
Bayu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Setelah perjalanan dari Kota J menggunakan helikopter ia singgah sebentar di mansionnya untuk mengambil mobil. Setelah dari sana, perjalanan ia lalui sendiri menggunakan mobil menembus dinginnya udara malam.
Fredi sudah memberikan titik lokasi alamat yang dimaksud. Letak gudang garam tak jauh dari posisinya, ada di daerah pesisir, tempat yang sudah lama terbengkalai.
Jalanan menuju tempat itu sangat sepi, sangat jarang dijumpai rumah penduduk. Orang yang mengunjungi daerah itu hanyalah petani garam dan nelayan. Itupun jumlahnya sekarang sudah tak banyak lagi. Banyak yang sudah berhenti menjadi petani garam, memilih pekerjaan lain yang hasilnya lebih menjanjikan.
Mobil Bayu bisa melaju dengan sangat mulus tiada hambatan. Dirinya hanya ditemani kegelapan di sepanjang jalan.
Sesampainya di tempat itu, Bayu memperlambat laju mobilnya. Ia perhatikan satu per satu bangunan yang dulunya digunakan sebagai gudang penyimpanan gara. Ia cari bangunan yang di depannya ada pohon mangga tua yang besar. Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya ia menemukan tempat sesuai dengan petunjuk.
Bayu menghentikan mobilnya. Di depan rumah itu juga terdapat satu mobil jeep rubicon warna hitam dan mobil sedan yang terparkir. Sudah jelas, Bayu datang ke tempat yang tepat.
"Hah! Balik lagi ke pekerjaan lama." gerutunya.
Diambilnya jaket kulit yang teronggk di kursi sebelah kemudian ia kenakan. Tak lupa kacamata mata hitam dan topi hitam supaya penampilannya sedikit menyeramkan.
Saat baru keluar dari mobil, sudah ada dua orang yang menyambutnya. Mereka juga berpakaian serba hitam dan memegang pistol yang diarahkan kepada Bayu.
Bayu berjalan mendekati mereka sambil mengangkat kedua tangannya. Tidak pernah Bayu dalam posisi seperti itu. Biasanya dia yang mengacungkan senjata ke orang lain, tapi kali ini dia yang sedang diancam dengan senjata.
Sampai di muka pintu, kedua orang itu menggerayangi tubuhnya, mengecek apakah dia membawa senjata atau tidak. Karena aman, tidak ditemukan senjata di badan Bayu, mereka mempersilakannya masuk.
Bangunan itu hanya berupa ruangan luas tanpa sekat yang biasa digunakan untuk menyimpan garam yang baru dipanen. Dinding dan tiangnya terbuat dari kayu, sementara atapnya dari rerumputan kering.
"Uncle Yu!" seru Dean.
Anak itu digendong masuk darinpintu belakang oleh seorang pria bertubuh tambun dan bermuka bengis. Matanya melotot seperti debtcollector yang sedang menagih hutang. Dia menodongkan senjata ke arah Dean. Di belakang mereka ada sekitar sepuluh orang yang mengikuti.
Bugh!
Seseorang di belakang memukul punggung Bayu menggunakan balok kayu. Namun hal itu tidak membuatnya tumbang. Bayu berbalik badan, memperhatikan siapa orang yang berani memukulnya. Ia bersumpah akan mengingat wajah itu dan membuatnya menyesal sudah memukulnya.
"Apa lihat-lihat, mau melawan, hah!" tantang orang yang membawa balok kayu itu.
Dia melepaskan balok kayu yang tadi digunakan untuk memukul. Ia maju, lalu melayangkan beberapa pukulan ke wajah Bayu. Wajahnya tampak sumringah penuh kemenangan, bisa dengan bebas menghajar Bayu sesukanya. Bayu tak melawan sedikitpun. Ia terima setiap pukulan yang mendarat di tubuhnya. Beberapa orang ikut maju dan menghajarnya.
"Uncle.... Uncle.... Jangan dipukul! Kalian orang jahat!"
Dean berusaha melepaskan diri dari gendongan orang besar itu. Dia memukul-mukul tubuh tambun itu. Namun, usahanya hanya seperti gigitan nyamuk yang tidak terasa. Karena kesal, Dean menggigit pundak orang itu sekuat tenaga.
"Argh....! Anak sialan!"
__ADS_1
Bruk!
Dean dijatuhkan ke tanah oleh si tubuh gempal. Dean langsung menangis keras. Ia merasa kesakitan.
Melihat hal itu, Bayu langsung bangkit berlari dan meraih Dean.
"Bangsat!" Ia beri tendangan kencang hingga si tubuh tambun itu tumbang.
Beberapa orang yang hendak mencegahnya mengambil Dean juga ia tumbangkan.
Badan yang sudah penuh luka tidak ia pedulikan lagi. Yang jelas, dia menjadi sedikit tenang setelah Dean ada di gendongannya sekarang. Anak itu masih terus menangis. Yang tadi pasti sangat menyakitkan.
Bayu terpojok. Orang-orang itu sudah berkerumun menargetkan dirinya. Seandainya tidak ada Dean, sudah dia bantai mereka tanpa tersisa. Di antara mereka ada beberapa yang mengacungkan senjata. Kalau dia salah bertindak, mungkin Dean akan ikut terkena tembakan.
Prok Prok Prok
Terdengar suara tepuk tangan dari arah Pintu. Zetian Yan masuk ke sana bersama dua orang bodyguardnya. Ia menampilkan senyum seringai, seperti merasa puas melihat kondisinya saat ini. Bayu sudah menduga ini memang ulah orang itu.
"Halo, Tuan Zetian." sapa Bayu.
"Hahaha.... Kamu masih bisa menyapaku dalam situasi seperti ini?"
"Ya, tentu. Tapi, baru kali ini kan kamu merasakan di posisi tidak berdaya? Bagaimana? Apa kamu senang?"
"Anda sangat pengecut melibatkan anak kecil dalam urusan kita."
"Ah, bagaimana lagi cara melumpuhkan singa kalau tidak dengan memberinya rantai di lehernya."
"Kamu juga memanfaatkan anakku untuk kepentinganmu sendiri."
Bayu terkekeh, "Hah! Anakmu juga memanfaatkanku untuk menutupi skandalnya. Apa tidak boleh kalau kami saling memanfaatkan?"
"Anda sudah tua, seharusnya berhenti melakukan hal-hal buruk seperti ini. Bertobatlah, perbanyak ibadah supaya jika nanti Anda mati bisa mendapatkan tampat yang layak di surga."
"Berani kamu mengguruiku!"
"Setelah ini, masalah Anda akan semakin berat. Anda mencari musuh tanpa tau siapa musuh Anda sebenarnya."
"Apa anak buah Anda sudah bercerita kalau mereka salah menculik anak?"
Zetian melayangkan pandangan ke arah anak buahnya. Mereka semua tertunduk karena menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Dia memang anak dari wanita yang sedang dekat denganku. Tapi jangan lupa, ayah kandungnya adalah Ayash Hartadi."
"Berurusan dengan anak ini, bukan hanya aku yang akan maju. Aku yakin ayah kandungnya juga tidak akan tinggal diam."
"Goblok!"
Zetian menempeleng kepala salah satu anak buahnya. Rasanya sangat kesal memiliki anak biuh yang tidak becus bekerja. Bisa-bisanya mereka salah menculik anak dan tidak melaporkan apapun padanya. Berurusan dengan keluarga Hartadi akan membuat situasinya akan semakin sulit. Tapi, semua sudah terlanjur terjadi. Dia tidak bisa mundur sekarang.
"Bunuh dia dan juga anak itu."
Perkataan Zetian membuat mata Bayu membelalak. Lelaki tua itu juga ingin membunuh Dean?
"Dean, tetap di sini dan jangan takut. Uncle mau menyingkirkan penjahat-penjahat ini dulu." bisiknya.
Bayu meletakkan Dean di belakang kotak kayu dekat tembok. Sementara, dirinya berdiri menghalau orang-orang yang berani mendekat ke arahnya.
Satu per satu orang maju menyerang Bayu. Dengan kekuatan yang masih tersisa, dia lawan habis-habisan semua yang mendekatinya. Berbagai jurus bela diri yang pernah dipelajari akhirnya berguna dalam situasi seperti itu. Namun, karena terlalu banyak yang melawannya, ia juga menjadi kewalahan. Beberapa pukulan dan tendangan tak bisa dielakkan.
Bayu jatuh tersungkur. Luka di tubuhnya semakin bertambah. Tenaganya hampir habis.
"Sudah lama sekali aku menantikan hari ini. Kamu harus mati untuk mengganti nyawa Mario yang sudah kamu ambil."
"Hah! Sampah seperti Mario memang pantas mati."
Dalam kondisi seperti itu, Bayu masih saja bersikap sombong. Membuat hasrat Zetian untuk membunuhnya semakin tinggi.
Brak!
Pintu masuk dari arah depan dan belakang didobrak paksa. Muncul Fredi bersama anak buahnya datang. Membuat senyuman di bibir Bayu merekah. Bantuan telah datang.
Beberapa bodyguard langsung melakukan pengamanan di sekitar Tuan Zetian.
Bayu kembali bangkit. Adu pukul kembali terjadi. Kali ini lebih seru karena kedua pihak dalam posisi seimbang. Suara bantingan, tendangan dan pukulan terus terdengar di tengah kesunyian malam.
Dean mengintip dari balik tempat persembunyiannya. Dia pertama kali menyaksikan adegan kekerasan langsung di depan matanya. Dimana orang dewasa saling memukul dan menyakiti satu sama lain. Itu pemandangan yang sangat menakutkan. Di satu sisi, ia melihat Bayu, orang yang selalu memberinya hadiah, masih bertarung dalam kondisi badan penuh luka. Dalam imajinasi seorang anak sepertinya, Bayu layaknya seorang super hero yang sedang menyelamatkannya. Dean berdiri agar bisa lebih jelas memerhatikan akdi Bayu. Wajahnya menyiratkan kekaguman.
Dari kejauhan, tampak Zetian yang merasa terpojok dengan situasi itu. Matanya mengarah pada si kecil Dean. Pikirannya menggelap. Jika dendamnya tidak bisa terbalaskan, setidaknya ia harus membuat hidup Bayu menjadi sulit. Muncul niat untuk menghabisi anak itu. Dengan begitu, Bayu pasti tidak akan diterima oleh wanita yang dicintainya.
Zetian menyeringai, diarahkannya pistol yang ia pegang ke arah Dean. Anak itu memang tidak bersalah, tapi punya hubungan dengan Bayu adalah suatu masalah.
Dor!
__ADS_1