ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Let's Divorce


__ADS_3

Beberapa bulan menjalani kemoterapi, kondisi Daniel belum juga membaik. Tubuhnya terlihat kurus, rambutnya rontok, raut wajahnya pucat dan sering merasa lemas. Bagi Ayash dan Prita yang merawatnya setiap hari ikut merasa frustasi. Pengobatan yang begitu menyakitkan harus Daniel lalui tanpa menunjukkan hasil yang signifikan. Rasanya hampir menyerah dan putus asa.


Transplantasi sumsum tulang belakang yang diharapkan bisa menyembuhkan Daniel belum bisa dilakukan. Pihak rumah sakit belum menemukan pendonor yang memiliki kecocokan tinggi dengan Daniel. Hasil pemeriksaan sumsum anggota keluarga yang sudah dilakukan memang hasilnya ada sedikit kecocokan, namun presentase kecocokannya tidak bisa digunakan untuk tindakan transplantasi.


"Mencari sumsum tulang yang cocok juga bukan hal yang mudah, Yash. Kamu harus bersabar."


Dokter Hansen mencoba menenangkan Ayash yang emosi di ruangannya. Dia marah-marah dengan kemoterapi yang membuat anaknya tersiksa. Setiap kali setelah selesai kemoterapi, Daniel akan mual muntah dan kondisi tubuhnya menurun.


"Kamu pikir om tidak melakukan apapun? Om bersama rumah sakit ini juga sudah menghubungi pusat-pusat organisasi pendonor sumsum tulang belakang di seluruh dunia. Tapi memang belum ada yang cocok."


"Belum lagi, meskipun pendonornya sudah cocok juga masih sering terjadi penolakan di tubuh pasien terhadap sel-sel baru tersebut. Ada banyak pertimbangan yang harus kami pikirkan untuk keselamatan pasien. Metode ini tidak segamlang yang kamu bayangkan."


Ayash memegangi kepalanya. Semua hal membuatnya merasa stres dan tertekan. "Apa tidak ada pengobatan dengan cara lain yang tingkat keberhasilannya tinggi dan tidak menyakitkan? Aku sudah tidak tega melihatnya menderita seperti itu. Apalagi mendengar kabar jika anak yang menjalani terapi bersama Daniel ada yang meninggal. Aku tidak mau hal itu terjadi pada Daniel."


Dokter Hansen diam sebentar. Dia tampak berpikir lebih dulu sebelum memutuskan untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.


"Ada." katanya


"Tapi menurutku kamu tidak akan sanggup melakukannya untuk Daniel."


Dokter Hansen mulai menjelaskan jenis pengobatan yang ia rekomendasikan. Ayash tampak terkejut dengan apa yang disampaikannya. Beberapa kali ia mengepalkan tangannya sendiri sambil terus mengatur nafas.


Penjelasan yang diberikan membuat beban pikirannya bertambah. Ia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa demi Daniel. Apa yang dikatakan Dokter Hansen memang benar. Ayash merasa berat mendengarkan hal itu.


Dengan raut murung, ia keluar dari ruangan dokter Hansen. Ia mulai berjalan menyusuri lorong koridor yang selalu sepi. Terakhir kali ia tinggalkan, Prita masih menemani Daniel yang masih tertidur.


Ayash menghentikan langkah ketika sorot matanya melihat sosok Mama Maya sedang berjalan ke arah ruangan Daniel. Dia sudah merasakan firasat yang tidak enak. melihat mamanya ada di sana. Segera ia mempercepat langkah untuk mengejar mamanya.


Sementara, di ruangan Daniel ada Prita yang sedang berbincang-bincang dengan Bayu. Daniel masih tertidur karena mengantuk setelah semalaman tidak bisa tidur. Tadi malam Daniel mual muntah lagi.


"Kalau kondisinya masih seperti ini terus, lebih baik Daniel dibawa saja ke Singapura. Aku rasa rumah sakit di sana memiliki teknologi pengobatan yang lebih baik daripada di sini." usul Bayu.


"Masalah biaya pengobatan kalian tidak usah memikirkannya. Jika kalian tidak bisa mendampingi Daniel, aku juga siap mengurusnya sendiri."


"Aku.... "

__ADS_1


Brak!


Perkataan Prita terhenti mendengar suara pintu dibuka secara paksa dari luar. Mama Maya dengan langkah cepat memasuki ruangan. Raut wajahnya seperti menunjukan kalau dia sedang emosi. Wanita itu berjalan mendekat ke arah Prita.


Plak!


Tanpa disangaka-sangka, Mama Maya langsung mendaratkan satu tamparan keras ke pipi Prita. Bayu dan Prita terlihat terkejut. Entah angin apa yang membuat Mama Maya tiba-tiba melakukan hal itu. Matanya menatap nyalang pada Prita. Sepertinya Prita sudah melakukan suatu kesalahan yang sangat fatal.


"Mama!" pekik Ayash yang tadi berlari tergesa-gesa mengejar ibunya. Ia juga terkejut melihat Maya menampar Prita.


Belum sampai di situ, Maya mendorong tubuh Prita hingga jatuh ke lantai.


"Dasar wanita murahan!" serunya sembari memukuli Prita.


Ayash menarik mamanya menjauh dari Prita. Sementara, Bayu membantu Prita berdiri.


"Mama.... Mama kenapa? Daniel sedang istirahat, dia bisa terganggu dengan suara Mama kalau ribut begini."


Maya masih menatap penuh kebencian ke arah Prita. Apalagi di sampingnya ada Bayu membuat kemarahannya semakin bertambah.


"Dasar jal*ng!" umpat Maya.


Sebenarnya Bayu enggan pergi dari sana. Tapi, karena tatapan Ayash begitu serius, terpaksa ia menuruti maunya.


"Aku pulang dulu." pamitnya pada Prita.


Sudut bibir Prita berdarah. Dia masih belum paham mengapa Maya menamparnya. Mereka memang terkadang biasa ribut, namun Maya tak sampai main tangan dengannya.


"Aku tidak menyangka bisa memiliki anak bodoh sepertimu, Ayash. Istrimu membawa lelaki lain di depanmu kamu masih diam saja. Apa kami tidak punya harga diri?"


"Ma.... dia kesini hanya untuk menemui Daniel."


"Mana ada hal seperti itu! Jelas-jelas mereka dekat karena masih ada hubungan!"


"Ssst.... pelankan suara Mama."

__ADS_1


Maya kembali mengatur suaranya.


"Kamu lihat saja sendiri tingkah liar istrimu saat kamu tidak ada!"


Maya memberikan beberapa lembar foto kepada Ayash yang membuatnya langsung membulatkan mata. Foto-foto yang menampilkan momen saat Prita dan Bayu berpelukan, bahkan sampai berciuman bibir. Tangan Ayash gemetar melihatnya. Detak jantungnya semakin cepat dan nafasnya memburu. Ia tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya.


"Kamu baru tahu kan kalau istrimu seperti itu? Percuma memperlakukannya dengan baik jika dibelakangmu dia seperti itu."


"Mama mau pergi mengurus anak-anakmu. Kamu urus istrimu sendiri."


Setelah menimbulkan keributan, Maya melenggang pergi dengan terburu-buru. Ia hendak menjempit Dean dari sekolah.


"Ta.... " Ayash memberikan foto-foto di tangannya kepada Prita.


Prita ikut terkejut. Itu foto saat ia bersama Bayu di sebuah gang sepi setelah belanja dari swalayan. Bayu memang saat itu sempat menciumnya. Dia tidak tahu kalau ada orang yang mengambil foto mereka saat itu. Seketika ia merasa sedang tertangkap basah sedang selingkuh.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan." mata Prita mulai berkaca-kaca. Ia tahu ini adalah sebuah masalah besar.


"Aku tahu, apapu yang aku jelaskan, kejadian itu memang pernah terjadi. Tapi Bayu yang memaksa menciumku, bukan aku."


Ayash terkekeh, "Dan kamu tidak pernah mengatakan hal itu padaku?"


"Maafkan aku."


"Aku hanya merasa tidak perlu mengatakan aib yang bisa merusak rumah tangga kita. Aku hanya mencintaimu." Prita sudah merasakan firasat jika Ayash tak akan memaafkannya kali ini.


Ayash membalikkan tubuhnya membelakangi Prita. Ia mengambil nafas dalam-dalam seraya mengusapkan kedua telapak tangannya ke kepala. Sudut matanya menangkap sosok Daniel yang masih tertidur. Dia sangat menyayangi anak itu.


"Banyak sekali masalah yang datang dalam kehidupan kita. Aku rasa lebih baik kita bercerai saja."


Kata-kata perceraian yang Ayash lontarkan bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Biasanya Prita yang selalu meminta cerai, namun Ayash selalu menolaknya. Saat Ayash sendiri yang mengucapkan kata cerai, itu artinya Ayash sudah lelah dengan dirinya.


"Yash.... " Prita tidak menyangka jika hubungan rumah tangganya akan kandas hanya karena beberapa lembar foto.


Ayash berbalik, menampilkan senyum di sudut bibirnya. Ia berjalan memeluk Prita sembali membelai rambutnya.

__ADS_1


"Ta, ayo kita bercerai secara baik-baik. Mungkin ini akan menjadi jalan yang terbaik." bisiknya.


Tak ada yang bisa Prita lakukan selain menangis ketika Ayash membisikkan kata-kata itu. Walaupun Ayash mengatakan perpisahan secara baik-baik, rasanya tetap menyakitkan. Ia membalas pelukan Ayash dengan sangat erat sembari terus berderaian air mata.


__ADS_2