
Prita sudah berdandan rapi mengenakan setelan blouse putih lengan panjang dan rok coklat muda selutut. Dia duduk di area lobi rumah sakit, menunggu Ayash menjemputnya. Hari ini mereka berdua akan pergi ke Pengadilan Agama untuk mendengarkan sidang putusan peeceraian.
Prita tampak tenang. Ia sudah menata hatinya selama beberapa hari ini untuk tegar dengan keputusan hakim nanti. Hidup memang kadang berjalan tak sesusai dengan apa yang kita inginkan. Jalan yang harus dilewati tidak selamanya lurus dan mulus. Adakalanya harus melewati jalan lain yang berbatu dan curam.
Ketika ada satu pesan masuk dari Ayash, ia menyunggingkan senyum. Dia sudah datang dan menunggu di area parkiran. Bergegas ia berjalan menghampiri mobil Ayash.
"Mama.... " Seru Dean dan Livy.
Ternyata Ayash membawa kedua anak itu. Prita memeluk Dean dan Livy secara bergantian. Diciuminya berulang kali pipi chubby yang menggemaskan. Ada bulir air mata yang menetes namun juga diiringi tawa bahagia.
Prita memang tak setiap hari bisa bertemu anaknya. Sesekali Ayash membawa mereka datang ke rumah sakit sehingga Prita bisa bertemu. Jika Livy terlalu rewel, terkadang ia biarkan princess kecil itu ikut menginap di rumah sakit.
Prita duduk di sebelah Ayash sambil memangku Livy. Dean duduk di kursi belakang.
"Mama.... Kak Daniel tidak ikut?" tanya Dean.
"Iya, Sayang. Kak Daniel masih sakit, tidak boleh pergi ke luar."
"Kenapa Kak Daniel lama sembuhnya, ya, Ma?"
"Karena penyakitnya bandel, Sayang. Doakan supaya kakakmu cepat sembuh."
"Siapa yang menemani Daniel?" tanya Ayash.
"Leta dan Pak Agus."
"Yash, kamu sudah lama sekali tidak menjenguk Daniel. Dia selalu menanyakanmu. Kalau ada waktu, tolong jenguk, ya."
"Memangnya Bayu tidak pernah datang?"
Pertanyaan Ayash sudah membuat perasaan Prita tidak enak. Mungkin Ayash memang sudah sangat benci bertemu Bayu. Apalagi setelah melihat foto yang dibawa Mama Maya waktu itu.
"Dia sering datang, hampir setiap hari. Tapi yang Daniel inginkan kehadiranmu, bukan Bayu."
"Aku hanya memberi kesempatan pada Daniel agar dia lebih dekat dengan ayah kandungnya, Ta."
Rasanya menyesakkan mendengar perkataan seperti itu. "Bagi Daniel ayah kandungnya adalah kamu."
__ADS_1
"Iya, nanti pasti aku akan datang menjenguk Daniel." ucap Ayash.
Keduanya sudah tidak ada mood untuk bicara. Mereka memiliki persepsi masing-masing tentang orang di sebelahnya. Prita merasa Ayash kini sudah membencinya karena foto itu dan akhirnya setuju untuk bercerai. Dia memang turut bersalah, tidak bisa menghindari pertemuannya dengan Bayu. Apalagi sampai terjadi hal seperti itu. Bayu tak pernah tertebak. Kadang ia bisa menjaga sikapnya, kadang juga sampai kebablasan ketika berhadapan dengan Prita.
Sementara, dari sisi Ayash sebenarnya alasan kuat baginya untuk menceraikan Prita karena rasa cintanya yang sangat besar untuk Prita dan Daniel. Dia sudah tak ingin kedua orang yang ia cintai itu merasa tersakiti lagi terutama oleh mamanya. Lima tahun hidup bersamanya, Prita memendam banyak luka yang tak pernah ia bagikan dengan dirinya.
Ayash tahu semua bukan dari mulut Prita. Tapi dari cerita pelayan di rumahnya dan rangkaian pesan yang hampir setiap hari ibunya kirimkan untuk Prita. Ia sendiri merasa sakit hati ketika membaca pesan itu, apalagi Prita yang setiap hati mendapatkannya. Belum lagi ucapan Dokter Hansen waktu itu, menguatkannya untuk menggugat cerai Prita.
Pengadilan Agama siang itu terlihat ramai. Banyak pasangan yang menunggu giliran untuk menjalani sidang perceraian. Ada pula yang baru mendaftarkan gugatan perceraiannya. Usia mereka masih terbilang muda, tidak berbeda dengan Prita dan Ayash. Namun, pasangan yang akan bercerai namun terlihat harmonis adalah Ayash dan Prita. Mereka tidak tampak seperti pasangan yang hampir bercerai.
Kebanyakan dari mereka menunjukkan wajah tidak suka kepada pasangannya. Hanya Prita dan Ayash yang masih bisa berbincang hangat, serta membawa kedua anaknya yang masih kecil ke tempat seperti itu.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya tiba giliran mereka memasuki ruang sidang. Hakim sudah ada di tempatnya duduk di belakang meja hijau. Beliau sampai terheran-heran melihat pasangan yang akan bercerai namun masih kelihatan akur, apalagi membawa serta anaknya. Belum pernah seumur hidup beliau bertugas sebagai hakim menghadapi pasangan perceraian yang setenang itu.
"Kalian masih muda, mungkin sesekali terjadi perbedaan pendapat itu wajar. Seiring waktu, kalian pasti bisa lebih memahami karakter pasangan masing-masing. Kalian berdua ini yang perempuan cantik, yang laki-laki tampan. Kalau dilihat, kalian pasangan yang sangat serasi. Apalagi ada anak yang lucu-lucu. Datang ke persidangan bersama, wajah kalian juga tampak ceria. Apa benar, kalian sudah berpikir matang untuk bercerai? Kalau kalian ingin membatalkan perceraian ini, masih ada waktu untuk berpikir kembali. Jangan sampai menyesal nantinya. Kalian menikah dan berjodoh adalah kehendak dari Tuhan. Tuhan yang telah mempersatukan kalian. Jika kalian harus berpisah, seharusnya hanya maut yang bisa memisahkan, bukan karena kehendak kalian sendiri."
Prita dan Ayash saling berpandangan. Mereka melemparkan senyum satu sama lain. Hakim di depan mereka memang menginginkan agar mereka tetap bersama.
"Yang Mulia, saya tetap pada pendirian saya untuk menceraikan istri saya." ucap Ayash dengan tenang.
"Bagaimana saudara tergugat, suami Anda tetap pada keinginannya untuk bercerai?"
"Baiklah, karena kalian sudah bersepakat, saya nyatakan gugatan penggugat atas tergugat saya nyatakan dikabulkan."
Tok tok tok
Hakim mengetuk palu keputusannya.
"Pada hari ini, kalian dinyatakan resmi bercerai dan hubungan pernikahan di antara kalian sudah berakhir."
Ayash dan Prita masih bisa tersenyum. Mereka menyalami hakim yang telah memberikan keputusan pada sidang mereka.
Hakim dan orang-orang yang ada di ruangan itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Mereka memang pasangan yang unik. Bercerai dengan cara yang begitu damai tanpa meributkan masalah harta gono gini dan hak asuh anak.
Bagi Ayash dan Prita sendiri, perceraian hanya mengakhiri hubungan pernikahan mereka. Tapi, hubungan baik antara keduanya tetap terjaga. Mereka juga akan tetap menjadi mama dan papa bagi anak-anak.
"Hah! Jadi, sekarang kita bukan suami istri lagi, ya?" guman Prita.
__ADS_1
Rasanya ia masih belum percaya sekarang ia seorang janda setelah gugatan perceraian dikabulkan oleh hakim. Janda, gelar baru yang masih terdengar aneh untuknya.
"Rasanya nggak nyangka kan, kita akhirnya bercerai?"
"Iya. Aku nggak tahu nanti bagaimana respon orang-orang terdekat kita. Soalnya mereka juga tidak ada yang kita beri tahu."
"Aku yakin Irgi akan langsung menghajarku."
"Oh, aku tak suka itu. Katakan pada Irgi, jika dia berani memukulmu aku akan marah padanya."
"Ta.... "
"Iya?"
"Setelah ini kamu harus hidup dengan baik, ya. Kamu harus banyak tersenyum."
Prita menyunggingkan senyum, "Iya. Aku akan berusaha untuk bahagia. Kamu juga harus melakukan hal yang sama."
Ayash mengantarkan kembali Prita ke rumah sakit. Mereka mengunjungi Daniel yang sedang terbaring di ranjangnya. Daniel kelihatan bahagia melihat kedatangan Ayash dan adik-adiknya. Mereka berlima seperti keluarga yang harmonis.
"Ta.... boleh peluk kamu?"
Prita tersenyum mendengar permintaan Ayash ketika mengantarnya kembali ke area parkir. Ia merentangkan tangannya mempersilakan Ayash untuk memeluknya.
"Sepertinya aku sangat egois. Aku yang sudah menceraikanmu tapi masih ingin memelukmu seperti ini." gumamnya.
Cup!
Ayash mendaratkan satu kecupan di pipi Prita sebelum pergi.
"Aku pulang dulu."
Ayash pulang bersama Daniel. Livy masih ingin bersama Leta di ruangan Daniel. Jadi, Prita minta ijin pada Ayash agar Livy menginap di rumah sakit malam ini.
Setelah mobil Ayash berlalu pergi, senyuman di bibir Prita kian memudar. Butiran-butiran bening mengalir di pipinya. Ia menangis tersedu-sedu. Ia sendiri tak paham dengan apa yang ia rasakan saat ini. Ia merasakan suatu kelegaan sekaligus rasa sesak di dada. Sebaik apapun perpisahan, tetap terasa menyakitkan.
------------------------------------------------------------------------------
__ADS_1
Authornya ikut nyesek. Maafkan aku yang harus bikin alur cerita begini. ðŸ˜