ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kedatangan Bapak Jendral


__ADS_3

Halo.... Maaf ya, pasti banyak yang tanya kenapa akhir-akhir ini authornya tidak up seperti biasanya. Jujur di real life authornya lagi sibuk sama pekerjaan lain, jadi waktu untuk menulis berkurang. Tapi, author selalu usahakan untuk update setiap hari kok. 👌🏻


-----------------------------------xxx-------------‐----------------------------


"Yah.... tolong lepaskan Bayu. Dia sudah banyak membantu dan kita juga pernah mengatakan ingin membebaskannya. Ini sudah cukup lama dia harus bertahan di dalam penjara." pinta Bara dengan nada penuh harap.


Bayu mendatangi kantor ayahnya untuk mencoba mendiskusikan tentang penbebasan Bayu. Dia khawatir, Bayu nantinya akan nekad melarikan diri kalau masih lama dia harus mendekam di dalam penjara tanpa bisa melakukan apapun. Apalagi, Fredi, anak buah Bayu sudah tahu dimana Bayu ditahan.


"Kita tunggu saja keputusan dari Bapak Jendral. Kata Beliau, Bayu bisa dibebaskan setelah operasi pemberantasan gerakan separatis sudah tuntas."


Pak Inu bingung, anaknya ikut-ikutan mendesaknya untuk membebaskan Bayu, sama seperti yang pengacara itu lakukan, Harlan. Namun, sebagai bawahan, Pak Inu harus tetap mematuhi atasanya.


"Aku tidak yakin setelah itu mereka akan mau membebaskan Bayu. Itu sama saja dengan ucapan saat keberhasilan penangkapan massal pengedar narkoba waktu itu."


"Kamu jangan terlalu banyak ikut campur, Bara. Ini urusan orang-orang atas."


Bara mengeratkan genggaman tangannya menahan emosi, "Yah, jangan sampai orang jahat yang sudah bertaubat jadi kembali jahat lagi gara-gara polisi."


"Dan aku tidak mau ayah jadi berubah hanya karena jabatan. Tolong, bersikaplah seperti apa yang selalu ayah nasihatkan padaku." lanjut Bara.


Inu terdiam sesaat. Jabatan yang didudukinya saat ini memang belum membuatnya berubah menjadi orang lain. Namun, jujur ia akui bahwa semakin tinggi jabatan, semakin besar pula tekanan yang ia dapatkan. Ia khawatir tidak bisa mempertahankan prinsip yang selama ini dipegang teguh hanya demi jabatannya.


"Ayah juga memikirkan tentang temanmu, Bara. Akan ayah usahakan untuk segera melepaskannya."


"Sekarang, kembalilah bertugas. Bukankah sebentar lagi rombongan dari Badan Intelejen dan Tentara Nasional akan segera datang."


Bara memberikan hormat sebelum meninggalkan ruangan ayahnya. Dia sudah malas untuk lebih lama berbicara dengan ayahnya sendiri yang tak akan mau mendengarkannya. Ia kembali lagi ke tahanan yang letaknya persis bersebelahan dengan kantor ayahnya.


Hari ini beberapa orang tim intelejen dan tentara akan datang berkunjung. Selain untuk menemui Bayu, juga akan memberikan sedikit motivasi kepada para tahanan agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah keluar dari sana. Memang, acara bulanan yang rutin diselenggarakan di sana biasanya diisi oleh lintas profesi, mulai dari pemuka agama, artis, motivator, pengacara, atau yang lainnya.


Setibanya kembali di sana, mobil yang membawa rombongan itu terlihat sudah sampai di halaman. Bara kemudian berlari untuk bergabung dengan teman-temannya yang lain. Tampak orang pertama yang turun dari dalam mobil adalah Bapak Jendral yang ayahnya sebutkan tadi. Orang yang menunda-nunda pembebasan Bayu. Entah apa motifnya, Bara sendiri tidak suka dengan keputusan Beliau.


Rombongan disambut hangat oleh kepala lapas, mereka didampingi menuju tempat ruang perjamuan yang sudah tersedia banyak hidangan. Bayu juga tampak sudah ada di sana, duduk sendiri di pojokan seperti orang yang tidak tertarik dengan kemeriahan acara itu.


Bara mendekatinya lalu duduk di sebelahnya.


"Darimana?" tanya Bayu.


"Dari kantor ayahku."


"Oh.... Pantas sejak tadi aku tidak melihatmu."


"Ngomong-ngomong, tumben mereka sendiri yang datang ke sini. Biasanya aku yang diseret ke tempat pertemuan rahasia."


"Mereka bukan datang untuk khusus membahas tentang rencana itu, tapi untuk memberi motivasi kepada para tahanan. Sekalian menemuimu aku rasa."


"Hah! Motivasi apa yang bisa diberikan dari orang yang tidak pernah dipenjara?" guman Bayu menertawakan perkataan Bara.


"Lagipula, mantan tahanan memangnya bisa jadi polisi atau tentara? Sungguh konyol."


"Setidaknya termotivasi untuk tidak kembali ke tempat ini. Karena tinggal di tempat seperti ini, bukan sesuatu yang menyenangkan. Bukankah begitu?"


Bayu merasa tersindir oleh ucapan Bara.


"Sepertinya kapan-kapan kamu cocok untuk sharing pengalaman setelah keluar dari sini."


"Kamu sedang mengejekku kan?"


"Memangnya kamu merasa aku ejek?"


"Sialan!"


Hubungan antara dua orang yang memiliki profesi yang sangat berkebalikan itu, terlihat sangat akrab. Perbedaan usia juga tidak mengurangi keasyikan hubungan pertemanan mereka.


"Aku beri tahu sesuatu."

__ADS_1


"Apa?" tanya Bara penasaran.


"Tempat yang katanya pengamanannya ketat dan sulit ditembus oleh tahanan ini, punya beberapa celah bagi mereka untuk kabur. Termasuk aku."


"Hah! Tidak mungkin." Bara menertawakan ucapan Bayu. "Sudah puluhan tahun, sejak tempat ini dibangun, belum ada tahanan yang berhasil kabur dari sini. Penjagaan sangat keta, CCTV juga tersebar di setiap sudut."


"Memang ya, logika orang-orang yang jadi penegak hukum tidak ada yang sampai jika disuruh memikirkan ide gila para kriminal."


"Ya, coba saja katakan. Aku ingin dengar dari sudut pandang seorang kriminal sepertimu, dimana letak kelemahan penjara ini. Kalau ucapanmu tidak terbukti, aku pastikan kamu akan lebih lama lagi tinggal di sini."


"Oh, ya? Bagaimana kalau ucapanku benar? Apa kamu bisa membebaskanku?" tanya Bayu sembari terkekeh.


Bara tidak bisa menjawab. Tentu saja dia tidak memiliki hak maupun kuasa untuk membebaskan Bayu.


"Baiklah, tidak usah dipikirkan. Aku tahu kamu tidak bisa membebaskanku. Aku tetap akan mengatakannya karena aku orang yang sangat baik kepada teman."


"Pernah mengecek kamar mandi tahanan?"


"Pernah." jawab Bara singkat.


"Apa ada yang aneh?"


"Tidak ada."


"Teliti plafonnya. Di penjara sebelah utara, sebenarnya ada plafon kamar mandi yang terbuka. Aku pernah naim ke atas. Di sana juga ada beberapa lembar kain sarung yang sudah dibuat seperti tali."


"Aku rasa ada yang berencana ingin kabur lewat atas."


"Kamu yakin?" Bara menatap serius ke arah Bayu.


"Apa aku terlihat sedang bercanda? Kamu bisa mengeceknya sendiri."


"Ah, ada satu lagi. Dinding di dekat gudang pojok belakang, sudah mulai berlubang. Tapi, tidak terlalu kelihatan karena tertutup oleh tumpukan sampah. Kalau tidak segera ditambal, aku rasa lubang itu akan semakin lebar dan bisa digunakan untuk melarikan diri."


"Supaya aku bisa menceritakan ini padamu."


Alasan sebenarnya Bayu meluangkan waktu melihat-lihat setiap sudut penjara, sebenarnya untuk mencari jalan kabur. Ya, kadang terbersit di pikirannya untuk kabur, sama seperti yang beberapa tahanan pikirkan sampai konsisten melubangi dinding sedikit demi sedikit dengan alat seadanya. Namun, Bayu sendiri tak lantas menuruti keinginannya untuk kabur. Ia masih ingin mempercayai Bara dan Pak Inu.


"Bayu.... "


Perbincangan Bayu dan Bara berhenti ketika seseorang memanggil nama Bayu. Dia adalah Bapak Jendral itu. Mereka berdiri untuk menghormati kehadiran tamu kehormatan itu.


"Apa harimu menyenangkan?" tanyanya.


Pertanyaan menyakitkan yang seharusnya tidak Bayu dengar. Ia hanya bisa tersenyum. Mana ada orang senang tinggal di penjara, kecuali dia seorang pengangguran yang tidak punya keluarga, mau makan tidur gratis, baru cocok hidup di penjara.


"Ah, kamu Bara kan ya, putra bungsu Pak Inu."


Bara mengangguk.


"Bayu, anak buahku masih dalam misi pengejaran kelompok radikal. Terima kasih atas informasi yang kamu berikan, juga obat itu. Apa yang kamu lakukan sudah sangat membantu negara ini."


"Setelah semuanya selesai, kamu bisa menikmati kebebasanmu lagi."


Orang itu tersenyum sembari menepuk-nepuk bahu Bayu. Kalau saja mereka hanya berdua dan tidak ada yang tahu, mungkin Bayu sudah membantingnya. Dia paling benci melihat orang seolah merendahkannya.


"Pak, silakan menuju lapangan tengah. Tempat sudah kami siapkan." ucap salah seorang polisi.


"Oh, sudah waktunya, ya."


"Kalian berdua juga ikut denganku, kita bertemu dengan para tahanan sebentar." ajaknya.


Beberapa orang mengawal jendral itu menuju lapangan tengah. Bayu dan Bara mengikutinya dari belakang. Fi area lapangan, seluruh tahanan sudah berkumpul dan siap mendengarkan motivasi darinya.


Bapak jendral naik panggung, memberi sambutan yang disambut tepuk tangan meriah dari para tahanan. Hanya sekitar lima belas menit Beliau berbicara dan memberikan motivasi. Setelah itu, ia kembali menuruni panggung tempatnya berbicara.

__ADS_1


Sebelum pergi, Beliau menyempatkan diri menyapa beberapa tahanan yang berada dekat dengan area panggung, menanyakan hal-hal sepele untuk basa-basi, lalu melakukan jabat tangan.


Mata elang Bayu menatap tajam pada para tahanan yang tampaknya begitu antusias bersalaman dengan jendral. Sampai membuat sipir penjara sedikit kewalahan membendung tahanan yang mulai berdesakan hanya untuk salaman.


"Awas!" teriak Bayu ketika melihat seorang tahanan membawa benda tajam di tangannya sedang bergerak hendak melukai jendral.


Suasana semakin tidak kondusif. Banyak tahanan yang memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang polisi. Bara dan jajarannya maju untuk menenangkan tahanan. Sementara, Bayu berlari ke arah jendral itu, menariknya dari kerumunan dan membawanya berlari.


Orang yang mengincar jendral masih mengikuti. Bayu menghalang-halangi agag benda tajam itu tidak melukai siapapun. Ia terpaksa berkelahi menghadapi tahanan yang ternyata sangat pandai bela diri.


Sembari menghadapi Bayu, dia juga terus berusaha untuk menyerang jendral. Gerakannya sangat cepat dan cekatan. Dua kali benda itu berhasil melukai jendral di bagian bahu dan pahanya. Sementara, Bayu yang terus mencoba menghalaunya, juga terkena goresan di bagian lengannya.


Bayu semakin agresif setelah terluka. Ia mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk menghadapi orang itu secara habis-habisan. Pada akhinya, ia berhasil melumpuhkan tahanan tersebut.


"Jendral bang*sat! Baji*ngan! Pemerkosa! Sampai matipun aku akan terus mengejarmu untuk membunuhmu. Aku tidak akan mengampuni perbuatanmu kepada putriku! Bang*sat!" teriaknya.


Beberapa orang sipir penjara berlari menghampiri Bayu. Ia mengambil alih orang tersebut untuk membawanya kembali ke dalam ruang tahanan.


"Tidak pantas kamu jadi seorang jendral! Manusia laknat!"


Orang itu masih berteriak-teriak memaki jendral. Bayu sendiri tak tahu apa masalah orang itu dengan jendral. Tapi, tangannya jadi terkena sayatan dan mengeluarkan darah. Ia memungut benda yang dijadikan lelaki itu sebagai senjata. Ternyata sebuah sendok yang ujungnya diasah hingga sangat lancip menyerupai jarum.


Petugas sipir sudah mulai bisa membuat suasana kembali kondusif. Sementara, beberapa polisi yang lain sibuk mengerumuni jendral untuk menanyakan tentang keadaannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Bara.


"Tidak apa-apa, hanya tergores saja." Bayu memperlihatkan lengannya yang terluka.


"Ah, dia menggunakan alat ini." Bara mengambil sendok modifikasi itu dari tangan Bayu. Ia menelitinya dengan saksama, ternyata hasil karya tahanan itu cukup kreatif.


"Apa kamu mengenal orang yang berniat mencelakai jendral?"


"Dia mantan sopir Beliau." kata Bara.


"Kenapa bisa ditahan?"


"Dia mencuri perhiasan di rumah Bapak Jendral."


Bayu mengernyitkan dahinya. Sungguh aneh, jika dia yang mencuri, kenapa sepertinya dia yang terlihat sangat marah kepada Beliau, Seharusnya Bapak Jendral yang emosi padanya.


"Apa kamu dengar ocehannya tadi?"


"Sudah, jangan didengarkan. Pikirannya memang jadi terganggu setelah masuk penjara."


"Lebih baik kamu mengobati lukamu dulu, aku takut nanti infeksi. Ayo aku antar."


Sepertinya Bara tak mau membahas hal itu lebih lanjut. Ia lebih fokus pada luka Bayu yang masih tampak mengucurkan darah.


"Kamu tidak perlu mengantarku, lebih baik kamu mengecek setiap sudut penjara ini. Aku yakin setelah kerusuhan tadi, semakin banyak yang berniat untuk melarikan diri."


"Ya, aku sudah menyuruh sipir penjara untuk mengecek tempat-tempat yang kamu tunjukkan."


"Kenapa kamu malah menemaniku seperti ini? akamu tidak mau ikutan mengambil hati Bapak Jendral itu?"


"Hahaha.... Kamu adalah jendralku."


"Aku lebih takut kamu kenapa-napa daripada Beliau. Kamu kan informan penting."


Bara membawa Bayu masuk ke ruang kesehatan. Di sana, ada beberapa tenaga medis dan polisi yang sedang mengobati Bapak Jendral. Sementara, Bayu hanya diurusi oleh Bara. Sungguh, pemandangan yang sangat timpang. Satu orang sangat dikhawatirkan banyak orang dan satu lainnya seperti manusia transparan yang tak terlihat, tak ada yang peduli. Hanya Bara yang memperdulikannya.


Bara membersihkan luka Bayu dengan cairan antiseptik, "Jangan menangis, ini hanya luka gores saja, tidak dalam sama sekali." ejek Bara.


"Hahaha.... Sialan!" umpat Bayu.


Bara melontarkan ejekan itu karena beberapa kali mendengar suara erangan jendral saat lukanya diobati. Padahal, luka yang jendral derita memang lumayan parah. Tusukannya sangat dalam sampai dagingnya seperti terkoyak. Luka itu pasti perlu dijahit. Berbeda dengan luka Bayu yang hanya perlu dibalut dengan perban.

__ADS_1


__ADS_2