ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Alasan Perceraian


__ADS_3

Raeka menelungkupkan badannya di atas kasur. Sesekali tangannya bergerak memukuli kasur empuk itu. Ia malu. Sangat malu. Baru pertama kali mencoba berpenampilan seseksi itu untuk Irgi, malah ketahuan Ayash. Ia yakin lelaki itu pasti akan mengejeknya jika bertemu.


Mungkin lebih baik dia tidak pergi kemana-mana. Dia akan tetap tinggal saja di dalam apartemen. Daripada keluar dan nanti bertemu Ayash, ia tak akan bisa tahan mendengar ejekannya. Dia pasti sudah berpikir yang macan-macam. Padahal itu baru satu kali dan langsung membuat image -nya hancur.


Ia meruntuki dirinya sendiri yang mau mengikuti saran Prita. Dia benar-benar tidak cocok dengan gaya seperti itu, gaya wanita penggoda yang tampil sok imut di depan lelaki. Dia bukan seperti itu.


Raeka melepaskan satu per satu aksesoris yang dikenakannya. Bandana telinga kucing itu tampak sangat menggelikan. Baju yang dia kenakan juga. Bisa-bisanya dia tadi mengatakan kata 'master' di depan Irgi. Itu sangat memalukan.


*****


Dokter Hansen sesekali memperhatikan wanita yang kini ada di depannya. Tampaknya dia sedikit ragu untuk berkata-kata. Kalau bukan karena desakan Ayash, dia juga tidak akan memikirkannya.


Awalnya mereka memang sedang membahas tentang perkembangan kondisi Daniel. Bisa dikatakan kondisinya jauh semakin membaik berkat kemoterapi yang dilakukan, meskipun belum bisa dikatakan sembuh. Hansen jadi teringat ucapan Ayash kemarin untuk segera menyampaikannya pada Prita.


"Prita, aku ingin mengatakan hal serius kepadamu."


"Sebenarnya aku sudah pernah membahas hal ini dengan Ayash. Tapi dia ingin kamu juga tahu."


"Apa itu, Dokter?"


Prita merasa khawatir. Dokter Hansen sepertinya sangat serius kali ini. Ia takut sesuatu yang serius terjadi pada Daniel.


"Aku sudah menyampaikan, ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menyembuhkan Daniel. Pertama, dengan rutin menjalani kemoterapi yang tidak bisa aku tentukan berapa kali dan berapa lama sampai Daniel sembuh. Kedua, bisa dengan transplantasi sumsum tulang belakang. Tapi sampai sekarang kita belum menemukan sumsum tulang belakang yang cocok. Dean atau Livy mungkin cocok, tapi usia mereka tidak memenuhi syarat. Dan yang ketiga.... "


Hansen kembali ragu untuk meneruskan kata-katanya. Ia sendiri menganggap pembahasan itu juga yang membuat Ayash malah menceraikan Prita.


"Apa yang ketiga, Dokter?"


"Sel punca dari plasenta adik Daniel yang baru dilahirkan."


"Maksud Dokter?"


"Kamu bisa mengusahakan untuk hamil lagi, Prita. Agar plasenta dari bayimu bisa digunakan untuk pengobatan Daniel."


Prita membeku. Matanya sudah mulai berkaca-kaca karena ingin menangis. Ia tahu arah pembicaraan selanjutnya.


"Dokter.... "


"Aku tahu Prita, bagaimana perasaanmu. Makanya aku juga sudah mengatakan pada Ayash agar tidak perlu mengambil opsi ketiga. Masih ada dua opsi yang bisa tetap kita usahakan."


"Tapi sepertinya dia sangat memikirkan hal ini sampai memutuskan untuk menceraikanmu."


"Kita tahu kan, Ayash tidak bisa punya keturunan lagi. Mungkin dia merasa bersalah padamu."


Dalam hati Prita bercongkol rasa kecewa dan rasa marah yang berbaur jadi satu. Ia tidak tahu kalau Ayash selama ini mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapatnya.


Dia kira alasan Ayash menceraikannya hanya karena Mama Maya. Dia mungkin tidak tega melihatnya hampir setiap hari mendapat perlakuan yang kurang baik. Begitupula dengan Daniel. Ternyata ada alasan lain yang menurutnya tidak masuk akal.


Prita merasa harus tertawa. Menertawakan keputusan Ayash. Apa itu artinya dia memberikan pilihan agar dia juga menikah lagi?

__ADS_1


"Dokter, apa yang ingin Anda sampaikan sudah cukup?"


"Iya. Sepertinya hanya itu yang mau aku bicarakan."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


Prita menahan air matanya agar tidak sampai terjatuh. Langkah kakinya sangat cepat seperti orang terburu-buru. Dia lebih dulu masuk ke kamar Daniel mengambil tasnya dari dalam lemari.


"Leta, tolong jaga Daniel, ya. Aku mau pergi keluar sebentar."


"Baik, Bu."


Prita kembali bergegas menaiki lift dan menekan lantai bawah. Sesampainya di lobi, ia berjalan keluar rumah sakit, menghentikan sebuah taksi yang kebetulan melintas.


"Antar saya ke PT Prayoga Jaya, Pak." ucapnya.


Sopir taksi langsung melajukan kembali taksinya menuju tempat yang Prita inginkan. Tidak sulit mencari perusahaan itu karena letaknya berada di pusat kota. Apalagi perusahaan itu kini sudah semakin besar dan terkenal di seantero Kota S.


Setelah memberikan ongkos taksi, Prita memasuki lobi perusahaan PT Prayoga Jaya. Resepsionis langsung mengenalinya sebagai mantan istri CEO. Mereka langsung mempersilakan Prita naik ke ruang kerja Ayash tanpa bertanya apapun. Memang ada orang-orang tertentu yang Ayash ijinkan langsung bertemu dengannya tanpa membuat janji terlebih dahulu.


Klek!


Ayash yang sedang duduk di kursinya kaget pintu ruangan tiba-tiba dibuka. Di ambang pintu ada Prita. Ia heran kenapa mantan istrinya itu ada di sana.


"Kenapa, Ta?"


Ayash menahan kedua tangan itu agar berhenti memukulnya, "Prita, kenapa?" ia mencoba bertanya kembali.


Prita kesulitan berbicara karena terus menangis. Lidahnya terasa kelu dan sepertinya ia ingin terus mengekspresikan perasaannya lewat tangisan.


Ayash langsung menggendong tubuh kecil itu lalu mendudukannya pada sofa. Dipandanginya secara lekat wajah yang tampak sedih dan putus asa di hadapannya. Ia usapkan jari untuk menyingkirkan air mata yang terus mengalir dari kedua bola mata teduh itu. Mungkin ia perlu memberinya waktu agar tenang dan bisa berbicara.


"Kenapa.... Kenapa.... ?" dengan suara lirih Prita mulai berbicara.


"Dokter Hansen sudah mengatakan semuanya. Apa itu alasannya?"


Prita menatap mata Ayash dengan tatapan sayu. Air matanya masih mengalir.


"Kenapa kamu memilih itu?"


Ayash menghela nafas. Akhirnya pertanyaan itu ia dengar juga dari Prita.


"Ta, maafkan aku. Aku sudah memikirkan hal itu berkali-kali. Aku rasa keputusanku sudah tepat. Kamu sudah tidak perlu terbebani mengambil keputusan apapun karen kita sudah bercerai."


"Masih ada cara lain, kan.... Tidak harus seperti ini?"


"Aku mau bercerai denganmu karena ingin hidup tenang. Bukan untuk menikah dengan lelaki lain. Keputusanmu itu jahat untukku."


"Prita.... "

__ADS_1


"Sekalipun kita sudah bercerai, aku tidak akan menuruti kemauanmu. Daniel akan tetap menjalani pengobatannya yang sekarang."


"Prita, please.... "


Prita menggeleng. Dia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Ayash. Kali ini ia sangat kecewa.


"Kamu tahu kan, kalau ini juga berat untukku? Apa sebagai orang tua akan tetap egois dengan pendirian kita ketika melihat anak sakit?"


"Kamu masih ingat, setelah kita punya Livy, aku mengatakan padamu sudah tidak mau memiliki anak lagi. Menurutku tiga anak sudah cukup karena aku memutuskan untuk melakukan vasektomi. Aku sudah tidak bisa memiliki anak lagi. Sekalipun bisa, mungkin akan sulit."


"Memang menyuruhmu menikah lagi setelah aku ceraikan kedengarannya santat tidak bermoral."


"Tapi, akan lebih tidak bermoral jika aku menyuruhmu untuk tidur bersama lelaki lain agar kamu bisa hamil lagi."


"Aku mohon, Prita. Pikirkan ini sekali lagi. Apa kamu tega melihat Daniel lebih lama seperti itu? Setiap hari anak sekecil itu harus akrab dengan jarum suntik dan obat-obatan. Apa kamu tidak ingin melihatnya bisa beraktivitas normal seperti anak-anak seusianya?"


Prita menundukkan kepalanya. Air mata tak henti-hentinya menetes. Ia sangat bingung. Segala hal memaksanya untuk berpikir keras.


"Bayu ayah biologis Daniel. Dia juga sangat menyayangi Daniel. Dan sepertinya dia masih menyukaimu. Apa kamu tidak mau mempertimbangkannya."


Prita memeluk tubuh Ayash. Hanya lelaki itu yang sebenarnya ingin ia jadikan pendamping hidup. Tubuhnya masih terasa nyaman sebagai tempat bersandar. Hangat dan menenangkan.


"Ta.... Kamu tidak memdengarkan aku?"


"Aku masih mencintaimu."


"Aku tahu."


"Jangan paksa aku melakukan hal yang aku mau. Aku tidak mau."


"Aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin kamu memikirkannya. Mana yang menurutmu lebih penting."


"Terkadang, hidup tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tapi percayalah, kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri bagaimanapun keadaannya."


Klek!


Prita membuka matanya saat mendengar suara pintu terbuka. Di ambang pintu ada Andin. Ia langsung mendorong Ayash dan melepas pelukannya.


"Ah, kalau begitu aku keluar dulu. Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat." ucap Andin yang terlihat canggung melihat pemandangan di depannya.


"Jangan!" seru Prita.


Ia berlari menghampiri Andin. Ini salahnya. Pasti Andin akan salah paham telah melihatnya bersama Ayash.


"Andin, kamu jangan salah paham, ya! Maafkan aku." Prita menyunggingkan senyum.


"Aku pergi dulu!"


Buru-buru Prita berlari menuju lift. Seharusnya ia tahu batasan, sekarang ia telah bercerai dengan Ayash dan Andin adalah istri Ayash sekarang.

__ADS_1


__ADS_2