
Orang-orang berkumpul di ruangan Daniel. Mereka memberi semangat kepadanya yang sebentar lagi akan menjalani operasi. Daniel tampak tidak merasa takut sedikitpun. Dia sangat tenang. Mungkin karena selama ini sudah melihat alat-alat medis terpasang di tubuhnya, obat-obatan yang banyak, serta rasa sakit yang menyertai saat tindakan. Daniel sudah tidak memiliki ketakutan apa-apa lagi. Senyumnya mengembang, ditujukan kepada mama yang selama ini selalu menemaninya.
Selain ada Alex dan Leta, Bayu menambahkan empat orang bodyguard wanita yang bisa bela diri di sisi Prita. Dia tidak mau sampai ada hal-hal buruk terjadi, sebisa mungkin dia akan terus berada di sisi Prita dan Daniel.
"Daniel, kamu tidak takut kan, nanti masuk ke ruang operasi?" tanya Dokter Hansen.
Daniel menggeleng, "Daniel tidak takut, Kakek Dokter."
"Bagus, kamu memang anak yang pemberani."
"Kakek Dokter, nanti Daniel akan sembuh, kan?"
"Berdoalah kepada Tuhan. Kalau operasinya lancar, Daniel bisa sembuh."
"Saya keluar dulu untuk bersiap-siap. Nanti kalau sudah waktunya, perawat akan membawa Daniel ke ruang operasi."
"Iya, Dok. Terima kasih."
Dokter Hansen keluar dari ruangan Daniel.
"Mama.... Papa mana ya? Daniel kan mau dioperasi."
Daniel berkata dengan nada merajuk. Dia merasa semakin jarang bisa bertemu papanya. Sementara, Bayu sedikit cemburu di saat seperti ini anaknya masih mencari-cari ayah sambungnya. Ingin rasanya dia mengatakan kalau sebenarnya ayah kandungnya adalah dirinya, dari dirinyalah Daniel bisa ada di dunia.
Sementara, Prita agak kebingungan untuk menjelaskan. Ia memberitahu Ayash secara mendadak, tidak mendiskusikan dengannya terlebih dahulu untuk membawa Daniel ke Kota J.
"Sayang, Papa masih sibuk bekerja. Nanti kalau sudah selesai pekerjaannya, dia akan menyusul kesini bersama adikmu Dean."
"Apa Papa tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sehari saja? Hari ini aku mau ditemani Papa."
"Daniel lupa, ya. Di sini masih ada daddy." sahut Bayu.
Daniel menoleh ke arah Bayu, "Tapi kan Daddy bukan papanya Daniel. Daniel maunya sama Papa."
Bayu hendak maju dan memarahi Daniel, namun tangannya dicegah oleh Prita. Ia ingin mengatakan ayash bukan ayahnya. Ayahnya yang sebenarnya adalah dia.
"Baiklah, mama telepon papa untukmu, ya." ucap Prita.
Bayu berbalik menuju arah jendela. Dia menghela nafas, menahan emosinya. Ingin marah juga tidak ada yang patut dipersalahkan. Daniel masih kecil dan belum terlalu paham masalah orang dewasa.
"Halo, Daniel.... " tampak wajah Ayash di layar ponsel Prita setelah panggilan telepon video tersambung.
"Papa.... Daniel mau dioperasi." ucap Daniel.
"Iya, Sayang. Semoga semua berjalan lancar, ya. Daniel jangan takut."
"Papa.... "
"Ya?"
"Kenapa Papa tidak ada di sini? Aku mau dioperasi tapi ditemani Papa."
"Maafkan papa, ya."
"Papa jahat!"
"Nanti secepatnya papa akan datang kesana menemui Daniel."
__ADS_1
Daniel membuang muka. Ia kesal dengan papanya. Katanya dia anak yang paling papanya sayangi, tapi saat dia harus operasi, papanya tidak bisa menemani. Daniel merasa kecewa.
"Daniel.... Papa janji, setelah Daniel sembuh, kita akan sering bersama. Papa akan kurangi pekerjaan papa untuk bermain dengan Daniel."
"Benar ya, Pa. Daniel akan benci Papa kalau ingkar janji."
"Iya, papa janji."
"Permisi.... Daniel sudah waktunya dibawa ke ruang operasi."
Tiga orang perawat sudah datang hendak membawa Daniel.
"Yash, aku tutup dulu ya, teleponnya. Sudah waktunya Daniel dibawa." ucap Prita.
"Iya. Semoga semuanya berjalan lancar." Ayash menyunggingkan senyum.
"Apa Dean baik-baik saja di rumah? Dia tidak rewel?"
"Tidak, dia baik-baik saja. Kamu jangan khawatir. Fokus saja pada Daniel. Percayakan Dean padaku."
"Ya sudah, Bye."
"Bye."
Prita mematikan teleponnya. Ia merasa ada yang aneh dengan Ayash. Nada bicaranya tidak seperti biasa. Dia jadi berpikir, apa ada sesuatu yang terjadi?
Segera ia tepis pikiran-pikiran buruk. Ini hari operasi Daniel. Dia harus fokus pada Daniel dulu.
Prita, Bayu, Alex, serta empat pengawal wanita mengikuti ketiga perawat yang mendorong ranjang Daniel melewati koridor rumah sakit. Prita tampak cemas meskipun dokter sudah mengatakan agar dia tetap tenang. Kondisi Daniel sangat baik, kecocokan donor juga lumayan tinggi. Jadi, diprediksi kemungkinan keberhasilan operasi juga tinggi. Meskipun ada kemungkinan kegagalan atau komplikasi, harus tetap optimis bahwa operasi kali ini akan berhasil dan Daniel bisa sembuh.
Mereka hanya bisa melihat Daniel sampai depan pintu ruang operasi. Selebihnya, mereka harus menunggu sampai operasinya selesai. Kata dokter mungkin membutuhkan waktu sekitar dua sampai lima jam.
Prita menggeleng, "Aku mau menunggu sampai operasi Daniel selesai."
"Kamu tidak kasihan dengan Livy? Dia perlu tidur di tempat yang nyaman."
Prita menoleh ke arah Livy. Anak bungsunya itu sedang tertidur dalam gendongan Leta.
"Kalau begitu, kamu antar Leta dan Livy ke apartemen. Biar mereka istirahat dulu. Aku yang akan menunggu di sini."
Bayu menghembuskan nafas kasar. Prita memang keras kepala, tidak akan mendengarkan kata-katanya.
"Kalian berdua tolong antar Leta ke apartemen."
Bayu memerintahkan dua orang bodyguard mengawal Leta dan Livy kembali ke apartemen. Sekarang, tinggal mereka berlima yang masih menunggu di depan pintu ruang operasi.
Drrtt.... Drrtt....
Ponsel Prita bergetar. Ia memicingkan mata ketika nama kontak Rahma, pengasuh Daniel tertera di sana.
"Halo, Rahma?"
"Nyonya Prita.... "
"Iya, kenapa Rahma?"
"Nyonya.... "
__ADS_1
Prita heran, nada suara Rahma terdengar bergetar. Ia seperti ketakutan atau ragu untuk bicara.
"Bicara saja, Rahma. Ada apa?"
"Apa.... Dean ada bersama Nyonya?"
Prita heran, kenapa Rahma bertanya seperti itu? Sudah jelas Dean ada di rumah bersama Ayash. Tadi waktu telepon dengan Daniel juga Ayash bilang Dean baik-baik saja. Kenapa sekarang Rahma seperti orang ketakutan?
"Apa.... Pak Bayu tadi siang menjemput Dean lagi tanpa saya tau?"
Prita memandang ke arah Bayu. Bayu yang merasa diperhatikan ikut bingung, apa dia membuat kesalahan sampai Prita memandanginya.
"Kamu mau bicara apa Rahma, tolong bicara yang jelas supaya saya paham."
"Nyonya.... Dean menghilang sejak tadi siang."
Deg!
Kata-kata Rahma membuat nafas Prita tercekat. Dean hilang di saat seperti ini?
"Kamu jangan ngawur, Rahma! Tadi aku baru saja telepon dengan Ayash, katanya Dean baik-baik saja."
"Benar, Nyonya, saya tidak bohong. Ini di mansion juga masih ada polisi yang datang. Tadi seharian kami mencari Dean kemana-mana."
Prita sudah tidak berpikir apa-apa lagi. Pikirannya menjadi kalut. Satu sisi ia khawatir dengan operasi Daniel, di sisi lain dia juga khawatir dengan keselamatan Dean.
"Aaku tutup dulu, teleponnya, Rahma!"
"Kamu kenapa?"
Bayu khawatir melihat raut wajah Prita yang pucat setelah menerima telepon. Prita tak lantas menjawab pertanyaan Bayu. Ia justru berkutat dengan ponselnya. Dengan tergesa-gesa, ia mencari nomor kontak Ayash hingga nomornya jadi sulit di temukan. Setelah ketemu, ia menekan tombol panggilan video.
"Ada apa, Ta?" tanya Ayash yang heran Prita meneleponnya lagi. Ia juga bingung wajah Prita tampak tegang.
"Mana Dean?" cecar Prita.
"Tadi kan sudah aku bilang, Dean sedang main."
"Kalau begitu berikan teleponnya, aku mau melihat Dean dan bicara padanya."
Ayash menjadi gugup. Ia tak menyangka Prita akan meminta hal seperti itu. Dia memang berbohong. Sebenarnya Dean masih belum ditemukan.
"Ta.... "
"Dean hilang, kan?"
Ayash mendelik, Prita sudah tahu.
"Kenapa kamu bohong? Kenapa Dean bisa hilang? Apa kalian sudah mencarinya?"
Prita menjadi sangat panik. Orang-orang yang di saja juga ikut saling menatap ketika mendengar Dean hilang.
"Aku sengaja tidak mengatakannya padamu karena tau kamu akan jadi seperti ini. Aku tidak mau membuatmu panik."
"Anak hilang kamu menyuruhku tetap tenang? Ya Tuhan, kamu gila tidak mengatakan sejak awal."
"Aku dan para polisi juga masih mencari Dean, kami tidak diam saja. Kamu jangan khawatir. Disitu ada Daniel juga yang harus kamu perhatikan."
__ADS_1
"Hah! Gila!"
Prita langsung mematikan sambungan telepon. Perasaannya campur aduk antara marah, sedih, dan cemas. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Di sana ia masih menunggu operasi Daniel, di tempat lain Dean sedang hilang.