ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Aku Butuh Bantuanmu


__ADS_3

Srek


Pintu kamar mandi terbuka. Bayu baru menyelesaikan ritual mandi paginya. Tubuhnya masih tampak basah. Tetesan air yang tersisa dari rambutnya turut mengalir menuruni lekuk tubuh atletisnya yang berotot. Selembar handuk melilit di pinggangnya.


Diliriknya ke arah ranjang, di sana Prita masih lelap tertidur. Entah sampai kapan wanita itu akan terbangun. Semalam sempat ia colek-colek juga tidak ada reaksi. Dia tidur seperti orang mati hanya saja masih bernafas. Padahal hanya meneguk satu sloki wine bisa membuatnya seperti itu. Bahaya sekali.


Bayu berjalan ke arah meja rias. Ia memandangi bekas jahitan di dada kirinya sebelah atas. Masih terlihat merah dan memar. Bertambah satu lagi koleksi bekas luka senjata tajam yang tertoreh di tubuhnya.


Bekas tembakan yang ia peroleh sekitar satu minggu lalu ketika ia mengunjungi clubnya Bubu Baba. Pelaku masih ia kejar. Kalau sudah tertangkap, akan langsung dia tembak mati di tempat. Gara-gara orang itu dia kehilangan momen untuk bertemu dengan Prita dan Daniel. Tidak bisa dimaafkan.


"Eumh.... "


Bayu menoleh ke arah ranjang. Prita mulai menggeliatkan badannya. Kakinya sangat nakal. Selimut yang semalam Bayu pasang menutupi tubuhnya kini sudah tersingkir. Hingga tampak paha mulus yang sepertinya minta dielus. Bagian bawah baju yang tersingkap menampakkan ****** ***** berwarna putih. Lagi-lagi Bayu harus menggeleng. Wanita itu tidak hati-hati. Kenapa ia tidak mengenakan short pant.


Melihat wanita yang terus bergerak di atas ranjangnya seakan mengundangnya untuk datang mendekat. Ini masih pagi dan wanita itu sudah memancingnya.


Bayu berjalan mendekat ke arah ranjang. Niatnya mengganti perban pada lukanya ia batalkan. Lebih menyenangkan memandangi wajah wanita yang kini sedang terlentang di bawahnya. Bibir tipis itu seperti meminta untuk dicium.


Tanpa basa-basi, ia langsung menyatukan bibir mereka. Bibir atas dan bibir bawahnya ia ***** lembut seperti sedang menikmati marshmallow.


"Ah!"


Prita terpekik kaget. Ia reflek mendorong tubuh Bayu yang ada di atasnya hingga terjungkal ke belakang. Prita sudah dalam posisi duduk dan kini telah bangun.


"Ah!" teriaknya lagi ketika menyadari ada Bayu di depannya dalam kondisi bertelanjang dada hanya mengenakan selembar handuk di pinggangnya. Prita menutup matanya sendiri.


"Kenapa? Seperti baru lihat saja."


"Apa tidak bisa kamu memakai pakaian dulu?" Prita masih menutup matanya.


"Aku baru selesai mandi dan mau mengganti perban di lukaku."


Mendengar kata luka, Prita menurunkan tangannya dari wajah. "Luka?" tanyanya.


Bayu menunjuk bagian dada kiri yang masih terdapat bekas luka tembakan itu.


"Itu kenapa?"


"Kena tembakan." jawab Bayu santai.


"Lagi?"


"Ya.... "


Bayu tersenyum. Pandangan matanya mengarah pada bagian bawah Prita yang sudah tersingkap sempurna.


"Ah!" Prita yang menyadari pakaiannya terbuka langsung mengambil selimut untuk menutupinya.


"Kenapa ditutup? Bagus, kan?"


Prita teringat sesuatu yang penting tapi ia lupakan. Otaknya berpikir sejenak.


"Oh astaga! Daniel!"


"Mau kemana?" Bayu menahan tangan Prita yang hendak turun dari atas ranjang.

__ADS_1


"Ini jam berapa?"


"Jam 6 pagi."


"Aku harus kembali ke rumah sakit. Semalam aku meninggalkan Daniel bersama Leta. Mereka pasti bingung aku tidak pulang."


"Semalam aku sudah menghubungi Leta. Kamu tidak perlu cemas."


Prita menghela nafas lega.


Bayu kembali merangkak naik. Didorongnya Prita hingga kembali terbaring di atas ranjang. Kedua tangannya diletakkan di sisi-sisi badan Prita agar wanita itu tidak pergi kemana-mana. Prita memasang sikap waspada. Hari ini ia berada di kandang serigala yang mungkin akan menerkamnya.


"Katakan padaku, kenapa semalam pergi ke club mengenakan pakaian seperti ini? Kamu mau menggoda lelaki lain?"


Bayu mendekatkan wajahnya ke wajah Prita. Tatapannya begitu intimidatif. Prita menahan dada Bayu agar tidak lebih dekat.


"Mau bermain janda nakal?"


"Apa maksudmu? Aku kesana mencarimu."


Bayu mengeryitkan dahinya, "Mencariku?"


Prita mengangguk.


"Kamu merindukanku?"


"Tidak."


"Lalu kenapa mencariku?"


"Apa kamu ingat yang terjadi semalam di club."


Prita tersentak kaget. Benar, semalam ia ada di club. Kenapa sekarang sudah ada di dalam kamar bersama Bayu? Ia kembali mengingat-ingat semua yang terjadi tadi malam.


Ia masuk club, memesan segelas moctail dan bertemu lelaki bernama Rafa. Berkat Rafa dia bisa bertemu dengan pemilik club itu, tapi bukan Bayu, melainkan lelaki bernama Roy. Lelaki itu menyuruhnya meminum segelas wine, tak lama kemudian kepalanya terasa pusing dan akhirnya dia sudah tak ingat apapun.


"Bagaimana aku bisa ada di sini.... "


"Kamu tidak ingat?"


Prita menggeleng.


"Dengan penampilanmu seperti ini, anak buahku hampir menidurimu. Jika saja Alex tidak ada di sana, mungkin kamu sudah digilir pria-pria mabuk di sana."


Prita menelan ludah. Ia benar-benar tidak ingat apapun gara-gara segelas wine.


"Kamu kesepian?" bisik Bayu.


Reflek Prita mendorong kuat dada Bayu.


"Ah, ****!" umpat Bayu.


Dorongan tangan Prita tepat mengenai bekas lukanya. Darah segar kembali mengalir dari sana.


"Salahmu sendiri kan, kenapa bersikap begitu. Dimana obatnya?"

__ADS_1


"Di atas meja." Bayu memegangi lukanya sendiri.


Prita mengambil kotak obat dari atas meja dan kembali lagi menghampiri Bayu di atas ranjangnya. Ia bersihkan darah yang keliar dengan hati-hati.


"Lain kali jangan masuk ke tempat seperti itu lagi."


"Kalau tidak terpaksa aju juga tidak mau pergi ke sana."


"Apa sangat penting sampai harus menemuiku?"


"Iya."


"Kenapa tidak menghubungiku?"


"Aku tidak tau nonor ponselmu."


"Kalau begitu, setidaknya temui aku di perusahaan."


"Aku juga tidak tau perusahaanmu."


Bayu terperangah. Wanita yang ia sukai tidak tau apapun tentang dirinya.


"Lalu, kenapa kamu bisa tau kalau aku pemilik club?"


"Karena itu sangat cocok dengan kepribadianmu. Orang sepertimu pasti memilih pekerjaan sesuai dengan passionnya."


Bayu tidak bisa menahan tawa. Prita tidak tau saja kalau dia memiliki usaha lain selain club malam. Terlebih lagi usaha yang ia jalankan adalah milik ayah Prita.


"Hahaha.... oke, baiklah. Darimanapun kamu tau pekerjaanku, sepertinya orang yang memberitahumu sangat membenciku. Aku harus mem-blacklist-mu supaya tidak bisa datang lagi ke sana ataupun club milikku yang lainnya."


"Dan jangan coba-coba lagi meminum alkohol di tempat seperti itu."


"Tadi apa yang mau kamu sampaikan? Kenapa mau menemuiku."


Prita berhenti memegangi luka Bayu setelah ia selesaj menempelkan plester pada luka itu.


"Aku butuh bantuanmu."


Bayu mengernyitkan dahi, "Bantuan? Bantuan seperti apa?"


Prita terdiam sejenak, mengumpulkan nyali untuk bicara. "Aku butuh benihmu."


Bayu melongo mendengar perkataan Prita. Apa wanita itu masih mabuk


"Apa? benih? Untuk apa? Muka polos begini kamu nakal juga, ya? Oh My God! Apa tadi yang kamu minta? Coba ulangi lagi?"


Prita tau ia sedang diledek oleh Bayu. "Aku mau kamu mendonorkannya benihmu. Aku perlu mengandung anakmu lagi."


"Kata dokter, Daniel bisa disembuhkan dengan plasenta adiknya yang baru lahir."


"Kenapa kita tidak menikah saja?"


Ucapan Bayu membuatnya terdiam? Menikah? Dengan Bayu? Itu sesuatu yang tidak pernah ada dalam mimpinya. Kalaupun harus memiliki anak lagi, ia memilih mempunyai anak lewat jalur inseminasi.


Menikah itu bukan perkara sederhana. Menggabungkan dua kepala yang berbeda menjadi satu. Akan banyak pemikiran yang berbeda. Pada akhirnya, akan terjadi ketidakcocokan dan perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2