ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Kemoterapi untuk Daniel


__ADS_3

Ayash duduk di ruangan Dokter Hansen. Beberapa saat yang lalu, Beliau memintanya untuk datang ke ruangannya karena ada hal penting yang harus ia bicarakan.


Perasaan Ayash selalu buruk saat Dokter Hansen ingin menemuinya. Dia pasti akan menjelaskan tentang kondisi Daniel padanya. Setiap kali datang, ia harus menyiapkan mental untuk mendengarkan apapun yang akan dokter kemukakan.


Ayash lebih memilih dirinya yang bertemu dengan dokter. Prita tidak akan sanggup jika mendengar hal-hal yang kurang baik. Sejak Daniel sakit, sepertinya Prita sudah tidak pernah tersenyum. Dia sering menangis dan terkadang jatuh pingsan. Wanita yang biasanya sangat kuat itu kini berubah menjadi wanita lemah yang cengeng.


"Ayash, kondisi Daniel semakin memburuk. Jika tidak segera dilakukan tindakan, kondisinya bisa lebih buruk lagi."


Ayash menarik nafas dalam-dalam. Sudah ia duga percakapan kali ini akan membahas hal itu. "Apa tidak ada obat-obatan yang lebih bagus, Om? Berapapun harganya tidak masalah."


"Obat-obatan yang selama ini diberikan hanya untuk meringankan gejalanya saja dan menekan penyakitnya memburuk. Tapi, untuk membunuh sel-sel kankernya perlu dilakukan tindakan kemoterapi."


Mendengar kata kemoterapi, Ayash kembali terbayang saat Daniel pertama kali menjalani proses aspirasi tulang belakang. Anak sekecil itu harus merasakan jarum sebesar ujung pena menusuk ke dalam kulit dan menembus tulang punggungnya. Kemudian, isi dari sumsum tulang akan disedot melalui jarum untuk diperiksa. Ketika jarum yang menembus tulang itu ditusukkan dan ditarik, Daniel menangis. Suara tangisannya membuat Ayash yang kala itu menemani bahkan merasa tidak tega untuk melihatnya. Selama beberapa hari setelah prosedur itu, Daniel masih mengeluh area bekas suntikan terasa nyeri. Ayash tak bisa membayangkan jika Daniel nantinya harus menjalani prosedur kemoterapi. Pasti dia akan lebih kesakitan lagi.


"Ayash, dengan kemoterapi pengobatan akan lebih efektif. Obat-obatan yang diberikan dalam kemoterapi melalui intravena akan bekerja di seluruh sel tubuh tanpa terkecuali. Dengan ini bisa membunuh sel kanker yang telah menyebar ke seluruh tubuh."


"Aku tidak tega melihat Daniel kesakitan, Om."


"Dia akan lebih kesakitan jika kondisinya kita biarkan seperti ini."


"Aku masih tidak tega."


"Ayash, Daniel itu anak yang kuat. Kamu harus percaya padanya." Hansen tetap meyakinkan Ayash untuk mengambil keputusan terbaik.


"Lagipula, kemoterapi tidak memberikan rasa sakit bila diberikan secara hati-hati dengan cara yang benar. Biasanya, jika dalam proses kemo pasien merasakan nyeri, terbakar , demam menggigil atau kedinginan, dia bisa mengatakan hal itu kepada dokter atau perawat di ruangan kemoterapi. Pengobatan sebagian besar dilewatkan pembuluh darah layaknya infuse biasa, sehingga nantinya Daniel bisa melewatkan waktu kemoterapi sambil tidur, membaca, bermain, atau berbincang-bincang dengan temannya di ruangan kemo. Pasien leukemia di sini bukan hanya Daniel. Ada beberapa anak lain yang memiliki penyakit sama dengannya. Daniel pasti akan senang jika menjalani kemoterapi bersama teman-temannya."

__ADS_1


"Berarti proses kemoterapi Daniel tidak sendirian?"


"Iya. Ada anak-anak lain yang sudah rutin menjalani kemoterapi mereka."


"Kamu dan Prita bisa bergabung dengan komunitas orang tua yang memiliki anak penyitas leukemia agar lebih banyak tahu tentang penyakit ini dan kalian bisa saling menguatkan."


"Jika kamu sudah bergabung dengan mereka, aku yakin kamu akan lebih bersyukur. Banyak di antara orang tua yang anaknya menderita leukemia tapi memiliki keterbatasan ekonomi. Sedangkan kamu, ekonomi berkecukupan. Seharusnya semangatmu untuk kesembuhan anakmu lebih tinggi."


"Kira-kira Daniel butuh berapa kali kemoterapi sampai sembuh, Om?"


"Aku sudah pernah bilang, penyakit ini bisa memerlukan waktu yang panjang untuk proses penyembuhan. Aku tidak bisa memastikan berapa sering dan berala lama seorang pasien menjalani kemoterapi. Semua disesuaikan dengan jenis kanker dan kondisi kesehatan pasien."


"Apa dengan ini Daniel benar-benar bisa disembuhkan?"


"Lalu apa yang harus kami persiapkan sebelum dan selama proses kemoterapi nanti?"


"Selalu jaga kebersihan. Seorang penderita kanker yang sedang menjalani kemoterapi sebagian besar dapat menyebabkan penurunan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi dalam periode waktu tertentu. Cara terbaik untuk menghindari infeksi adalah dengan cuci tangan baik untuk penderita atau orang yang kontak dengan penderita."


"Obat-obat kemoterapi memerlukan waktu kurang lebih 48 jam untuk membuang atau mengurangi kekuatan obat yang beredar dalam tubuh, lewat air kencing, berak dan cairan tubuh lainnya, sehingga hati-hati menggunakan toilet bersama, cuci tangan dengan baik setelah digunakan di toilet. Hati-hati dengan semua perlengkapan atau pakaian yang sekiranya terkena cairan tubuh penderita dalam kurun waktu tersebut. Kurangi kontak pasien dengan orang asing."


Ayash teemenung sejenak. Hal yang paling ditakuti penderita dalam menjalani kemoterapi adalah efek samping yang mungkin timbul. Obat-obat kemoterapi meskipun bertujuan membunuh sel kanker yang tumbuh dengan cepat, mereka dapat berefek pada sel normal. Walaupun efek samping ini tidak seburuk yang dibayangkan, sering hal ini menakutkan penderita. Seperti rasa nyeri, mual, muntah, hingga masalah kebotakan rambut.


"Om.... apa benar kemoterapi bisa menyebabkan kebotakan?"


"Hahaha.... masa hal sepele seperti itu kamu permasalahkan? Rambut yang rontok kan bisa tumbuh lagi. Yang penting fokus dulu menghilangkan sel-sel kankernya. Memang sebagian besar yang menjalani kemoterapi mengalami kebotakan. Tapi ada juga yang tidak mengalaminya."

__ADS_1


Akhirnya Ayash menyetujui saran dokter untuk segera memberikan kemoterapi kepada Daniel. Dia berjalan lunglai menyusuri koridor yang sepi sambil sesekali menghela nafas.


Saat baru memasuki ruangan kamar Daniel, dia sudah disambut oleh sura tinggi mamanya. Maya ada di sana sedang marah-marah.


"Prita, anakmu bukan hanya Daniel. Kalau kamu tidak sanggup memberikan perhatian kepada Dean dan Livy juga, biar aku yang mengurus mereka. Bisa-bisanya kamu membiarkan Dean sampai terluka seperti ini."


Maya marah-marah sambil memeluk Dean. Selama beberapa hari ia di Kota J dan saat pulang cucunya masuk rumah sakit dengan tangan terluka. Tentu saja ia sangat marah. Prita hanya fokus dengan kondisi Daniel. Anaknya yang lain sama sekali tidak diperhatikan.


"Ayash sudah mahal-mahal keluar banyak uang untuk perawatan anakmu. Tapi anak kandung Ayash sendiri kamu telantarkan? Kamu sungguh tidak tahu diri."


"Mama cukup!" bentak Ayash.


Dia langsung berjalan menghampiri Prita dan memeluknya. Wanita itu sedang sendirian menjaga kedua anaknya ketika ia masuk ruangan Dokter Hansen. Ia tidak menyangka jika mamanya akan datang dan kembali membuat Prita menangis.


"Terus saja kamu bela dia. Wanita aneh yang malah lebih memperhatikan anaknya dengan lelaki lain daripada memperhatikan anakmu."


"Mama kalau tidak bisa bicara yang baik-baik lebih baik pulang dan jangan pernah datang lagi kesini."


"Kamu mengusir mama?"


"Mama juga tidak mau kesini kalau bukan karena Dean. Nanti, setelah Dean sembuh, akan mama ajak dia dan Livy tinggal bersama mama di mansion. Kalian benar-benar tidak becus mengurus mereka."


"Semua karena anak haram itu."


"Siapa yang anak haram?"

__ADS_1


__ADS_2