ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Dijemput Ben


__ADS_3

Bayu memutuskan untuk tinggal di tempat Bara sementara sampai kondisi lukanya membaik. Setelah dirasa fisiknya cukup kuat, ia mendaki bukit yang tidak terlalu tinggi untuk mencari jaringan telepon. Kartu seluler miliknya dipindahkan ke ponsel yang Bara berikan. Ponsel pribadinya rusak, tidak bisa dipakai saat ia terjatuh dari jurang.


Orang kepercayaan yang bisa ia mintai tolong adalah Ben. Meskipun dia anak buah ayahnya, tapi Bayu percaya jika Ben tetap mampu menjaga rahasianya.


"Halo, Bos.... Apa ini benar-benar Anda?" suara Ben terdengar seperti orang yang sangat kaget menerima telepon darinya.


"Iya, Ben. Ini aku, Bayu."


"Anda ada di mana? Kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak menemukan Anda."


"Ben.... Tolong menjauh dari orang-orang sekitar dulu. Jangan sampai ada yang mendengarkan pembicaraan kita. Aku hanya ingin kamu yang mendengarkannya."


"Baik, Bos. Saya sudah mengunci pintu kamar saya."


"Aku diselamatkan seorang polisi yang sedang menyamar dan sekarang aku masih tinggal bersamanya."


"Apa dia tahu siapa Anda?"


"Belum, dia belum tahu. Aku harap dia tidak akan tahu. Karena itu aku memintamu untuk diam-diam menjemputku ke sini, cukup kamu sendiri, jangan bawa siapapun meskipun itu anak buahmu."


"Aku tidak mau dia mencurigai kita."


"Baik, Bos. Dimana tempatnya?"


"Desa xxx yang terletak di sisi kiri lereng tempat kita dihadang. Desa yang dekat dengan aliran sungai. Tanyakan petani yang bernama Bapak Sarlan dan Ibu Hanima. Aku tinggal bersama mereka dan polisi itu."


"Baik."


"Bos, minggu lalu saya menemui Nona Prita. Dia memarahi saya karena Anda menghilang. Sepertinya dia sangat sedih. Apa perlu saya memberitahunya kalau Anda baik-baik saja?"


"Jangan, jangan dulu."


"Kalau begitu, saya akan datang menjemput Anda hari ini juga."


"Terima kasih, Ben. Aku tunggu kedatanganmu."


Bayu menghela nafas lega. Akhirnya ia bisa menghubungi Ben. Mendengar Prita bersedih karena dirinya, ia juga ikut merasa sedih sekaligus senang. Ternyata istrinya benar-benar mengkhawatirkannya.


Di daerah itu hanya ada sinyal telepon, tidak ada sinyal internet. Jika internet sudah aktif, mungkin ponselnya akan dipenuhi oleh ratusan pesan dan panggilan tidak terjawab. Bayu mematikan koneksi internetnya. Ia hanya menggunakan jaringan telepon biasa.


*****


Keesokan paginya, Ben mendatangi rumah yang dijadikan tempat tinggal Bayu sementara.


Bayu memeluk Ben ketika ia tiba di sana, seakan mereka berdua adalah saudara.


"Bapak, Ibu, dan Bara, kenalkan ini kakakku, namanya Ben." ucap Bayu di hadapan Bara, Bapak Sarlan dan Ibu Hanima.

__ADS_1


Mereka menyambut Ben dengan penuh senyum keramahan, sama seperti mereka memperlakukan Bayu selama seminggu ini.


"Jadi, kamu benar-benar akan pulang hari ini?" tanya Bara.


Sebenarnya dia sudah sangat senang ada teman di sana. Tapi, pada akhirnya, Bayu tetap harus pulang.


"Iya. Sudah terlalu lama aku tidak pulang, keluarga pasti khawatir. Terima kasih atas bantuannya selama ini, Bara."


"Iya. Hati-hati di jalan."


"Bapak dan ibu, terima kasih sudah mau direpotkan oleh kedatangan saya."


"Kami sama sekali tidak merasa kerepotan. Jika datang ke kota daerah ini lagi, jangan lupa untuk singgah di rumah kami."


"Tentu saja, Pak."


Bayu dan Ben bersalaman dengan ketiganya seraya berpamitan. Mereka harus berjalan selama tiga puluh menit menyusuri jalanan setapak hingga akhirnya sampai di tepi jalan besar. Ben memarkirkan mobilnya di sana. Kampung yang mereka datangi benar-benar masih sangat terpencil.


Ben membawa mobilnya melaju di jalanan beraspal yang rusak. Selama perjalanan, tubuh mereka tergoncang-goncang. Pemandangan pagi yang mereka saksikan menyusuri jalanan sepi itu cukup indah, berbeda saat malam mereka melintasinya. Bahkan, Bayu sampai hampir kehilangan nyawa.


Ben membawa Bayu singgah di sebuah hotel area kota. Mereka akan beristirahat sehari di sana sebelum menaiki pesawat pagi yang akan mengantarkan mereka kembali ke Kota S.


"Apa barang Tuan Saddam sampai dengan selamat di Kota J?"


"Iya, Bos. Berkat Anda semuanya aman. Beliau sangat senang."


"Baguslah."


"Apa itu, Ben?"


"Lebih baik Anda tetap berpura-pura menghilang dan jangan sampai ada yang tahu."


Bayu mengernyitkan dahinya, merasa heran dengan ide yang dikatakan oleh Ben.


"Kenapa, Ben?"


Ben sebenarnya ragu ingin mengatakannya kepada Bayu, namun rasanya kali ini dia tidak bisa untuk menyembunyikannya.


"Tuan Samuel berencana ingin menikahkan Anda dengan putri Tuan Saddam."


Bayu membelalakkan matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja Ben katakan.


"Ayahku tidak mungkin seperti itu, Ben. Dia sudah tahu kalau aku sudah menikah dan punya anak."


"Anda pasti tahu kalau Tuan Saddam adalah rekan bisnis terdekat ayah Anda."


"Sebagian besar penyelundupan narkoba maupun senjata ilegal itu atas permintaannya."

__ADS_1


"Tuan Saddam juga orang yang membuat musuh-musuh ayah Anda tidak berani berkutik."


"Makanya, saat Tuan Saddam menawarkan putrinya untuk dinikahkan dengan Anda, Tuan Samuel tidak kuasa menolak."


Bayu rasanya ingin tertawa terbahak-bahak dengan kelakuan ayahnya. Dia benar-benar masih menganggapnya boneka. Sampai masalah pernikahan, apakah dia juga harus menurutinya?


"Ben, aku sangat ingin hidup normal dengan ayahku sebagai ayah dan anak. Tapi kenapa ayahku masih sama memperlakukanku seperti itu?" mata Bayu sampai berkaca-kaca. Dadanya dipenuhi gemuruh antara rasa kecewa dan marah.


Sejahat apapun yang pernah ayahnya lakukan padanya, ia masih memiliki rasa hormat dan sayang padanya. Meskipun berulang kali ia berkata ingin membunuh ayahnya sendiri, sebenarnya yang ingin ia bunuh adalah sifat ayahnya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana agar ayahnya bisa menghentikan perbuatannya.


"Sampai saat ini Tuan Samuel masih mengira Anda hilang. Dia terus menyuruh saya dan anak buah saya untuk mencari keberadaan Anda."


"Hanya saya yang tahu kalau Anda sudah kembali."


"Semakin sedikit yang tahu, akan semakin baik. Tuan Samuel lambat laun akan curiga jika Anda tetap belum ditemukan."


"Saya juga ingin Anda bisa hidup sesuai dengan keinginan Anda, Bos."


"Tuan Samuel akan menggunakan istri dan anak Anda sebagai sandera jika tahu Anda sudah kembali tapi tidak mau menuruti kemauannya."


"Saya rasa Tuan Samuel akan tetap memaksa Anda untuk menikahi putri dari Tuan Saddam."


"Apa tidak ada cara lain untuk menghentikan rencana kedua orang tua itu, Ben?"


Ben terdiam sejenak. "Ada." jawabnya. "Tapi saya rasa tidak akan menyetujui rencana saya."


"Katakan saja, Ben."


"Bongkar semua kejahatan Tuan Saddam."


"Tapi.... Ayah Anda juga akan ikut terseret karena mereka menjalin kerjasama."


"Dan kemungkinan nama Anda juga akan ikut teebawa."


Bayu menghela nafas, "Ya, aku tahu. Aku memang menjadi bagian dari kejahatan mereka selama ini."


"Apa Anda siap kalau harus dipenjara?"


"Jika iya, saya akan membantu Anda mendapatkan bukti-bukti kejahatan mereka."


"Ben.... Apa kamu sudah gila? Kamu mau melawan ayahku?"


"Dia bisa membunuhmu jika tahu kamu berkhianat."


Ben sangat tahu konsekuensinya. Samuel tidak akan berpikir dua kali untuk orang-orang yang berani mengkhianatinya. Sekalipun Ben selama ini sangat loyal, Samuel tidak akan memaafkannya.


"Saya tahu dimana Tuan Samuel menyimpan berkas-berkas penting."

__ADS_1


"Ben.... "


"Ini satu-satunya cara agar Anda bisa hidup sesuai dengan keinginan Anda. Saya akan membantu Anda."


__ADS_2