
Prita dan Ayash sama-sama terdiam di sofa kamar Daniel. Setelah membahas soal perceraian, mereka menjadi terlihat canggung. Baik Ayash maupun Prita, sebenarnya tak ada yang menginginkan perpisahan. Tapi, menurut mereka itu adalah sebuah keputusan yang tidak bisa dihindari. Mereka tidak saling membenci, namun memang mungkin lebih baik mereka tidak bersama.
Mereka memiliki perasaan yang sama, rasa cinta yang sama, namun keadaan sepertinya tak mendukung eksistensi rasa itu. Mereka berpisah bukan karena kebencian, melainkan karena mereka terlalu saling mencintai. Mereka memutuskan berpisah untuk melindungi rasa cinta itu.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, aku yang akan mengurus semua. Kamu hanya perlu datang saat sidang putusan. Aku usahakan semuanya bisa selesai secepatnya."
"Bagaimana dengan anak-anak?"
Prita menanyakan hal itu karena semenjak Dean dan Livy tinggal di mansion, ia jadi jarang bisa bertemu mereka. Maya tidak mungkin mengijinkannya bertemu. Biasanya Ayash yang akan membawa kedua anaknya jika ia sudah sangat rindu. Prita memang harus standby di rumah sakit menjaga Daniel. Dia tak bisa bebas pergi kemana-mana.
"Mereka tetap anak kita. Hanya hubungan kita yang berakhir, bukan ikatan dengan mereka. Kamu bisa bertemu dengan mereka kapanpun kamu mau."
"Begitu pula dengan Daniel, tolong ijinkan aku untuk bertemu dengannya sewaktu-waktu."
Prita mengangguk. Mendengar kata-kata itu membuat air matanya kembali luruh. Ayash masih ingin menjadi ayah Daniel meskipun nantinya mereka akan berpisah.
Beberapa bulan menemani Daniel di rumah sakit membuat dunianya terasa sempit. Ruang geraknya sangat terbatas. Dirinya yang sehat saja merasakan kebosanan, apalagi Daniel, anak kecil yang biasanya suka bereksplorasi kemana-mana tiba-tiba kehidupannya berubah, dibatasi oleh sekat-sekat tembok bercat putih yang membosankan.
Ayash ayah yang sangat baik. Ketulusannya merawat Daniel membuat anak itu begitu menyayanginya. Tidak bisa dibayangkan jika suatu saat Daniel ataupun anak-anaknya yang lain tahu jika nanti mereka akan berpisah.
"Nanti kalau Daniel sudah sembuh dan kamu ingin tinggal bersama anak-anak yang lain, aku akan mengantarkan mereka padamu. Yang penting sekarang kamu harus fokus untuk kesembuhan Daniel. Jangan lagi terpengaruh oleh orang lain. Abaikan dan fokus."
"Masalah biaya rumah sakit, biar aku yang akan terus menanggungnya sampai kamu mendapatkan suami baru. Jika nanti suami barumu tidak sanggup atau tidak membayar biaya perawatan Daniel, aku yang akan meneruskannya sampai Daniel sembuh."
Prita terus terisak. "Kamu pikir aku mau berpisah denganmu karena menginginkan lelaki lain? Aku bahkan tidak berpikir untuk menikah lagi."
Permasalahan yang Prita hadapi membuat hatinya beku. Seakan ia trauma menjalani kehidupan rumah tangga. Menikah bukan hanya urusan antara dua orang laki-laki dan perempuan, tapi juga urusan keluarga besar. Itu hal tersulit dalam kehidupan pernikahan, menyatukan dua keluarga beaar menjadi satu.
Prita merasa lebih nyaman kehidupannya saat sendiri. Meskipun dia yatim piatu, tapi perjalanan hidupnya tak seberat sekarang. Ia hanya perlu mengurusi dirinya sendiri.
"Ya, itukan hanya permisalan. Kenapa menangis lagi? Kita pisah baik-baik lho."
"Bagaimana aku tidak menangis kalau kamu sebaik ini padaku?"
__ADS_1
"Ah, apa aku harus jahat supaya kamu tidak menangis lagi?" Ayash memberikan tisu kepada Prita.
"Kamu mau punya tempat tinggal di mana? Mau di perumahan atau di apartemen? Nanti aku carikan tempat tinggal yang nyaman untukmu."
"Tidak perlu. Aku bisa kembali ke rumah lamaku jika Daniel nanti sudah sembuh."
"Rumah lamamu itu sudah lama sekali tidak ditempati. Entah seperti apa bentuknya sekarang. Tapi nanti akan aku renovasi jika kamu ingin tinggal di sana. Sementara, kamu boleh tetap menempati apartemenku. Nanti aku yang akan mencari apartemen lain. Kamu bisa menjadi tetangga Irgi di sana."
"Irgi kan sudah menikah. Dia pasti akan pindah tinggal di rumah Raeka."
"Ah, iya. Aku sampai lupa kalau mereka sudah menikah."
Prita sedikit sedih tidak bisa melihat pernikahan Irgi, sahabat terbaiknya. Karena waktu pernikahan itu bertepatan dengan jadwal kemoterapi Daniel. Dan setelah kemoterapi itu, kondisi Daniel sempat drop sehingga Prita maupun Ayash tak ada yang bisa pergi meninggalkan Daniel.
"Ta.... "
"Hm?"
"Kapan terakhir kali kita jalan berdua saja?"
Waktu yang mereka miliki selalu dihabiskan bersama ketiga anak mereka. Dibalik kerepotan mengurusi tiga anak yang masih kecil, mereka masih bisa merasakan kebahagiaan memandangi wajah ketiga anak mereka.
"Mungkin saat kita pacaran atau sebelum Daniel lahir."
"Itu sudah sangat lama."
"Kamu mau nggak berkencan denganku?"
Prita seperti salah dengar dengan kata-kata Ayash. Berkencan katanya?
"Kita kan mau bercerai, kenapa mengajakku berkencan?"
"Aku ingin berkencan denganmu sebelum kita bercerai."
__ADS_1
"Kalau masih ingin berkencan kenapa kita harus bercerai? Apa kita batalkan saja perceraian ini?"
"Tidak, aku tetap ingin bercerai denganmu. Tapi aku juga ingin berkencan denganmu. Itu memang sisi egoisku."
Prita terdiam sejenak, "Aku juga punya sisi keegoisan yang sama denganmu."
"Ayo kita berkencan." Prita mengucap kata itu sambil tersenyum.
*****
Bayu termenung di ruang kerjanya. Kejadian di rumah sakit masih terngiang-ngiang di otaknya. Kejam sekali mertua Prita memperlakukan menantunya. Dia memberikan tamparan sampai sudut bibir Prita terluka. Apa selama ini Prita diperlakukan dengan buruk seperti itu? Bisa-bisanya dia terus bertahan.
Tok tok tok
Terdengar suara pintu diketuk.
"Masuk." perintahnya.
Seorang wanita bertubuh tinggi dengan kaki jenjang yang mulus memasuki ruangan Bayu. Ternyata wanita itu adalah Shuwan.
"Kenapa datang tidak mengabari dulu, Shu."
Bayu langsung menyambut kehadiran Shuwan dengan memeluknya dan memberikan ciuman di pipi kanan dan kiri serta bibirnya. Dia mengajak Shuwan duduk di sofanya. Shuwan bergelayut menja menempel pada dada Bayu yang nyaman. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu karena selama ini dia lebih sering bertemu dengan Moreno.
"Sudah lama kita tidak jalan bersama. Apa kamu tidak berniat mengajakku berkencan?"
"Apa pacarmu yang lain itu tidak bisa menemanimu?" sindir Bayu.
"Dia hanya sebatas teman tidur. Pacarku hanya kamu." jawab Shuwan lantang yang membuat Bayu rasanya ingin tertawa.
"Tapi pasti akan sangat membosankan jika berkencan denganku. Aku tidak punya sesuatu yang bisa memuaskanmu."
Shuwan mengeratkan pelukannya, "Tidak apa-apa. Aku hanya ingin jalan berdua denganmu. Memelukmu seperti ini saja sudah membuatku merasa nyaman. Apalagi jika sampai kamu bisa memuaskanku. Mungkin aku tidak akan mau jauh-jauh lagi darimu. Your body is perfect."
__ADS_1
Shuwan kembali meraba dada bidang Bayu yang tersusun kokoh. Tempat itu sangat hangat dan nyaman untuk merebahkan diri. Setidaknya hal itu bisa menjadi sedikit hiburan dikala Shuwan kesepian.
"Minggu depan, luangkanlah waktu untuk makan malam bersama ayahku. Aku ingin mengenalkanmu padanya."