ANTARA CEO DAN MAFIA 2

ANTARA CEO DAN MAFIA 2
Bernafas Lega


__ADS_3

Dor!


Sebutir peluru melesat dengan cepat dari mulut pistol Zetian.


"Ah!"


Bayu menggunakan punggungnya menjadi tameng pelutu yang hampir menarget pada Dean. Dia peluk anak itu sambil menahan sakit di punggung kanannya. Sudah dia bilang agar Dean tetap diam di tempatnya, tapi anak itu malah keluar.


Fredi yang melihat bosnya tertembak langsung menendang tangan Zetian hingga pistolnya terlempar jauh. Ia berikan beberapa pukulan pada tua bangka itu. Anak buah Zetian tidak tinggal diam, mereka menghalau Fredi agar tidak menyerang tuannya.


Samar-samar terdengar sirine polisi yang semakin terdengar jelas. Orang-orang di sana kalang kabut. Mereka berlarian kabur sebelum polisi datang dan menangkap mereka. Ada yang sempat mematikan lampu-lampu hingga suasana menjadi gelap gulita. Tujuannya agar polisi semaki sulit mengenali mereka.


Bayu menyuruh Fredi agar membawa seluruh anak buahnya kabur.


"Saya tidak bisa meninggalkan Anda dalam kondisi seperti ini." Fredi tak mau menuruti bosnya.


"Cepat pergi! Jangan sampai polisi melihat kalian di sini."


Fredi akhirnya mau pergi. Ia berlari keluar lewat pintu belakang. Ia pastikan semua anak buahnya sudah keluar terlebih dahulu.


Di ruangan itu hanya tersisa Bayu dan Dean. Zetian beserta seluruh anak buahnya ikut kabur.


"Uncle.... " ucap Dean.


Bayu tersenyum, "Kamu tidak apa-apa, kan?"


Dean mengangguk.


"Bagus, kamu memang anak hebat."


"Uncle.... punggungmu berdarah." Dean melihat telapak tangan yang tadi menempel pada punggung Bayu ternyata ada darahnya.


"Tidak apa-apa, itu hanya darah. Sebentar lagi polisi dan papamu akan datang menyelamatkan kita. Kamu jangan takut."


Kesadaran Bayu sudah mulai menurun. Matanya terasa tidak kuat untuk dibuka. Tubuhnya sudah tidak berdaya. Ia melepaskan pelukannya dan tubuhnya jatuh terkulai di dekat Dean. Bayu pingsan.


"Uncle bangun.... Uncle.... "


Dean menangis sambil menggoyang-goyangkan badan Bayu. Ia ketakutan, di sana gelap dan sunyi.


Brak!

__ADS_1


Pintu depan didobrak. Ayash berada paling depan memasuki bangunan itu. Senter yang dibawa polisi dinyalakan dan diarahkan ke seluruh sudut ruangan. Pada daerah pojokan belakang, senter menangkap sosok anak kecil yang sedang menangis.


"Dean!"


Ayash segera berlari menghampiri Dean. Seharian ini dia sudah sangat khawatir akan terjadi apa-apa pada anaknya. Syukurlah Dean selamat. Ia memeluk Dean erat-erat serta menciuminya tiada henti.


Polisi memeriksa di sekitar tempat kejadian. Mereka mengumpulkan benda-benda yang nantinya akan dijadikan bukti di persidangan.


"Papa.... Uncle Yu mati." kata Dean.


Ayash langsung mengecek tubuh yang tergolek tak jauh dari Dean. Dia perhatikan wajahnya, ternyata benar, itu adalah Bayu. Nampaknya dia terluka sangat parah.


Ia heran, kenapa Bayu ada di tempat itu. Padahal seharusnya dia berada di Kota J menemani Daniel. Mungkinkah Bayu yang sudah menyelamatkan anaknya? Bagaimana dia bisa tau lebih dulu dimana tempat Dean diculik?


"Pak! Di sini ada yang terluka." Seru Ayash.


Beberapa polisi mendekat. Salah satunya memeriksa tanda vital di tubuh Bayu.


"Dia pingsan." ucap salah seorang polisi.


"Bawakan dragbar, kita harus membawanya ke mobil untuk pertolongan pertama. Sepertinya dia terkena tembakan. Darah yang keluar banyak sekali."


Polisi jadi sibuk untuk menyelamatkan Bayu. Ayash melihatnya sembari menggendong Dean. Orang yang sangat dia benci itu ternyata juga yang menyelamatkan anaknya.


"Apa kamu kenal orang-orang jahat itu?"


"Dean tidak tau, Papa. Tapi ada yang gendut. Tadi Dean gigit dia terus Dean dijatuhin. Sakit."


"Dia berani jatuhin Dean?"


"Iya. Tapi Uncle Bayu balas. Dia ditendang sampai jatuh."


"Pak, sepertinya mereka semua berhasil kabur. Tapi mereka meninggalkan tiga mobil di depan. Nanti akan kami cek siapa pemilik mobil-mobil itu." kata Kepala Polisi yang ikut dalam penyelidikan itu.


"Iya, Pak. Terima kasih."


"Bagaimana kalau kita ke mobil dan memeriksa anak Bapak, siapa tau dia mengalami luka agau cidera."


Ayash mengangguk. Ia mengikuti polisi itu menuju mobil ambulan yang dibawa serta untuk kondisi-kondisi darurat seperti itu.


Bayu terbaring di atas dragbar yang berada di dalam ambulan. Peralatan medis berupa selang oksigen dan cairan ifus sudah terpasang. Pada bagian bahu yang tertembak juga sudah diberi perban untuk menghentikan pendarahan sementara.

__ADS_1


Seorang dokter kepolisian mengambil Dean dari gendongan Ayash. Dia melakukan beberapa pengecekan pada tubuh Dean siapa tau menemukan tanda-tanda luka penganiayaan. Ia juga menanyakan beberapa hal kepada Dean seputar kejadian dengan bahasa yang mudah dimengerti anak-anak. Dean anak yang suka bercerita, dia ceritakan semua yang dia tau sesuai dengan versi dan bahasanya.


"Pak, ternyata mobil Jeep dan sedan yang ada di sebelah sana milik Tuan Zetian Yan."


Nama Zetian Yan bukan nama yang asing baginya. Orang itu memiliki bisnis di bidang hotel dan restoran. Setahu dia, ayahnya juga menjalin kerjasama dengan orang itu. Apa alasan dia sampai menculik anaknya?


"Kalau mobil yang di sana, atas nama Bayu Bagaskara. Apa mobilnya milik orang ini?" polisi itu menunjuk pada Bayu.


"Iya."


"Apa hubungan kalian? Kenapa dia bisa ada di sini bersama anak Anda?"


Ayash menarik nafas, "Kami berteman. Sepertinya dia yang ingin menyelamatkan anakku."


"Berbahaya sekali datang sendiri menghadapi mereka. Sebagian polisi masih mengejar bersama anjing pelacak. Mereka melarikan diri ke area semak-semak dan masuk dalam hutan."


"Tolong lanjutkan kasus ini, Pak. Saya ingin semua yang terlibat dalam kasus penculikan ini mendapat hukuman yang setimpal. Saya tidak x mau jalan damai. Meskipun itu Zetian Yan sekalipun."


*****


Prita masih harap-harap cemas di depan ruang operasi. Sudah tiga jam menunggu, namun belum ada tanda-tanda dokter menyelesaikan operasinya.


Di sisi lain, ia juga belum mendapatkan kabar apapun dari Bayu maupun Ayash tentang kabar Dean. Posisinya jadi serba salah. Dia ingin ikut mencari sendiri keberadaan Dean dan dia ingin menemani proses operasi Daniel juga.


Ceklek!


Prita langsung bangkit ketika mendengar suara pintu ruang operasi dibuka. Seorang perawat bersama Dokter Hansen muncul.


"Bagaimana, Dok?" tanya Prita dengan cemas.


Dokter Hansen tersenyum, "Semuanya berjalan dengan lancar. Sebentar lagi Daniel akan dipindahkan ke ruang perawatan."


Prita bernafas lega. Satu masalah sudah terlewati dengan baik.


"Untuk sementara, Daniel akan berada di ruangan steril bebas bakteri untuk mencegah terjadinya infeksi. Kami juga akan terus melihat perkembangan kondisinya, apa terjadi penolakan terhadap donor atau tidak. Sebaiknya kamu istirahat dulu, karena Daniel juga sedang istirahat."


"Iya, Dokter."


Dokter Hansen bersama beberapa dokter lainnya meninggalkan ruang operasi setelah memberi selamat kepada Prita atas keberhasilan proses operasi.


Tiga orang perawat mendorong ranjang Daniel. Di atasnya ada Daniel yang masih tertidur dengan peralatan medis yang masih terpasang.

__ADS_1


Prita mengikuti kemana arah ketiga perawat itu membawa Daniel. Ternyata, Daniel dibawa ke ruangan berbeda, ruangan steril. Prita tidak boleh masuk. Dia hanya bisa memandangi Daniel dari jendela kaca lebar.


__ADS_2