ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Rencana Pulang ke Indonesia


__ADS_3

"Kami pulang.... " seru Ayash dan Daniel kompak.


Daniel tampak senang membawa kotak lego super besar yang dibelikan papanya.


"Ah, jagoan mama sudah pulang." Prita menyambutnya dengan senyum lebar.


"Wah, Daniel bawa apa?" tanya Opa.


Daniel langsung berlari ke arah Opa yang sedang duduk menonton TV. Ia ingin memamerkan mainannya.


"Opa... Mama.... tadi Papa membelikanku lego. Kami akan membangun gedung perusahaan yang tinggi bersama."


"Wah, pasti keren sekali. Nanti kalau sudah besar Daniel bisa jadi bos dan punya banyak perusahaan."


"Opa... bantu Daniel buka ini, ya. Aku mau main dengan Opa dulu."


"Hm, baiklah." Reonal membantu Daniel membuka kotak mainannya.


"Papa... bantu pasang tameng Captain America... ini susah." keluh Dean.


Ayash langsung menerima mainan Dean dan mencoba memasangkannya. Sementara, Maya sibuk menasehati agar Livy tidak berusaha merusak mainannya. Sejak tadi Livy sibuk membolak-balik mainan boneka Barbienya.


"Ayash, pulanglah ke Indonesia. Mama dan Papa ingin tinggal bersama cucu di mansion. Terlalu melelahkan kalau mama harus datang ke sini hanya untuk melihat cucu-cucu kesayangan."


"Tapi aku juga sibuk mengurus pekerjaan di sini, Ma." Ayash masih berusaha memperbaiki mainan Dean yang sedikit rusak.


"Itukan perusahaan Irgi."


"Sama saja, Ma. Kami sudah bekerjasama. Jadi, perusahaan Irgi juga perusahaanku dan perusahaanku juga perusahaan Irgi."


"Papamu juga punya banyak perusahaan yang harus diurus. Kamu tidak mau membantunya?"


"Di sana kan ada Kak Arga."


"Arga juga sudah sibuk mengurusi perusahaannya sendiri."


"Papa punya banyak orang kepercayaan. Seharusnya Papa mulai mempercayakan perusahaannya pada mereka. Aku yakin kok mereka loyal dengan Papa."


"Orang lain tetap orang lain, Ayash. Beda jika dikelola keluarga sendiri."


"Karyawan juga bagian dari keluarga, Ma."


"Ah! Susah bicara denganmu. Kamu memang tidak pernah mau menuruti keinginan mama. Kamu tidak pernah menyayangi mama."


"Mungkin jika Mama bisa merubah sikap pada Daniel aku bisa mempertimbangkan untuk kembali ke Indonesia."


"Oh, Ya Tuhan.... Jadi kamu pikir mama tidak menyayangi Daniel gara-gara tadi? Mama lupa, Ayash... mama lupa, bukan sengaja. Mama juga sayang dengan Daniel."


"Iya, Ma. Maafkan aku. Nanti aku bicarakan lagi dengan Prita."

__ADS_1


Klek!


"Aduh, Livy... kenapa mainannya dipatahkan.... " keluh Maya.


Sementara Livy hanya ketawa-ketawa setelah berhasil mematahkan satu tangan bonekanya. Dia seakan bangga pada dirinya karena usahanya berhasil.


*****


"Sayang.... "


"Hm?" Ayash mengeratkan pelukan pada tubuh istrinya.


"Apa kita berterus terang saja pada Mama kalau Daniel sebenarnya.... "


"Ssttt... sudah, hentikan. Aku tak mau mendengarnya. Daniel anakku, Prita."


Ayash membalikkan tubuh Prita yang semula membelakanginya. Kini, keduanya berbadap-hadapan saling menatap. Ayash menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah Prita. Wajah itu seperti menampakkan rasa khawatir yang berlebihan.


"Sikap Mama masih seperti itu sejak Daniel lahir."


"Kamu lihat sendiri kan, kita tidak bilang saja Mama seperti itu. Apalagi kalau kita bilang yang sejujurnya. Aku takut Mama akan semakin tidak menyukai Daniel."


"Mama bilang akan merubah sikapnya kalau kita mau pulang ke Indonesia. Bagaimana menurutmu?"


"Papa juga bilang begitu padaku."


"Aku terserah padamu saja. Kalau kamu lebih nyaman di sini, kita akan tetap tinggal di sini. Kalau perlu kita usahakan untuk mengurus pindah kewarganegaraan."


"Kamu yakin?"


Prita terdiam sejenak. Sebenarnya dia lebih suka tinggal di Singapura. Ia bisa jauh dari segala masa lalu. Bertemu dengan Bayu sekali saja sudah membuat perasaannya kacau apalagi jika ia kembali ke Indonesia, kemungkinan besar dia akan lebih sering bertemu Bayu. Terlebih Bayu sudah tahu keberadaan Daniel. Mungkin saja sewaktu-waktu Bayu akan mengambil Daniel darinya.


Prita tak mampu menceritakan pertemuannya dengan Bayu. Dia juga tak bisa mengatakan kalau Daniel sudah beberapa kali menghabiskan waktu bersama ayah biologisnya.


"Kamu masih takut menghadapi masa lalumu, kan? Kalau begitu kita tetap di sini. Aku juga masih sanggup menghidupi kalian dengan usahaku sendiri."


Prita meletakkan telapak tangannya di dada matanya menatap penuh kesungguhan, "Aku tidak apa-apa. Aku sudah siap kembali ke Indonesia."


Ayash menggenggam tangan Prita, "Apa hidup denganku terasa berat?"


Prita menggeleng, "Kamu suami terbaik untukku. Justru mungkin aku yang yang membuat hidupmu jadi sulit. Aku datang di kehidupanmu membawa banyak masalah dan mau tak mau kamu ikut kesulitan karena aku."


"Jangan berkata seperti itu. Kehadiranmu seperti malaikat kebahagiaan untukku. Aku bahagia sekali bisa menikah denganmu, memiliki tiga anak yang lucu-lucu. Hidupku terasa sempurna dengan kehadiranmu."


"Aku harap kita akan terus bertahan walaupun sulit dan mungkin Mama akan menjadi penghalang terbesar dalam rumah tangga kita. Kita harus tetap menghormati Mama walau bagaimanapun sikapnya. Bukan berarti aku membenarkan perbuatannya, tapi beliau tetaplah orang tua kita."


"Iya, aku tahu."


"Maaf ya, hari ini kamu pasti sedih karena sikap Mama."

__ADS_1


"Tapi kamu bisa memperbaiki keadaan. Terima kasih sudah membuat Daniel selalu tersenyum."


"Itu sudah tugasku menjadi ayahnya. Aku janji akan selalu menjaga senyuman di wajah Daniel."


"Ah... Daniel beruntung sekali memiliki ayah terbaik sepertimu." ucap Prita sembari melabuhkan pelukan ke tubuh Ayash.


"Ngomong-ngomong, katanya Irgi mau menikah dengan Raeka tiga bulan lagi."


Prita terkejut, Irgi tak pernah membahas hal itu dengannya. Terakhir Irgi curhat, katanya dia belum bisa menikahi Raeka karena kakak kedua Raeka belum menikah jadi Raeka belum boleh menikah juga.


"Kapan dia bilang seperti itu?"


"Kemarin dia meneleponku. Memangnya dia tidak cerita padamu?"


"Tidak.... "


"Kok aneh, apa kalian sedang bertengkar?"


Prita menggeleng, ia rasa Irgi juga jadi jarang menghubunginya entah karena apa. Mungkin dia sedang sibuk dengan pekerjaannya jadi tak sempat meneleponnya.


"Biasanya Irgi selalu terbuka padamu. Sekarang malah dia mengatakan hal penting itu padaku."


"Apa Rafa kakaknya Raeka sudah menikah?"


"Sepertinya belum. Aku tidak mendapatkan undangan pernikahan dari keluarga Wijaya seperti saat Regi dan Reyhan menikah. Aku rasa dia belum mau menikah."


"Kata Irgi, Raeka belum boleh menikah sebelum kakak-kakaknya menikah semua."


"Hah, aturan macam apa itu? Bisa jadi perawan tua si nenek lampir. Lalu apa maksudnya Irgi bilang tiga bulan lagi dia akan menikahi Raeka? Apa mereka mau kawin lari?"


"Hahaha... kamu ada-ada saja. Bisa diusir dari Indonesia kalau Irgi berani melakukan itu pada putri kesayangan Tuan Wijaya."


"Irgi punya nyali yang besar untuk berhubungan dengan keluarga Raeka."


"Dari dulu dia memang seperti itu. Percaya pada prinsipnya dan tidak memandang hal lain sebagai pertimbangan selain apa yang ia yakini."


"Ah! Kenapa kita terus membahas hal-hal yang tidak perlu. Kita harus segera tidur agar besok tidak kesiangan."


"Tidur? Bagaimana kalau kita melakukannya sekali?" Ayash memberi isyarat pada Prita dengan mengusapkan jarinya pada bibir Prita.


"Mama Papa menginap di sini. Tidak enak kalau besok kita sampai telat bangun."


"Sekali saja.... "


Prita tak akan percaya kalau Ayash benar-benar menginginkannya sekali. Dia menggeleng.


"Please... kali ini benar-benar sekali."


"Kamu pasti akan melakukannya semalaman."

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab kalau sampai membuatmu telat bangun pagi."


Ayash memaksa. Dia langsung melancarkan serangannya yang membuat Prita menyerah. Ayash tak akan membuatnya terlelap semalaman.


__ADS_2