
"Ah!" pekik Prita ketika merasakan sensasi dingin di dahinya.
Lamunannya seketika hilang ketika Bayu datang menempelkan gelas berisi minuman dingin.
"Siang-siang melamun!" Bayu meletakkan minuman yang dibawanya di atas meja. Ia duduk di sebelah Prita di ruang tamu.
"Rame banget. Ada acara apa?" tanya Bayu melihat ada banyak orang di ruangan Daniel. Dean dan Livy juga ada di sana.
"Mereka pengasuh anak-anak. Ayash bilang mau pergi ke Kota J menghadiri pernikahan Kak Arga."
"Ooh.... "
"Kalau anak-anakmu sudah ada yang menangani, terus kenapa malah melamun? Seharusnya kamu pergi jalan-jalan.... Sesekali keluar biar ada suasana baru."
"Apa kamu sudah gila? Anakku sedang sakit dan aku bersenang-senang di luar?"
"Memangnya itu salah? Daniel kan memang sakit, tapi sudah ada yang menanganinya. Memangnya kalau Daniel sakit kamu juga harus ikut sakit? Kalau dia merasa tersiksa kamu juga harus ikut tersiksa juga? Aku bilang kan sesekali.... Kamu boleh kok bersantai melakukan hal yang disukai. Daniel juga akan baik-baik saja."
"Ah, sudahlah! Kita memang tidak akan nyambung kalau bicara." Prita kembali merebahkan tubuhnya seraya menutup mata. Dia hanya ingin sedikit bersantai di sofa saja mumpung anak-anaknya sedang tenang bermain.
Bayu terheran melihat wanita keras kepala di sampingnya. Jelas sekali dia memiliki gejala yang mengarah pada stres tapi selalu denial. Kalau dibiarkan lama-lama mungkin dia akan gila atau ikut-ikutan sakit seperti Daniel.
Bayu mangkit dari duduknya, mendekati anak-anak yang sedang bermain bersama para pengasuhnya.
"Daddy mau ikut main?" tanya Daniel.
"Uncle Yu main pasir denganku saja." ucap Dean.
"Iya, nanti main dengan kalian. Boleh nggak mama daddy ajak keluar sebentar. Kasihan mama, sepertinya kelelahan dan butuh jalan-jalan."
Daniel dan Dean memandang ke arah Prita. Mereka melihat mamanya memang seperti kelelahan. Kedua anak itu mengangguk sebagai tanda setuju. Bayu tersenyum senang.
"Leta dan kalian berdua, bisa jaga anak-anak agak lama?"
Mereka bertiga mengangguk.
"Jaga anak-anak dengan baik, ya. Nanti aku beri kalian bonus setelah pulang. Setuju?"
"Setuju, Pak."
"Good."
Bayu beralih menuju Prita. Tanpa permisi, ia langsung menarik tangan Prita, memaksa wanita itu mengikutinya. Prita berusaha menyamakan langkah kaki agar tidak terseok-seok. Bayu tak memberinya kesempatan untuk mengelak maupun menolak.
"Lepas!" Prita sekuat tenaga menyingkirkan tangan Bayu dari lengannya.
Mereka sudah berada dalam lift. Wajah Prita terlihat kesal level maksimal.
"Aku mau kembali ke atas!" serunya.
"Aku sudah meminta ijin pada anak-anak untuk membawamu pergi. Katanya boleh. Para pengasuh juga bilang tidak apa-apa."
"Ah, Ya Tuhan, ini konyol. Aku kan sudah bilang tidak mau meninggalkan anakku yang sedang sakit."
"Hanya sesekali, kamu tidak akan berdosa. Daniel juga sedang asyik bermain."
__ADS_1
"Kalau kamu terus seperti ini, kamu bisa menjanda selamanya. Memangnya kamu hidup di dalam gua, nggak mau keluar-keluar?"
"Oh, astaga. Apa urusanmu kalau aku menjanda selamanya?"
"Tidak boleh! Aku yang akan mengakhiri masa jandamu."
"Siapa juga yang mau denganmu! Kamu pikir aku bercerai untuk menikah denganmu? Aku mau hidup sendiri!"
Bayu kembali memegang erat tangan Prita ketika pintu lift terbuka. Ia bergegas menarik Prita menuju tempat parkir dan menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya. Cetat-cepat ia kunci pintu mobil agar Prita tak bisa kabur.
"Hey, buka! Aku mau turun!"
Prita berusaha membuka pintu di sampingnya. Ia tersentak ketika Bayu mulai mendekat ke arahnya, menghimpit tubuhnya hingga wajah mereka begitu sangat dekat. Sorot matanya terlihat serius, seperti orang yang hendak memangsanya. Prita langsung terdiam. Ia reflek memejamkan mata karena Bayu semakin dekat dengannya.
Klek!
Ternyata Bayu hanya membantu memasangkan sabuk pengaman. Bayu terkekeh melihat respon Prita.
"Hahaha.... Kamu mau banget ya aku cium?"
"Kamu mau kemana?"
"Aku bilang kan tidak mau pergi."
"Baiklah, kalau begitu terserah padaku."
Bayu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Jalanan kota siang itu cukup ramai, Bayu seperti orang kesetanan membawa mobilnya. Prita sampai mematung di tempatnya. Detak jantungnya ikut terpacu cepat. Saking takutnya ia sampai tak bisa mengeluarkan suara.
Akhirnya di depan sebuah pusat perbelanjaan, Bayu menghentikan mobilnya. Prita mulai mengatur nafas dan mengumpulkan nyawa yang hampir melayang.
Prita hanya mengikuti Bayu tanpa bicara. Lelaki itu memang sangat menyebalkan. Sekalipun ia mengatakan tidak, Bayu akan tetap memaksanya melakukan apa yang dia mau.
"Ayo masuk. Filmnya sudah mau dimulai."
"Memangnya kita mau menonton apa?"
"Nanti kamu akan tahu."
Sesampainya di dalam bioskop, film sudah mulai diputar. Mendengar efek suaranya saja Prita sudah tahu kalau film yang akan mereka tonton bergenre horror. Ia hendak berbalik keluar, namun Bayu lebih dulu memegangi pergelangan tangannya.
"Aku tidak suka film horror." bisik Prita.
Ia tak berani memperhatikan layar besar di depannya.
"Kamu bisa memegang tanganku, atau memelukku kalau takut." balas Bayu sambil tertawa kecil.
Sepanjang film di putar, Prita hanya bisa menundukkan kepalanya. Sesekali ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan kemudian mengintip sedikit dari sela-sela jarinya. Film yang mereka tonton berjudul 'Perempuan Tanah Jahanam' yang bergenre horror thriller.
Keluar dari ruang bioskop, wajah Prita tampak pucat. "Niat mau menghiburku apa membuatku jantungan? Kenapa memilih film seperti itu?"
"Aku kira itu film kesukaanmu."
Bayu memang sengaja menjahili Prita. Berkat film itu juga tubuhnya jadi digerayangi Prita. Sesekali ia mendapat pelukan gratis tanpa dia minta. Pokoknya Bayu sangat menikmati filmnya.
"Ah, nggak lagi-lagi aku mau nonton film yang seperti itu lagi." Prita memegangi kepalanya dan berjalan lebih dulu.
__ADS_1
Selepas dari bioskop, Bayu mengajak Prita singgah ke Taman Akuarium. Melihat berbagai jenis ikan cukup membantu menenangkan pikiran.
Saat itu hari telah beranjak sore, mereka singgah di pinggiran panymtai. Pemandangan matahari terbenam terlihat indah menghiasi langit. Kemilau warna orange yang dipantulkan langit serta air laut membuat suasana terasa hangat dan romantis. Ditambah lagi oleh suara deburan ombak, hembusan angin semilir, serta kicauan burung menambah syahdu sore itu.
Hati dan pikiran Prita terasa lebih tenang. Seakan beban yang selama ini ia pikul hilang begitu saja. Meskipun hanya sejenak, ia menikmatinya.
"Apa yang membuatmu kelihatan stres waktu aku datang tadi siang?"
"Tidak ada, aku tidak stres." Kilah Prita.
Sebenarnya, siang tadi memang perasaannya sedang gundah. Ada sesuatu yang membuatnya cemas, risau, tidak tenang, tapi ia sendiri tidak tahu tentang apa. Mungkin juga karena kepergian Ayash, atau ciuman tak sengaja yang ia dapatkan tadi siang hingga membuatnya terbayang-bayang.
"Makanya, jangan lama-lama menjanda. Akhiri jandamu dan pilih aku sebagai suamimu."
"Hahaha.... Kalau aku mau menikah lagi, aku harap tidak denganmu."
"Lalu dengan siapa? Memangnya kamu punya kandidat kuat selain aku?"
"Saat ini memang belum, tidak tahu nanti. Yang jelas aku tak mau memberitahumu. Bahaya."
Bayu tersenyum sinis, "Kamu tidak melihat kalau sekarang aku sudah lebih baik? Apa masih belum memenuhi kriteria lelaki yang pantas berdampingan denganmu?"
"Iya,. Kamu sama sekali bukan tipeku." jawab Prita lantang.
"Hahaha.... Coba dulu. Belum juga mencoba sudah mengatakan tidak."
"Mungkin kita bisa mencoba berkencan beberapa kali supaya bisa lebih mengenal."
"Jangan menilaiku dengan kacamatamu yang dulu, pandang aku sebagai Bayu Bagaskara yang sekarang."
"Ah, aku mau pulang!"
Prita hendak berdiri namun tangannya ditarik hingga ia jatuh ke pangkuan Bayu. Ia mencoba mengelak, namun kuncian Bayu begitu kuat. Bayu orang yang tidak tahu malu. posisi mereka sangat memalukan untuk dilihat. Beberapa orang juga sudah memperhatikan mereka. Meskipun di sana kebanyakan muda mudi yang sedang memadu kasih, tapi Prita tetap risih apalagi mereka bukan pasangan.
"Kenapa hobimu selalu melarikan diri? Jawab dulu ajakanku."
"Sudah jelas kan, apa jawabanku? Aku tidak mau."
Bayu menggeram, ia sedikit marah namun tetap berusaha menahan amarahnya. Ia menampilkan senyum pada Prita yang masih ada di pangkuannya.
"Kalau begitu biarkan aku menciummu dulu."
Prita ternganga, matanya melirik ke kanan dan kekiri. "Kamu gila? Aku kan tidak pernah setuju untuk pacaran denganmu."
"Memangnya kenapa? Tadi juga kamu terus menggerayangi tubuhku. Meminta pelukan dan merem*s-rem*s dadaku sesukamu di bioskop selama dua jam."
Prita merasa malu sendiri mengingat kejadian dalam bioskop.
"Apa aku melakukan hal yang sama saja dengan yang sudah kamu lakukan?" Mata Bayu sudah nakal mengarah pada dada Prita.
"Oke! Tapi sebentar saja!" Prita tahu, ia akan tetap kalah berdebat dengan Bayu.
Dengan sendirinya ia memejamkan mata, menunggu Bayu menciumnya.
Agak lama ia memejamkan mata, namun Bayu belum juga merasakan ada yang menempel pada bibirnya. Bayu sedang sibuk tersenyum memandangi wanita lucu itu. Ia semakin ingin menggodanya.
__ADS_1
Ketika Prita membuka mata, Bayu langsung menyatukan bibir mereka. Membuat mata Prita membulat karena terkejut. Mulutnya sedikit terbuka, justru menjadi jalan bagi Bayu memasukkan lidahnya ke dalam mulut Prita. Bukan Bayu namanya kalau tidak serakah saat berciuman. Ciuman yang katanya singkat itu akhirnya berlangsung lebih dari satu menit.