
1 bulan kemudian
Malam ini, seperti biasa Prita sedang menemani Daniel di ruang perawatan biasa. Setelah sebulan lamanya Daniel harus tinggal di ruangan khusus, akhirnya dia bisa dipindahkan ke ruangan biasa.
Rambut Daniel sudah mulai tumbuh, wajahnya cerah, dan badannya lebih berisi. Kata dokter, setelah evaluasi selama satu minggu, Daniel sudah boleh pulang dan dirawat di rumah.
Dean dan Livy ada di apartemen bersama Leta dan Alex. Bayu juga tidak ada karena sedang ada urusan. Mereka hanya berdua di sana. Hanya saja, di depan pintu ada dua orang penjaga yang selalu siaga di sana selama 24 jam.
"Mama.... Kalau aku sudah sembuh, kita mau pulang ke mana?"
Prita tersenyum mendengar pertanyaan Daniel, "Ya tentu saja kita akan pulang ke.... "
Prita tak melanjutkan ucapannya. Tiba-tiba ia teringat jika sekarang sudah bercerai dengan Ayash. Tidak mungkin dia menjawab akan kembali ke mansion atau ke apartemen milik Ayash. Meskipun Ayash pernah bilang apartemen itu boleh dia tempati, tapi dia sungkan kepada Andin. Seharusnya dia yang lebih berhak mendapatkan apartemen itu daripada dirinya.
"Kemana, Ma?"
"Ah, iya. Daniel maunya kita pulang kemana? Mama juga punya sebuah rumah yang dulu pernah mama tempati sebelum menikah."
"Daniel maunya ke apartemen Papa." tegas Daniel.
Prita hanya tersenyum.
"Bolehkan Daniel tinggal di sana lagi? Bersama Papa."
Prita mencoba mengalihkan perhatian ke tempat lain. Sebenarnya dia ingin semua anak-anaknya tetap tinggal bersamanya nanti. Tapi, Daniel, memang selalu menunjukkan kalau dia lebih menginginkan papanya daripada dirinya.
"Iya, Sayang. Nanti aku bilang ke papa kalau kamu mau tinggal di sana."
"Mama juga ikut, kan? Dean dan Livy juga?"
"Daniel, kamu kan sudah tau kalau mama dan papa sudah.... "
"Aku masih kecil, Ma. Aku tidak paham dengan keputusan kalian. Aku ingin kalian tetap bersama. Apa aku egois?"
Prita mendekat dan mengusap kepala Daniel. Dia tau, anaknya yang satu itu sebenarnya sudah mulai paham dengan apa yang terjadi pada kedua orang tuanya. Namun, sepertinya kali ini dia sedang mengekspresikan sisi egoisnya sebagai seorang anak.
"Mama minta maaf, tidak semua keinginanmu bisa mama penuhi."
__ADS_1
"Mama tidak marah kepada Daniel?"
"Tidak, kenapa mama harus marah?"
"Karena Daniel ingin Mama dan Papa kembali."
Prita kembali tersenyum, "Tidak, Sayang. Mama tau kamu sayang mama dan papa. Karena itu kamu ingin kami tetap bersama."
"Tapi Daniel, meskipun kami sudah tidak bersama, kamu masih bisa tetap menyayangi mama dan papa sama seperti dulu. Dan kasih sayang mama dan papa kepada Daniel juga tidak pernah berubah. Kita semua akan tetap saling menyayangi, meskipun mama dan papa sudah berpisah."
Prita mencoba menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana. Entah Daniel bisa memahaminya atau tidak.
"Tapi, Ma.... "
Brak!
Mereka berdua dikejutkan oleh suara keras dari arah pintu. Seseorang mendorong paksa pintu ruangan itu. Prita terkesiap melihat beberapa lelaki berpakaian serba hitam berbondong-bondong masuk ke dalam. Ia langsung memeluk tubuh Daniel dengan erat.
Degup jantung Prita berpacu tak berirama saking kaget dan takutnya. Ia teringat kembali peristiwa-peristiwa di masa lalu, dimana ketika banyak orang berpakaian seperti itu, maka akan ada hal buruk yang terjadi. Ia sangat takut apalagi hari ini mereka hanya berdua.
"Mama.... Takut." Daniel menyembunyikan wajahnya pada dada ibunya.
Meskipun Prita sendiri merasa ketakutan, tapi dia berusaha untuk tetap berusaha terlihat berani di depan anaknya.
Dua orang dari mereka membawa masuk penjaga yang sudah dilumpuhkan dan menidurkannya di atas sofa ruang tamu. Prita menghitung seberapa banyak orang yang masuk ke sana. Ada sekitar delapan orang. Salah satu di antaranya maju ke depan mendekati Prita.
"Apa Nona Prita masih mengenali saya?" tanya lelaki itu.
Tentu saja Prita tidak lupa. Lima tahun yang lalu wajahnya sering ia lihat karena selalu berada di sisi Bayu. Meskipun mereka hampir tak pernah bicara, tapi ia tau kalau orang itu cukup berbahaya. Bayu sering memerintahkannya untuk melakukan hal-hal kejam.
"Namamu Ben, kan?"
Orang itu tersenyum, ternyata Prita masih mengenalinya. Ben memang dulunya adalah asisten Bayu yang kemana-mana selalu menemani Bayu.
Prita tidak tau bagaimana ceritanya sehingga Ben sudah tidak pernah bersama Bayu lagi, dan sekarang Bayu memiliki asisten baru bernama Alex dan Fredi. Padahal, dulu mereka seperti duo yang tak terpisahkan. Apalagi Ben tangan kanan Bayu yang paling bisa di andalkan.
Hari ini, Ben datang menemui pacar seorang Bayu dan anaknya. Prita rasa dia tidak memberitahukan itu kepada Bayu. Dia jadi semakin curiga, jangan-jangan Ben bertindak sendiri. Apa sekarang mereka bermusuhan dan berniat menculik dia dan anaknya untuk mengancam Bayu?
__ADS_1
"Senang bertemu dengan Nona Prita lagi."
"Jika kamu mencari Bayu, dia tidak ada di sini." Prita akan lebih tenang jika Bayu ada bersamanya. Meskipun Bayu juga bahaya, setidaknya dia tau kalau Bayu tidak akan menyakiti dirinya dan anaknya.
"Saya tidak sedang mencari Tuan Bayu. Saya hanya ada sedikit urusan dengan Nona Prita dan Tuan Muda Daniel."
Prita semakin memasang sikap waspada. Ben memanggil anaknya 'Tuan Muda'? Berarti dia juga tau kalau Daniel adalah anak Bayu.
"Apa mau kalian?" Pertanyaan Prita mengandung nada kemarahan sekaligus ketakutan. Dia takut mereka akan mengambil Daniel. Daniel baru saja sembuh, apa yang akan mereka lakukan kepadanya?
"Nona Prita tidak perlu khawatir. Kami tidak bermaksud menyakiti Nona maupun Tuan Muda."
"Bagaimana aku bisa percaya? Kalian saja bisa melumpuhkan kedua penjaga itu." Prita tetap ngotot. Dia tak bisa percaya begitu saja terhadap orang seperti Ben.
"Kami terpaksa melakukannya agar tidak menimbulkan keributan yang lebih besar. Saya jamin, kalian akan tetap aman." Ben berusaha meyakinkan.
"Tunggu Bayu datang, baru kami akan ikut dengan kalian."
Ben menghela nafas, "Sebaiknya Nona Prita bersikap kooperatif daripada kami memakai cara paksa untuk membawa kalian berdua."
Ben mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya. Diarahkannya pistol itu tepat pada kepala Prita. Membuat wanita itu semakin ketakutan dan mempererat pelukannya.
"Nona Prita, ayo ikut bersama kami dengan tenang." ancam Ben.
Di bawah ancaman itu, terpaksa Prita menurut. Dibawanya Daniel dalam gendongannya. Ia berjalan mendekat ke arah Ben sambil tetap waspada.
Prita terus berkalan di samping Ben. Di belakang mereka, orang-orang itu setia mengikuti. Entah mengapa suasana lorong rumah sakit tampak sangat sepi. Seperti sengaja diseting seperti itu untuk memuluskan rencana mereka.
"Ben, tolong katakan kamu mau membawa kami kemana." Prita memberanikan diri untuk bertanya.
"Setelah sampai, nanti Nona Prita juga akan tahu."
"Kalian tidak bermaksud buruk pada anakku, kan?"
"Tidak, Nona.'
"Kalau kamu mungkin punya dendam padaku, cukup bawa aku saja. Biarkan Daniel tetap di kamarnya. Dia belum begitu pulih. Aku khawatir dengan kondisinya."
__ADS_1
"Nona Prita tidak perlu khawatir, besok kami akan mengantar kalian kembali."