ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Ancaman


__ADS_3

"Kenapa?"


"Dean diculik."


Tangisan Prita langsung pecah, menggema ke seluruh sudut ruangan. Seperti seorang ibu pada umumnya, yang akan bingung ketika harus menentukan prioritas perhatian terhadap anak-anaknya. Seandainya ia bisa membelah diri, ia pasti akan membagi dirinya menjadi tiga agar bisa memberikan perhatian yang sama kepada anak-anaknya.


Bayu memberikan pelukan kepada Prita, "Kamu tenang saja, Dean pasti akan ditemukan."


Bayu jadi ikut merasa kesal. Di saat seperti ini, ada kasus penculikan datang. Dia bisa memahami betapa stresnya Prita sebagai seorang ibu yang pikirannya terbagi.


Kondisi Daniel di dalam sana belum bisa dipastikan. Sejak satu jam yang lalu, belum ada satupun dokter yang keluar dari pintu itu. Sedikitpun suara tak terdengar dari dalam. Mereka hanya bisa menunggu sambil harap-harap cemas.


Drrtt....


Giliran ponsel Bayu yang bergetar. Ada pesan yang masuk ke ponselnya dari nomor tidak dikenal.


Bayu langsung bangkit dari tempat duduknya, mengagetkan Prita.


"Kenapa?" tanya Prita.


"Tidak, tidak apa-apa." Ada sesuatu yang tidak bisa Bayu ceritakan. Dia bisa membuat Prita lebih khawatir kalau tau.


"Aku pergi ke sana sebentar."


Bayu sedikit menjauh dari Prita. Ia melihat kembali pesan yang masuk ke ponselnya. Seseorang mengirimkan gambar Dean yang sedang merek sekap.


Kalau ingin anakmu selamat, datang sendiri ke gudang garam daerah xxxxx yang di depannya terdapat pohon mangga tua. Jangan berani-beraninya lapor polisi kalau tidak mau anakmu mati.


Rahang Bayu mengeras, matanya memancarkan kemarahan besar. Rasanya dia ingin mengumpat saat ini juga. Berani-beraninya ada orang yang mengancamnya.


'Dasar Bangsat! Penculik Karbitan! Membedakan anakku atau bukan saja tidak bisa.' umpatnya dalam hati.


Sebenarnya jika dia ingin mengabaikan pesan itu, bukan masalah baginya. Orang itu mengancamnya dengan sandera yang salah. Seharusnya mereka menculik Daniel kalau ingin mengancamnya. Bisa dikatakan itu adalah sebuah ancaman yang salah alamat.


Tapi, karena itu anak Prita yang nanti akan menjadi anaknya juga, dia tidak bisa mengabaikannya. Kalau terjadi apa-apa pada Dean, Prita yang nanti akan bersedih.


Bayu mendial ulang nomor yang memberinya pesan. Ia menjauh dari Prita dan orang-orangnya, mencari tempat sepi untuk bertelepon. Seseorang mengangkat panggilannya.


"Siapa ini?" tanyanya dengan nada galak.


"Kamu akan tau kalau kamu datang. Kalau kamu tidak datang, anak ini akan mati." ucap seseorang dari seberang telepon.


"Dasar penculik goblok!" umpatnya. "Anak yang kalian culik itu bukan anakku!"

__ADS_1


"Kamu pikir kami akan percaya? Kami sudah lama memata-mataimu. Kami tau kamu memiliki seorang anak laki-laki."


"Ya! Tapi bukan anak yang sedang bersama kalian, bodoh! Tolol!"


"Berani beraninya kamu mengumpat pada kami, hah!"


"Periksa sendiri identitasnya kalau tidak percaya."


Orang di seberang telepon tampak tak bersuara. Bayu memastikan orang tersebut sedang mengecek kebenaran ucapannya. Beberapa saat kemudian terdengar suara ribut-ribut, seperti terjadi perdebatan di antara para penculik itu. Mereka benar-benar penculik goblok! Membuat Bayu ingin tertawa.


"Dia anak Pak Ayash Hartadi. Alamatnya di mansion rumah keluarga Reonal, Pak!"


"Bangsat! Bisa-bisanya kalian salah menculik anak orang! Kalian mau cari mati!"


"Ttapi anak ini yang pernah kami lihat bersama Pak Bayu dan wanita itu."


"Kita bisa mati kalau sampai ketahuan berurusan dengan Keluarga Hartadi."


"Aku yakin mereka sudah memanggil polisi."


"Pak, Tapi wanita yang bersama Pak Bayu waktu itu adalah mantan istri Pak Ayash."


"Jadi anak ini memang bukan anak Pak Bayu, tapi anak wanita itu dengan Pak Ayash?"


"Halo.... "


"Ucapanku benar, kan?"


"Ya, kami akui memang salah menculik anak."


"Kalau begitu, lepaskan dia sebelum ayahnya tau dan menjebloskan kalian ke kantor polisi."


"Hahaha.... walaupun anak ini bukan anakmu, tapi dia masih anak dari wanita itu. Kalau kamu peduli pada wanita itu, kamu pasti tidak akan mengabaikan anak ini, kan?"


Bayu mengepalkan tangannya, "Kalian sedang cari mati sekarang."


"Kamu yang akan mati! Datang ke sini atau anak ini akan mati."


"Apa mau kalian?"


"Tuan kami yang menginginkanmu. Datanglah jika ingin tau."


"Aku sedang berada di luar kota."

__ADS_1


"Itu bukan urusan kami. Lebih cepat kamu datang, maka akan semakin baik."


Klik!


Orang itu menutup teleponnya.


Bayu menggigit bibirnya sendiri, memikirkan langkah apa yang harus ditempuh. Sepertinya dia tau siapa yang merencanakan semua itu padanya. Orang yang punya dendam besar padanya saat ini pasti Zetian Yan.


Dia tidak menyangka orang yang memiliki dendam padanya akan menggunakan anak kecil untuk mengancamnya. Benar-benar cara pengecut. Ia bisa meladeni orang yang menantangnya berkelahi secara langsung. Tapi, bagaimana bisa dia menghadapi orang yang menggunakan kelemahannya sebagai tameng?


Bayu kembali menghampiri Prita yang masih terduduk di bangku. Ia berlutut di depan wanita itu, memegangi kedua tangannya. Pandangan mata keduanya bertemu.


"Aku akan pergi mencari Dean untukmu. Tetaplah di sini menunggu Daniel. Alex dan dua orang itu akan menemanimu."


"Jangan bersedih. Aku berjanji akan membawanya pulang dengan selamat. Kamu percaya padaku, kan?"


Prita mengangguk lemah. Tetesan air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Bayu memberikan pelukan.


"Semua akan baik-baik saja." bisiknya. Sebelum pergi, ia mengecup singkat bibirnya.


"Kalian bertiga jangan pernah pergi dari sisi Prita. Alex, aku percayakan semua padamu."


"Baik, Bos."


Bayu berjalan menjauh dari ruang operasi Daniel. Langkah kakinya begitu keras terdengar menggem di area koridor rumah sakit. Malam itu sepi, dingin, dan gelap. Namun tak menyurutkan langkah Bayu untuk melakukan misinya.


Dean diculik tetap menjadi tanggung jawabnya juga. Ia diculik karena pernah terlihat bersama dirinya. Ia yakin hari itu pasti ada yang sedang mengintainya, saat ia mengajak Dean ke kantor.


"Halo, Fredi. Kamu ada di mana?" Orang pertama yang Bayu hubungi adalah Fredi, anak buah yang paling bisa ia percaya.


"Saya ada di Bubu Baba Club, Tuan. Ada perlu apa?"


"Zetian Yan sepertinya sedang mengancamku. Dia memakai Dean sebagai sandera. Aku yakin masalah ini masih berkaitan dengan Holly hotel. Dia pasti masih tidak terima aku merebut hotelnya."


"Apa yang harus saya lakukan?"


"Lacak tempat yang ada gudang garam di daerah xxxxx yang didepannya ada pohon mangga tua."


"Baik, Tuan. Berapa mobil yang harus saya persiapkan untuk Anda?"


"Mereka bilang aku harus datang sendiri. Maka aku akan datang sendiri. Tapi, kalian harus segera menyusulku karena aku yakin mereka tidak akan semudah itu melepaskanku."


"Baik."

__ADS_1


"Saat ini aku masih berada di Kota J. Aku akan berangkat ke sana memakai helikopter. Mungkin sekitar jam sepuluh malam aku baru akan sampai."


__ADS_2