
Raeka kembali bertemu Shuwan di ruang ganti klub memanah. Mereka akan segera memulai latihan sore mingguan.
Raeka masih memendam kekesalan pada wanita yang sudah memfitnah dan mempermalukannya di depan anggota klub lain. Wanita licik yang pandai bersandiwara dan playing victim.
"Kenapa memandangku seperti itu? Tidak suka melihat aku di sini?" Shu berbicara dengan nada ketus.
"Ya, aku memang tak suka melihatmu." jawab Raeka tegas. Ia sibuk mempersiapkan peralatan yang akan dibawa ke lapangan.
"Hah! Keluarlah dari klub karena aku tidak akan keluar dari sini. Kamu akan terus terganggu melihatku di sini."
"Aku yang lebih dulu bergabung dengan klub ini. Kenapa aku yang harus keluar?"
"Seperti yang Kak Moreno bilang, di sini semua sama, tak ada senior maupun junior. Tak ada istilah anggota lama maupun anggota baru."
"Kalau kamu menyukai pelatih, silakan saja. Aku tidak akan menghalangi. Cukup jangan ganggu aku di sini. Aku juga tidak peduli dengan keberadaanmu."
"Hahaha... lucu sekali. Kamu yang merusak semua peralatan memanahku tapi berlagak aku yang memulai semua ini."
Raeka menghentikan aktivitasnya. Ia tak bisa lagi mengabaikan wanita yang terus mencari masalah dengannya.
"Salahku apa? Apa kamu merasa kecantikanmu tersaingi olehku? Apa kamu iri karena aku sangat pandai memanah?"
"Iri? Jangan mimpi! Siapa yang iri dengan wanita pendek sepertimu."
"Dengar, ya... Aku tahu apa yang ada di otak wanita sepertimu. Kamu tidak ingin ada yang menyaingi kesempurnaanmu, kan? Kamu ingin semua mata lelaki kagum dan tertuju padamu."
"Kamu jangan khawatir, aku tak ada niatan tebar pesona di sini. Tujuanku bergabung dengan klub ini hanya untuk berlatih memanah."
Raeka bersiap keluar dari ruang ganti tapi tangannya dicekal oleh Shuwan.
"Ucapanmu tak sesuai dengan kenyataannya. Bukankah kamu sudah punya pacar? Jadi jangan kecentilan dengan Kak Moreno."
Raeka menghempaskan cekalan Shuwan, "Siapa yang kecentilan dengannya? Aku tidak pernah melakukan apapun padanya. Kenapa menyalahkanku jika lelaki yang kamu sukai melirikku. Apa juga salahku jika terlahir sebagai wanita cantik dan berbakat?"
Plak!
Shuwan melayangkan satu tamparan tepat di pipi kanan Raeka. Tentu saja Raeka murka. Dia langsung menjambak rambut Shuwan dan keduanya saling tarik-menarik rambut.
"Berani-beraninya wanita manja sepertimu berlagak di depanku!" umpat Shuwan.
"Apa urusanmu jika aku wanita manja? Setidaknya aku bukan wanita yang suka tebar pesona sepertimu."
__ADS_1
"Wanita otak kosong!"
Bruk!
Raeka mendorong keras Shu hingga ia jatuh tersungkur. Di saat yang bersamaan, orang-orang sudah berkerumun di sana karena mendengar keributan. Kali ini juga Raeka seperti dalam posisi bersalah.
"Shuwan! Kamu tidak apa-apa?"
Pelatih yang datang langsung membantu Shuwan berdiri. Moreno menghela nafas. Ini kali kedua Raeka dan Shuwan berselisih.
"Raeka, kenapa lagi ini?"
"Dia menyuruhku keluar dari klub, Kak. Katanya dia tak menyukaiku di sini." ucap Shuwan.
Raeka ingin tertawa, wanita itu kembali memutar balikkan fakta. Posisinya tidak menguntungkan untuk membela diri. Dia akan tetap terlihat salah di depan pelatih dan teman-teman satu klubnya.
"Benar begitu, Raeka."
Raeka menghela nafas panjang, "Coach, tolong setelah ini jangan dampingi lagi aku berlatih. Kalau bisa carikan aku pelatih yang sesama wanita saja. Karena sepertinya Nona Shuwan tidak suka melihatmu mengajariku memanah. Kamu fokus saja melatih Nona Shuwan. Lagipula, aku sudah lebih mahir daripada dia."
"Hari ini aku berlatih sendiri, tak perlu kamu melatihku "
Raeka menggelengkan kepalanya. Baru kali ini dia merasakan dimusuhi oleh wanita lain karena kecemburuan. Dia jadi teringat masa lalunya dengan Prita. Dulu dia yang selalu curiga jika Prita akan mengambil Irgi dari sisinya. Ia bahkan membully Prita cukup parah saat SMA .
Ternyata berada di posisi Prita tidak menyenangkan. Apalagi jika apa yang dituduhkan tidak benar. Rasanya dia ingin mencekik leher Shuwan sampai kehabisan nafas.
*****
"Tidak tidak.... wanita itu sepertinya tidak sebaik dan selugu kelihatannya."
"Kamu bicara begitu karena iri, kan? Siapa yang tidak iri dengan wanita sempurna seperti Shuwan Mey."
Anak-anak divisi pemasaran sedang berdebat mengenai Shuwan, wanita yang sempat berkunjung ke perusahaan dan kabarnya merupakan pacar Pak Bayu.
"Jo, aku lihat sendiri ya, tingkahnya aneh setelah keluar dari ruangan Pak Bayu waktu itu. Aku rasa dia punya niat licik pada Pak Bayu." Reni tetap kekeh pada pendapatnya.
"Kalau dilihat dari sikap dan wajahnya sih rasanya nggak mungkin, ya... tidak ada tanda-tanda antagonis dari parasnya. Sulit untuk dipercaya."
"Awalnya aku juga sama denganmu, Win. Tapi, aku sempat dengar dia berbicara dengan seseorang di telepon membahas tentang merayu-merayu dan katanya Pak Bayu bodoh."
"Loh... menguping orang itu tindakan tidak sopan loh, Ren."
__ADS_1
"Aku tidak sengaja mendengar obrolannya, Hari, aku tidak bermaksud menguping."
"Paling kamu salah dengar. Menurutku Shuwan tidak mungkin begitu. Pak Bayu juga bukan tipe orang yang mudah diperdaya. Dia kan tipe-tipe lelaki galak dan menakutkan."
"Alah, segalak-galaknya lelaki juga bakalan luluh dengan wanita yang dia suka."
"Woh, sepertinya pembahasannya seru. Boleh aku gabung?" Alex yang kebetulan lewat melongok ke ruangan divisi pemasaran. Keempat orang itu tampaknya sedang membahas hal yang menarik.
"Sini, Alex! Kita sedang membahas tentang Nona Shuwan." ajak Jonan.
"Nona Shu?" Alex heran kenapa Shuwan masih menjadi bahasan. Apa karena dia wanita pertama yang mendatangi bosnya langsung ke perusahaan?
"Kata Reni Shuwan memiliki niat tidak baik terhadap Pak Bayu."
"Mana ada yang percaya, kan? Dari wajahnya saja Shuwan itu sudah tampak seperti wanita baik-baik yang anggun. Katanya dia ramah kepada setiap karyawan yang ditemui."
Alex terdiam. Ia merasa pembahasannya terbalik. Yang memiliki niat buruk justru Bayu sendiri, bukan Shuwan. Tapi kenapa malah Shuwan yang dituduh punya rencana tidak baik kepada bosnya?
"Alex, waktu itu aku tidak sengaja mendengar percakapannya dengan seseorang di telepon saat keluar dari ruangan Pak Bayu. Raut wajahnya itu berubah, kok. Tidak semanis yang biasa ditampilkan. Aku yakin dia punya maksud kurang baik terhadap Pak Bayu."
"Kamu terlalu berlebihan, Kak Reni. Aku yang sudah lebih dulu tahu, Nona Shu tidak seperti itu. Dia sangat mencintai Bos Bayu."
"Tapi aku mendengarnya menjelek-jelekkan Pak Bayu di telepon. Dia bilang Pak Bayu orang bodoh, gampang dirayu. Samar-samar juga aku dengar tentang uang seratus miliyar. Aku kurang begitu paham. Tapi, apa dia berusaha memoroti Pak Bayu? Nominalnya sangat besar, kan. Pak Bayu bisa menjual perusahaan kalau permintaan pacarnya seperti itu."
"Serius seratus miliyar?" Winda semakin penasaran.
"Benar, aku dengar begitu. Dia menginginkan seratus miliyar dari Pak Bayu."
"Wah, gila wanita itu. Mainnya nggak tanggung-tanggung. Mantap! Kalau sampai Pak Bayu memberikan sebanyak itu, berarti dia bucin parah."
"Wajar sih kalau Pak Bayu bucin. Pacarnya saja secantik itu."
"Pak Bayu diam-diam punya banyak uang, ya. Seratus miliyar bayangkan! Kita bekerja sampai mati saja mungkin tidak akan pernah mendapatkan uang sebanyak itu."
"Alex, bagaimana menurutmu?" Hari menyenggol Alex yang lagi-lagi melamun.
"Ah, itu tidak benar. Nona Shu tidak memoroti Bos Bayu. Dia hanya membahas tentang kerjasama yang mungkin akan dilakukan. Nominal kerjasamanya memang sekitar itu."
"Aku kembali kerja dulu, ya. Kalian juga berhenti bergosip, lebih baik bekerja."
"Ah, Alex nggak seru!" Winda manyun karena Alex menyuruh mereka kembali bekerja.
__ADS_1