenapa, Tio.... kamu pikir klub ini khusus untuk yang masih single sepertimu?"


Karla kembali meneguk segelas wiski dari gelasnya. Kepalanya sudah mulai terasa pusing, ditambah dentuman musik yang diputar keras membuat tubuhnya seakan terasa ringan.


"Berhenti, Karla. Kamu sudah terlalu mabuk." ucap Angga.


"Kamu tenang saja, Angga. Aku wanita yang kuat minum."


"Kenapa ni cewek.... " Tio geleng-geleng kepala melihat tingkah Karla.


"Biarkan saja, mungkin dia sedang ada masalah." sahut Jaka.


Tio, Angga, dan Jaka memang sahabat yang solid. Mereka sering menghabiskan waktu bersama meskipun kini Angga dan Jaka telah berkeluarga. Sementara, Tio masih memilih sendiri, karena belum bisa meninggalkan hobinya untuk bermain-main dengan wanita. Dia belum merasa ada satu wanita yang akan membuatnya bisa bertahan lama menjalani hubungan. Daripada menyakiti hati wanita nantinya, dia memilih untuk tetap single.


"Karla, kamu kekurangan uang, ya?" celetuk Tio.


"Cih! Kalau aku mau, aku bisa membeli bar ini dengan uang suamiku malam ini juga. Macam-macam saja kamu bicara, Tio."


"Eh, siapa tahu kan, kalau kamu kurang uang bisa aku transfer kok. Aku kan tipe yang nggak tega melihat wanita sedih."


"Weh, dia butuhnya disayang-sayang, Tio... Kayaknya dia kurang kasih sayang dari suaminya. Salahmu sendiri sih, Karla... kenapa mau jadi istri kedua. Kesepian kan jadinya."


"Hehehe.... Jaka, kamu pikir aku menikah karena ingin mesra-mesraan dengan lelaki tua itu? Uh... nggak ada enak-enaknya selain karena uangnya."


"Halah! Kalau Karla stres ya nggak jauh-jauh alasannya pasti karena Bayu. Siapa lagi?"


Karla menyunggingkan senyum ketika Angga menyebut nama Bayu.


"Tuh kan bener.... " tebak Angga.


"Emang ya, pawangnya Karla cuma Bayu." Tio meneguk minumannya.


"Bayu apa kabar ya? Dia benar-benar sudah melupakan kita. Masa selama lima tahun ini sekalipun tidak pernah kesini lagi."


"Kalau Bayu ke kota ini, artinya dia siap-siap mau bunuh ayahnya sendiri."


"Hah? Memangnya kenapa? Apa mereka musuhan." Tio jadi penasaran. Jaka juga memperlihatkan raut penasaran yang sama.


"Yah.... kalian ketinggalan jaman. Bayu sudah tidak berada di bawah kekuasaan ayahnya. Dia memusuhi ayahnya sendiri karena ayahnya menghalangi hubungannya dengan Prita."

__ADS_1


"Ah, Bayu belum juga mendapatkan wanita itu ya?" tanya Jaka.


"Hais.... bisa nggak kalian jangan membahas wanita itu di sini. Mau nyekek orang rasanya kalau namanya disebut." gerutu Karla.


"Sorry, Kar." Angga langsung berhenti bicara melihat Karla yang mood-nya tampak buruk.


"Kamu nggak pernah ketemu Bayu lagi, Kar?" tanya Jaka.


"Pernah.... tapi kan tidak bisa sesering dulu. Dia jauh banget."


"Sudahlah, lupakan Bayu dan beralih ke Tio... aku akan memberimu kasih sayang yang selalu kamu dambakan." Tio berbicara dengan nada yang dibuat sensual. Hal itu membuat Karla terkekeh.


"Pokoknya belum ada yang bisa ngalahin Bayu kalau untuk urusan itu. Ah, aku jadi kangen dia.... tapi sayang sekarang punyanya sudah mati, nggak bisa dipakai bersenang-senang."


Ketiga lelaki itu melongo, saling bertatapan setelah mendengar apa yang Karla ucapkan. Omongan orang mabuk itu kan biasanya jujur.


"Karla.... maksudmu Bayu impotensi?" tanya Tio.


"Hm, ya.... begitulah." Karla meletakkan kepalanya yang sudah terasa berat di meja.


"Jangan bercanda kamu.... "


"Kapan sih aku pernah bercanda? Aku bicara apa adanya."


"Hati-hati Tio, nanti tiba giliran kamu kena karma, loh. Cepat tobat dan menikah." saran Jaka.


"Hahaha.... " Angga tertawa paling kencang.


"Hais, sialan kalian! Kenapa jadi mendoakanku begitu?"


"Sudah-sudah, jangan dibahas lagi. Pokoknya Bayu sudah tidak punya harapan. Itu kata dokter yang menanganinya. Kebetulan dokter itu temanku."


"Pantas ya, karla jadi seperti ini. Pasti ikut depresi gara-gara Bayu. Untungnya Bayu nggak sampai bunuh diri tuh. Gila sih."


"Makanya, kalau kalian kasihan denganku, ayo malam ini kalia bertiga menghiburku sampai pagi."


"Waduh, permintaanmu sudah sangat parah, Karla."


"Hm, memangnya kenapa?"


"Aku dan Angga sudah punya istri, masa permintaanmu seperti itu."

__ADS_1


"Siapa tahu kalian bosan kan di rumah, makanya malam ini aku ajak kalian main."


"Tuh kalau mau main sama Tio yang masih single."


"Nggak Ah, aku nggak mau berurusan dengan wanita yang sudah bersuami. Panjang urusannya."


"Hahaha... pernah pengalaman ya?"


"Ya, pernah. Aku hampir mati digebukin suaminya. Wanitanya aja yang sialan, bilangnya single ternyata sudah bersuami."


"Kalau suamiku nggak bakal begitu, Tio."


"Pokoknya, no, thanks!" tolak Tio.


"Karla, sudah, kamu pulang sana! Kamu udah teler banget itu."


"Nggak.... aku masih kuat minum." padahal Karla sudah tidak berkutik di atas meja. Ia sudah mabuk.


"Ambil ponselnya tuh, hubungi sopirnya supaya datang menjemput." pinta Angga.


Tio yang duduk dekat Karla langsung mengambil ponsel Karla dari dalam tas, mencari nomor kontak sopir yang biasa mengantar Karla kemana-mana.


*****


Shuwan dan Moreno saling berpelukan di atas ranjang. Mereka berdua tak mengenakan sehelai pakaianpun. Tubuh mereka hanya ditutupi oleh selimut. Baru saja mereka menyelesaikan kegiatan panas dan erotis yang biasa dilakukan oleh dua sejoli yang saling mencintai.


Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, nonton film dan jalan-jalan, mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu lebih lama di apartemen Shuwan.


"Shu.... " Moreno menelusuri pipi Shuwan dengan jemarinya, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah indah Shuwan.


"Hm?"


"Berdua denganmu seperti ini membuatku merasa kembali ke masa muda. Kamu membuatku jatuh cinta lagi."


"Benarkah? Apa kamu mengatakan ini kepada setiap wanita?"


"Oh, ayolah Shu.... Aku bukan lelaki yang seperti itu. Bahkan aku masih terjebak dalam cintamu setelah menikah. Kamu masih tidak percaya kalau selama ini aku hanya mencintaimu?"


"Bisakah aku percaya pada lelaki yang meninggalkanku karena menikah?"


"Ah! Itu satu kesalahan yang tidak bisa aku perbaiki. Kalau kamu terus mengejekku dengan hal itu, aku tak bisa berkelit, Shu. Aku memang salah padamu."

__ADS_1


Moreno tampak pasrah. Ia tak bisa membela diri. Shuwan senang melihat reaksi itu.


Tiba-tiba Shuwan teringat Bayu. Dia juga pernah hampir melakukan hal serupa dengannya namun gagal. Ia bahkan pergi tanpa pamit saat itu. Seandainya ayahnya tidak memaksanya untuk tetap menjalin hubungan dengan Bayu, mungkin ia sudah memilih lepas dari Bayu dan fokus pada orang yang benar-benar dicintainya. Shuwan juga tidak tahu mengapa ayahnya bersikeras agar dia dekat dengan Bayu. Entah itu karena Bayu seorang pengusaha sukses atau karena ada alasan lain. Shuwan adalah alat bagi ayahnya.


__ADS_2