
Tepat sebulan Bayu menghilang tanpa kabar. Prita hanya bisa untuk tetap menunggunya dengan sabar. Ia percayakan semunya kepada Ben, meskipun belum ada perkembangan dari hasil pencariannya.
Prita berusaha tampil tegar, tetap tersenyum di hadapan orang lain meskipun hatinya sendu dan khawatir setiap hari. Ia sudah pasrah apapun kondisi Bayu nanti, entah masih hidup atau sudah meninggal, yang penting bisa ditemukan.
Hari ini ia pergi ke bandara bersama teman-temannya untuk mengantarkan Andin yang akan kembali ke Kota J.
Andin sudah resmi bercerai dengan Ayash, baginya tidak ada alasan lagi untuk tetap di Kota S. Padahal Prita sudah sangat bahagian punya banyak teman, tapi di saat ia sudah nyaman, Andin malah pergi meninggalkannya.
"Siapa lagi nanti yang jadi partner tandingku. Huhuhu.... " Prita mengeluh sembari memeluk erat sahabatnya itu.
"Padahal kena pukul terus, nggak kapok tanding sama aku? Hahaha.... "
"Ayolah, Andin.... Tinggal di sini saja!" rengek Prita.
"Aduh.... Aku kan sekarang sudah jadi janda ini, harus berusaha cari uang sendiri demi memenuhi kebutuhan hidup. Iya kan, Yash?"
"Aku masih bisa menyantunimu, Ndin. Berapa yang kamu mau dariku tiap bulan?" Ternyata Ayash meladeni gurauannya.
"Hahaha.... Aku hanya bercanda. Selain uang aku mau punya suami baru juga yang ganteng. Doakan ya, biar bisa segera bertemu jodoh."
"Ayash kurang ganteng ya, Ndin?" sahut Irgi.
"Emm.... Ya ganteng lah, cuma bukan seleraku saja. Aku butuh yang agak-agak agresif lah biar bisa mengimbangiku." Andin berbicara dengan gaya khasnya.
"Raeka, ikut juga kick boxing biar Prita ada lawan main."
"Kalau panahan oke, tapi kalau itu.... big no! "
"Dia sudah aku latih tiap malam, Ndin. Privat di rumah, tidak usah kamu tawari kick boxing segala."
"Kamu latih apa, Ir?"
"Adalah, pokoknya olahraga yang bisa bikin berkeringat."
"Hais.... Ya sudahlah, aku berangkat sekarang saja."
"Ta, aku nerangkat dulu, ya." Andin kembali memeluk Prita.
"Hati-hati di jalan, semoga kamu bahagia di sana."
"Kamu juga, Ta. Semoga segera ada kabar dari Bayu. Bersabarlah."
Andin melepas pelukannya dengan Prita, lalu beralih memeluk Raeka. "Aku pergi dulu, Ra. Senang berteman dengan wanita cantik sepertimu."
"Jaga diri di sana. Aku juga senang punya teman yang konyol sepertimu. Mungkin nanti aku akan merindukannya."
"Irgi.... Aku pamit." Andin ganti memeluk Irgi.
__ADS_1
"Hati-hati ya, cewek macho! Cari teman cewek di sana, jangan balik lagi jadi cowok, kamu sudah cantik seperti ini."
"Iya, iya.... "
Terakhir, Andin memeluk Ayash, sahabat sekaligus mantan suaminya. "Aku pergi dulu, mantan suamiku.... "
"Iya, Ndin. Hati-hati di jalan dan jaga selalu kesehatan."
"Terima kasih untuk semuanya, Yash. Aku tidak bisa membalas kebaikanmu selain dengan ucapan terima kasih."
"Balas saja dengan kebahagiaan hidupmu. Aku harap kamu selalu bahagia."
"Hal yang sama untukku juga, aku harap kamu selalu bahagia."
Andin melepas pelukannya. Ia bersiap membawa koper miliknya. Sebelum pergi, ia tersenyum kepada teman-temannya. Kemudian, ia menarik kopernya memasuki area pemeriksaan tiket terus berjalan ke dalam bandara hingga tak dapat lagi terlihat oleh teman-teman yang mengantarnya.
"Ayo Ta, pulang." Ajak Irgi karena saat berangkat ke bandara, Prita memang satu mobil dengan Irgi dan Raeka. Sementara, Ayash satu mobil dengan Andin.
Sebelum Prita melangkah, Ayash menahan tangannya dengan erat. Membuat Prita kebingungan.
"Biar Prita pulang bersamaku, ya. Daniel dan Dean katanya mau pulang ke rumah. Jadi, sekalian nanti aku bawa Prita ke apartemen untuk menjemput anak-anak."
"Oh, oke." kata Irgi. "Kalau begitu kita duluan, ya."
Irgi menggandeng tangan Raeka, mengajaknya keluar pergi lebih dulu meninggalkan Prita dan Ayash.
"Iya, katanya kangen lagi kangen masakanmu."
"Aku juga kangen mendengar celotehan mereka di rumah."
"Kita berangkat sekarang saja, ya."
Prita mengangguk.
"Aku memarkir mobilnya di sebelah sana."
Ayash menunjuk arah yang berlawanan dengan Irgi. Ia menggandeng tangan Prita lalu membawanya ke parkiran lalu mempersilakan Prita masuk ke dalam mobilnya.
Melihat Prita yang kesusahan mengenakan sabuk pengaman, ia berinisiatif membantu wanita di sebelahnya. Perbuatannya malah membuat Prita terkejut, raut wajahnya menjadi tegang, seperti merasa Ayash akan melakukan sesuatu padanya. Padahal Ayash hanya membantu menarik gali sabuk pengaman lalu mengaitkannya melewati tubuh Prita.
"Kamu kenapa, Ta? Wajahmu seperti orang panik. Kamu kira aku mau menciummu, ya?" Ayash tertawa kecil.
"Tapi kalau kamu mau.... "
"Ayash, bercandamu tidak lucu." potong Prita.
"Oke, I'm sorry. Kita akan pergi sekarang."
__ADS_1
Ayash menyalakan mobilnya, lalu melajukannya menggalkan area bandara.
"Apa belum ada kabar juga tentang Bayu?"
"Belum." Prita menjawabnya dengan nada lemas. Setiap kali teringat tentang suaminya yang belum kembali, ia jadi seperti kehilangan daya dan semangat.
"Kamu tidak mau lapor polisi?"
"Kata Ben tidak perlu. Sudah ada banyak anak buahnya yang sedang mencarinya di sana."
"Sudah lama sekali dia menghilang. Tidak ada satupun orang yang mengetahui keberadaannya. Apa kamu akan tetap menunggunya."
"Tentu. Aku akan menunggunya sampai kapanpun." tegas Prita.
"Tapi kemungkinan dia selamat.... "
"Entah nanti dia masih hidup atau sudah meninggal, aku akan tetap menunggunya, Yash."
"Selama mayatnya belum ditemukan, aku anggap Bayu masih hidup. Mungkin dia hanya tersesat atau hilang ingatan hingga kesusahan untuk pulang. Aku akan tetap menunggunya."
"Kalau Bayu meninggal, apa kemungkinannya lamu mau bersamaku lagi?"
Prita menghela nafas. Di situasi seperti itu, kenapa Ayash egois menanyakan hal seperti itu? Terus terang itu sangat membuatnya tidak nyaman.
"Yash.... Kenapa kamu bisa bertanya seperti itu?"
"Aku hanya berandai-andai."
"Suamiku masih hidup, hanya dia yang aku pikirkan saat ini. Aku tidak mau memikirkan lelaki lain."
Mendengar jawaban Prita membuat Ayash menjadi sedih. Dia sudah menjadi lelaki lain bagi Prita. Dia jadi merasa iri. Bayu yang tidak diketahui keberadaannya saja masih bertengger menguasai hati dan pikiran Prita yang dulu pernah menjadi tempat baginya.
"Ta.... Apa kamu sudah tidak menyukaiku lagi."
"Ayash, kenapa kita harus membahas hal seperti ini? Apa tidak bisa kita bicarakan saja hal lain?"
"Tidak bisa, Ta. Ini hal penting untukku. Aku ingin mendengar jawabanmu."
"Aku masih menyukaimu, Yash. Tapi, rasa sukaku padamu sudah berbeda dengan yang dulu."
"Aku masih menyukaimu seperti dulu. Sampai sekarang juga tidak pernah berubah."
Prita tak menyangka Ayash akan mdngatakan hal seperti itu secara terbuka. Ia bingung harus memberi respon apa. Ia tak ingin menyakiti orang yang pernah menjadi sosok spesial di hatinya. Di sisi lain, ia juga tak mau memberinya harapan. Perasaannya sudah berubah, ia mencintai suaminya yang sekarang.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa membalas perasaanmu seperti dulu."
Ayash hanya tersenyum mendengar jawaban Prita. Dia juga sudah menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu.
__ADS_1
Ketika Prita sudah menemukan kebaikan dari orang yang pernah ia benci, maka orang itu menjadi saingan terberat bagi Ayash.