
Hari pertama Bayu membawa istri dan anaknya pindah dari rumah milik Prita ke rumah baru yang belum lama ia beli. Rumah mewah bercat putih tulang itu berada di kawasan elit pusat Kota S dibeli seharga 50 miliyar. Terdapat 12 kamar tidur, 13 kamar mandi, basement untuk 10 mobil, kolam renang, lift, hingga AC sentral. Lokasinya sangat strategis, dan dikelilingi banyak fasilitas umum, mulai dari sekolah, pusat pendidikan, rumah sakit, hingga tempat ibadah.
Awalnya Bayu menginginkan Prita tinggal di mansionnya yang berada di tengah hutan agar tidak ada lelaki lain yang meliriknya. Tapi, mengingat Daniel dan Dean yang mulai bersekolah, terpaksa ia memilihkan rumah yang dekat dengan sekolahan.
Suasana di sana cukup tenang, tidak akan ada tetangga julid yang mengganggu. Kebanyakan pemilik rumah di daerah itu adalah orang-orang sibuk yang bahkan tidak akan sempat untuk menyapa tetangganya. Beberapa rumah juga sering koskng karena pemiliknya jarang pulang. Bayu harap tidak akan ada lelaki yang berani menggoda istrinya.
"Uncle, ayo masuk! Cepat lawan aku!" seru Dean.
Anak itu sangat senang dibuatkan sebuah arena tinju yang besar di ruang tengah. Dia sudah memakai sarung tinjunya sambil sesekali memukul samsak yang tergantung di atasnya.
"Uncle.... Cepat!" sekali lagi Dean berteriak tidak sabaran.
Dean memang berbeda. Dia anak yang lincah dan energik. Permainan yang disukainya lebih mengarah pada hal-hal yang melibatkan fisik.
"Lihat anakmu itu, sepertinya dia ingin jadi petinju."
Bayu berbicara pada Prita yang ada di sebelahnya. Dia sedang menemani Livy bermain menyusun balok.
"Tidak masalah kalau dia mau jadi petinju, yang penting jangan ajari dia untuk berkelahi."
"Memang apa salahnya berkelahi? Anak lelaki sudah kodratnya suka berkelahi. Biar mereka belajar agar tidak cengeng kalau sakit kena pukul atau terjatuh."
"Ah, sepertinya aku harus berhati-hati karena mulai sekarang kamu jadi ayah mereka."
"Hahaha.... Tenang saja, aku akan mengajarkan hal-hal yang baik pada mereka."
Bayu memeluk Prita dari belakang dengan mesra. Diciumnya ceruk leher yang beraroma wangi itu. Aroma yang mengingatkannya pada kenikmatan tubuh istrinya saat malam hari. Kalaulah mereka belum memiliki anak-anak, mungkin siang ini juga dia akan menggendong istrinya ke ranjang lalu bersenang-senang.
Semenjak malam pertama mereka sebagai suami istri, Bayu serasa kecanduan dengan istrinya. Dia jadi gampang tegang hanya dengan mengingat malam itu. Mungkin juga karena sudah lama tidak merasakan sek*s, makanya dia belum juga puas.
"Kira-kira kamu mau bulan madu kemana? Dubai? Jepang? Eropa?"
"Untuk apa membahas bulan madu? Kalau malam juga tidak pernah absen melakukan itu." gumam Prita.
Bayu harus terkekeh mendengar jawabannya, "Aku ingin suasana baru. Misalnya sesekali kita melakukannya di tempat terbuka yang sepi seperti di onsen atau di tepi pantai."
__ADS_1
Fantasi sek*s suaminya itu menyeramkan. Bisa-bisanya dia membahas hal seperti itu saat mereka bersama anak-anak. Bayu memang tidak tahu tempat. Prita hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sepertinya otakmu isinya hanya hal-hal seperti itu, ya? Aku yang mendengarnya saja malu."
"Ini kan salahmu."
"Kenapa jadi salahku?"
"Gara-gara kamu aku jadi berpikiran kotor terus sepanjang waktu." bisiknya.
Prita mengerjapkan matanya, "Memangnya apa yang aku lakukan?"
"Pura-pura tidak tahu.... Jepitanmu itu tidak bisa dilupakan, Sayang."
"Pokoknya kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuatku menegang terus seharian. Dandananmu terlalu sek*si."
Prita melihat pakaiannya sendiri. Baju kaos yang dipakaian terbilang longgar dan dia mengenakan celana panjang. Sek*si dari mana?
"Itu otakmu saja yang bermasalah, Pak Bayu. Bajuku ini sudah termasuk sangat tertutup, ya."
"Hm, begitu ya? Tapi di pandanganku kamu sek*si sekali. Aku jadi ingin memindahkanmu ke kamar sekarang." Bayu mencuri cium ke arah Pipi Prita. Itu membuatnya kegelian.
"Jadi kalau di dalam kamar aku boleh bersikap tidak normal, ya?"
Kesimpulan yang aneh. Prita memutar bola matanya malas.
"Ya, ya.... Terserahlah! Tapi tunggu nanti malam."
Bayu tersenyum. Sudut matanya menangkap tatapan Daniel yang mengarah padanya. Anak itu memandangnya dengan datar, seperti tak menyukai perlakuannya terhadap Prita.
Entah mengapa Daniel seperti itu sejak mereka menikah. Dia seakan memberi jarak dengannya, tidak mau diajak bicara. Sungguh aneh. Bayu lebih mudah dekat dengan Dean daripada Daniel. Padahal Daniel adalah anak kandungnya, seharusnya diantara mereka ada ikatan batin yang kuat. Tapi, dia seperti musuh kecil untuknya.
Saat menyadari tatapannya bertemu dengan Bayu, Daniel mengarahkan pandangannya ke tempat lain. Anak itu memang belum bisa menerima kehadiran Bayu. Meskipun dia ayahnya, tapi rasanya tetap aneh setiap melihat lelaki itu menempel pada mamanya.
"Uncle.... !" suara teriakan Dean memecah keheningan. Akhirnya Bayu melepaskan pelukannya pada Prita dan berjalan memasuki ring tinju. Anak itu akan terus berteriak-teriak kalau tidak dituruti kemauannya.
"Panggil aku 'daddy' kalau mau ditemani main."
__ADS_1
"Itu kedengaran aneh. Dean lebih suka memanggilmu Uncle."
Dean sudah memasang kuda-kuda dengan kedua tangan berada di depan dadanya. Seakan dia sudah siap untuk melayangkan pukulan kepada orang yang ada di depannya.
"Aku sudah menikah dengan mamamu, sekarang aku juga 'daddy'-mu."
"Tidak mau! Ayo kita bertarung!" tantang Dean.
"Ya sudah, aku tidak mau main." Bayu pura-pura ngambek dan hendak keluar dari arena.
"Hah.... Jangan....! Tidak boleh!"
"Dean harus panggil apa?"
"Daddy."
Bayu tersenyum, "Good boy."
Bayu memasang punch mitt di tangannya lalu bersiap menghadapi Dean di arena. Mereka tidak akan bertanding tinju, tapi untuk melatih Dean tinju.
"Oke, Dean, Arahkan pukulannya tepat di sini ya. Pukul yang kuat!"
Dean melayangkan pukulannya bergantian tangan kanan dan kiri ke arah punch mitt yang Bayu pegang. Gerakan dan power Dean sangat bagus. Anak itu memang berbakat olahraga. Akan lebih baik jika Bayu mencarikan pelatih agar kemampuannya lebih terasah.
Semangat Dean saat memukul sangat tinggi. Dia berkali-kali melayangkan pukulan serta tendangan. Tentu saja tidak sembarangan, tapi difokuskan pada target yang ada di tangan Bayu.
Setelah cukup lama bermain, Dean sepertinya kelelahan. Dia merebahkan dirinya di atas ring tinju yang empuk sambil mengatur nafas. Bayu melepaskan alat di tangannya, lalu turun dari atas ring tinju menghampiri Prita.
Kali ini ada pemandangan yang membuatnya iri. Livy sedang duduk di panguan Prita sambil menyu*su. Dia menguasai dada ibunya. Satu lagi musuh kecil yang harus Bayu hadapi namun tidak bisa mengalahkannya. Anak Prita.
Livy melirik ke arahnya. Anak itu menggerakkan tangannya memegang lengan ibunya seakan memberi isyarat kalau Prita adalah miliknya. Pancaran mata bening itu bisa terlihat menyebalkan sekarang. Anak yang baru bisa mengucapkan satu dua kata itu membuatnya gregetan.
"Kenapa?" tanya Prita yang menyadari Bayu sedang menatapnya aneh.
"Tidak, tidak kenapa-kenapa." balasnya. "Apa Livy mau tidur?"
"Iya, biasanya sebentar lagi dia akan tidur. Sudah waktunya juga dia untuk tidur siang."
__ADS_1
Bayu menyeringai, "Oke. Pastikan dia tidur dengan nyenyak, ya. Setelah itu, temui aku di kamar. Ada yang ingin aku bicarakan."