ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Obatku Canduku


__ADS_3

Prita sedang berkutat di area pantry memasak sebungkus mie instan di atas panci. Setelah memasukkan telur terlebih dahulu ke dalam air mendidih, kemudian ia memasukkan daun sawi hijau ke dalamnya. Saat sawi telah terlihat layu, barulah ia memasukkan mie ke dalam air rebusan itu.


Sambil menunggu mie matang, Prita menuangkan bumbu mie instan di atas piring. Setelah mie sesuai dengan tingkat kematangan yang diinginkan, ia matikan kompor dan meniriskan mie beserta kelengkapannya itu.


Malam ini rasanya ia sangat kelaparan. Mengurusi tiga anak secara bersamaan cukup menguras tenaganya. Tapi menyenangkan. Ia bisa menikmati kebersamaan bersama anak-anaknya. Kini mereka sudah tidur, saatnya untuk Prita menikmati me time.


"Astaga!"


Prita hampir menjatuhkan mie yang sudah ia tiriskan karena terkejut. Bayu memeluknya secara tiba-tiba dari belakang.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat bulu romanya meremang. Ada semacam sengatan listrik yang menjalar di tubuhnya. Tindakan mendadak yang Bayu berikan mampu merangsang tubuhnya untuk menikmatinya. Seolah perlakuan itu adalah sebuah hal yang wajar untuk ia terima.


"Tolong lepas dulu, aku kesulitan menuangkan mie ke dalan piring."


"Tidak mau. Aku ingin seperti ini sepanjang malam."


Bukannya melepaskan pelukannya, Bayu justru semakin mempereratpelukan. Bibirnya ia gerakkan menyusuri setiap inci leher Prita. Kecupan demi kecupan ringan ia berikan membuat wanita itu serasa melayang.


"Aahh!"


Prita memekik keras ketika Bayu menggigit lehernya dengan cukup kuat. Bayu merasa bangga ada kiss mark yang ia ciptakan di leher indah itu. Prita merasa sedang berhubungan dengan vampir daripada manusia.


"Oh My God, bisa lebih normal gak?" Prita memegangi lehernya sambil melotot. Sementara Bayu masih saja tertawa.


"Memangnya sakit?"


"Rasakan sendiri kalau mau tau." ucapnya kesal.


"Kamu mau membalas? Lakukan saja."


Bayu merendahkan tubuhnya agar bagian leher bisa dijangkau oleh Prita. "Ayo, gigit."


Prita terpaku melihat leher Bayu. Tampak jakunnya naik turun setiap kali ia menelan ludahnya. Ia mendekatkan bibirnya ke arah leher itu. Meski ragu-ragu, akhirnya ia menggigit leher itu menggunakan giginya.


Bayu hanya menelan ludah ketika Prita menggigitnya. Bukannya merasa kesakitan, ia malah tersenyum. Padahal bekas gigitan itu sangat merah sampai mencetak gigi-gigi yang Prita gunakan.


Niat mau membalas malah membuat Prita jadi malu sendiri. Ia mengalihkan perhatiannya pada mie yang belum diaduk di atas piringnya. Dibawanya piring itu menuju meja makan. Ia harus segera memakannya sebelum rasanya berubah tidak enak.


Bayu duduk di depannya, mememberikan tatapan penuh cinta pada wanita yang sedang menikmati mienya.


"Gigitanmu sakit juga, ya." goda Bayu. "Tapi bibirmu terasa hangat."


Prita tak menggubris. Ia tetap meneruskan makannya karena merasa malu.


Merasa diabaikan, Bayu menarik tangan Prita dan menyuapkan sendok ke dalam mulutnya. Perbuatannya sukses menarik perhatian Prita.

__ADS_1


"Tadi aku tawari tidak mau." Prita kesal acara makannya terganggu.


"Tiba-tiba aku ikut lapar saat melihatmu makan. Coba suapkan lagi.... " Bayu sudah membuka mulutnya.


"Kamu makan sendiri saja." Prita mendorong piringnya ke depan Bayu.


"Tapi aku maunya disuapi.... Sebentar lagi kan kita akan menikah. Hitung-hitung belajar menjadi istri, kan?"


"Mulailah bersikap baik padaku. Karena lelaki yang ada di depanmu ini yang kelak akan menjadi suamimu."


"Kamu merasa sangat yakin?" Prita mencebikkan bibirnya.


"Tentu. Daniel anak kandungku. Aku yakin bisa mengusahakan kesembuhannya. Apalagi dapat bonus memilikimu."


"Habiskan makanmu." pinta Bayu.


"Untukmu saja."


"Kalau tidak mau aku suapi dengan mulutku, ya."


Prita mengambil kembali piringnya dan melanjutkan makan. Bayu hanya tersenyum-senyum sudah berhasil mengganggu wanita itu.


Setelah menyelesaikan makannya, Prita membereskan peralatan makan yang digunakan. Lagi-lagi Bayu memeluknya dari belakang. Meskipun merasa terganggu, Prita lebih memilih diam dan meneruskan pekerjaannya. Bayu hanya akan menjadi-jadi jika dia merespon.


"Maumu sebenarnya apa? Aku tidak bisa menonton TV dengan tenang."


"Cium."


"Hah?"


"Aku mau dicium."


"Mumpung anak-anak sedang tidur, aku ingin memonopoli mama mereka."


"Bisa tidak meminta sesuatu yang normal?"


"Memang minta cium tidak normal? Kita kan pacaran sekarang. Wajar kan kalau ciuman."


"Maksudku yang tidak menjurus ke hal-hal seperti itu."


"Tapi ini menyenangkan."


Bayu senyum-senyum. Yang ia maksud menyenangkan adalah bisa merasakan sesuatu yang biasanya diam jadi sering bereaksi kalau dia dekat-dekat dengan Prita. Artinya dia mulai jadi normal kembali dan mungkin bisa menghentikan pengobatan yang selama ini ia jalani.


Jangan sampai Prita tau kalau alasannya selalu ingin dekat-dekat adalah untuk kesembuhan dirinya. Dia menjadikan Prita sebagai obatnya tanpa wanita itu sadari.

__ADS_1


Dokter Jerome yang menanganinya juga bilang kalau miliknya bisa bereaksi secara lebih sering dan hasratnya kembali, artinya dia sudah kembali normal. Hal menyenangkan apa lagi baginya untuk mendapatkan kembali sesuatu yang selama ini hilang darinya, yaitu kenikmatan bercinta.


"Apa kamu tau, ciuman itu punya banyak manfaat. Salah satunya dapat mengurangi rasa cemas dan stres. Saat kita berciuman, tubuh akan menghasilkan beragam hormon seperti hormon oksitosin, dopamin, dan endorfin yang bisa membuat kita merasa bahagia dan tenang."


Bayu mensejajarkan duduknya dengan Prita. Ia perlahan mendekatkan wajahnya, namun mengalihkan wajahnya ke arah lain. Padahal ia ingin mengajaknya berciuman.


"Kamu tidak mau?"


"Apa kamu masih mengharapkan mantan suamimu?"


Prita menatap Bayu dengan tatapan tidak suka. Dia tidak suka ada pembahasan lagi tentang Ayash.


"Jangan bahas tentang dia lagi. Aku tidak akan mau lagi kembali padanya."


"Lalu kenapa kamu selalu menolak untuk dekat denganku? Bukankah itu karena kamu belum bisa melupakannya?"


"Aku sudah pernah bilang kan, cara tercepat untuk melupakan seseorang adalah dengan membuka hati untuk orang lain."


"Aku juga yakin kalau kita sering berciuman, maka perlahan kamu akan mulai menyukaiku. Karena berciuman bisa meningkatkan rasa kasih sayang sesama pasangan." Bayu mengusap permukaan bibir Prita dengan jarinya.


Bayu kembali mendekatkan wajahnya. Kali ini Prita tak menghindar. Ia memejamkan mata seolah mengijinkan Bayu untuk menciumnya.


Kesempatan tak ia sia-siakan. Bibir lembut itu langsung ia ***** dengan lembut. Prita manis sekali. Entah apa yang membuat wanita itu mau membalas ciumannya. Mungkin karena kata-kata motivasinya atau mungkin kesadaran dari dirinya sendiri.


Yang jelas, Bayu menyukai Prita yang seperti itu. Prita yang hangat dan penuh cinta serta mau mengimbangi ciumannya. Perlahan Bayu merebahkan kepala Prita pada sofa tanpa melepaskan ciuman mereka. Bayu ingin bibir mereka menyatu lebih lama.


"Mama.... minum.... "


Bayu dan Prita saling berpandangan. Sedang asyik-asyiknya berciuman, suara Daniel menginterupsi kegiatan mereka. Terpaksa Bayu menyudahinya.


Sementara, Prita berlari ke arah pantry mengambil segelas air mineral untuk Daniel.


"Mama dan Daddy sedang apa?" tanya Daniel ketika Prita memberikannya minum.


"Kami sedang menonton TV."


"Tadi Daniel dengar suara yang aneh."


Prita sudah hampir panik perbuatannya ketahua oleh anaknya, "Mungkin suara TV. Sepertinya agak rusak."


"Oh, begitu. Daniel mau tidur lagi. Masih ngantuk." dia memberikan gelas itu kepada mamanya dan kembali memejamkan mata.


"Aku mau tisur di kamar. Kamu tidur di sini menjaga Daniel." ucap Prita sebelum memasuki kamar yang ada Dean dan Livy.


Bayu menepuk dahinya. Susah bersenang-senang dengan wanita yang memiliki tiga anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2