
Saat pintu lift terbuka, Bayu kembali menarik Prita masuk me ruangannya. Dia membawanya ke arah kursi kerjanya lalu mendudukkannya di pangkuan.
"Apa tidak susah kalau bekerja seperti ini?"
"Tidak, ini menyenangkan ditemani bekerja olehmu."
Cup!
Bayu mendaratkan ciuman di pipi Prita. Tangannya mulai menggapai dokumen yang ada di mejanya. Prita ikut melirik dokumen yang berisi laporan tentang keuangan perusahaan.
"Masalah apa di perusahaan ini yang membuatmu jadi pusing?"
"Sebenarnya perusahaan ini hampir bangkrut."
"Hah, apa?"
Nada bicara Bayu yang terdengar biasa saja itu membuat Prita mengira masalahnya tidak seserius itu. Masa ada perusahaan masih bangkrut sikapnya sesantai itu.
"Dari awal sering minus juga, hutang perusahaan semakin besar. Aku rutin menyuntikkan dana untuk mempertahankan perusahaan ini tetap berdiri."
"Sayangnya klab malam yang aku kelola sisa dua saja, penghasilanku sudah jauh berkurang. Jadi agak memusingkan mengatur keuangan perusahaan ini."
Bayu membandingkan dua dokumen di tangannya, antara biaya operasional dengan hasil pemasaran poruduk.
"Kalau dilihat dari hasil penjualan, sebebarnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Tapi, biaya produksi dan operasional entah mengapa ikut membengkak."
Prita ikut memfokuskan mata pada kedua laporan tersebut.
"Untuk menentukan harga jual seharusnya mempertimbangkan dulu biaya produksinya. Percuma kalau hanya fokus pada memperbanyak jumlah produksi dan peningkatan pemasaran kalau biaya produksi tidak diperhitungkan."
"Apa kamu yang mengatur semua ini?"
"Tidak."
"Tidak?" Prita heran.
"Aku tidak ikut campur masalah yang ada di perusahaan ini. Aku serahkan semuanya pada para manajer bagian dan GM. Kerjaanku hanya duduk saja menandatangani berkas-berkas yang mereka perlukan."
Prita tercengang, Bayu sebagai pimpinan tertinggi tidak tahu menahu apa yang terjadi di perusahaan.
"Berarti kalau ada yang korupsi kamu tidak tahu, Mas?"
Bayu mengernyitkan dahinya, "Kan ada manajer bagian, Sayang. Mereka akan melapor kalau ada yang tidak beres."
"Aku memang tidak terlalu pintar mengurusi bisnis seperti ini."
Struktur kepemimpinan di perusahaan memang lebih rumit daripada di bisnis klab miliknya. Lagipula, pengalamannya memang sebatas di bisnis dunia malam, belum pernah mengurusi perusahaan biasa sekalipun ayahnya punya banyak perusahaan. Kalaupun ada urusan perusahaan yang dilimpahkan ayah padanya, Ben yang akan mengatasi semuanya. Seakan dunia Bayu memang sudah diseting untuk tetap berada di dunia gelap dan tidak bisa beralih.
"Kalau seperti ini terus, kamu sendiri yang akan capek sendiri, Mas."
"Tidak apa-apa.... Kan ada kamu yang bisa menghilangkan rasa lelahku."
"Aku sedang tidak bercanda, Mas.... "
Bayu malah meletakkan dokumen yang dipegangnya lalu memeluk istrinya dengan hangat.
"Sudah, Mas.... Keberadaanku memang akan mengganggu pekerjaanmu. Aku pulang saja, ya."
"Sebentar saja, aku sedang istirahat ini."
Prita menahan dirinya dalam pelukan Bayu. Beberapa saat kemudian, ia melepaskan pelukannya dan kembali membaca-baca dokumen yang ada di mejanya.
__ADS_1
"Mas, sebentar.... Sebentar.... "
Prita menghentikan Bayu yang hendak menandatangani sebuah dokumen.
"Kenapa, Sayang."
"Coba dibaca lagi laporan keuangannya, serpertinya ada yang tidak beres."
"Bagian mana?"
Prita menunjukkan beberapa bagian yang dianggapnya janggal, salah satunya biaya perbaikan kendaraan pengangkut barang yang dianggarkan dalam nominal yang tidak masuk akal. Lalu, nilai bahan baku yang tinggi, sepertinya ada kesalahan hitung. Belum lagi anggaran rapat, biaya kesejahteraan karyawan, bonus, dan biaya pertemuan-pertemuan yang ditulis dengan angka yang menurut Prita sangat tinggi. Padahal, itu hanyalah sebuah perusahaan kecil.
"Mas, ini semua tidak kamu baca dulu sebelum tanda tangan?"
"Tidak."
Bayu sudah sangat percaya dengan bawahannya. Seluruh dokumen yang ada di mejanya biasanya sudah diteliti sebelum sampai ke tangannya.
"Aku rasa ada yang korupsi di perusahaan ini." tebak Prita.
"Sepertinya kamu paham ya, tentang masalah keuangan perusahaan."
"Aku sering membantu Ayash memeriksa dokumen dan membaca laporan perusahaan MyShoppa waktu di Singapura."
Deg!
Prita keceplosan membahas tentang Ayash di depan Bayu. Sudah ia duga, mood suaminya tiba-tiba menjadi buruk.
"Mas.... Aku tidak bermaksud membuatmu kesal."
"Please, jangan marah."
Bayu menghela nafas, mencoba tidak emosi mendengar nama yang tidak ingin ia dengar.
Prita sudah lemas duluan mendengarnya. Baru seperti ini saja mood suaminya sudah buruk. Apalagi kalau dia cerita tadi di sekolah dia bertemu dengan Ayash, Daniel belum mau pulang, dan Dean malah ikut bersamanya.
Prita mengalungkan kedua tangannya ke leher Bayu, "Mas.... apasih yang kamu takutkan? Aku kan sudah jadi istrimu dan dia hanya mantan suami."
"Tapi kalian pisah baik-baik dan masing saling cinta, kan?" Bayu membalas tatapan Prita dengan sorot kesal.
"Kenapa Mas berpikir begitu? Aku tidak akan menikah denganmu kalau tidak mencintaimu, Mas."
"Apa rasa cintaku tidak cukup jelas? Aku harus bagaimana supaya Mas percaya?"
"Aku memang tidak bisa melupakan Ayash, Mas. Tapi bukan berati aku masih mencintainya atau mau kembali lagi padanya."
"Dia ayah kandung Dean dan Livy. Mau tidak mau aku tetap harus berhubungan dengannya karena anak-anak. Sebatas itu saja hubungan kami. Apa kamu tidak bisa percaya?"
Binar mata itu membuat Bayu tidak tahan melihatnya. Ia luluh dan rasa marahnya hilang.
"Aku hanya takut kehilanganmu untuk kedua kali."
Prita memeluk tubuh suaminya menyandarkan kepalanya pada pundaknya yang nyaman.
"Aku janji tidak akan meninggalkanmu, Mas. Aku mencintaimu."
Suami mana yang tidak suka mendapat pengakuan cinta dari istrinya. Bayu membalas pelukan istrinya. Dia berharap akan selamanya saling mencintai dan hidup bahagia sebagai satu keluarga.
"Mas.... Sepertinya kamu harus benar-benar membenahi semua yang ada di perusahaan."
"Kalau terus dibiarkan seperti ini, perusahaan bisa bangkrut, kasihan banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaan nanti."
__ADS_1
"Iya, aku juga sedang memikirkannya. Masalahnya, aku tidak terlalu paham dengan bisnis seperti ini."
"Cari orang yang kompeten mengurusi perusahaan, kalau bisa yang sudah berpengalaman."
Bayu memicingkan sebelah alisnya.
"Aku sedang tidak merekomendasikanmu seseorang.... " Prita tersenyum kaku. Sepertinya Bayu sudah bisa membaca siapa orang yang akan dia rekomendasikan.
"Kamu bisa pilih siapa saja yang menurutmu bisa dipercaya menangani masalah di perusahaan."
Bayu menyibakkan rambut-rambut yang menutupi wajah Prita lalu menyematkannya di belakang telinga.
"Aku ingin dengar orang yang bisa kamu percaya, Sayang. Sebualtkan saja."
Prita menunduk, "Kamu sudah tahu apa yang akan aku katakan dan kamu tidak akan suka mendengarnya."
"Lingkungan pertemananku tidak banyak, tapi aku tahu orang yang memang benar-benar baik dan bisa diandalkan."
"Sebutkan saja.... "
"Mmm.... Ayash dan Irgi."
Prita nyengir saat mengatakannya. Bayu memang sudah menebak nama-nama itu yang akan dia ucapkan.
"Apa menurutmu mereka akan mau membantu?"
"Ayash itu orang baik, dia akan tetap mau membantu kalau Mas memintanya membantu."
Prita terlalu bersemangat bicara sampai lupa harus menjaga suasana hati suaminya.
"Kalau Irgi, dia juga baik, mau membantu, tapi sebelum itu biasanya dia suka mencela dulu." Prita mengatakannya sambil meringis.
"Kamu jangan kaget, sifat Irgi memang seperti itu. Mulutnya sangat kejam tapi sebenarnya dia baik."
"Aku rasa mereka hanya baik padamu, bukan padaku."
"Ya.... Apa bedanya? Sekarang kan kita suami istri. Masalah Mas Bayu kan masalahku juga. Kalau mereka mau membantuku, artinya mereka juga mau membantu Mas Bayu."
Bayu kembali mengusap kepala Prita lalu menciumnya, "Terima kasih ya, Sayang."
"Ayo, Apa Mas mau lanjut memeriksa dokumen-dokumen ini?"
"Iya."
"Aku bantu ya, biar aku yang meneliti data-data yang sudah benar. Kalau ada yang masih salah hitung atau agak janggal, disisihkan dulu."
Prita bangkit dari pangkuan Bayu dan mulai membaca-baca tumpukan dokumen di meja Bayu.
"Sayang, kenapa tidak ikut kerja di kantor saja? Kamu bisa jadi sekertarisku. Aku bosan ditemani dua jomlo kecil itu."
"Aku kan hanya lulusan SMA, nanti dikira nepotisme. Kasihan yang sudah sekolah tinggi-tinggi, Mas. Kalah sama orang dalam."
"Kalau begitu kamu sekolah lagi saja. Ambil kuliah dan bantu aku di kantor."
Prita terdiam sejenak, ia memikirkan usul Bayu. Memang, sebenarnya dia masih ada keinginan untuk melanjutkan kuliah. Sayangnya, dia disibukkan dengan mengurus anak-anak. Makanya sampai saat ini dia belum lagi berkuliah.
"Ah, jangan deh! Kamu tidak perlu kuliah."
"Yang tugasnya mencari uang kan lelaki. Kalau wanita, di rumah saja menghabiskan uang dan menunggu suami pulang." Bayu menunjukkan senyum ke arah Prita.
Sementara, Prita hanya bisa memutar malas bola matanya. Awalnya dia merasa bahagia ada yang menyemangati kuliah. Ternyata Bayu berubah pikiran.
__ADS_1
Bayu memang senang jika Prita bisa berkuliah. Tapi setelah ia pikir lagi, memang sebaiknya Prita tidak usah kuliah. Kalau Prita kuliah, dia masih sangat terlihat muda, mengaku umur 18 atau 20 tahun juga orang pasti akan percaya. Nanti kalau dia kuliah, bisa-bisa ada mahasiswa lain yang suka pada istrinya. Dia tidak sanggup membayangkan punya lebih banyak saingan.